Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Splenomegali: Penyebab Pembesaran Limpa & Penanganannya
Kembali ke Artikel & Berita

Splenomegali: Penyebab Pembesaran Limpa & Penanganannya

SBATips Kesehatan

Pernah merasa tiba-tiba cepat kenyang meski baru saja makan, bahkan sampai mengalami rasa tidak nyaman di bagian kiri atas perut? Keluhan seperti ini bisa saja disebabkan oleh berbagai jenis kondisi. Salah satu kemungkinan yang perlu Anda kenali adalah splenomegali (splenomegaly), yaitu adanya pembesaran organ limpa. 

Kondisi ini kadang tidak menimbulkan gejala dan bisa saja baru diketahui saat pemeriksaan kesehatan. Karena bisa saja berkaitan dengan sejumlah penyakit, maka penyebabnya sendiri perlu dievaluasi oleh dokter. Mari mengenal gejala dan penyebab lengkapnya!

Apa Itu Splenomegali?

Splenomegali adalah kondisi saat ukuran limpa membesar melebihi ukuran normalnya. Splenomegaly bukanlah penyakit tersendiri, melainkan sebuah tanda yang bisa saja muncul akibat kondisi lain, seperti infeksi, penyakit hati, kelainan sel darah, ataupun sampai kanker darah tertentu. 

Limpa sendiri terletak di bagian kiri atas rongga perut, tepatnya ada di bawah tulang rusuk. Organ ini berperan dalam menyaring darah, membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi, dan juga mengelola sel darah merah dan trombosit yang sudah tua ataupun rusak.

Ketika limpa membesar, organ ini bisa menangkap ataupun menghancurkan sel darah lebih banyak daripada biasanya, sehingga jumlah sel darah dalam sirkulasi bisa menurun.

Pembesaran limpa umumnya bisa bersifat sementara, misalnya pada saat tubuh sedang menghadapi infeksi tertentu. Namun, pada kasus tertentu, kondisi ini bisa berkaitan dengan penyakit kronis yang memerlukan pemeriksaan dan juga penanganan lebih lanjut.

Gejala Splenomegali

Splenomegaly sering tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Jika gejalanya muncul, tanda yang bisa penderita rasakan antara lain adalah nyeri ataupun rasa penuh di bagian kiri atas perut. Muncul pula rasa tidak nyaman yang menjalar ke bahu kiri, dan juga cepat kenyang karena limpa yang membesar ini akan menekan lambung.

Ketahui juga bahwa pada sebagian orang, pembesaran limpa bisa disertai gejala yang berkaitan dengan penyakit penyebabnya. Contohnya mudah lelah akibat anemia, lebih sering mengalami infeksi, ataupun sampai mudah mengalami memar dan pendarahan jika memang jumlah trombosit menurun. 

Ingat! Gejala-gejala tersebut tidak serta merta khusus untuk splenomegali. Jadi, masih sangat perlu dinilai bersama hasil pemeriksaan medis. Karena itu, segera cari pertolongan medis jika memang mengalami nyeri hebat di bagian kiri atas perut.

Perhatikan juga jika Anda merasa nyeri setelah mengalami benturan atau cedera, atau jika nyeri menjalar ke bahu kiri dan disertai pusing berat, lemas, ataupun sampai pingsan. Limpa yang membesar ini akan lebih rentan mengalami cedera ataupun pecah, yang bisa saja menyebabkan perdarahan serius di dalam perut.

Penyebab dan Faktor Risiko Splenomegali

Berbagai kondisi bisa menyebabkan splenomegaly, berikut beberapa yang umum.

  • Infeksi: misalnya mononukleosis, hepatitis, malaria, dan juga beberapa infeksi bakteri.

  • Penyakit hati: seperti penyakit sirosis hati yang bisa meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar hati dan juga limpa.

  • Kelainan darah: termasuk masalah anemia hemolitik, yaitu kondisi ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada pembentukannya sendiri.

  • Kanker darah atau sistem limfatik: seperti leukemia dan limfoma.

  • Penyakit autoimun atau metabolik tertentu: kondisi yang bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh ataupun menyebabkan penumpukan zat di organ.

Penyebab bisa berbeda bergantung pada usia, gejala, riwayat kesehatan, serta riwayat perjalanan atau adanya paparan infeksi. Maka dari itu, dokter biasanya tidak langsung menentukan penyebab hanya dari ukuran limpa atau hanya dari satu hasil tes darah. 

Risiko pun bisa meningkat pada orang yang sudah memiliki penyakit hati kronis, kelainan darah, gangguan autoimun, ataupun infeksi tertentu. Orang yang tinggal di atau bepergian ke wilayah dengan penyakit seperti malaria juga memerlukan evaluasi berdasarkan riwayat paparannya. 

Meski demikian, faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami pembesaran limpa.

Diagnosis dan Pemeriksaan Splenomegali

Berikut beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis splenomegaly.

Pemeriksaan Wawancara dan Fisik

Dokter nantinya akan menanyakan keluhan dan juga riwayat kesehatan, kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik pada perut. Limpa yang membesar terkadang bisa diraba, tapi pemeriksaan fisik saja tidak akan selalu cukup untuk bisa memastikan ukurannya. 

Maka dari itu, dokter biasanya akan merekomendasikan USG perut untuk bisa menilai ukuran limpa. CT scan ataupun MRI pun bisa dipertimbangkan bila memang dibutuhkan informasi lebih lanjut.

Pemeriksaan Darah untuk Menelusuri Penyebab

Dokter akan menyarankan pemeriksaan darah lengkap untuk bisa menilai jumlah sel darah merah, sel darah putih, hemoglobin, dan juga trombosit. Hasilnya akan membantu mencari petunjuk mengenai anemia, infeksi, ataupun gangguan sel darah. 

Pemeriksaan ini akan membantu dokter mengevaluasi kelainan darah yang mungkin berkaitan dengan pembesaran limpa, tapi tetap tidak bisa memastikan ukuran limpa ataupun mendiagnosis splenomegali secara mandiri. Penilaian biasanya masih perlu dilengkapi pemeriksaan fisik dan juga pencitraan sesuai kebutuhan. 

Salah satunya opsi pemeriksaan laboratorium yang bisa dipertimbangkan sesuai arahan tenaga medis adalah Hematologi Lengkap Bumame. Pemeriksaan ini akan memberikan gambaran tentang komponen darah, tetapi tetap bukan pengganti konsultasi dokter atau USG ketika pembesaran limpa dicurigai.

Berdasarkan dugaan penyebab, biasanya dokter juga akan menambah pemeriksaan fungsi hati, tes infeksi, ataupun pemeriksaan lain yang sesuai.

Cara Mengatasi Splenomegali

Dalam beberapa kasus limpa dalam kembali ke ukuran normal, namun ada pula kasus di mana masalah ini tidak bisa sembuh dan membutuhkan treatment lain, seperti operasi pengangkatan. Intinya, penanganan splenomegaly akan bergantung pada penyakit yang mendasarinya.

Pemantauan biasanya akan dilakukan pada penderita yang mengalami pembesaran limpa, namun tidak merasakan gejala. Evaluasi bisa dilakukan 6 hingga 12 bulan atau kurang sampai Anda diminta kembali jika merasakan gejala.

Sedangkan untuk operasi pengangkatan limpa, biasanya tidak selalu diperlukan. Tindakan ini hanya akan dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti komplikasi, dan juga respons terhadap penanganan lainnya. Pengangkatan limpa sendiri dapat meningkatkan risiko infeksi tertentu. 

Meski dapat hidup dengan baik tanpa limpa, imun Anda terhadap infeksi akan berkurang. Karena itu, keputusan operasi ini tidak bisa sembarangan serta butuh perencanaan dan pemantauan medis. Tenaga medis juga akan merekomendasi berbagai vaksin untuk mencegah infeksi.

Beberapa vaksinasi yang dapat diberikan adalah Pneumovax 23 dan haemophilus influenzae type b (Hib). Vaksin ini bisa diberikan sebelum atau sesudah operasi, bahkan vaksin harus Anda lakukan rutin setiap lima tahun setelah operasi. Konsumsi penisilin atau antibiotik juga memungkinkan jika ada dugaan infeksi.

Cara Mengurangi Risiko dan Komplikasi

Tidak semua kasus splenomegali ini bisa Anda cegah, apalagi jika memang berkaitan dengan kondisi genetik ataupun penyakit tertentu. Tapi, melakukan penanganan infeksi dan penyakit kronis sesuai arahan dokter serta dengan melakukan pemeriksaan lanjutan yang direkomendasikan akan sangat membantu 

Sehingga, kondisi yang mendasarinya dapat Anda kelola dengan baik dan tidak berkembang menjadi lebih serius. Pemeriksaan kesehatan pun bisa sangat membantu mengevaluasi keluhan dan juga faktor risiko, tapi tidak semua orang akan membutuhkan tes yang sama. 

Aktivitas yang Sebaiknya Dibatasi oleh Penderita Splenomegali

Jika limpa membesar, pastikan untuk menghindari olahraga, aktivitas dengan risiko benturan pada perut, ataupun angkat beban berat sampai dokter menyatakan aktivitas tersebut aman. Langkah ini sangat penting karena benturan akan meningkatkan risiko cedera ataupun pecahnya limpa. 

Selain itu, hindari melakukan perjalanan ke wilayah dengan penyakit-penyakit tertentu, seperti malaria. Ingat! Jangan mengandalkan hilangnya rasa nyeri sebagai satu-satunya tanda bahwa limpa sudah kembali normal.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Lakukan konsultasi jika memang mengalami gejala splenomegali. Contohnya seperti rasa penuh ataupun nyeri yang menetap di bagian kiri atas perut, cepat kenyang tanpa adanya sebab jelas, kelelahan yang tidak biasa, ataupun sampai keluhan berulang yang mungkin berkaitan dengan anemia maupun infeksi. 

Pemeriksaan akan sangat membantu menentukan apakah gejala tersebut berhubungan dengan pembesaran limpa ataupun kondisi lainnya. Jika memang Anda sudah diberi tahu bahwa limpa membesar, maka pastikan untuk ikuti jadwal pemantauan dan juga anjuran aktivitas dari dokter. 

Bila muncul nyeri perut hebat, terutama setelah cedera, atau sampai disertai pusing berat maupun pingsan, maka segeralah cari pertolongan medis. Jika dokter menilai pemeriksaan darah memang diperlukan, Hematologi Lengkap Bumame bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengevaluasi komponen darah. 

Hasil pemeriksaan ini masih perlu ditafsirkan bersamaan dengan kondisi klinis dan juga pemeriksaan lain yang sesuai, bukan serta merta digunakan sebagai dasar diagnosis sendiri. Ayo, kenali setiap sinyal yang tubuh berikan untuk penanganan lebih awal!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Mayo Clinic — Enlarged Spleen (Splenomegaly): Symptoms and Causes

  2. Merck Manual Consumer Version — Enlarged Spleen

  3. Chapman, J., Goyal, A., & Azevedo, A. M. — Splenomegaly

  4. Aldulaimi, S., & Mendez, A. M. — Splenomegaly: Diagnosis and Management in Adults

  5. Merck Manual Professional Edition — Splenomegaly

  6. Cleveland Clinic — Enlarged Spleen

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apakah splenomegali berbahaya?

Risiko splenomegali bergantung pada penyebab dan tingkat pembesaran limpa. Sebagian kasus dapat dipantau, sedangkan kasus lain memerlukan penanganan terhadap penyakit yang mendasarinya. Limpa yang membesar juga lebih rentan mengalami cedera atau pecah, sehingga anjuran aktivitas dari dokter perlu diikuti.

Apakah splenomegali selalu menimbulkan gejala?

Tidak. Splenomegali sering tidak menimbulkan gejala dan dapat ditemukan saat pemeriksaan kesehatan. Jika keluhan muncul, gejalanya dapat berupa rasa penuh atau nyeri di perut kiri atas, cepat kenyang, dan rasa tidak nyaman yang menjalar ke bahu kiri.

Apakah tes darah cukup untuk mendiagnosis splenomegali?

Tidak. Tes darah membantu mengevaluasi jumlah sel darah dan mencari kemungkinan penyebab, seperti anemia atau infeksi. Ukuran limpa biasanya dinilai melalui pemeriksaan fisik dan pencitraan, seperti USG, sesuai kebutuhan medis.

Apakah limpa yang membesar bisa kembali normal?

Pada beberapa kasus, ukuran limpa dapat kembali normal setelah penyebabnya ditangani. Namun, hasilnya bergantung pada penyakit yang mendasari dan kondisi masing-masing orang. Pemantauan dokter diperlukan untuk mengevaluasi perkembangannya.

Bolehkah berolahraga jika mengalami splenomegali?

Aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat pembesaran limpa. Olahraga kontak, aktivitas berisiko benturan pada perut, dan angkat beban berat umumnya perlu dihindari sampai dokter menyatakan aman karena adanya risiko cedera atau pecahnya limpa.