Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Erisipelas: Penyebab, Gejala, dan Upaya Penanganan Efektif
Kembali ke Artikel & Berita

Erisipelas: Penyebab, Gejala, dan Upaya Penanganan Efektif

SBAOthers

Pernahkah Anda melihat atau mengalami bercak merah pada kulit dan terasa panas, nyeri, bahkan bengkak? Kondisi ini seringkali dianggap iritasi biasa dan sepele, terutama jika muncul setelah Anda melakukan aktivitas seharian. Namun, kondisi ini sebenarnya tidak menjadi tanda dari erisipelas (erysipelas).

Ini adalah infeksi bakteri pada kulit yang muncul pada bagian atas lapisan kulit dalam dan pembuluh limfe atau getah bening. Meski dapat diobati dengan antibiotik, erysipelas harus diidentifikasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi komplikasi. Mari mengenal gejala, penyebab, hingga pengobatannya lewat artikel berikut!

Apa itu Erisipelas?

Erisipelas adalah kondisi kulit yang terinfeksi oleh bakteri atau sering disebut juga dengan St. Anthony’s Fire. Disebut St. Anthony’s Fire karena infeksi ini menyebabkan rasa panas seperti api. Infeksi ini menyerang bagian atas lapisan kulit dalam serta pembuluh limfe atau getah bening. 

Erysipelas sendiri dapat menyebabkan ruam kemerahan, mengkilap, rasa nyeri, hingga sensasi panas pada kulit. Ruam kemerahan pada kulit ini bersifat unilateral atau hanya menyerang satu sisi tubuh saja. Biasanya, erysipelas menyerang area pinggul, lutut, paha, pergelangan kaki, hingga kaki. 

Infeksi ini adalah salah satu tipe selulitis (cellulitis) yang merupakan sekelompok infeksi kulit. Sebagai bagian dari kelompok infeksi kulit yang mirip dengan atau selulitis, erysipelas ini memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya. Jika selulitis mempunyai batas ruam yang kurang jelas dan berkembang dengan perlahan, erysipelas justru berkembang lebih cepat dengan batas ruam yang lebih tegas. 

Meskipun kondisi ini tergolong serius, erysipelas jarang berakibat fatal dan biasanya hanya menunjukkan respons penyembuhan yang cepat terhadap antibiotik.

Gejala Erisipelas

Seseorang dengan erysipelas biasanya akan merasakan demam, sakit kepala, menggigil, sampai rasa nyeri di sendi. Lalu, untuk ruam kemerahannya akan terasa lebih besar atau bengkak daripada area kulit di sekitarnya. Muncul pula bintik berisi cairan, berwarna merah hingga ungu atau lebih gelap dari kulit alami, dan berkilau.

Biasanya, penderita akan merasakan nyeri bahkan panas ketika area yang terinfeksi disentuh. Infeksi ini biasanya menyerang bagian kulit yang dapat dilihat dan disentuh (epidermis). Contohnya adalah area wajah, kaki, lengan, telinga, perut (dekat pusar pada bayi), hingga ketiak.

Namun, erysipelas juga bisa menjalar dan menyebar ke lapisan yang lebih dalam atau disebut dengan jaringan subkutan, lapisan yang tidak bisa Anda lihat.

Penyebab Erisipelas

Penyebab erisipelas adalah infeksi bakteri grup A streptococci, merupakan jenis yang paling umum. Streptococci akan masuk ke dalam tubuh melalui luka kulit yang terbuka. Beberapa penyebab lainnya adalah bekas sayatan bedah atau operasi dan gigitan serangga.

Anda tidak perlu khawatir karena erysipelas tidak menular. Namun, bakteri yang menyebabkan infeksi ini dapat menyebar antarindividu. Maka dari itu, jika menemukan gejala pada kulit, fokus lakukan penyembuhan di rumah sampai gejalanya hilang. Upaya ini dilakukan sebagai pencegahan penyebaran kuman.

Apa Saja Faktor Risiko Erisipelas?

Selain penyebab infeksi yang telah disebutkan sebelumnya, ada pula beberapa faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena infeksi. Berikut di antaranya.

  • Mengidap gangguan fungsi pembuluh limfe.

  • Obesitas.

  • Terlalu banyak mengonsumsi alkohol.

  • Memiliki radang pada kulit/dermatitis, infeksi kulit menular (impetigo), atau jamur kulit.

  • Mengidap diabetes melitus (DM) atau kencing manis yang kurang terkontrol.

  • Sedang mengandung/hamil.

  • Memiliki sistem imun/kekebalan tubuh yang lemah.

  • Memiliki riwayat radioterapi.

  • Mengidap gangguan aliran pembuluh darah.

  • Anak-anak atau lansia (antara 60 tahun hingga 80 tahun).

  • Memiliki riwayat infeksi erysipelas.

Selain itu, jika Anda memiliki riwayat kemoterapi atau HIV/AIDS, risiko terkena infeksi akan meningkat. Risiko akan meningkat juga jika Anda menggunakan akses dialisis seperti fistula arteriovenosa (AVF).

Komplikasi Infeksi Erisipelas

Jika tidak kunjung mendapat penanganan yang tepat, infeksi ini dapat menjadi serius dan mengalami komplikasi lokal. Contohnya seperti pembentukan abses, demam scarlet, pneumonia, nekrosis, meningitis, tromboflebitis, purpura hemoragik, dan muncul gelembung. Bila infeksi terus berulang, maka kulit bisa rusak dalam jangka panjang.

Menurut jurnal yang ditulis oleh Michael & Shaukat (2023), sebuah studi retrospektif terhadap 152 kasus menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik empiris dan peningkatan laju darah (LED) merupakan faktor risiko utama yang memicu munculnya komplikasi lokal.

Bagaimana Cara Dokter Mendiagnosis Erisipelas?

Berdasarkan Michael dan Shaukat pada StatPearls Publishing (2023), untuk mendiagnosis erysipelas tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium. Sebab, Leukositosis, peningkatan laju endap darah (LED), dan protein C-reaktif bersifat common atau sering ditemukan.

Tes kultur darah juga jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya cukup rendah. Meskipun demikian, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan darah pada kondisi tertentu, seperti:

  • Pasien dengan sistem imun/kekebalan tubuh yang lemah.

  • Pengguna obat/suntik terlarang.

  • Pasien dengan riwayat sakit berat.

  • Pasien yang mempunyai katup jantung prostetik/buatan atau alat intravaskular medis lainnya.

Selain itu, dokter akan langsung mengupayakan tindakan pertolongan darurat jika pasien memiliki tanda komplikasi yang berisiko menginfeksi seluruh tubuh (sepsis). Namun, meski tidak memerlukan tes laboratorium, Anda bisa melakukan pencegahan terhadap alergi yang berkaitan dengan kesehatan kulit melalui MCU Skin Panel (Core). 

Lewat pemeriksaan Bumame ini, Anda bisa mengetahui gambaran terhadap kesehatan kulit lebih menyeluruh, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sesegera mungkin guna menghindari infeksi atau komplikasi serius. Ingat! Tes ini tidak bisa menggantikan pengobatan dan bukan untuk menangani erysipelas secara langsung.

Cara Penanganan Erisipelas

Untuk pengobatan dan penanganan, dokter akan menyarankan antibiotik terhadap bakteri streptococcus. Penisilin juga digunakan sebagai monoterapi antibiotik utama untuk pengobatan erysipelas. Namun, ada beberapa orang yang memiliki alergi penisilin, jadi konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga medis terkait.

Menurut Infectious Diseases Society of America (IDSA) dalam StatPearls Publishing (2023), penanganan infeksi kulit perlu mencakup pengobatan untuk bakteri Staphylococcus aureus (MRSA) yang resisten obat. Langkah ini bisa dipertimbangkan jika pasien mengalami beberapa kondisi seperti berikut.

  • Pernah terinfeksi MRSA sebelumnya.

  • Adanya bakteri MRSA di area hidung.

  • Mempunyai luka trauma penetrasi (luka tembus).

  • Mempunyai riwayat obat/suntik terlarang.

  • Mempunyai systemic inflammatory response syndrome atau sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS).

Infeksi ini juga bisa ditangani secara mandiri dengan mengompres dingin dan memberikan obat anti nyeri di area yang terinfeksi, memberikan obat anti jamur, dan memakai kaus kaki yang dikompres untuk mengurangi bengkak. Jika infeksi disertai demam, mengonsumsi acetaminophen atau paracetamol bisa meredakannya.

Kapan Erisipelas Bisa Sembuh?

Infeksi akan membaik setelah diobati dengan antibiotik. Erysipelas akan perlahan memudar, namun kulit membutuhkan waktu untuk sembuh total. Maka dari itu, saat masa penyembuhan, hindari menggosok dengan kasar, menggaruk, atau melukai area yang terinfeksi. 

Jika terasa gatal, cobalah menepuk-nepuk halus area yang terinfeksi. Sebab, jika Anda menggosok atau menggaruknya terlalu keras, ini dapat menimbulkan luka yang nantinya berpotensi memicu peradangan hingga infeksi.

Cegah Infeksi Berulang dengan Pemeriksaan Kulit Menyeluruh!

Agar kulit kembali sehat dengan optimal dan meminimalkan risiko erisipelas berulang, pemantauan kesehatan kulit secara menyeluruh sangat dianjurkan, terutama bagi yang memiliki faktor risiko tertentu. Anda pun dapat melakukan pemeriksaan melalui MCU Skin Panel (Core) Bumame untuk mendapatkan evaluasi klinis yang komprehensif. 

Melalui pemeriksaan ini, Anda akan memperoleh pemahaman lebih utuh mengenai kondisi kulit, mencakup analisis mendalam seputar nutrisi, profil hormon, metabolisme, serta faktor alergi yang mungkin berkaitan.

Selain itu, Paket MCU Skin Panel (Core) mencakup beberapa pemeriksaan lainnya, seperti gula darah puasa, hs-CRP, protein total, vitamin D 25-OH total, HbA1c, dan zinc serum. Pemeriksaan pun dilakukan dengan tes sampel darah dan Anda akan memperoleh hasilnya dalam 1x24 jam. 

Setelah itu, Anda bisa konfirmasikan estimasi waktu hasil dengan tim Bumame. Dengan ini, Anda bisa lebih dini dalam upaya pencegahan infeksi bakteri lainnya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic — Erysipelas

  2. Husada, Dedi Yanto, AI CARE — Erisipelas

  3. Michael, Y., & Shaukat, N. M. — Erysipelas

  4. Remus, W. E. — Erysipelas

  5. Amalia Rositawati, S. — Studi Retrospektif: Profil Pasien Erisipelas dan Selulitis (A Retrospective Study: Erysipelas and Cellulitis Patients Profile)

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apa itu erisipelas?

Erisipelas adalah infeksi bakteri pada lapisan atas kulit dan pembuluh limfe atau getah bening. Kondisi ini umumnya menyebabkan ruam kemerahan dengan batas tegas, pembengkakan, nyeri, dan sensasi panas. Infeksi paling sering disebabkan oleh bakteri Streptococcus grup A.

Apakah infeksi erisipelas bisa sembuh sendiri?

Erisipelas tidak disarankan dibiarkan sembuh sendiri karena berisiko menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Dokter biasanya memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Segera periksakan diri jika muncul ruam merah yang terasa panas, nyeri, atau membengkak.

Berapa lama erisipelas bisa sembuh?

Erisipelas umumnya mulai membaik setelah pengobatan antibiotik yang sesuai. Lama pemulihan dapat berbeda-beda, bergantung pada tingkat keparahan infeksi dan kondisi kesehatan pasien. Kemerahan dapat memudar secara bertahap, sementara kulit mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

Apa obat untuk mengatasi erisipelas?

Dokter biasanya meresepkan antibiotik, seperti penisilin, untuk mengatasi bakteri penyebab erisipelas. Jenis dan cara pemberian antibiotik ditentukan berdasarkan kondisi pasien serta tingkat keparahan infeksi. Obat pereda nyeri atau demam dapat digunakan jika dianjurkan dokter. Jangan menggunakan antibiotik tanpa konsultasi medis.

Apakah erisipelas bisa diobati sendiri di rumah?

Perawatan di rumah dapat membantu meredakan ketidaknyamanan, misalnya dengan kompres dingin dan menghindari menggaruk atau menggosok area yang terinfeksi. Namun, langkah ini tidak menggantikan pengobatan antibiotik yang diperlukan. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan penanganan yang tepat dan segera cari pertolongan jika gejala memburuk.