Orang tua Anda mulai sering lupa, bahkan mengalami disorientasi lokasi? Perhatikan kembali perilakunya karena itu bisa jadi tanda demensia. Demensia adalah kondisi yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan mengingat, berpikir, berkomunikasi, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai faktor dan tidak selalu menjadi bagian normal dari proses penuaan. Perubahan fungsi kognitif pun bisa muncul secara bertahap dan berbeda pada setiap orang. Karena itu, mengenali gejala, jenis, dan penyebabnya penting agar kondisi tersebut dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.
Apa Itu Demensia?
Demensia adalah penyakit yang memengaruhi fungsi otak, terutama kemampuan mengingat, berpikir, berbicara, dan mengendalikan perilaku. Berbeda dengan anggapan umum, demensia bukanlah satu penyakit tertentu, melainkan kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang memengaruhi otak.
Seiring perkembangannya, gejala dapat menjadi semakin berat, mulai dari kesulitan mengingat hal-hal sederhana hingga hambatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini lebih sering dialami oleh lansia dan risikonya dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Meski begitu, proses penuaan tidak selalu menyebabkan gangguan ini. Sebab, faktor genetik dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat berperan dalam meningkatkan risikonya. Ada pula kasus di mana orang mengalami gangguan ini sebelum mencapai usia 65 tahun, sebutannya adalah young-onset dementia.
Gejala dan Tanda Peringatan Demensia
Awalnya, tanda-tanda yang muncul mungkin sulit dikenali, tetapi seiring waktu dapat semakin mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala demensia adalah sebagai berikut.
Kehilangan ingatan jangka pendek, seperti sering lupa kejadian yang baru dialami.
Sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan, termasuk saat menyelesaikan tugas sederhana.
Disorientasi waktu dan tempat, seperti lupa hari atau tersesat di lokasi yang familier.
Kesulitan mengikuti percakapan, misalnya sulit menemukan kata yang tepat.
Perubahan perilaku dan suasana hati, seperti lebih mudah cemas atau tersinggung.
Kesulitan dalam beraktivitas, seperti mengatur pengeluaran (keuangan), mempersiapkan makanan, sampai hal umum lainnya di rumah.
Penyebab Demensia
Penyakit demensia adalah kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang merusak sel-sel otak. Salah satu penyebab paling umum adalah penyakit otak Alzheimer, yang diperkirakan berkontribusi terhadap 60–80% kasus demensia. Selain itu, ada beberapa jenis demensia berdasarkan penyebabnya. Berikut uraiannya.
Vaskular: Terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di otak yang mengganggu aliran darah ke jaringan otak.
Frontotemporal: Disebabkan oleh kerusakan pada bagian frontal dan temporal otak yang berperan dalam mengatur perilaku, kepribadian, dan bahasa.
Lewy body: Berkaitan dengan penumpukan protein abnormal di otak yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, gerakan, dan kewaspadaan.
Campuran: Terjadi ketika seseorang mengalami dua atau lebih jenis demensia secara bersamaan, misalnya Alzheimer dan demensia vaskular.
Faktor Risiko Demensia
Demensia adalah penyakit yang faktor risiko utamanya dipengaruhi oleh usia. Selain itu, sejumlah kondisi kesehatan serta kebiasaan hidup juga bisa meningkatkan risiko penyakit ini.
Riwayat keluarga dengan demensia.
Riwayat penyakit jantung, gangguan fungsi otak stroke, diabetes, atau depresi.
Tekanan darah dan kolesterol tinggi.
Kebiasaan merokok dan obesitas.
Kurang aktivitas fisik.
Tingkat pendidikan yang rendah.
Diagnosis dan Pemeriksaan Demensia
Diagnosis dilakukan melalui beberapa pemeriksaan untuk menilai fungsi kognitif sekaligus mencari penyebab yang mendasarinya. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi demensia adalah sebagai berikut.
Evaluasi medis: Meninjau riwayat kesehatan, gejala, dan kondisi fisik pasien.
Tes kognitif: Menilai kemampuan mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah.
Pemeriksaan laboratorium: Membantu mengidentifikasi kondisi lain yang dapat menyebabkan gangguan kognitif.
Pencitraan otak: MRI atau CT scan untuk melihat perubahan struktur otak.
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami penurunan daya ingat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Pilihan Pengobatan untuk Demensia
Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan demensia. Namun, penanganan yang tepat dapat membantu mengendalikan gejala dan memperlambat perburukan kondisi sesuai jenis dan kebutuhan pasien. Pilihan pengobatannya meliputi.
1. Terapi Farmakologis
Terapi pertama yang paling umum untuk demensia adalah farmakologis. Biasanya, terapi ini menggunakan obat-obatan, seperti inhibitor kolinesterase, untuk membantu mengatasi gangguan memori dan fungsi kognitif pada jenis demensia tertentu.
2. Terapi Nonfarmakologis
Terapi ini meliputi terapi okupasi, stimulasi kognitif, dan dukungan psikososial untuk membantu pasien menjalani aktivitas sehari-hari serta membantu keluarga menghadapi perubahan perilaku.
Dokter akan menentukan penanganan berdasarkan penyebab, gejala, dan kondisi kesehatan pasien. Karena itu, pengobatan perlu dilakukan dengan pendampingan tenaga medis.
Cara Mencegah Demensia
Sejauh ini, demensia adalah jenis penyakit yang sulit terdeteksi akan menimpa siapa dan usia berapa. Meski begitu, menerapkan kebiasaan hidup sehat dapat membantu menjaga fungsi otak dan mengurangi sejumlah faktor risiko. Berikut sejumlah langkah yang dapat Anda lakukan.
1. Rutin Aktivitas Fisik Maupun Mental
Olahraga secara teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah yang berperan dalam fungsi otak. Cobalah kegiatan fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh agar bisa Anda lakukan secara konsisten.
Selain itu, otak juga perlu tetap aktif melalui kegiatan seperti membaca, bermain teka-teki, atau mempelajari keterampilan baru. Dengan begitu, Anda dapat terus melatih kemampuan berpikir dan mengingat.
2. Menerapkan Pola Makan Sehat
Meski demensia adalah penyakit yang sulit terkontrol, Anda bisa konsumsi makanan bergizi seimbang, seperti sayuran, buah-buahan, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh untuk mencegahnya. Beragam makanan tersebut menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung kesehatan otak dan daya ingat.
Sebaliknya, sebisa mungkin batasi konsumsi makanan tinggi gula, garam serta lemak jenuh secara berlebih. Pola makan yang sehat juga membantu menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah tetap terkendali.
3. Menghindari Kebiasaan Buruk
Kebiasaan merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan demensia. Oleh karena itu, berhenti merokok merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan otak.
Selain itu, sebaiknya hindari konsumsi alkohol karena dapat berdampak buruk pada kesehatan otak, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. Dengan mengganti kebiasaan tersebut menjadi aktivitas yang lebih sehat dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka waktu yang lebih panjang.
4. Memeriksa Kesehatan Secara Berkala
Pemeriksaan kesehatan secara rutin akan membantu mendeteksi kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes. Kondisi tersebut perlu dikendalikan karena dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah yang memengaruhi fungsi otak.
Di samping itu, jangan abaikan gangguan pendengaran dan penglihatan karena demensia adalah kelainan yang juga akan menyerang fungsi organ tersebut. Jika mengalami gangguan tersebut, konsultasikan dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan atau alat bantu yang sesuai.
5. Memenuhi Kebutuhan Vitamin dan Nutrisi
Vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin D memiliki peran penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk kesehatan saraf. Kebutuhan vitamin tersebut sebaiknya dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang dengan sumber makanan yang beragam.
Namun, mengonsumsi vitamin dalam jumlah tinggi tidak serta-merta mencegah demensia. Jika dicurigai mengalami kekurangan vitamin, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan apakah pemeriksaan atau suplemen tambahan diperlukan.
6. Kelola Stres untuk Menjaga Kesehatan Mental
Stres berkepanjangan dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, dan kesejahteraan secara keseluruhan. Untuk mengelolanya, Anda bisa meluangkan waktu untuk istirahat, mencoba hobi, serta menjalani aktivitas relaksasi yang disukai.
Jika mengalami depresi atau gangguan kecemasan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Penanganan yang tepat dapat membantu meningkatkan kesehatan mental sekaligus mendukung kualitas hidup.
7. Menjaga Hubungan Sosial
Berinteraksi dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar dapat memberikan stimulasi mental serta membantu menjaga kesehatan emosional. Anda bisa meluangkan waktu untuk berbincang, mengikuti kegiatan komunitas, atau melakukan aktivitas bersama orang terdekat.
Selain itu, mengikuti kegiatan sosial yang sesuai dengan minat dapat membantu menjaga rutinitas dan memberikan kesempatan untuk mempelajari hal baru. Dengan tetap terhubung dengan orang lain, Anda dapat mendukung kesejahteraan mental seiring bertambahnya usia.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Dalam dunia medis, ciri utama demensia adalah menurunnya daya ingat. Karena itu, segera konsultasikan dengan dokter jika Anda atau anggota keluarga mengalami penurunan daya ingat yang berulang, kesulitan berkomunikasi, atau perubahan perilaku yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan dini akan membantu dokter mencari penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai. Selain itu, lansia sebaiknya menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki riwayat penyakit tertentu.
Anda dapat mempertimbangkan Paket Lansia Basic untuk membantu memantau kondisi kesehatan pada usia 50 tahun ke atas. Termasuk fungsi hati, ginjal, gula darah, dan risiko metabolik sesuai parameter dalam paket. Pemeriksaan ini dapat menjadi bagian dari pemantauan kesehatan rutin, tetapi tidak secara khusus mendiagnosis demensia.
Kenali Demensia dan Gejalanya Sejak Dini!
Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan mengingat, berpikir, berkomunikasi, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat berkembang secara bertahap dan disebabkan oleh berbagai penyakit, salah satunya Alzheimer.
Meski belum ada cara menyembuhkannya, penanganan yang tepat dapat membantu mengelola gejala serta menjaga kualitas hidup. Karena itu, terapkan pola hidup sehat dan konsultasikan dengan dokter jika muncul penurunan daya ingat yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Siloam Hospitals — Demensia: Penyebab, Faktor Risiko, dan Pengobatannya
EMC Healthcare — Apakah Demensia Berbahaya? Mari Kenali Cara Pencegahannya
IHC Rumah Sakit Pusat Pertamina — Demensia: Hilangnya Kemampuan Berpikir dan Mengingat
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Demensia
Rumah Sakit Pondok Indah — Mengenal Lebih Dalam Demensia
Hermina Hospital — Demensia (Pikun) Ternyata Bisa Muncul dari Usia Muda
Alzheimer’s Society — Young-Onset Dementia
World Health Organization (WHO) — Dementia
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Demensia adalah penyakit apa?
Demensia adalah kumpulan gejala akibat gangguan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, bahasa, komunikasi, dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyakit yang memengaruhi otak.
Apa penyebab demensia yang paling umum?
Penyebab demensia yang paling umum adalah penyakit Alzheimer. Jenis lainnya meliputi demensia vaskular, demensia frontotemporal, demensia Lewy body, dan demensia campuran.
Apa saja gejala awal demensia?
Apa saja gejala awal demensia?
Apakah demensia bisa disembuhkan?
Sebagian besar jenis demensia belum memiliki pengobatan yang dapat menyembuhkannya. Namun, obat-obatan tertentu, terapi kognitif, terapi okupasi, dan dukungan psikososial dapat membantu mengelola gejala serta menjaga kualitas hidup pasien.
Kapan seseorang yang mengalami gejala demensia perlu ke dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika penurunan daya ingat terjadi berulang, disertai kesulitan berkomunikasi atau perubahan perilaku, maupun mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan membantu mencari penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
