Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Bronkiektasis: Gejala, Penyebab, dan Diagnosis Paru
Kembali ke Artikel & Berita

Bronkiektasis: Gejala, Penyebab, dan Diagnosis Paru

SBAOthers

Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh sering kali dianggap sebagai sakit batuk flu musiman. Penderita merasa kondisi tersebut nantinya bisa sembuh hanya dengan meminum obat batuk yang dijual bebas. Padahal, keluhan yang disertai dengan sesak napas atau dahak berdarah bisa menandakan suatu penyakit bernama bronkiektasis.

Namun, masih banyak orang tidak tahu istilah medis ini, karena mengira semua jenis batuk sama. Padahal sebenarnya, setiap jenis batuk bervariasi, tergantung dari penyebabnya, bagian yang terserang infeksi, ada tidaknya dahak, dan durasinya. Lantas, apa itu bronkiektasis? Untuk mengetahui lebih jelas, simak jawabannya di sini!

Apa Itu Bronkiektasis?

Bronkiektasis adalah kerusakan yang terjadi pada bagian saluran pernapasan (bronkus) di dalam paru-paru karena mengalami pelebaran secara tidak normal dan membentuk kantung. Kondisi ini menyebabkan lendir (dahak) terjebak, menumpuk, dan sulit dikeluarkan, sehingga memicu peradangan dan infeksi yang berulang.

Bronkus merupakan saluran pernapasan yang menghubungkan tenggorokan dan paru-paru. Bentuk bronkus mirip seperti dua cabang pohon terbalik, yang masing-masing mengarah ke paru-paru kanan dan kiri. Di sepanjang dinding bronkus dilapisi selaput lendir (mukosa) dan rambut-rambut halus (silia).

Selaput mukosa menghasilkan lendir yang berfungsi untuk menangkap kotoran, bakteri, dan virus yang terhirup masuk ke dalam paru-paru. Sedangkan, rambut silia ibarat mesin penyapu yang dapat bergerak searah menyaring dan membersihkan udara dari kotoran, bakteri, dan virus keluar ke arah atas menuju tenggorokan.

Dalam kasus bronkiektasis (bronchiectasis) dinding pada tulang rawan dan otot di saluran bronkus mengalami kerusakan dan kehilangan elastisitasnya. Karena itu, bronkus melebar dan membentuk kantung-kantung kecil yang membuat lendir mudah terjebak di dalamnya. Lama kelamaan lendir menumpuk dan menjadi sarang bakteri.

Dampaknya, bakteri berkembang biak dengan cepat yang mengakibatkan infeksi paru berulang dan memicu batuk berdahak kronis (jangka panjang). Keluhan batuk pada bronchiectasis sering kali mirip dengan gangguan pernapasan lain, seperti asma, pneumonia, dan ISPA. Jadi, Anda perlu mengenali gejala dan ciri-cirinya.

Gejala dan Ciri-ciri Bronkiektasis

Gejala muncul secara bertahap selama beberapa bulan bahkan tahun, bukan karena datang secara tiba-tiba dalam satu waktu. Selain itu, keparahan gejala yang orang rasakan bisa berbeda-beda, tergantung luasan area bronkus yang rusak. Berikut adalah beberapa ciri-ciri dari bronkiektasis.

  • Batuk dengan dahak banyak dan lama sembuhnya.

  • Warna dahak kuning, putih, atau hijau.

  • Terdapat darah pada dahak.

  • Bau lendirnya tidak sedap.

  • Napas terasa sangat sesak.

  • Suara napas tidak normal.

  • Dada sangat nyeri

  • Pilek berulang.

  • Cepat lelah.

  • Demam ringan atau parah.

  • Keringat dingin.

  • Ujung kuku jari membulat.

  • Turun berat badan.

Penyebab dan Faktor Risiko Bronkiektasis

Bronchiectasis terjadi karena dulu pernah mengalami infeksi saluran pernapasan yang berat. Sehingga terbentuk bekas luka atau jaringan parut pada paru-paru. Jenis infeksi pernapasan yang bisa memicu komplikasi antara lain, tuberkulosis (TBC), pneumonia berat, batuk rejan (pertusis), atau infeksi virus COVID 19.

Selain infeksi tersebut, faktor lain yang bisa memicu timbulnya bronkiektasis adalah kelainan genetik atau bawaan, atau memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh seperti HIV dan penyakit autoimun. Namun, dokter kadang sulit menemukan penyebab pastinya, meski sudah dilakukan pemeriksaan lengkap.

Sementara itu, beberapa faktor risiko yang dapat memicu atau memperparah penyakit bronchiectasis meliputi:

Diagnosis dan Tes

Diagnosis bronkiektasis terkadang bisa membingungkan, karena gejalanya hampir sama dengan gangguan pernapasan lain. Pada umumnya, dokter akan mewawancarai pasien terkait riwayat medis dan keluhannya. Selanjutnya, pemeriksaan fisik di bagian dada dengan stetoskop untuk mendengar bunyi napas yang tidak normal.

Pemeriksaan penunjang medis juga diperlukan untuk memastikan jenis penyakit apa yang menyerang pasien, yaitu dengan cara:

  • Rontgen dada atau CT scan resolusi tinggi: Melihat kondisi bronkus apakah mengalami pelebaran atau tidak.

  • Spirometri: Mengecek seberapa baik fungsi paru-paru.

  • Mikroskop: Mengetahui jenis bakteri apa yang menginfeksi paru-paru melalui sampel dahak pasien.

  • Bronkoskop: Melihat langsung kondisi di dalam bronkus melalui selang kecil. Alat ini juga dapat membantu menyedot lendir yang berlebihan.

Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan pada organ pernapasan sejak dini, sangat penting demi mencegah komplikasi infeksi yang berbahaya. Untuk itu, Anda dapat memilih paket medical check-up paru premium dari Bumame, guna mendeteksi kemungkinan penyakit yang menyerang paru-paru dan segera mendapat pengobatan.

Pilihan Pengobatan

Bronkiektasis memang dapat menyebabkan kerusakan struktural pada saluran napas (bronkus) secara permanen. Meski begitu, berbagai pilihan pengobatan tersedia untuk mengontrol dan meminimalisir gejala yang timbul, mencegah infeksi berulang, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penanganan medis yang dokter lakukan, yaitu:

  • Antibiotik: Pemberian antibiotik dalam bentuk pil, melalui infus, atau inhaler, yang berguna untuk mengobati infeksi bakteri.

  • Makrolida: Obat untuk mengobati infeksi dan peradangan secara bersamaan.

  • Ekspektoran dan mukolitik: Jenis obat yang dapat mengencerkan dahak dan membantu mengeluarkannya.

  • Bronkodilator: Kelompok obat-obatan yang berfungsi untuk melegakan saluran pernapasan yang menyempit. Cara kerjanya dengan mengendurkan otot-otot pada dinding bronkus. Bentuknya bisa berupa tablet, sirup, inhaler, dan cairan nebulizer.

  • Fisioterapi dada: Terapi untuk membersihkan dahak di saluran napas, berupa teknik postural drainage yaitu dengan memposisikan tubuh sedemikian rupa agar dahak mudah keluar. Selain itu, ada pula teknik perkusi yaitu dengan menepuk-nepuk dada dan punggung guna merontokkan lendir yang menempel.

  • Teknik bernapas khusus: Teknik huff coughing yakni dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara cepat dan kuat. Kemudian, teknik Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) berupa gabungan dari kontrol napas rileks, tarik napas dalam dan tahan, serta huff coughing. 

  • Alat bantu terapi napas: Berupa alat genggam kecil bernama Positive Expiratory Pressure (PEP) atau Oscillating PEP. Cara penggunaannya yaitu menghembuskan napas ke dalam alat, lalu alat tersebut akan memberikan tekanan balik berupa getaran yang dapat melepaskan lendir yang melekat.

Strategi Pencegahan

Melakukan tindak pencegahan terhadap penyakit bronkiektasis merupakan pilihan yang tepat. Sebab, Anda bisa terhindar dari infeksi saluran pernapasan yang berat dan kerusakan jaringan paru-paru yang lebih parah. Langkah-langkah pencegahannya antara lain:

  • Pemberian vaksinasi seperti vaksin influenza dan vaksin pneumonia.

  • Menghentikan kebiasaan merokok secara total.

  • Menjauhi paparan polusi udara, asap kimia beracun, dan asap rokok. Sebaiknya selalu menggunakan masker saat keluar rumah.

  • Minum air putih yang cukup dan konsumsi makanan bernutrisi seimbang.

  • Biasakan untuk hidup bersih dan sehat mulai dari diri sendiri.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Apabila mengalami gejala pernapasan yang parah dan berlangsung lama, segera konsultasi dengan dokter spesialis paru. Gejala bronkiektasis yang perlu Anda waspadai antara lain, sesak napas yang berat, batuk berdahak dengan warna dahak hijau atau kuning, batuk berdarah, dan demam tinggi.

Dengan penanganan sejak awal dapat mencegah terjadinya komplikasi serius yang bisa membahayakan jiwa. Oleh karena itu, jangan tunda memeriksakan kesehatan organ pernapasan Anda secara berkala. Segera lakukan reservasi layanan profesional dan tepercaya di Bumame, guna mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Indonesia — Mengenal Bronchiektasis

  2. NHS — Bronchiectasis

  3. Cleveland Clinic — Bronchiectasis

  4. NHS Inform — Bronchiectasis

  5. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng — Bronkiektasis

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apakah penderita bronkiektasis bisa sembuh total?

Bronkiektasis tidak dapat sembuh total karena kerusakan dinding bronkus bersifat permanen. Namun, pengobatan yang tepat, terapi rutin, dan gaya hidup sehat dapat membantu mengurangi gejala serta mendukung aktivitas sehari-hari.

Apa perbedaan bronkitis dan bronkiektasis?

Bronkitis merupakan peradangan saluran bronkus yang dapat bersifat sementara, sedangkan bronkiektasis ditandai dengan pelebaran dan kerusakan permanen dinding bronkus. Keduanya memiliki karakteristik dan penanganan yang berbeda.

Bagaimana cara mendeteksi gangguan paru sejak dini?

Pemeriksaan dapat meliputi konsultasi dengan dokter, rontgen dada atau CT scan, tes spirometri, dan pemeriksaan dahak. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan gejala dan kondisi pasien.

Apakah bronkiektasis termasuk penyakit menular?

Bronkiektasis sendiri bukan penyakit menular karena merupakan kerusakan struktur bronkus. Namun, bakteri penyebab infeksi yang terdapat dalam dahak dapat menyebar kepada orang lain melalui percikan pernapasan, bergantung pada jenis infeksinya.

Apakah mengubah pola makan dapat membantu meredakan gejala bronkiektasis?

Ya. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan memenuhi kebutuhan cairan dapat membantu menjaga daya tahan tubuh serta mendukung pengeluaran dahak agar lebih mudah. Pola makan sehat tetap perlu disertai penanganan medis sesuai anjuran dokter.