Si Kecil lahap minum susu dan pipinya tembam, jadi orang tua merasa gizinya sudah cukup. Padahal, kekurangan zat besi sering tidak terlihat dari luar, dan anak yang terlalu banyak minum susu justru lebih rentan.
Zat besi penting untuk perkembangan otak, pertumbuhan, dan daya tahan tubuh. Gejala kekurangannya umumnya baru tampak setelah terjadi anemia, jadi pola makan sejak bayi menjadi kunci pencegahan.
Berikut kebutuhan zat besi anak per usia, sumber makanannya, cara menyusun makanan pendamping ASI (MPASI), tanda kekurangan, dan kapan perlu suplemen.
Mengapa Anak Butuh Zat Besi?
Zat besi membantu sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Secara umum, fungsi zat besi bagi tubuh sama pada anak dan orang dewasa, tetapi anak butuh pasokan stabil untuk tumbuh cepat.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa zat besi berperan dalam perkembangan sistem saraf, termasuk mielinisasi atau pembentukan lapisan pelindung serabut saraf. Kekurangannya bisa memengaruhi kemampuan berpikir, perilaku, dan pertumbuhan anak.
WHO mencatat anak di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun, rentan mengalami anemia. Sekitar 40% anak usia 6 sampai 59 bulan di dunia diperkirakan mengalaminya, dan kurang asupan zat besi menjadi salah satu penyebab utamanya.
Berapa Kebutuhan Zat Besi Anak per Hari?
Bayi lahir dengan cadangan zat besi, dan IDAI menyebut ASI saja cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi sampai usia 6 bulan. Kadar zat besi ASI lebih rendah daripada susu sapi, tetapi sekitar 50% di antaranya bisa diserap.
Menurut WHO, sekitar usia 6 bulan kebutuhan gizi bayi mulai melampaui yang bisa dipenuhi ASI. Mayo Clinic mencantumkan kebutuhan zat besi harian berikut:
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Bayi 7 sampai 12 bulan ternyata butuh zat besi lebih banyak daripada balita 1 sampai 3 tahun, padahal porsi makannya masih kecil. Karena itu, setiap suapan MPASI sebaiknya padat zat besi. Angka ini acuan umum yang bisa disesuaikan dokter, misalnya pada bayi prematur.
Usia dan Kondisi yang Membuat Anak Rentan Kekurangan Zat Besi
Menurut IDAI dan Mayo Clinic, risikonya berbeda pada tiap kelompok usia:
Bayi di bawah 1 tahun. Cadangan zat besi bisa kurang pada bayi prematur, berat lahir rendah, atau kembar, dan kondisi anemia pada ibu hamil juga bisa mengurangi cadangan bayi. Risiko naik bila bayi minum susu sapi sebelum usia 1 tahun, mendapat susu formula rendah zat besi, atau memiliki alergi protein susu sapi.
Anak usia 1 sampai 5 tahun. Asupan mudah kurang bila menu jarang memuat lauk hewani. Mayo Clinic menyebut minum susu lebih dari 710 ml per hari juga menaikkan risiko. Infeksi berulang, obesitas, dan malabsorpsi atau gangguan penyerapan zat gizi ikut berperan.
Anak usia sekolah dan remaja. Kehilangan darah, misalnya akibat infeksi cacing tambang, perlu diwaspadai. Remaja putri lebih rentan karena tubuhnya kehilangan zat besi setiap kali menstruasi.
Sumber Zat Besi dari Makanan Sehari-hari
Menu yang beragam lebih mudah mencukupi kebutuhan zat besi anak. IDAI menjelaskan bahwa zat besi heme, yaitu bentuk zat besi dari bahan hewani, lebih mudah diserap tubuh. Pilihannya antara lain:
Hati, daging merah, dan ayam. IDAI menyebut hati, daging, dan ikan sebagai sumber zat besi yang penyerapannya baik. Untuk bayi, sajikan halus lalu kasarkan teksturnya secara bertahap.
Ikan dan telur. Keduanya menambah protein hewani berkualitas untuk tumbuh. IDAI menganjurkan sumber hewani yang bervariasi agar gizinya saling melengkapi.
Kacang-kacangan dan sayuran hijau tua. WHO dan NHS memasukkan keduanya sebagai sumber zat besi. Penyerapannya terbantu bila disantap bersama sumber vitamin C, seperti jeruk, tomat, atau paprika.
Sereal bayi yang difortifikasi. Produk yang diperkaya zat besi bisa membantu di awal masa MPASI. Periksa label kemasan untuk melihat kandungannya.
WHO menyarankan agar teh, kopi, kakao, dan kalsium tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber zat besi karena bisa memperlambat penyerapannya. NHS menambahkan bahwa susu dan produk olahannya dalam jumlah besar juga menghambat penyerapan zat besi.
Baca Juga: Makanan untuk Anemia dan Tips Mengaturnya
Langkah Menyusun MPASI yang Kaya Zat Besi
WHO menganjurkan ASI eksklusif 6 bulan, lalu MPASI mulai usia 6 bulan sambil tetap menyusui hingga 2 tahun atau lebih. IDAI mengingatkan bahwa MPASI sering hanya berisi nasi, bubur, atau biskuit yang mengenyangkan tetapi kurang gizi. Langkah berikut membantu:
Mulai di usia 6 bulan. Menurut WHO, MPASI yang terlalu cepat atau terlambat bisa mengganggu pertumbuhan. Mulai dari porsi kecil, lalu tambah jumlah, tekstur, dan variasinya.
Sertakan lauk hewani di setiap waktu makan. Hati, daging, ayam, atau ikan menyumbang zat besi heme, seng, dan vitamin B12. Porsi kecil yang rutin lebih bermanfaat daripada menambah porsi nasi.
Atur frekuensi makan sesuai usia. WHO menyarankan 2 sampai 3 kali makan sehari untuk usia 6 sampai 8 bulan dan 3 sampai 4 kali untuk usia 9 sampai 23 bulan. Tambahkan 1 sampai 2 kali selingan bila perlu.
Tunda susu sapi sebagai minuman utama. Susu sapi sebelum usia 1 tahun menaikkan risiko kekurangan zat besi. Setelahnya, jaga jumlah susu harian dalam batas yang disebut di atas.
Jaga kebersihan makanan dan tangan. IDAI menyebut infeksi bakteri dan cacing sebagai salah satu penyebab kekurangan zat besi. Cuci tangan dengan sabun dan siapkan makanan secara bersih.
Tanda Anak Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi yang berlanjut bisa menjadi anemia defisiensi besi, yaitu kondisi saat tubuh kekurangan sel darah merah sehat karena kurang zat besi. Menurut Mayo Clinic, sebagian besar gejala baru muncul pada tahap ini, antara lain:
1. Pucat di Bibir, Gusi, atau Kuku
Bibir, gusi, tepi kelopak mata, atau dasar kuku tampak lebih pucat dari biasanya. IDAI menyebut pucat yang berlangsung lama sebagai gejala yang sering ditemukan dan perlu diperiksakan.
2. Mudah Lelah dan Cepat Sesak saat Bermain
Anak tampak lemas atau cepat terengah-engah saat berlari, dan tangan serta kakinya terasa dingin. Keluhan ini mudah dianggap kurang tidur biasa.
3. Nafsu Makan dan Pertumbuhan Menurun
Mayo Clinic mencatat nafsu makan yang buruk serta pertumbuhan yang melambat sebagai tanda kekurangan zat besi. Pemantauan rutin lewat tes tumbuh kembang anak membantu mengenalinya lebih awal.
4. Rewel dan Sering Sakit
Anak bisa lebih mudah marah atau rewel, dan IDAI mencatat prestasi belajarnya bisa menurun. Kekurangan zat besi juga memengaruhi sistem imun, sehingga anak lebih mudah terkena infeksi.
5. Keinginan Makan Benda yang Tidak Lazim
Sebagian anak ingin mengunyah es batu, tanah, atau cat. Kebiasaan yang disebut pica ini bisa menjadi tanda kekurangan zat besi dan perlu dikonsultasikan ke dokter.
Apakah Anak Perlu Suplemen Zat Besi?
Jawabannya bergantung pada usia, pola makan, dan kondisi anak. Menurut Mayo Clinic, bayi dengan susu formula yang diperkaya zat besi umumnya sudah tercukupi, sedangkan ibu yang menyusui perlu membicarakan suplemen dengan dokter anak. IDAI memasukkan suplementasi zat besi dalam upaya pencegahan sejak bayi hingga remaja, dan WHO menekankan pemakaiannya sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Pucat belum tentu disebabkan kekurangan zat besi. WHO mencatat anemia bisa dipicu infeksi, penyakit kronis, atau kelainan bawaan seperti thalassemia, sehingga dokter mencari penyebabnya lebih dulu, termasuk lewat skrining thalassemia pada anak bila perlu.
Simpan suplemen jauh dari jangkauan anak. NHS mengingatkan bahwa kelebihan dosis zat besi pada anak kecil bisa berakibat fatal, jadi segera bawa ke IGD bila anak tidak sengaja menelannya. Sampaikan efek samping seperti sembelit, sakit perut, atau tinja lebih gelap kepada dokter.
Kapan Anak Perlu Diperiksa Dokter?
Segera bawa anak ke IGD bila ia tampak sangat pucat, napasnya cepat, jantungnya berdebar kencang, atau sangat lemas. Napas dan denyut jantung yang cepat termasuk gejala anemia berat menurut WHO.
Jadwalkan konsultasi bila anak pucat, lemas, atau sering sakit selama beberapa minggu, berat badannya tidak naik sesuai grafik pertumbuhan, atau ia memiliki faktor risiko di atas, seperti lahir prematur atau banyak minum susu.
Pemeriksaan untuk Menilai Cadangan Zat Besi Anak
Kekurangan zat besi umumnya diketahui lewat pemeriksaan darah. Mayo Clinic menyebut American Academy of Pediatrics menganjurkan pemeriksaan anemia defisiensi besi pada bayi usia 9 sampai 12 bulan, lalu diulang pada anak berisiko.
Dokter biasanya memulai dengan tes darah lengkap untuk melihat kadar hemoglobin, protein pembawa oksigen dalam darah. Cadangan zat besi dinilai lewat tes ferritin, protein penyimpan zat besi. Kadar ferritin yang rendah bisa menandakan cadangan menipis, sedangkan infeksi atau peradangan bisa membuat kadarnya naik. Nilai rujukan bergantung pada laboratorium dan dokter.
Bila dokter menyarankan, pemeriksaan Ferritin tersedia di Bumame. Pemeriksaan dengan sampel darah ini membantu memperkirakan cadangan zat besi, mendeteksi kekurangan sebelum anemia menjadi berat, dan memantau respons terhadap suplemen. Layanan tersedia di klinik atau lewat Home Care. Untuk menanyakan pemeriksaan bagi anak, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Bantu Anak Tumbuh Sehat dengan Asupan Zat Besi yang Cukup
Kebutuhan zat besi anak bisa dicukupi lewat MPASI yang padat gizi, lauk hewani yang bervariasi, dan jumlah susu yang seimbang. Kenali tandanya sejak awal dan diskusikan suplemen dengan dokter anak. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Windiastuti E, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Anemia Defisiensi Besi pada Bayi dan Anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting.
Mayo Clinic. Iron Deficiency in Children: Prevention Tips for Parents.
World Health Organization. Anaemia.
World Health Organization. Infant and Young Child Feeding.
NHS. Iron Deficiency Anaemia.
MedlinePlus, National Library of Medicine. Ferritin Blood Test.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Berapa kebutuhan zat besi anak per hari berdasarkan usianya?
Kebutuhan zat besi berbeda menurut usia. Acuan harian meliputi 11 mg untuk bayi 7–12 bulan, 7 mg untuk anak 1–3 tahun, 10 mg untuk usia 4–8 tahun, dan 8 mg untuk usia 9–13 tahun. Kebutuhan remaja berbeda menurut jenis kelamin, sehingga penyesuaian perlu mengikuti kondisi anak dan arahan dokter.
Makanan apa saja yang menjadi sumber zat besi untuk anak?
Sumber zat besi meliputi hati, daging merah, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, sayuran hijau tua, dan sereal bayi yang difortifikasi. Zat besi dari bahan hewani lebih mudah diserap, sedangkan sumber nabati dapat dikombinasikan dengan makanan kaya vitamin C untuk membantu penyerapannya.
Kapan bayi mulai membutuhkan MPASI kaya zat besi?
Sekitar usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi mulai melampaui yang dapat dipenuhi ASI saja. MPASI perlu mulai diberikan dengan mengutamakan makanan padat zat besi, termasuk lauk hewani, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI.
Apa tanda anak mengalami kekurangan zat besi?
Tanda yang dapat muncul meliputi pucat, mudah lelah, cepat sesak saat bermain, nafsu makan menurun, pertumbuhan melambat, rewel, dan sering sakit. Keinginan mengonsumsi benda yang tidak lazim, seperti tanah atau es batu, juga perlu diperiksakan. Gejala tersebut tidak selalu berarti kekurangan zat besi.
Apakah anak boleh minum suplemen zat besi tanpa anjuran dokter?
Sebaiknya tidak. Dokter perlu menilai usia, pola makan, faktor risiko, dan kemungkinan penyebab lain sebelum menentukan kebutuhan suplemen. Kelebihan zat besi dapat berbahaya bagi anak kecil, sehingga suplemen harus disimpan jauh dari jangkauan anak.
