Sedikit saja muncul masalah di masa kehamilan bisa sangat membuat khawatir dan takut. Lantas, bagaimana jika Anda mengalami nyeri perut, pembengkakan, bahkan kejang? Kemungkinan pemicunya adalah eklamsia (eclampsia), sejenis komplikasi kehamilan serius yang biasanya berkaitan dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Kondisi ini dapat terjadi selama kehamilan maupun setelah persalinan, sehingga perlu dikenali agar dapat segera ditangani. Apabila, gangguan ini tidak mendapatkan penanganan secara tepat, maka berisiko membahayakan ibu dan janin. Lantas, apa saja tanda, penyebab, faktor risiko, serta cara mengatasinya? Simak di bawah ini!
Apa Itu Eklamsia?
Eklamsia adalah komplikasi tingkat serius yang umum terjadi pada masa kehamilan, persalinan, atau pasca melahirkan. Biasanya, orang yang mengalami masalah ini akan langsung kejang, penurunan kesadaran, bahkan sampai koma, hingga membutuhkan penanganan medis.
Seringkali, eclampsia diawali dengan preeclampsia, yakni gangguan komplikasi masa kehamilan yang muncul dengan gejala tekanan darah tinggi serta kandungan protein dalam urine. Pada kondisi tertentu, preeclampsia dapat berkembang menjadi eclampsia ketika ibu hamil mengalami kejang.
Karenanya, antara preeklamsia dan eklamsia wajib Anda ketahui sejak awal supaya potensi komplikasi dapat dicegah. Selain itu, pada masa kehamilan, ibu hamil sebaiknya rutin menjalani pemeriksaan, terutama jika memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau keluhan yang tidak biasa.
Tanda dan Gejala Eklamsia yang Perlu Diwaspadai
Eklamsia adalah kondisi yang dapat diawali dengan gejala preeklamsia yang semakin parah. Namun, kejang juga dapat muncul tanpa tanda peringatan yang jelas. Berikut beberapa gejala yang perlu Anda pahami dan waspadai.
Sakit kepala hebat yang tidak kunjung mereda.
Mengalami gangguan penglihatan, seperti lebih sensitif pada cahaya, bahkan kabur untuk melihat objek di depannya.
Muncul nyeri dibagian perut atas, terutama bawah tulang rusuk di sebelah kanan.
Muncul pembengkakan pada beberapa anggota tubuh, seperti tangan dan kaki yang terjadi akibat penumpukan cairan.
Mengalami mual dan muntah secara berlebihan yang muncul dengan keluhan lain.
Tekanan darah sangat tinggi selama kehamilan.
Kejang tanpa riwayat epilepsi yang dapat disertai penurunan kesadaran.
Jika ibu hamil mengalami kejang atau tanda bahaya tersebut, segera cari pertolongan medis untuk melindungi ibu dan janin.
Penyebab dan Faktor Risiko Eklamsia
Dalam dunia medis, eklamsia adalah gangguan yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, kondisi ini umumnya terjadi ketika preeklamsia berkembang menjadi lebih parah hingga memicu kejang. Beberapa orang dengan kondisi tertentu berikut mungkin juga memiliki risiko lebih tinggi mengalaminya.
Pernah mengalami preeklamsia atau eklamsia pada kehamilan sebelumnya.
Sebelum hamil memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Sedang menjalani kehamilan pertama.
Ketika mengandung, masih berusia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun.
Mengandung anak kembar atau lebih.
Memiliki keluarga dengan riwayat preeklamsia atau eklamsia.
Mengalami obesitas atau gangguan metabolisme.
Meski begitu, ibu hamil yang tidak memiliki faktor risiko tersebut tetap bisa mengalami eklampsia. Karena itu, melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi ibu serta mendeteksi preeklampsia sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
Bagaimana Eklamsia Didiagnosis?
Untuk mendiagnosis eklampsia, dokter akan memeriksa kondisi ibu, mencari tanda preeklamsia, dan menilai kemungkinan penyebab kejang lainnya. Adapun sejumlah pemeriksaan eklamsia adalah sebagai berikut.
1. Pemeriksaan Klinis
Pertama, dokter akan menanyakan riwayat kehamilan dan keluhan yang ibu alami. Setelah itu, dokter memeriksa tekanan darah, refleks tubuh, serta tanda lain yang dapat mengarah pada preeklamsia atau gangguan saraf.
2. Tes Darah
Selain pemeriksaan fisik, tes darah lengkap juga diperlukan untuk mengetahui kondisi organ tubuh ibu. Pemeriksaan ini akan membantu menilai fungsi hati dan ginjal serta jumlah trombosit, terutama untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin menyertai eklamsia.
3. Tes Urine
Pemeriksaan berikutnya dari eklamsia adalah mengambil sampel urine untuk memeriksa keberadaan protein yang sering ditemukan pada preeklamsia. Meski begitu, hasil tes urine tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis.
4. USG Kehamilan
Pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan memastikan kondisi janin tetap terpantau. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menilai pertumbuhan janin dan kondisi plasenta sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan penanganan.
5. Pemeriksaan Tambahan
Jika penyebab kejang belum jelas, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti pencitraan otak atau elektroensefalogram (EEG). Pemeriksaan tersebut membantu mengevaluasi kemungkinan penyebab lain, misalnya penyakit neurologis epilepsi, perdarahan otak, atau gangguan metabolisme.
Cara Mengatasi Eklampsia
Eklamsia merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera di rumah sakit. Tujuan penanganannya adalah mengendalikan kejang, menurunkan tekanan darah, serta menjaga keselamatan ibu dan janin. Adapun beberapa tindakan eklampsia adalah sebagai berikut:
Pemberian magnesium sulfat: Obat ini digunakan untuk mengendalikan kejang sekaligus mencegah kejang berulang.
Pemberian obat penurun tekanan darah: Dokter dapat memberikan obat antihipertensi untuk mengendalikan tekanan darah yang terlalu tinggi dan mengurangi risiko komplikasi.
Persalinan: Setelah kondisi ibu distabilkan, dokter akan menentukan waktu dan metode persalinan yang paling aman bagi ibu dan janin. Pada eklamsia, persalinan umumnya perlu segera dilakukan, tetapi tidak selalu harus melalui operasi caesar.
Pemantauan intensif di rumah sakit: Ibu akan dipantau secara ketat untuk memastikan kejang terkendali, tekanan darah stabil, dan komplikasi dapat segera ditangani. Pemantauan ini juga bisa dilanjutkan setelah masa persalinan karena risiko kejang berpotensi bisa terjadi kembali.
Bisakah Eklamsia Dicegah?
Eklamsia adalah gangguan penyakit yang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Akan tetapi, risiko komplikasi bisa Anda tekan dengan penanganan preeklamsia sejak dini. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan selama kehamilan.
1. Melakukan Pemeriksaan Kehamilan secara Rutin
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin. Salah satu hal yang diperiksa adalah tekanan darah guna mendeteksi kemungkinan preeklamsia sejak dini.
Dengan pemeriksaan teratur, dokter dapat segera menentukan pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang sesuai jika ditemukan tanda preeklamsia. Karena itu, tetap ikuti jadwal pemeriksaan meskipun ibu tidak merasakan keluhan tertentu.
2. Mengonsumsi Makanan Bergizi Seimbang
Selain melakukan pemeriksaan rutin, ibu hamil juga perlu memenuhi kebutuhan nutrisi melalui makanan bergizi seimbang. Konsumsi sayuran, buah-buahan, telur, ikan, kacang-kacangan, serta sumber karbohidrat dan lemak sehat untuk mendukung kesehatan ibu dan perkembangan janin.
Di samping memperhatikan variasi makanan, pastikan asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan selama kehamilan. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau membutuhkan pola makan khusus, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
3. Mencukupi Waktu Istirahat
Pencegahan lain eklamsia adalah wajib mencukupi waktu istirahat, agar ibu tetap bugar selama kehamilan. Usahakan tidur dengan jadwal teratur dan ciptakan suasana kamar yang nyaman supaya kualitas tidur tetap terjaga.
Jika ibu mengalami kesulitan tidur atau sering merasa lelah, coba sesuaikan aktivitas harian dan luangkan waktu untuk beristirahat. Meski begitu, istirahat yang cukup saja tidak dapat mencegah eklamsia sehingga pemeriksaan kehamilan tetap perlu Anda lakukan.
4. Melakukan Aktivitas Fisik yang Aman
Selain mencukupi waktu istirahat, ibu hamil juga dapat menjaga kebugaran dengan melakukan aktivitas fisik yang aman, seperti berjalan kaki santai atau mengikuti senam khusus kehamilan. Ingat! Jenis olahraga dan intensitasnya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan serta usia kehamilan.
Jika perlu, sebelum memulai rutinitas olahraga, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, terutama jika ibu memiliki tekanan darah tinggi atau faktor risiko preeklamsia. Dengan begitu, aktivitas fisik dapat dilakukan secara aman sesuai kondisi.
5. Mengelola Stres dengan Baik
Terakhir, penting bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan emosional selama kehamilan. Perubahan fisik dan emosional terkadang memicu kecemasan atau stres, sehingga ibu dapat mencoba latihan pernapasan, melakukan hobi yang disukai, atau berbagi cerita dengan pasangan dan orang terdekat.
Jika stres mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu meminta bantuan tenaga profesional. Mengelola stres dapat membantu menjaga kesejahteraan ibu, meskipun cara ini tidak secara langsung menjamin pencegahan eklamsia.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Ibu hamil perlu segera memeriksakan diri jika mengalami sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri di perut bagian atas, atau pembengkakan yang tidak biasa. Jika terjadi kejang, segera cari pertolongan medis karena eklamsia adalah penyakit yang bisa membahayakan jika tidak segera mendapat penanganan.
Untuk membantu memantau kondisi kesehatan selama kehamilan, Bumame menyediakan Paket Ibu Hamil yang mencakup serangkaian pemeriksaan untuk memberikan informasi kesehatan ibu serta membantu mengetahui potensi risiko kelainan genetik dan kondisi medis tertentu pada janin.
Dengan pemeriksaan yang sesuai, kondisi ibu dan janin dapat dipantau sejak dini sehingga dokter dapat menentukan langkah yang diperlukan. Namun, pemeriksaan ini bukan pengobatan eklamsia dan tidak menggantikan penanganan darurat jika muncul tanda bahaya.
Kenali Eklamsia dan Waspadai Tanda-Tandanya!
Eklamsia adalah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan kejang dan umumnya berkaitan dengan preeklamsia. Jangan sepelekan setiap keluhan yang Anda alami. Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Eklamsia
Eka Hospital — Eklamsia: Kondisi Darurat dalam Kehamilan
Hermina Hospitals — Eklamsia pada Kehamilan
Apollo Hospitals — Eklampsia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan
Cleveland Clinic — Eclampsia
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu eklamsia?
Eklamsia adalah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan kejang dan umumnya berkaitan dengan preeklamsia. Kondisi ini dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan.
Apa perbedaan preeklamsia dan eklamsia?
Preeklamsia ditandai dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan yang dapat disertai protein dalam urine. Eklamsia terjadi ketika kondisi tersebut disertai kejang.
Apa saja gejala eklamsia yang perlu diwaspadai?
Gejalanya dapat berupa sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian atas, pembengkakan tidak biasa, mual dan muntah berlebihan, tekanan darah sangat tinggi, serta kejang atau penurunan kesadaran.
Apa penyebab dan faktor risiko eklamsia?
Penyebab pasti eklamsia belum diketahui, tetapi kondisi ini umumnya berkembang dari preeklamsia yang memburuk. Faktor risikonya meliputi riwayat preeklamsia, hipertensi, kehamilan pertama, usia di bawah 20 atau di atas 35 tahun, kehamilan kembar, riwayat keluarga, dan obesitas.
Bagaimana eklamsia ditangani?
Eklamsia memerlukan penanganan darurat di rumah sakit. Dokter dapat memberikan magnesium sulfat untuk mengendalikan kejang, obat antihipertensi, pemantauan intensif, serta menentukan waktu dan metode persalinan yang paling aman bagi ibu dan janin.
