Mencari makanan untuk sindrom nefrotik bisa terasa sempit, apalagi ketika tubuh Anda sedang bengkak dan mudah lelah. Namun, pola makan yang benar bisa sangat meringankan keluhan Anda. Mari kita kenali dulu kondisinya, sehingga menu yang Anda susun semakin sesuai!
Apa itu Sindrom Nefrotik?
Sebelum menyentuh makanan untuk sindrom nefrotik, mari membahas kondisi ini dulu. Sindrom nefrotik merupakan kumpulan gejala yang muncul ketika ginjal, terutama bagian bernama glomerulus, mengalami kerusakan. Akibatnya, protein (albumin) bocor keluar melalui urine.
Kondisi ini bukan sebuah penyakit tunggal. Sebutan sindrom di sini artinya gabungan beberapa gejala yang berasal dari berbagai penyakit ginjal atau kondisi lain. Tanda apa saja yang muncul? Ada empat tanda utama yang biasa muncul bersamaan, berikut di antaranya.
Proteinuria: kadar protein dalam urine tinggi.
Hipoalbuminemia: kadar albumin dalam darah rendah.
Edema: pembengkakan akibat penumpukan cairan.
Hiperkolesterolemia atau dislipidemia: kadar kolesterol atau lemak darah meningkat.
Gejala Sindrom Nefrotik
Gejala sindrom nefrotik bisa muncul perlahan, namun bisa semakin parah dalam waktu singkat. Tingkat keparahannya pun bergantung pada penyebab dan seberapa banyak protein yang hilang lewat urine. Berikut tanda-tandanya.
1. Pembengkakan (Edema)
Bengkak biasanya muncul pertama kali di kelopak mata, wajah, pergelangan kaki, tungkai & telapak kaki, tangan, serta perut, dan area sekitar alat kelamin. Jika pasien sering berbaring, bisa muncul di punggung.
Edema bisa memburuk dengan makanan tinggi garam karena natrium membuat tubuh menahan lebih banyak air. Inilah alasan makanan untuk sindrom nefrotik tidak boleh sembarangan.
2. Urine Berbusa
Tinggi protein di urine akan membuatnya tampak berbusa atau berbuih. Jika berbusa sesekali saja, masih tak masalah. Tetapi, jika munculnya berulang kali, menetap, dan ada edema, sebaiknya segera periksakan.
3. Berat Badan Naik
Naiknya berat badan di sini bukan karena lemak atau otot, melainkan cairan yang tertahan. Patokannya, jika berat badan naik dengan cepat (dalam beberapa hari), apalagi ada bagian tubuh yang bengkak, maka patut dicurigai. Jika ingin menimbang, usahakan pada waktu yang sama agar perubahan terpantau.
4. Nafsu Makan Menurun dan Mudah Lelah
Perut yang membengkak atau berisi cairan bisa membuat Anda cepat kenyang, mual, dan hilang selera makan. Jika berlangsung lama, risiko kekurangan energi dan zat gizi akan ikut meningkat.
Rasa lelah pun bisa datang dari banyak sumber. Contohnya seperti penumpukan cairan, penyakit yang mendasari, asupan makanan yang kurang, anemia atau gangguan fungsi ginjal, efek samping obat, hingga tidur yang terganggu karena bengkak.
5. Tekanan darah Tinggi dan Kolesterol Meningkat
Rusaknya ginjal, penumpukan natrium, dan cairan bisa menaikkan tekanan darah. Jika tidak terkendali, maka bisa memperburuk kerusakan ginjal. Jadi, perlu pemantauan intensif.
Di sisi kolesterol, tubuh akan menaikkan produksi lipoprotein (partikel pembawa lemak di darah) sebagai respons terhadap albumin. Akibatnya, kolesterol atau trigliserida naik. Biasanya tanpa gejala, namun bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
6. Risiko Infeksi dan Bekuan Darah
Sebagian protein yang berperan dalam sistem kekebalan ikut hilang lewat urine. Apalagi, obat seperti kortikosteroid atau penekan sistem imun bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Kehilangan protein tertentu juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Karena itu, Anda harus mewaspadai gejala:
nyeri, kemerahan, atau bengkak pada satu kaki,
nyeri dada,
sesak napas mendadak,
batuk berdarah, dan
jantung berdebar atau pusing berat.
Sesak napas mendadak, nyeri dada, atau batuk berdarah membutuhkan pertolongan medis segera, karena bisa menandakan bekuan darah di paru-paru.
Kenapa Diet Penting bagi Penderita?
Perlu Anda ingat bahwa diet tidak bisa menggantikan pengobatan sindrom nefrotik. Namun, memantau sumber makanan untuk sindrom nefrotik dapat membantu mengendalikan dampaknya. Beberapa manfaat lainnya adalah sebagai berikut.
1. Mengurangi Pembengkakan
Dasar pembengkakan adalah natrium, jika kadar natrium terjaga, maka pembengkakan juga akan berkurang. Selain itu, diet dapat membantu kinerja obat diuretik (obat yang membantu tubuh membuang cairan), mengendalikan tekanan darah, dan mengurangi rasa haus.
Natrium sendiri tidak hanya berasal dari garam saat memasak. Sumber terbesarnya malah lebih sering dari makanan kemasan, bumbu instan, makanan cepat saji, saus, makanan kaleng, dan makanan olahan.
2. Atur Konsumsi Protein
Karena protein banyak hilang lewat urine, Anda mungkin berpikir untuk makan protein yang banyak untuk menggantinya. Padahal, persepsi tersebut keliru. Pola makan tinggi protein justru dapat menyebabkan hal berikut:
menambah beban penyaringan ginjal,
memperburuk proteinuria
tidak otomatis menambah albumin darah, dan
Menambah lemak jenuh dan kalori, jika sumbernya daging berlemak.
KDIGO menyarankan asupan protein sekitar 0,8-1 gram per kilogram berat badan per hari pada pasien dengan proteinuria. Angka itu masih harus disesuaikan lagi dengan fungsi ginjal, jumlah protein yang hilang, status gizi, dan kondisi klinis.
Sebaliknya, diet sangat rendah protein juga tidak boleh karena bisa menyebabkan malnutrisi. Dokter biasanya akan memperhitungkan angka yang lebih akurat dan sesuai dengan kondisi gizi Anda sekarang.
3. Menjaga Status Gizi
Penderita sindrom nefrotik bisa mengalami nafsu makan turun, mual, cepat kenyang, kehilangan protein, penurunan massa otot, dan kekurangan energi akibat diet yang terlalu ketat. Maka dari itu, pembatasan protein tidak boleh sembarangan.
Energi yang cukup dari karbohidrat kompleks dan lemak sehat dapat menyuruh tubuh menggunakan protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan. Bukan membakarnya sebagai bahan bakar utama.
4. Kontrol Kolesterol
Makanan yang baik untuk sindrom nefrotik tentu harus bersumber dari sumber lemak yang baik. Contohnya ikan, alpukat, kacang-kacangan dalam porsi sesuai, biji-bijian, dan minyak nabati yang digunakan secukupnya. Ingat! Pembatasan kalori dan lemak tetap butuh penyesuaian dengan berat badan dan kebutuhan energi Anda.
5. Mengatur Cairan
Tidak semua pasien harus membatasi minum, biasanya hanya pada pasien dengan edema berat, produksi urine menurun, gagal ginjal, atau instruksi dokter. Pembatasan yang tidak seharusnya justru dapat menyebabkan dehidrasi, tekanan darah turun, gangguan elektrolit, dan fungsi ginjal menurun.
Jika dokter menetapkan batas cairan, artinya bukan air putih saja, namun termasuk teh, sup, kuah, hingga buah juga. Jadi, ikuti angka dari dokter, bukan asal memutuskan.
6. Menyesuaikan Kalium dan Fosfor
Pembatasan biasanya hanya perlu jika hasil tes darah menunjukkan kadarnya tinggi, atau bila fungsi ginjal sudah menurun. Jadi, pisang, tomat, kentang, susu, kacang-kacangan, dan produk olahan tertentu tidak otomatis dilarang.
Menu Makanan yang Dianjurkan
Prinsip umum menu makanan untuk penderita sindrom nefrotik adalah rendah natrium, energi cukup, protein sesuai kebutuhan, rendah kalium, rendah lemak jenuh, dan disesuaikan dengan fungsi ginjal. Berikut pilihan makanan untuk sindrom nefrotik yang bisa Anda jadikan acuan.
Karbohidrat: Nasi putih/merah, jagung segar, kentang, roti, atau mi. Pastikan pilihan Anda rendah natrium, menyesuaikan diabetes, dan kebutuhan energi.
Protein: Ikan, ayam tanpa kulit, telur, daging, tahu, dan tempe, serta kacang-kacangan. Cara memasak: kukus, rebus, panggang, tumis dengan sedikit minyak, pepes tanpa banyak garam, atau bakar tanpa saus asin.
Sayuran: wortel, kol, buncis, labu siam, timun, selada, kembang kol, terong, paprika, sawi segar, tauge, dan brokoli.
Buah: apel, pir, anggur, nanas, stroberi, blueberry, semangka dan pepaya dalam porsi terukur, serta jambu atau jeruk sesuai batas kalium dan cairan.
Lemak Sehat: minyak zaitun, kanola, atau kedelai, alpukat dalam porsi sesuai, kacang atau biji-bijian, serta ikan kembung atau salmon.
Bumbu Rendah Natrium: bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, serai, lengkuas, daun salam, daun jeruk, ketumbar, merica, cabai segar, jeruk nipis, cuka, kemangi, dan rempah segar lainnya.
Makanan yang Harus Dihindari
Kata "dihindari" di sini bisa berarti tidak dikonsumsi sama sekali atau cukup dibatasi, tergantung kondisi kadar natrium, fungsi ginjal, kalium, fosfor, diabetes, tekanan darah, dan derajat edema. Ini daftar yang paling perlu diwaspadai, batasi atau hindari.
Makanan tinggi natrium
Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans
Protein berlebihan
Makanan dan minuman manis
Alkohol
Jika kalium tinggi, sebaiknya batasi pisang, alpukat, jeruk, air kelapa, tomat, kentang, ubi, bayam, kacang-kacangan, buah kering, cokelat, dan pengganti garam berbasis kalium.
Jika fosfor tinggi, batasi atau hindari cola, keju olahan, dan susu dalam jumlah besar. Daging olahan, makanan kemasan dengan bahan tambahan fosfat, jeroan, kacang-kacangan berlebihan, cokelat, dan makanan cepat saji tertentu juga masuk dalam daftar yang perlu diperhatikan.
Contoh Menu Harian
Selama tetap mengikuti prinsip rendah natrium, energi cukup, protein, rendah lemak jenuh, dan sesuai kinerja ginjal, Anda bisa mengkreasikan menu lebih banyak. Supaya lebih mudah membayangkan, berikut contoh makanan untuk sindrom nefrotik.
Kapan Harus Konsultasi Dokter atau Ahli Gizi
Segera temui dokter jika sudah mengalami gejala awal, seperti bengkak dan urine tak wajar. Pemeriksaan mungkin akan meliputi urine lengkap, rasio albumin-kreatinin urine, elektrolit, profil lemak, gula darah, dan tes lain sesuai dugaan penyebab. Datangi pula ahli gizi, idealnya yang berpengalaman dalam nutrisi ginjal, jika:
baru didiagnosis sindrom nefrotik,
terjadi kekambuhan atau edema bertambah,
berat badan naik-turun dengan cepat,
memiliki diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi,
anak-anak, lansia, ibu hamil, atau memiliki penyakit penyerta,
dan kesulitan menyusun menu.
Dalam kontrol lanjutan, dokter atau ahli gizi dapat mengevaluasi berat badan harian atau berkala, serta pemeriksaan lagi, demi progres. Sebab, siapa tahu, beberapa batasan yang lalu sudah tidak perlu lagi.
Saatnya Atur Makanan untuk Sindrom Nefrotik dengan Tepat!
Makanan yang baik untuk sindrom nefrotik pada dasarnya sederhana, yaitu rendah garam, protein secukupnya, dan diolah dengan cara yang sehat. Tidak perlu sempurna sejak hari pertama. Mulai saja dari satu langkah kecil untuk membantu fungsi ginjal dan tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk hasil terbaik!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2020). Nephrotic Syndrome in Adults.
National Kidney Foundation. (2015). Nephrotic Syndrome.
Royal Berkshire NHS Foundation Trust. (2025). Nephrotic Syndrome.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Glomerular Diseases Work Group. (2021). KDIGO 2021 Clinical Practice Guideline for the Management of Glomerular Diseases.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Glomerular Diseases Work Group. (2021). KDIGO 2021 Clinical Practice Guideline for the Management of Glomerular Diseases.
Japanese Society of Nephrology. (2016). Evidence-based clinical practice guidelines for nephrotic syndrome 2014.
Kim, S. M., & Jung, J. Y. (2020). Nutritional management in patients with chronic kidney disease.
British Dietetic Association (Gevers, M.). (2025). Dietary Management of Nephrotic Syndrome.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
.jpg&w=3840&q=75)