Anak-anak memang senang sekali bermain pasir dan menggali tanah. Namun, terkadang setelah bermain, mereka langsung meraih camilan dan lupa mencuci tangan. Kejadian seperti ini tampak sepele, tapi, di situlah telur cacing sering menemukan jalan masuk, dan cacingan pada anak bisa bermula tanpa disadari.
Banyak orang tua baru curiga ketika anak tampak lesu, nafsu makannya menurun, atau mengeluh gatal di sekitar anus pada malam hari. Kabar baiknya, masalah ini bisa diobati dan sebagian besar bisa dicegah lewat kebiasaan sederhana di rumah. Mari mengenal ciri-ciri anak cacingan, penyebab, sampai langkah pencegahannya!
Apa Itu Cacingan?
Cacingan terjadi karena adanya infeksi cacing parasit di dalam tubuh. Parasit berarti makhluk hidup yang menumpang dan mengambil makanan dari tubuh inangnya. Dalam peraturan kesehatan di Indonesia, masalah ini merujuk pada infeksi cacing yang ditularkan lewat tanah.
Ada tiga jenis yang paling utama, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Selain itu, ada juga cacing kremi (Enterobius vermicularis), cacing kecil berwarna putih yang sering ditemukan pada anak.
Secara global, WHO memperkirakan sekitar 1,5 miliar orang atau 24% penduduk dunia terinfeksi cacing tular tanah. Anak-anak termasuk kelompok yang diprioritaskan karena tangan mereka mudah kotor setelah bermain di tanah dan kebiasaan mencuci tangan belum selalu konsisten.
Dampaknya tidak selalu terlihat cepat, tetapi pada infeksi berat, cacing dapat mengganggu gizi dan tumbuh kembang anak.
Ciri-Ciri Anak Cacingan
Banyak anak yang terkena cacingan tapi tidak merasakan apa-apa, terutama jika jumlah cacing di tubuhnya masih sedikit. Gejala biasanya baru muncul ketika infeksinya lebih berat atau sudah berlangsung lama. Berikut beberapa ciri-cirinya.
Nafsu makan menurun, mual, dan tampak lesu. Keluhan ini sering muncul pada infeksi cacing gelang.
Diare berkepanjangan atau sembelit disertai nyeri perut. Pada infeksi cacing cambuk, anak bisa mengalami diare berulang.
Berat badan turun atau sulit naik dan pertumbuhan terhambat karena cacing mengambil sebagian nutrisi dari tubuh anak. Anda juga bisa melakukan tes tumbuh kembang anak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Mudah lelah dan tampak pucat. Cacing tambang dapat menyebabkan perdarahan usus yang berlangsung lama sehingga anak kekurangan darah (anemia).
Gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari, dan anak tidur gelisah. Kondisi ini merupakan ciri khas cacing kremi karena cacing betina keluar saat anak tidur untuk bertelur di kulit sekitar anus.
Gatal pada kulit kaki. Larva cacing tambang yang menembus kulit bisa meninggalkan rasa gatal.
Gejala-gejala di atas tidak hanya mengacu pada penyakit cacingan karena penyakit lain juga bisa menimbulkan gejala yang sama. Jadi, anggap ciri-ciri ini sebagai alasan untuk memeriksakan anak, bukan sebagai kesimpulan bahwa anak sudah pasti terkena masalah ini.
Satu gejala saja, misalnya anak sesekali kurang nafsu makan, belum tentu berarti infeksi cacing. Hal yang perlu Anda cermati adalah gejala yang berulang atau muncul bersamaan.
Pada infeksi yang sangat berat, cacing dapat menyumbat usus dan memerlukan tindakan operasi, meski kondisi ini jarang terjadi. Jadi, pemeriksaan dan konsultasi bersama dokter sangat penting untuk mengetahui kondisi anak lebih lanjut.
Penyebab dan Faktor Risiko Cacingan
Telur cacing berasal dari tinja orang yang terinfeksi. Bila seseorang membuang air besar sembarangan, telur cacing akan mencemari tanah dan air. Telur pun membutuhkan sekitar tiga minggu di tanah sebelum bisa menular, jadi cacing tular tanah tidak berpindah langsung dari orang ke orang.
Pada anak, telur biasanya masuk lewat beberapa jalur seperti
Sayur dan buah mentah yang belum dicuci atau dikupas dengan benar.
Air yang tercemar.
Tangan anak yang kotor dan belum dicuci dengan benar sebelum makan, misalnya setelah bermain tanah atau pasir.
Cacing tambang punya jalur lain. Larva mereka akan menembus kulit, terutama saat anak berjalan tanpa alas kaki di tanah yang tercemar. Sedangkan cacing kremi menular dengan cara berbeda. Telurnya menempel di kulit sekitar anus, lalu berpindah ke kuku, pakaian, atau seprai. Telur tertelan saat tangan menyentuh mulut dan bisa bertahan 2 sampai 3 minggu.
Faktor risikonya cukup jelas: kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan, buang air besar sembarangan, dan bermain di tanah tanpa alas kaki.
Cacing kremi lebih sering menyerang anak-anak dan anggota rumah tangga yang tinggal serumah dengan penderita. Karena itu, ketika satu anak terinfeksi, seisi rumah biasanya perlu ikut menjaga kebersihan tangan dan pakaian.
Diagnosis: Bagaimana Cacingan Diperiksa?
Pada umumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan tinja di bawah mikroskop untuk mencari telur cacing. Pedoman Kementerian Kesehatan menyebut teknik ini sebagai Kato-Katz.
Sedangkan untuk mencari cacing kremi, dokter akan memakai cara lain, yaitu tes selotip. Selotip bening akan ditempelkan ke kulit sekitar anus pada pagi hari, sebelum anak mandi, ke toilet, atau berpakaian. Tes ini diulang tiga pagi berturut-turut, lalu selotip tersebut diperiksa di bawah mikroskop.
Cacingan yang dibiarkan lama bisa membuat anak kekurangan darah. Di sinilah pemeriksaan darah dasar sangat berguna. Anda bisa mengambil paket medical check-up basic dari Bumame yang memuat 12 pemeriksaan, antara lain hematologi lengkap untuk melihat kadar hemoglobin, profil lemak, fungsi hati, fungsi ginjal, dan urine lengkap.
Pengobatan Cacingan
Dokter mengobati dengan obat cacing yang sudah diresepkan. Obat yang sering dipakai meliputi albendazol, mebendazol, dan pirantel pamoat. Dosis untuk setiap anak bergantung pada usia dan berat badannya. Misalnya, dokter memberikan albendazol sebagai dosis tunggal 400 mg untuk anak di atas 2 tahun.
Jadi, sebaiknya Anda tidak memberikan obat bebas tanpa bertanya dulu kepada dokter atau apoteker. Lalu, pada cacing kremi, seluruh anggota rumah dan pengasuh sebaiknya menjalani pengobatan bersama.
Dokter akan memberikan pengobatan dua kali dengan jarak dua minggu, karena dosis kedua membunuh cacing yang baru menetas dari telur. Jika anak juga mengalami anemia, dokter akan menganjurkan asupan gizi yang baik dan, bila perlu, memberikan suplemen zat besi untuk anak.
Perlu diketahui bahwa obat cacing tidak membuat anak kebal. Infeksi ulang mudah terjadi bila kebiasaan bersih tidak berubah.
Cara Mencegah Cacingan pada Anak
Sebagian besar pencegahan bergantung pada kebiasaan sehari-hari. Lalu, bagaimana cara untuk mencegah penyakit cacingan pada anak-anak? Anda bisa memulai beberapa langkah berikut di rumah.
Cuci tangan pakai sabun. Biasakan anak mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar, dan setelah bermain.
Pakai alas kaki. Sandal atau sepatu dapat melindungi kaki dari larva cacing tambang di tanah yang tercemar.
Cuci, kupas, dan masak sayur serta buah. Telur cacing bisa menempel pada bahan makanan mentah, jadi mencuci sebelum dikonsumsi sangatlah penting.
Gunakan air bersih dan jamban sehat. Buang air besar di jamban dapat memutus siklus pencemaran tanah.
Jaga kuku dan pakaian. Telur cacing kremi bisa terselip di kuku, pakaian, dan seprai, jadi cuci pakaian dan seprai dengan baik.
Ikut program obat cacing. Pemerintah memberikan obat pencegahan massal (albendazol) untuk anak usia 1 sampai 12 tahun di daerah dengan angka cacingan tinggi dan sedang, satu atau dua kali setahun. Aturan ini berlaku sejak tahun 2017, jadi tanyakan jadwal terbaru ke puskesmas atau dokter jika ingin mengikuti program ini.
Kebiasaan kecil yang Anda lakukan secara konsisten akan lebih berguna daripada langkah besar yang hanya dilakukan sekali. Jadi, ajak anak melakukannya sambil bermain dan beri contoh secara langsung.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter bila muncul gejala cacingan. Contohnya seperti gatal di anus pada malam hari secara berulang, berat badan tidak naik, anak tampak pucat dan mudah lelah, atau diare dan nyeri perut yang tak kunjung reda.
Jangan menunda jika nyeri perut terasa hebat atau anak muntah secara terus-menerus. Dokter akan menilai gejalanya dan menentukan pemeriksaan yang diperlukan. Bila Anda ingin memeriksa kondisi darah dan kesehatan umum, Anda bisa mencoba melakukan tes medical check-up basic di Bumame.
Anda juga dapat melakukan konsultasi gratis dengan dokter Bumame lewat WhatsApp untuk menanyakan pemeriksaan yang paling sesuai bagi anak.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
World Health Organization — Soil-Transmitted Helminth Infections
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan
Centers for Disease Control and Prevention — About Pinworm Infection
Centers for Disease Control and Prevention — About Soil-Transmitted Helminths
Centers for Disease Control and Prevention — Diagnosing Pinworms
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apakah cacingan menular dari anak ke anak lain?
Cacing tular tanah tidak menyebar secara langsung dari orang ke orang. Namun, cacing kremi dapat menular melalui telur yang berpindah lewat tangan, pakaian, atau seprai yang terkontaminasi.
Apakah anak tanpa gejala bisa mengalami cacingan?
Bisa. Infeksi cacing ringan sering kali tidak menimbulkan gejala. Pemeriksaan diperlukan jika anak memiliki riwayat paparan atau menunjukkan tanda yang mencurigakan.
Apakah cacingan bisa menyebabkan anemia?
Bisa, terutama akibat infeksi cacing tambang yang dapat menyebabkan perdarahan usus berkepanjangan. Kondisi ini bisa membuat anak kekurangan darah, tampak pucat, dan mudah lelah.
Apakah anak harus minum obat cacing secara rutin?
Pemberian obat cacing pencegahan dapat dianjurkan bagi anak yang tinggal di daerah dengan tingkat infeksi sedang atau tinggi. Tanyakan jadwal dan dosis yang sesuai kepada dokter atau puskesmas.
Apakah bermain di tanah atau pasir membuat anak lebih mudah cacingan?
Ya. Anak dapat terpapar telur cacing dari tanah atau pasir yang tercemar. Biasakan anak memakai alas kaki, mencuci tangan dengan sabun setelah bermain, serta mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
