Pernah merasa otot tiba-tiba menegang atau bagian tubuh bergerak sendiri tanpa bisa dikendalikan? Kondisi seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika sering terjadi dan mengganggu aktivitas, salah satu penyebabnya bisa berupa distonia (dystonia).
Gejalanya dapat muncul dengan pola yang berbeda pada setiap orang, mulai dari gerakan yang berulang hingga posisi tubuh yang terasa tidak nyaman. Karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, serta pilihan perawatan dan pengobatannya agar kondisi dapat ditangani dengan tepat.
Apa Itu Distonia?
Distonia adalah kelainan sistem gerak yang menyebabkan otot berkontraksi secara tidak terkendali sehingga tubuh dapat melakukan gerakan atau membentuk posisi tertentu tanpa disadari. Kondisi ini dapat memengaruhi satu bagian tubuh, beberapa bagian tubuh yang berdekatan, atau bahkan seluruh tubuh.
Jika memengaruhi sebagian tubuh, maka dapat disebut focal dystonia. Jika memengaruhi dua atau lebih area yang berdampingan, maka disebut segmental dystonia. Sedangkan yang memengaruhi seluruh tubuh disebut general dystonia.
Bagian tubuh yang terdampak distonia dapat berbeda pada setiap orang, seperti lengan, kaki, wajah, hingga pita suara. Gerakan yang muncul juga dapat disertai rasa sakit dan pada beberapa kondisi bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dystonia sendiri berkaitan dengan gangguan fungsi ganglia basalis, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengatur koordinasi dan kecepatan gerakan serta membantu mencegah gerakan yang tidak diinginkan.
Pada sebagian penderita, terutama yang mengalaminya sejak usia muda, gejala dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Sementara itu, pada usia yang lebih tua, gejalanya cenderung lebih menetap.
Gejala Distonia yang Perlu Diperhatikan
Gejala dapat berupa gerakan berulang, otot menegang tanpa disadari, atau posisi tubuh yang sulit dikendalikan. Biasanya akan muncul pada satu bagian area terlebih dahulu sebelum dapat menyebar. Gejalanya dapat berbeda pada setiap orang dan dapat memburuk akibat stres, kelelahan, atau kecemasan.
Leher: Leher bergerak atau berputar tanpa disadari, termasuk menoleh atau bergerak maju dan mundur.
Kelopak mata: Mata berkedip terlalu cepat atau kelopak mata menutup sendiri, disertai mata kering, terasa berpasir, atau sensitif terhadap cahaya.
Rahang: Penderita dapat mengalami kesulitan mengunyah, menelan, atau berbicara dengan jelas, serta air liur yang menetes tanpa disadari.
Pita suara: Gangguan pada otot pita suara dapat membuat suara terdengar lirih, tegang, atau seperti berbisik.
Tangan: Tangan mengalami kejang atau gerakan yang sulit dikendalikan saat melakukan aktivitas tertentu, seperti menulis atau memainkan alat musik.
Penyebab dan Risiko Distonia
Distonia dapat terjadi akibat gangguan komunikasi antarsel saraf di otak, meski penyebab pastinya belum diketahui. Kondisi ini juga bisa diturunkan dalam keluarga atau berkaitan dengan penyakit tertentu. Berikut beberapa contohnya.
Penyakit Wilson.
Cedera otak, stroke, atau cedera saat kelahiran.
Tumor otak dan kondisi tertentu yang berkaitan dengan kanker.
Kekurangan oksigen, keracunan karbon monoksida, atau infeksi otak.
Efek samping obat-obatan tertentu atau paparan logam berat.
Risiko distonia akut dapat meningkat jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan ini. Selain itu, perempuan cenderung lebih sering mengalaminya daripada laki-laki.
Diagnosis Distonia dan Pemeriksaan yang Diperlukan
Diagnosis dilakukan oleh dokter melalui evaluasi gejala dan pemeriksaan fisik untuk menilai gangguan gerakan yang dialami. Jika diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan elektromiografi (EMG) untuk mengukur aktivitas listrik otot dan membantu membedakan dystonia dari gangguan gerakan lainnya.
Selain itu, pemeriksaan lanjutan seperti Computed Tomography (CT) scan, MRI, atau tes genetik dapat dilakukan sesuai kondisi pasien untuk mencari penyebab yang mendasari distonia. Pemeriksaan tersebut akan membantu dokter menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Pilihan Perawatan dan Pengobatan Distonia
Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Berikut beberapa pilihan perawatannya.
1. Suntikan Toksin Botulinum (Botox)
Pada jenis gangguan yang memengaruhi otot tertentu, dokter dapat memberikan suntikan toksin botulinum. Suntikan ini membantu mengurangi kontraksi otot yang berlebihan, dengan efek yang biasanya bertahan sekitar 3–6 bulan.
2. Obat-Obatan
Selain suntikan, dokter juga dapat meresepkan obat untuk membantu mengendalikan gerakan otot yang tidak terkendali. Jenis obatnya dapat berupa antikolinergik atau relaksan otot, tergantung pada kondisi pasien.
3. Terapi Fisik dan Okupasi
Agar pasien lebih mudah menjalani aktivitas sehari-hari, terapi fisik dan okupasi dapat membantu. Tujuannya untuk mempertahankan kelenturan otot, menjaga rentang gerak, serta melatih cara melakukan aktivitas dengan lebih nyaman.
4. Terapi Wicara
Jika distonia memengaruhi pita suara atau kemampuan berbicara, terapi wicara dapat menjadi salah satu pilihan. Melalui terapi ini, pasien dapat berlatih mengelola suara dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
5. Stimulasi Otak Dalam (Deep Brain Stimulation atau DBS)
Pada kasus yang lebih berat dan tidak membaik dengan pengobatan lain, dokter dapat mempertimbangkan DBS. Prosedur ini dilakukan dengan menanamkan elektroda di area otak tertentu untuk mengirimkan rangsangan listrik yang membantu mengendalikan gerakan abnormal.
6. Operasi Saraf Selektif
Jika penanganan lain belum memberikan hasil yang memadai, operasi saraf selektif dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu. Prosedur ini bertujuan mengurangi sinyal saraf yang memicu kontraksi otot berlebihan.
7. Dukungan Psikologis
Selain penanganan fisik, dukungan psikologis juga penting, terutama ketika dystonia menimbulkan stres atau kecemasan. Konseling dapat membantu pasien mengelola tekanan emosional dan beradaptasi dengan kondisi yang dialami.
Cara Mencegah Distonia dan Mengelola Gejalanya
Gangguan ini belum dapat dicegah sepenuhnya karena penyebab pastinya belum diketahui. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengelola gejala dan mengurangi dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
1. Mengelola Stres dan Beristirahat Cukup
Stres, kecemasan, dan kelelahan dapat memperburuk gejala dystonia pada sebagian orang. Oleh karena itu, usahakan untuk tidur yang cukup, menjaga jadwal istirahat teratur, dan melakukan aktivitas relaksasi, seperti latihan pernapasan atau meditasi. Anda juga dapat membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian agar tubuh tidak terlalu lelah.
2. Menjalani Terapi Sesuai Anjuran Dokter
Fisioterapi dapat membantu mempertahankan kelenturan otot, rentang gerak, dan keseimbangan tubuh sesuai kondisi pasien. Sementara itu, terapi okupasi membantu pasien menyesuaikan cara melakukan aktivitas sehari-hari agar lebih nyaman dan mandiri.
Jika dokter meresepkan obat atau menyarankan terapi tertentu, jalani sesuai petunjuk dan jangan mengubah dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
3. Mengenali Pemicu Gejala
Gejala distonia dapat memburuk ketika melakukan aktivitas tertentu, mengalami stres, atau merasa kelelahan. Cobalah memperhatikan situasi yang memicu atau memperparah gerakan otot, misalnya saat menulis, berjalan, atau menggunakan perangkat elektronik dalam waktu lama.
Setelah mengenali pemicunya, Anda dapat menyesuaikan posisi tubuh, memberi jeda saat beraktivitas, atau menggunakan alat bantu jika diperlukan.
4. Memantau Perubahan Gejala
Catat kapan gejala muncul, bagian tubuh yang terdampak, aktivitas yang sedang dilakukan, serta hal-hal yang membuat gejala membaik atau memburuk. Informasi ini dapat membantu dokter mengevaluasi perkembangan kondisi dan efektivitas pengobatan.
Jika gerakan otot semakin sering, rasa sakit meningkat, atau aktivitas sehari-hari semakin terganggu, segera konsultasikan kembali dengan dokter agar penanganan dapat disesuaikan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Jika mengalami gerakan otot yang tidak terkendali, otot menegang berulang, atau perubahan posisi tubuh yang mulai mengganggu aktivitas, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.
Terlebih lagi, jika gejala semakin parah atau disertai kesulitan berbicara dan menelan, pemeriksaan diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat. Selain pemeriksaan medis, memahami kondisi tubuh juga bisa menjadi langkah untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
DNAset Complete Set dari Bumame bisa menjadi pilihan karena merupakan tes genetik berbasis sampel air liur yang menganalisis lebih dari 700 karakteristik genetik. Mulai dari risiko penyakit, metabolisme nutrisi, hingga respons terhadap obat tertentu.
Namun, pahami bahwa, meski dapat memberikan gambaran mengenai faktor genetik, tes ini tidak digunakan untuk mendiagnosis dystonia dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.
Kenali Distonia dan Jaga Kesehatan Sistem Gerak!
Distonia adalah gangguan sistem gerak yang menyebabkan kontraksi otot tanpa disadari sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika mengalami gerakan otot yang tidak terkendali atau otot menegang berulang, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Siloam Hospitals — Dystonia: Jenis, Penyebab, dan Gejalanya
Mayo Clinic — Distonia: Gejala dan Penyebab
Manual MSD — Distonia
Primaya Hospital — Distonia: Gejala, Mencegah dan Mengobati
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Mengenal Distonia
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) — Dystonia
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu distonia?
Distonia adalah gangguan sistem gerak yang menyebabkan otot berkontraksi tanpa disadari sehingga memicu gerakan berulang atau posisi tubuh yang sulit dikendalikan.
Apa penyebab distonia?
Distonia dapat berkaitan dengan faktor genetik, gangguan pada otak, cedera, penyakit tertentu seperti Parkinson atau penyakit Wilson, serta efek samping obat-obatan. Namun, penyebabnya tidak selalu diketahui secara pasti.
Apa saja gejala distonia?
Gejala distonia dapat berupa gerakan otot berulang, otot menegang tanpa disadari, atau posisi tubuh yang sulit dikendalikan. Kondisi ini dapat memengaruhi leher, kelopak mata, rahang, pita suara, tangan, atau bagian tubuh lainnya.
Apakah distonia bisa disembuhkan?
Distonia belum dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi gejalanya dapat dikelola melalui obat-obatan, suntikan toksin botulinum, terapi fisik dan okupasi, terapi wicara, atau stimulasi otak dalam sesuai kondisi dan rekomendasi dokter.
Kapan penderita distonia harus ke dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika mengalami gerakan otot yang tidak terkendali, otot menegang berulang, atau perubahan posisi tubuh yang mengganggu aktivitas. Pemeriksaan juga diperlukan jika gejala memburuk atau disertai kesulitan berbicara dan menelan.
