Ketika sedang mencukur kaki, Anda sempat menemukan benjolan kecil yang keras di betis. Mungkin itu adalah dermatofibroma, benjolan kulit jinak yang cukup umum. Masih merasa cemas karena kemunculannya? Agar Anda lebih tenang, mari kita kenali ciri dan penanganannya satu per satu!
Apa itu Dermatofibroma?
Dermatofibroma adalah benjolan kecil di kulit. Sifatnya jinak, jadi bukan kanker dan umumnya tidak berbahaya. Di dunia medis, kondisi ini juga dikenal dengan nama fibrous histiocytoma atau cutaneous fibrous histiocytoma. Terbentuknya benjolan ini berasal dari pertumbuhan sel-sel jaringan ikat di lapisan kulit tengah (dermis).
Jika diraba, kulit terasa keras seperti ada kelereng kecil di bawah permukaan kulit. Secara umum, ukurannya sangat kecil, sekitar 0,5-1,5 cm. Namun, pada kasus langka, ada yang mencapai 3 cm.
Lokasinya paling sering muncul di tungkai, namun, bisa juga muncul di lengan, badan, atau bagian kulit lain. Warnanya juga beragam, mulai dari merah muda, cokelat muda, cokelat, hingga keunguan atau kehitaman. Sedangkan di bagian tengahnya kadang lebih pucat.
Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan
Ciri khasnya adalah benjolan kecil yang keras, padat, dan sedikit menonjol. Sering kali tidak berbahaya, jadi, banyak orang tidak merasakan keluhan apa pun. Keberadaannya pun sering kali tidak diketahui atau diketahui tanpa sengaja.
Sebagian orang bisa merasa gatal atau nyeri saat ada tekanan, namun kebanyakan tidak merasa sakit sama sekali. Benjolan ini tumbuhnya lambat dan cenderung stabil. Seperti bagian kulit lain, jika sering tergores, tergosok, atau tertarik, bisa menjadi iritasi, merah, nyeri, atau berdarah.
Setelah membayangkan bentuk, ukuran, dan warna, apabila yang terjadi di kulit Anda tidak seperti itu, maka perlu pengamatan dokter. Lakukan evaluasi jika mengalami hal berikut.
Benjolan baru yang tumbuh cepat.
Ukuran lebih dari sekitar 3 cm.
Perubahan bentuk atau warna.
Luka atau ulkus di permukaan.
Berdarah tanpa sebab yang jelas.
Bentuk tampak asimetris.
Alasannya, dermatofibroma dapat menyerupai kanker kulit sel basal atau melanoma, kaposi sarcoma, atau dermatofibrosarcoma protuberans (DFSP). Mereka adalah tumor kulit yang agresif. Maka dari itu, perubahan mencurigakan patut segera diperiksakan.
Penyebab dan Faktor Risiko
Benjolan terbentuk dari pertumbuhan sel-sel jaringan ikat di lapisan tengah kulit (dermis). Sel yang paling berperan adalah fibroblas, penghasil kolagen yang perannya menjaga struktur jaringan dan juga perbaikan tubuh.
Mengapa bisa tumbuh menjadi benjolan? Para peneliti masih memperdebatkannya. Namun, salah satu petunjuknya adalah adanya cedera kacil di lokasi yang sama. Bisa jadi karena gigitan serangga, sayatan ringan, tusukan duri, atau suntikan. Namun, riwayat luka tersebut terjadi pada 1 dari 5 kasus. Jadi, jika tidak pernah luka, masih wajar.
Benjolan dermatofibroma juga bisa terjadi pada siapa saja. Kebanyakan terjadi pada dewasa muda dan paruh baya, sekitar 20-50 tahun. Dari sisi jenis kelamin, umumnya terjadi pada perempuan, namun beberapa varian lebih sering terlihat pada laki-laki.
Ada pula satu situasi yang perlu perhatian lebih, di mana kemunculan benjolan yang banyak dapat berkaitan dengan perubahan kondisi imun.
Diagnosis dan Tes
Kabar baiknya, dokter kulit bisa mendiagnosisnya hanya dari pemeriksaan langsung. Terutama bila bentuk, ukuran, warna, dan reaksinya sangat tipikal. Untuk memperkuat dugaan, dokter bisa menggunakan alat dermoskop. Kaca pembesar khusus untuk melihat struktur kulit lebih detail.
Kondisi Lain
Bila fiturnya tidak biasa, seperti ada luka, pendarahan, pertumbuhannya cepat, dan lain-lain, dokter akan menggunakan pendekatan lain. Dokter akan melakukan biopsi, artinya pengambilan sampel untuk pemeriksaan di laboratorium.
Ada dua pendekatan biopsi. Shave biopsy mengambil lapisan permukaan saja, sementara excisional biopsy mengangkat seluruh benjolan. Pengangkatan menyeluruh akan lebih baik pada dermatofibroma yang letaknya agak dalam. [3][4]
Tes
Diagnosis di laboratorium patologi akan menilai pola sel dan jaringan. Bila masih ragu, pewarnaan imunohistokimia dapat dilakukan, yaitu teknik khusus untuk membedakan kondisi ini dengan tumor kulit lain.
Selain itu, penggunaan ultrasonografi juga bisa menilai kedalaman dan batasnya. Dan pastinya, dokter juga akan mempertimbangkan kemungkinan lain, seperti tahi lalat atau nevus, melanoma, kanker kulit sel basal, kaposi sarcoma, dan DFSP.
Pilihan Pengobatan / Opsi Perawatan
Sebenarnya, jika benjolan tidak mengganggu atau menunjukkan tanda mencurigakan, dokter akan menyarankan observasi saja, tidak perlu obat. Tindakan pengangkatan berlaku bila benjolan sering tergosok, gatal, nyeri, berdarah, atau membuat Anda tidak percaya diri. Berikut pilihan cara menghilangkan dermatofibroma.
1. Eksisi (Operasi Pengangkatan)
Ini metode paling efektif, di mana dokter akan membuang benjolan beserta sebagian jaringan di sekitarnya, sudah pasti dengan penggunaan bius lokal. Pengangkatan harus sampai akarnya yang berada di lapisan dermis.
Kekurangannya adalah bekas luka setelah pengangkatan. Pada sebagian orang, terutama yang di tungkai, bekas jahitan bisa tampak lebih mencolok daripada benjolan.
2. Shave Removal (Pencukuran Bedah)
Di bagian benjolan yang menonjol, dokter akan meratakannya, sehingga memperbaiki tampilan permukaan. Tetapi, tidak mengangkat seluruh benjolan. Jadi, dalam waktu lama, benjolan bisa tumbuh kembali.
3. Krioterapi (Pembekuan)
Opsi ini lebih sering untuk benjolan yang sering terkena iritasi. Prosedurnya menggunakan nitrogen cair untuk membekukan jaringan. Jadi, pada benjolan yang kecil, sudah cukup untuk menghancurkan jaringannya, meski mungkin tidak seluruhnya.
4. Laser
Tembakan laser yang presisi hanya akan menargetkan jaringan benjolan. Ketika terkena laser, jaringan akan menyusut dan warnanya bisa berubah. Hasilnya, benjolan akan sedikit kempes dan warnanya akan “kembali normal”. Metode ini tidak menghilangkan sampai akarnya.
5. Peringatan Pengobatan Lain
Soal pilihan krim, salep, atau obat minum, sampai sekarang tidak ada anjuran yang terbukti dapat menghilangkan kondisi ini. Jadi, hindari penggunaanya dalam bentuk apapun karena memungkinkan risiko luka di bagian kulit sekitarnya sekaligus menyulitkan diagnosis.
Dermatofibroma juga bukan jerawat atau komedo. Jadi, jangan dipencet atau dikeluarkan sendiri. Sebagai ekspektasi Anda, risiko kekambuhan biasanya cukup umum. Ini terjadi karena tindakan pengangkatan jaringan belum tuntas atau tidak menyeluruh.
Strategi Pencegahan
Sampai saat ini, belum ada bukti konkret mengapa fibroblas menghasilkan kolagen hingga muncul benjolan. Bisa dibilang, penyebabnya masih belum diketahui dan banyak kasus muncul tanpa ada pemicu yang jelas. Meski begitu, masih ada beberapa langkah masuk akal untuk mencegahnya.
1. Kurangi Cedera Kulit Berulang.
Bila menyukai hobi yang ekstrem, gunakanlah pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. Rawatlah luka sekecil apapun sampai bersih.
Lalu, jangan menggaruk gigitan serangga sampai terluka. Lebih baik gunakan salep anti nyamuk atau gunakan kompres dingin untuk meredakan rasa gatalnya daripada menggaruk. Hindari juga memencet, mengupas, atau mencoba mengangkat benjolan kulit sendiri.
2. Biasakan Memeriksa Kulit
Bila Anda memiliki banyak tahi lalat, ada riwayat kanker, sering terpapar matahari, atau kulit mudah terbakar. Bila menemukan benjolan baru, segera catat kapan pertama kali terlihat, ukuran, warna, dan apakah ada perubahan selanjutnya. Foto yang berkala akan sangat memudahkan dokter menilai perkembangannya.
3. Bila Ada Kondisi Imun
Bagi Anda yang memiliki kondisi imun tertentu atau sedang menjalani imunosupresi, konsultasikan ke dokter bila muncul banyak benjolan kulit dalam waktu singkat.
Kapan Harus ke Dokter?
Walaupun dermatofibroma umumnya jinak, ada situasi di mana menunda pemeriksaan bukan pilihan bijak. Segera periksakan diri bila mengalami hal berikut.
Benjolan baru muncul dan tumbuhnya cepat (hitungan minggu atau bulan).
Ukurannya besar atau terus membesar.
Permukaannya mengalami luka, perdarahan, keluar cairan, atau tidak kunjung sembuh.
Warnanya berubah cepat, menjadi sangat gelap atau tidak merata, atau bentuknya asimetris.
Muncul nyeri hebat, gatal berkepanjangan, kemerahan meluas, bengkak, nanah, atau demam setelah benjolan teriritasi.
Banyak benjolan muncul dalam waktu singkat, terutama bila Anda memiliki gangguan imun, memakai obat imunosupresan, atau memiliki kondisi penyakit autoimun.
Terakhir, bila tidak yakin apakah benjolan itu dermatofibroma, tahi lalat, kista, atau tanda kanker kulit, periksakan saja ke dokter kulit. Selain memeriksakan benjolan ke dokter kulit, ini juga waktu yang pas untuk melihat kondisi tubuh secara menyeluruh.
Medical Check Up Basic dari Bumame bisa jadi pilihan karena memuat 12 pemeriksaan dasar, mulai dari profil gula darah hingga urine. Pemeriksaan tersedia lewat layanan homecare maupun di klinik Bumame.
Kenali Dermatofibroma Lebih Awal, Tenang Lebih Lama!
Benjolan kulit kecil memang sering buat was-was, tetapi pemahaman yang tepat membuat Anda bisa bersikap lebih tenang. Terus pantau perubahannya, jangan memencetnya sendiri, dan segera temui dokter bila ada tanda yang mencurigakan. Ingat! Kondisi yang tampak sepele pun layak diperiksa.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Myers, D. J., & Fillman, E. P. — Dermatofibroma
Oakley, A. — Dermatofibroma
Harvard Health Publishing — Dermatofibroma
Luba, M. C., Bangs, S. A., Mohler, A. M., & Stulberg, D. L. — Common Benign Skin Tumors
Wan, L., Park, A., Almatroud, L., & Khachemoune, A. — Dermatofibroma: Reappraisal and Updated Review
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apakah dermatofibroma menular?
Tidak. Dermatofibroma merupakan benjolan jinak yang berasal dari pertumbuhan sel jaringan ikat kulit, bukan akibat infeksi kuman, sehingga tidak menular.
Apakah dermatofibroma bisa hilang sendiri?
Dermatofibroma umumnya menetap selama bertahun-tahun dan tidak hilang dengan sendirinya. Jika benjolan mengganggu, terasa nyeri, atau menimbulkan kekhawatiran, dokter dapat menilai pilihan penanganan yang sesuai.
Bisakah dermatofibroma dikenali sendiri di rumah?
Sulit memastikan dermatofibroma hanya berdasarkan tampilan atau sentuhan karena benjolan ini dapat menyerupai kondisi kulit lainnya. Pemeriksaan dokter diperlukan, terutama jika benjolan tumbuh cepat, berubah warna, atau berdarah.
Dokter apa yang tepat untuk memeriksa dermatofibroma?
Dokter apa yang tepat untuk memeriksa dermatofibroma?
Bagaimana merawat kulit setelah dermatofibroma diangkat?
Ikuti petunjuk perawatan luka dari dokter, jaga area tetap bersih, dan hindari menggaruk atau mengorek luka. Segera hubungi dokter jika nyeri bertambah, pembengkakan memburuk, atau muncul nanah.
