Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Apa Itu Hipoksia: Jenis dan Gejala
Kembali ke Artikel & Berita

Apa Itu Hipoksia: Jenis, Gejala, dan Penyebabnya

SBAOthers

Pernah merasa napas semakin pendek ketika menaiki tangga atau melalui aktivitas fisik seperti olahraga, atau bahkan hanya dengan melakukan kegiatan yang membutuhkan peregangan tubuh? Jangan diabaikan, karena mungkin Anda sedang mengalami kondisi hipoksia. Lantas apa itu hipoksia? Simak pembahasannya berikut ini!

Apa Itu Hipoksia?

Saat mengalami hipoksia, ini menunjukkan bahwa bagian dari tubuh Anda tidak menerima jumlah oksigen yang diperlukan untuk melakukan fungsinya secara optimal. Karena semua sel tubuh membutuhkan oksigen untuk membuat energi, maka kekurangan oksigen bisa mengganggu beberapa organ seperti otak dan jantung.

Banyak orang menyamakan istilah hipoksia dan hipoksemia tetapi sebenarnya ada perbedaan antara dua kondisi ini. Hipoksemia sendiri merujuk rendahnya kadar atau tekanan oksigen dalam darah arteri, sedangkan hipoksia merupakan kondisi ketidakmampuan untuk mendapatkan oksigen ke jaringan tubuh.

Namun, kedua hal ini juga bisa terjadi secara bersamaan. Misalnya, saat terjadi gangguan pada organ paru-paru dan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah menurun (hipoksemia), kondisi tersebut juga akan menyebabkan jumlah oksigen di jaringan tubuh berkurang (hipoksia).

Singkatnya, hipoksemia dapat menyebabkan hipoksia, tetapi hipoksia tidak selalu disebabkan oleh hipoksemia.

Jenis-Jenis Hipoksia

Secara umum, hipoksia bisa disebabkan oleh banyak hal dan tidak hanya berasal dari satu penyebab saja. Jika dilihat dari mekanismenya, ada beberapa jenis hipoksia, di antaranya sebagai berikut.

1. Hipoksia Hipoksemik 

Kondisi ini terjadi saat kadar oksigen dalam darah sangat rendah sehingga menyebabkan pasokan oksigen menuju jaringan juga berkurang. Beberapa gangguan yang bisa menyebabkan hal ini yaitu gangguan pada organ pernapasan seperti pneumonia, asma berat, maupun masalah pertukaran udara.

2. Hipoksia Anemik 

Meski kadar oksigen dalam darah tersedia, tapi kemampuan darah untuk membawa oksigen menurun. Contohnya adalah anemia, terutama ketika kadar hemoglobinnya sangat rendah.

3. Hipoksia Sirkulasi

Merupakan jenis hipoksia akibat adanya gangguan pada sistem peredaran darah yang menyebabkan kurangnya aliran darah ke jaringan. Gangguan jantung dan kondisi lain yang menyebabkan tekanan darah turun tajam merupakan contoh dari hipoksia sirkulasi.

4. Hipoksia Histotoksik

Jenis hipoksia ini disebabkan oleh ketidakmampuan sel atau jaringan dalam tubuh untuk menggunakan oksigen secara normal meski oksigen sudah tersedia. Hal ini dapat terjadi karena adanya paparan suatu zat tertentu yang memengaruhi proses penggunaan oksigen oleh sel.

Dari pembagian hipoksia di atas, dokter akan lebih mudah menemukan asal-usul dari masalah. Perlu diketahui juga, hipoksia bukanlah sebuah penyakit tertentu tetapi kondisi yang bisa terjadi akibat berbagai macam gangguan kesehatan.

Gejala Hipoksia

Gejala hipoksia bervariasi bergantung pada penyebab serta tingkat keparahan hipoksia. Berikut beberapa keluhan yang mungkin muncul:

  • napas pendek atau sesak,

  • napas semakin cepat,

  • jantung berdebar atau berdetak lebih cepat,

  • mudah lelah,

  • sakit kepala,

  • gelisah atau sulit berkonsentrasi,

  • pusing,

  • bibir, wajah, atau ujung jari berwarna kebiruan/keabu-abuan (pada kondisi tertentu), dan

  • mudah mengantuk atau mengalami penurunan kesadaran jika kondisinya lebih berat.

Menariknya, tidak semua orang dengan kadar oksigen rendah akan merasakan gejala seperti ini. Untuk itulah, gejala bukan satu-satunya cara untuk memastikan apakah seseorang mengalami hipoksia. Jadi pastikan untuk melakukan pemeriksaan medis agar bisa mengetahui penyebabnya.

Hipoksia pada Bayi

Hipoksia bisa terjadi pada bayi, bahkan saat masa persalinan. Tanda-tanda yang muncul biasanya meliputi:

  • kesulitan bernapas, 

  • tubuh lemas, 

  • suara tangisan lemah, 

  • kesulitan menyusu, 

  • perubahan warna kulit seperti kebiruan (sianosis) akibat kekurangan oksigen, pucat, atau munculnya ruam dan dermatitis (peradangan kulit) sebagai respons stres pada tubuh bayi.

  • penurunan kesadaran, dan

  • mengalami kejang atau gangguan fungsi organ jika kondisi semakin parah.

Kekurangan oksigen yang berat di sekitar waktu kelahiran dapat menyebabkan hypoxic-ischemic encephalopathy (HIE). HIE merupakan gangguan atau cedera otak akibat berkurangnya pasokan oksigen dan aliran darah ke otak bayi dan membutuhkan penanganan secepatnya dari tim medis.

Meski demikian, perlu diingat bahwa bayi yang mengalami gangguan kesadaran, sulit bernapas, atau kejang setelah lahir tidak otomatis berarti mengalami HIE. Dokter perlu menilai riwayat persalinan, kondisi bayi, pemeriksaan darah, pemeriksaan saraf, dan pemeriksaan penunjang lainnya bila diperlukan.

Penyebab Hipoksia

Setelah memahami apa itu hipoksia, selanjutnya pahami juga bahwa penyebab terjadinya karena banyaknya tahapan yang harus dilalui gas oksigen agar sampai kepada sel-sel tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Karena itu, gangguan pada tahapan-tahapan ini akan menyebabkan jumlah pasokan oksigen menurun.

Beberapa penyebab yang umum antara lain:

  • Penyakit paru-paru (seperti pneumonia, asma berat, dan gangguan pernapasan lain).

  • Gangguan pada jantung yang memengaruhi sirkulasi darah.

  • Anemia atau kondisi lain yang menghambat kemampuan darah untuk membawa oksigen.

  • Tekanan darah sangat rendah atau gangguan terhadap sirkulasi.

  • Sumbatan pada saluran napas.

  • Paparan pada zat tertentu yang mengganggu pengangkutan atau pemanfaatan oksigen.

  • Berada di lingkungan dengan kadar oksigen lebih rendah, seperti di dataran tinggi.

  • Gangguan pernapasan karena efek dari obat atau kondisi yang memengaruhi kerja otot pernapasan.

Mengetahui penyebabnya adalah hal utama dalam proses pemulihan. Karena penyebabnya bermacam-macam, maka cara menanganinya pun tak sama.

Diagnosis Hipoksia

Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan oksigen, dokter biasanya mulai dengan memeriksa kondisi fisik dan riwayat kesehatan.

Salah satu pemeriksaan yang sering digunakan adalah pulse oximetry. Alat kecil ini dipasang di ujung jari untuk memperkirakan saturasi oksigen dalam darah. Kelebihan pemeriksaan ini yakni cepat dan tidak membutuhkan pengambilan darah.

Pada beberapa situasi, dokter juga bisa meminta pemeriksaan gas darah. Tes ini memakai sampel darah dan bisa memberi informasi lebih rinci tentang kadar oksigen, karbon dioksida, serta keseimbangan asam-basa dalam darah.

Pemeriksaan lain juga bisa dipilih sesuai dugaan penyebab. Contohnya rontgen dada, pemeriksaan jantung, tes darah, atau pemeriksaan pencitraan tertentu. Jadi, angka saturasi oksigen bukan satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis.

Pengobatan dan Penanganan Hipoksia

Dalam memahami apa itu hipoksia, sangat penting untuk mengetahui bahwa penanganannya sangat bergantung pada penyebab serta seberapa parah kondisi tersebut. Jika kadar oksigen dalam darah memang rendah, dokter biasanya akan memberikan terapi oksigen untuk mencukupi kebutuhan tubuh.

Namun, pemberian oksigen saja tidak akan menyembuhkan akar permasalahannya. Dokter harus tetap mengidentifikasi dan mengobati penyebab utamanya. Misalnya, jika hipoksia dipicu oleh infeksi paru, maka infeksinya lah yang harus diatasi, bukan sekadar menambah asupan oksigen.

Pada kondisi berat atau ketika oksigen biasa belum cukup, pasien mungkin memerlukan dukungan pernapasan bertahap, seperti pengaturan aliran oksigen tertentu, penggunaan alat bantu napas noninvasif, hingga pemasangan ventilator, tergantung pada kebutuhan spesifik tiap individu.

Oleh karena itu, sangat tidak disarankan untuk melakukan terapi oksigen sendiri di rumah tanpa pengawasan medis. Dosis dan penggunaan oksigen harus disesuaikan secara tepat dengan kondisi kesehatan seseorang agar tidak menimbulkan risiko baru.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami hal berikut:

  • sesak napas muncul secara tiba-tiba atau semakin berat, 

  • bibir atau kulit tampak kebiruan,

  • nyeri dada, 

  • kebingungan, 

  • penurunan kesadaran,

  • sulit berbicara karena kehabisan napas.

Pada bayi, kesulitan bernapas, tubuh sangat lemas, tidak mau menyusu, perubahan warna kulit, atau kejang juga membutuhkan penilaian medis segera.

Sementara untuk keluhan seperti mudah lelah, sering sesak saat beraktivitas, atau pusing berulang muncul tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan kesehatan dapat membantu mencari kemungkinan masalah yang mendasarinya.

Jaga Kesehatan Anda Dimulai dengan Memahami Kondisi Tubuh

Pemahaman mengenai apa itu hipoksia dapat menjadi langkah awal untuk lebih mengenali pentingnya menjaga kadar oksigen dalam tubuh. 

Memahami kondisi kesehatan tidak selalu harus dimulai dari pemeriksaan yang rumit. Bagi orang dewasa yang ingin mulai melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, Medical Check Up Basic dari Bumame dapat menjadi salah satu pilihan pemeriksaan dasar dengan harga mulai dari Rp695.000. Pemeriksaan ini sudah mencakup hematologi lengkap, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal, profil lemak darah, gula darah puasa, serta urine lengkap.

Perlu dipahami juga bahwa pemeriksaan ini bukan untuk pengobatan hipoksia dan tidak dapat menggantikan evaluasi medis ketika seseorang sedang mengalami kekurangan oksigen.

Namun, sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin, hasilnya dapat membantu memberikan gambaran mengenai beberapa aspek kesehatan tubuh dan menjadi bahan diskusi lebih lanjut dengan tenaga medis bila ditemukan hasil yang perlu mendapat perhatian khusus.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. National Library of Medicine. (2022). Hypoxia: molecular pathophysiological mechanisms in human diseases.

  2. Health.com. (2026). What To Know About Hypoxia and Why It Happens.

  3. Journal of Biomedical Science. (2020). Pathophysiological implications of hypoxia in human diseases.

  4. National Library of Medicine. (2017). Mechanisms of hypoxemia. 

  5. International Journal of Progressive Sciences and Technologies. (2022).  Hypoxic-Ischemic Encephalopathy (HIE): Diagnostic, And Therapeutic Strategies: Clinical review.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu hipoksia?
Hipoksia adalah kondisi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsinya secara optimal. Kondisi ini dapat mengganggu organ seperti otak dan jantung. 
Apa saja jenis hipoksia?
Hipoksia terdiri dari hipoksia hipoksemik, anemik, sirkulasi, dan histotoksik. Keempatnya dibedakan berdasarkan mekanisme yang menyebabkan pasokan atau pemanfaatan oksigen di jaringan terganggu. 
Apa saja gejala hipoksia?
Gejala hipoksia dapat berupa sesak atau napas pendek, napas cepat, jantung berdebar, mudah lelah, sakit kepala, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan warna bibir atau ujung jari menjadi kebiruan. Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran. 
Bagaimana cara mendiagnosis hipoksia?
Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan, kemudian menggunakan pulse oximetry untuk memperkirakan saturasi oksigen. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan gas darah, rontgen dada, pemeriksaan jantung, tes darah, atau pencitraan sesuai dugaan penyebab. 
Bagaimana cara mengatasi hipoksia?
Penanganan hipoksia bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Dokter dapat memberikan terapi oksigen atau dukungan pernapasan, tetapi penyebab utama seperti infeksi paru juga harus ditangani agar kondisi dapat membaik.