Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Perikarditis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Perikarditis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

SBAOthers

Pernahkah Anda merasakan nyeri dada tajam yang justru memburuk saat menarik napas dalam atau berbaring, tapi justru mereda ketika duduk membungkuk? Kondisi ini bisa jadi tanda perikarditis (pericarditis) peradangan pada selaput pembungkus jantung, bukan serangan jantung. Simak spa itu perikarditis secara lebih dalam di sini!

Mengenal Perikarditis 

Perikarditis adalah peradangan yang terjadi di perikardium. Perikardium sendiri adalah selaput jantung, kantong tipis yang melindungi jantung dari gesekan setiap kali berdetak.

Perikardium terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan dalam (visceral) yang menempel langsung ke otot jantung dan lapisan luar (parietal) yang teksturnya lebih keras. Di antara keduanya pun, terdapat rongga berisi pelumas agar gerakan jantung bebas gesekan.

Masalahnya, saat terjadi peradangan, kedua lapisan tersebut akan membengkak dan permukaannya menjadi kasar. Akibatnya, saat jantung berdetak, gesekannya jadi tidak mulus lagi dan menimbulkan nyeri di dada. Pericarditis juga dibedakan berdasarkan durasi gejalanya, berikut di antaranya.

  • Akut: gejala kurang dari 4-6 minggu.

  • Subakut/inesan: lebih dari 4-6 minggu tanpa jeda bebas gejala, maksimal 3 bulan.

  • Kronis: gejala menetap lebih dari 3 bulan.

  • Rekuren: bisa muncul lagi setelah sempat bebas gejala selama 4-6 minggu.

Terkadang, kondisi ini juga muncul bersamaan dengan peradangan pada otot jantung (miokardium). Secara medis, disebut miokarditis.

Gejala Perikarditis

Ketika memperhatikan gejalanya, sering kali ada kebingungan dengan masalah jantung dan paru lainnya. Namun, beberapa ciri khas pericarditis bisa diamati seperti berikut.

  • Lokasinya di tengah dada (retrosternal) atau di sisi kiri.

  • Sifatnya tajam, seperti ditusuk atau ditekan.

  • Semakin buruk saat menarik napas dalam (nyeri pleuritik), batuk, menelan, atau telentang (apalagi kalau miring ke kiri).

  • Justru mereda saat duduk tegak atau membungkuk ke depan .

  • Bisa menjalar ke bahu (khususnya tulang trapezius), leher, atau punggung.

Pada kasus yang lebih berat, efusi perikard (penumpukan cairan berlebih di kantong perikardium), pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, atau perut juga bisa muncul.

Perbedaan dengan kasus nyeri serangan jantung adalah nyeri jantung biasanya tidak memburuk saat bernapas dan tidak membaik saat membungkuk. Sedangkan jika dada terasa sakit di sebelah kanan, penyebabnya sangat berbeda, seperti GERD, emboli paru, pneumonia, hingga kostokondritis.

Bagi dokter, tanda fisik pericardial friction rub (suara gesekan jantung) akan terdengar lewat stetoskop. Tanda ini sangat khas pada perikarditis, namun tidak selalu terdengar pada semua kasus. Pada anak-anak, gejalanya justru lebih samar, seperti rewel, nafsu makan turun, atau tampak lesu saja.

Penyebab Radang Selaput Jantung

Penyebab perikarditis bervariasi, namun secara garis besar, terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu infeksi dan non-infeksi. Mari kita dalami keduanya

Infeksi

Penyebab utama infeksi adalah virus. Beberapa contohnya, coxsackievirus A dan B, echovirus, COVID-19, influenza, HIV, herpes, dan lain-lain. Secara data, sekitar 1,5% pasien COVID-19 yang dirawat inap tercatat mengalami perikarditis juga.

Selain virus, bakteri juga sama buruknya, yang paling umum adalah tuberkulosis. Bakteri lain seperti Staphylococcus, Streptococcus, Neisseria meningitidis, atau Coxiella burnetii juga bisa menyebabkan pericarditis, meski kasusnya lebih jarang.

Selain itu, parasit dan jamur. Contohnya Histoplasma, Coccidioides, Candida, Blastomyces, Echinococcus, dan Toxoplasma juga bisa menyebabkan perikarditis. Tapi ini sangat jarang dan biasanya menyerang orang dengan sistem imun lemah, seperti pengidap HIV/AIDS.

Non-infeksi

Jika non-infeksi, penyebabnya lebih lebih bervariasi lagi, seperti berikut.

  • Pasca-cedera Jantung: termasuk Dressler’s syndrome, pasca-operasi jantung, dan pasca trauma dada. Termasuk prosedur medis seperti pemasangan alat pacu jantung atau kateterisasi.

  • Penyakit autoimun dan inflamasi: Systemic lupus erythematosus (SLE), arthritis rheumatoid, penyakit Behcet, dan sarcoidosis.

  • Gangguan metabolik: gagal ginjal (uremia) yang membuat zat sisa metabolisme menumpuk dan mengiritasi perikardium, serta hipotiroidisme berat (miksudema).

  • Kanker: terutama yang bermetastasis ke perikardium, seperti kanker paru, payudara, melanoma ganas, limfoma, dan leukemia.

  • Obat-obatan: jarang terjadi, namun beberapa obat seperti procainamide, hydralazine, isoniazid (bisa memicu drug-induced lupus), checkpoint inhibitors untuk imunoterapi kanker (ipilimumab, nivolumab), dan phenytoin.

  • Penyebab lain: terapi radiasi pada dada, serta abses.

Karena sangat banyak penyebabnya, 80-90% kasus tetap tergolong idiopatik. Maksudnya, tidak bisa teridentifikasi dengan pasti, kemungkinan besar adalah virus yang tidak terdeteksi.

Diagnosis Lewat MCU Jantung

Dokter biasanya perlu menggabungkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan pencitraan jantung untuk memastikannya. Berdasarkan pedoman ACC 2025 dan ESC 2025, diagnosis definitif perikarditis akut harus ada nyeri dada dan minimal 2 dari 4 kriteria berikut.

  • Pericardial friction rub.

  • Perubahan Elektrokardiografi (EKG) khas.

  • Peningkatan marker inflamasi (CRP atau ESR).

  • Efusi perikard baru atau memburuk pada ekokardiografi.

Pemeriksaan lengkap dengan Paket Kesehatan Jantung akan memberikan Anda gambaran lengkap akan kesehatan jantung. Mulai dari EKG, treadmill, profil lipid, hingga rontgen dan tes urin. Semua pemeriksaan akan membantu dokter untuk menentukan langkah terbaik demi kesehatan Anda kedepannya.

Pengobatan Perikarditis

Setelah diagnosis, pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab, tingkat keparahan, dan risiko komplikasi. Secara umum, sebagian besar kasus perikarditis idiopatik atau viral pengobatannya rawat jalan saja. Namun, rawat inap juga mungkin jika faktor risiko lebih tinggi. 

Selain itu, pasien sebaiknya menghindari aktivitas fisik berat sampai gejala hilang dan CRP (protein yang muncul untuk merespons peradangan) kembali normal. Pedoman ACC 2025 bahkan menganjurkan pembatasan aktivitas minimal 1 bulan, dengan denyut nadi di bawah 100 kali/menit hingga tercapai remisi klinis.

Terapi Obat

Untuk terapi obat-obatan, lini pertama biasanya berupa NSAID atau aspirin, dengan kombinasi colchicine (kolkin). Kolkin ini bisa mengurangi risiko kambuh hingga 50% dan meredakan gejala. Sekitar 10% pasien mengalami efek samping seperti diare atau nyeri perut.

Apabila NSAID dan kolkin tidak manjur, lini kedua adalah kortikosteroid seperti prednison. Ini bukan pilihan pertama karena justru meningkatkan kekambuhan jika berhenti terlalu cepat. Jadi, hanya dipakai dalam kondisi tertentu dan harus dipastikan dulu penyebabnya bukan infeksi (TB atau bakteri).

Kasus Rekuren

Untuk rekuren atau refrakter (sulit sembuh dengan terapi standar), terapi anti Interleukin-1 (seperti rilonacept atau anakinra), imunosupresan lain (azathioprine, methotrexate, mycophenolate mofetil, IVIG), sampai perikardiektomi atau operasi pengangkatan perikardium sebagai opsi terakhir.

Komplikasi Jika Tidak Ditangani

Meski sebagian besar kasus idiopatik atau viral prognosisnya baik, bukan berarti ini penyakit sepele. Jika tidak ada bantuan medis atau penanganannya kurang tepat, ada beberapa komplikasi serius yang bisa muncul.

1. Perikarditis Rekuren

Ini adalah komplikasi yang paling sering, terjadi pada 15-30% pasien yang tidak mendapat kolkin. Bahkan hingga 50% setelah episode pertama. Setiap kali kambuh, risiko komplikasi jangka panjang pun ikut meningkat.

2. Efusi Perikard Besar dan Tamponade Jantung

Ini komplikasi yang lebih mengkhawatirkan. Tamponade adalah kondisi tekanan cairan di perikardium yang terlalu tinggi hingga menekan jantung dan pengisian darah. Ujungnya bisa syok, sampai kematian kalau tidak ditangani. Tandanya adalah tekanan darah rendah, nadi cepat, sesak napas, vena leher melebar, serta pulsus paradoksus.

3. Perikarditis Konstriktif

Ini adalah kondisi kronis di mana perikardium menjadi tebal, kaku, bahkan berkalsifikasi, sehingga menghambat pengisian jantung saat diastol (fase relaksasi jantung). Gejalanya meliputi pembengkakan kaki dan perut, vena leher melebar, sesak saat beraktivitas, dan kelelahan ekstrem.

4. Mioperikarditis

Peradangan juga bisa meluas ke otot jantung. Tandanya peningkatan troponin, gangguan irama jantung, hingga gagal jantung pada kasus berat.

Komplikasi lain yang mungkin muncul termasuk fibrosis perikardium, kombinasi efusi-konstriktif, gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium, sampai sirosis jantung akibat tekanan vena sistemik yang berkepanjangan. 

Kapan Harus ke Dokter?

Memang tidak semua nyeri di dada adalah perikarditis, dan tidak semua kasus perikarditis butuh penanganan spesialis jantung. Tapi, ada beberapa situasi di mana evaluasi sesegera mungkin sangatlah penting. Segera ke IGD jika mengalami hal berikut.

  • Nyeri dada berat yang tidak membaik meski sudah mengubah posisi atau minum obat pereda nyeri.

  • Sesak napas berat terutama saat berbaring.

  • Pingsan atau hampir pingsan.

  • Jantung berdebar sangat cepat dan lemas.

  • Tekanan darah sangat rendah.

  • Vena leher sangat melebar (bisa jadi tamponade jantung).

Jika masih belum yakin dengan yang Anda rasakan, Anda bisa membuat janji dengan dokter (tidak darurat, tapi perlu dengan segera). Biasanya, kalau mengalami nyeri dada khas perikarditis setelah beberapa jam serta demam atau kelelahan ekstrem.

Terlebih apabila punya riwayat penyakit autoimun/kanker/gagal ginjal dengan nyeri dada baru, atau gejala yang muncul lagi setelah pernah membaik. Rujukan ke dokter spesialis pun diperlukan jika diagnosis menandakan adanya faktor risiko tinggi, seperti.

  • Perikard sedang-besar.

  • Peningkatan troponin.

  • Perikarditis rekuren. 

  • Perlu evaluasi untuk terapi khusus, seperti kolkin jangka panjang maupun anti-IL-1.

Sudah Kenal Perikarditis? Saatnya Lakukan Evaluasi!

Perikarditis memang bisa membuat cemas karena gejalanya mirip serangan jantung, tapi sebagian besar kasus bersifat ringan dan bisa sembuh dengan penanganan yang tepat. Jadi, jangan tunda periksa ke dokter jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan, supaya tidak mengakibatkan komplikasi.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Mayo Clinic Staff. (2024). Pericarditis – Symptoms and Causes.

  2. Dababneh, E., Sharma, S., & Siddique, M. S. (StatPearls Publishing/NCBI Bookshelf). (2026). Pericarditis.

  3. Hoit, B. D. (Merck Manual Professional Edition). (2026). Pericarditis.

  4. NHS (National Health Service UK). (2023). Pericarditis.

  5. AMBOSS. (2026). Pericarditis.

  6. Cleveland Clinic. (2025). Pericarditis: Symptoms, Causes and Treatment.

  7. Fava, A., & Forno, D. (European Society of Cardiology). (2023). Tip and Tricks for Acute Pericarditis.

  8. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2023). Pericarditis.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu perikarditis?
Perikarditis adalah peradangan pada perikardium, yaitu selaput yang membungkus dan melindungi jantung.
Apa saja gejala perikarditis?
Gejala perikarditis antara lain nyeri dada tajam yang memburuk saat menarik napas dalam atau berbaring, tetapi mereda saat duduk tegak atau membungkuk ke depan.
Apa penyebab perikarditis?
Perikarditis dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, dan jamur, serta kondisi non-infeksi seperti penyakit autoimun, gangguan metabolik, kanker, obat-obatan, cedera, dan radiasi.
Bagaimana perikarditis didiagnosis?
Diagnosis dilakukan dengan menggabungkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, EKG, serta pencitraan seperti ekokardiografi.
Kapan penderita perikarditis harus segera ke IGD?
Kapan penderita perikarditis harus segera ke IGD?