Munculnya memar secara tiba-tiba tanpa benturan berat atau mimisan yang sulit berhenti merupakan hal yang sering dianggap remeh. Padahal, berbagai situasi sepele tersebut berkaitan erat dengan kondisi gangguan pembekuan darah di dalam tubuh.
Sayangnya, masalah kesehatan ini bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang usia dalam aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, mengenali gejalanya sejak dini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi serius yang mengancam nyawa.
Apa Itu Gangguan Pembekuan Darah?
Pada dasarnya, pembekuan darah merupakan mekanisme penting untuk menghentikan perdarahan ketika pembuluh darah mengalami cedera. Proses ini melibatkan trombosit, protein pembekuan, pembuluh darah, serta berbagai tahapan yang saling berhubungan.
Masalah dapat muncul apabila salah satu bagian dari sistem tersebut tidak bekerja dengan baik. Pada gangguan perdarahan, misalnya, darah dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk membentuk bekuan yang stabil.
Sebaliknya, pada kondisi hiperkoagulabilitas atau trombofilia, tubuh dapat membentuk bekuan secara berlebihan atau pada tempat yang tidak semestinya. Bekuan tersebut dapat menyebabkan kondisi seperti pembentukan bekuan darah di vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) maupun emboli paru.
Jadi, istilah “gangguan pembekuan darah” sebenarnya mencakup kelompok kondisi yang cukup luas. Seseorang yang mudah mengalami perdarahan dan seseorang yang rentan mengalami trombosis (pembentukan bekuan darah di dalam pembuluh darah) sama-sama dapat termasuk dalam kelompok ini, tetapi mekanisme penyakitnya berbeda.
Gejala Gangguan Pembekuan Darah
Gejala sangat bergantung pada apakah masalah utamanya berupa perdarahan berlebihan atau pembentukan bekuan darah. Berikut beberapa tanda yang dapat mengarah pada gangguan perdarahan:
Mudah mengalami memar tanpa penyebab yang jelas.
Sering mimisan atau pendarahan pada gusi.
Luka membutuhkan waktu lama untuk berhenti berdarah.
Menstruasi sangat banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
Perdarahan yang sulit dikendalikan setelah prosedur medis atau pencabutan gigi.
Perdarahan berulang yang tidak memiliki penyebab jelas.
Berbeda dengan tanda di atas, pembentukan bekuan darah pada vena dapat menyebabkan gejala berbeda. DVT, misalnya, dapat menimbulkan pembengkakan, nyeri atau rasa tidak nyaman, kulit terasa hangat, serta perubahan warna pada salah satu tungkai.
Selanjutnya, jika bekuan berpindah ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru, gejalanya dapat berupa sesak napas, nyeri dada, batuk, atau denyut jantung yang cepat.
Meski demikian, tidak semua orang dengan gangguan pembekuan darah mengalami gejala yang sama. Karena itu, riwayat keluarga, penyakit tertentu, penggunaan obat, kehamilan, atau hasil pemeriksaan sebelumnya juga dapat menjadi pertimbangan.
Penyebab dan Jenis Gangguan Pembekuan Darah
Penyebab gangguan pembekuan darah dapat berasal dari faktor genetik maupun kondisi yang muncul kemudian. Berikut penjelasannya.
1. Gangguan Faktor Pembekuan
Tubuh membutuhkan sejumlah faktor pembekuan untuk membentuk bekuan darah. Kekurangan atau gangguan fungsi faktor tertentu dapat menyebabkan darah lebih sulit membeku. Hemofilia merupakan salah satu contoh gangguan perdarahan yang berkaitan dengan faktor pembekuan.
2. Gangguan Trombosit
Trombosit berperan dalam tahap awal penghentian perdarahan. Jumlah trombosit yang terlalu rendah atau fungsi trombosit yang terganggu dapat menyebabkan kecenderungan perdarahan.
3. Gangguan yang Menyebabkan Darah Lebih Mudah Membeku
Sebagian orang memiliki kondisi yang membuat pembentukan darah lebih mudah. Faktor keturunan tertentu, penyakit, kondisi medis, imobilisasi dalam waktu lama, operasi, serta beberapa keadaan fisiologis dapat meningkatkan risiko trombosis. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
4. Gangguan Pembekuan yang Didapat
Masalah pembekuan juga dapat muncul akibat penyakit atau kondisi tertentu, termasuk gangguan hati, karena sebagian besar faktor pembekuan diproduksi oleh hati. Obat yang memengaruhi pembekuan darah juga dapat mengubah hasil pemeriksaan koagulasi.
5. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Terakhir, kondisi serius seperti disseminated intravascular coagulation (DIC) yang terjadi ketika proses pembekuan terjadi secara tidak terkendali di berbagai bagian tubuh dan dapat diikuti perdarahan. Hal yang menjadi penyebab dasar DIC adalah infeksi berat, peradangan, dan kanker.
Gangguan Pembekuan Darah pada Ibu Hamil
Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan fisiologis pada sistem pembekuan darah. Secara alami, tubuh mengalami perubahan yang membantu mempersiapkan proses persalinan, tetapi pada saat yang sama kehamilan juga berkaitan dengan peningkatan risiko tromboemboli vena.
Inilah salah satu alasan mengapa keluhan pada ibu hamil perlu dinilai dengan hati-hati. Pembengkakan tungkai, misalnya, dapat terjadi selama kehamilan karena perubahan fisiologis, tetapi pembengkakan yang disertai nyeri, rasa hangat, atau perubahan warna pada satu tungkai perlu mendapatkan perhatian medis karena menyerupai gejala DVT.
Karena gejalanya dapat menyerupai perubahan normal selama kehamilan, dokter biasanya mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menilai kemungkinan tromboemboli vena.
Salah satu pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan adalah D-dimer, tetapi hasilnya membutuhkan interpretasi khusus selama kehamilan. Kadar D-dimer dapat meningkat secara fisiologis seiring bertambahnya usia kehamilan, sehingga hasil yang meningkat tidak otomatis berarti terdapat bekuan darah.
D-dimer sendiri dapat digunakan dalam algoritma diagnostik tertentu pada ibu hamil dengan dugaan tromboemboli vena, tetapi interpretasinya perlu mempertimbangkan probabilitas klinis dan protokol yang digunakan. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak menafsirkan hasil D-dimer secara mandiri.
Diagnosis Lewat Tes aPTT dan D-Dimer
Diagnosis gangguan pembekuan darah tidak cukup hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil laboratorium. Dokter dapat mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, obat yang dikonsumsi, serta pemeriksaan darah atau pencitraan yakni sebagai berikut.
1. aPTT
Activated partial thromboplastin time atau aPTT secara umum merupakan pemeriksaan darah yang mengukur berapa lama sampel darah membutuhkan waktu untuk membeku.
Pemeriksaan tersebut menilai bagian tertentu dari sistem koagulasi, yaitu jalur intrinsik dan jalur bersama. aPTT dapat digunakan dalam evaluasi gangguan perdarahan dan pada situasi tertentu untuk memantau terapi antikoagulan seperti heparin.
Hasil aPTT yang memanjang dapat memiliki berbagai kemungkinan penyebab. Karena itu, hasil tersebut tidak otomatis menunjukkan satu penyakit tertentu. Dokter dapat mengombinasikannya dengan pemeriksaan lain, seperti PT (pemeriksaan untuk menilai berapa lama waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku), hitung darah lengkap, atau pemeriksaan faktor pembekuan, sesuai kebutuhan.
Jika Anda mendapat anjuran dokter untuk melakukan pemeriksaan aPTT, Bumame menyediakan pemeriksaan APTT dengan harga mulai dari Rp215.000,00. Pilihan layanannya pun sangat menyesuaikan kebutuhan seperti walk in maupun home care.
Pemeriksaan ini menggunakan sampel darah dan tidak memerlukan puasa. Anda tetap perlu memberi tahu petugas mengenai obat, vitamin, dan suplemen yang rutin dikonsumsi.
Harap diingat, jangan menghentikan obat yang diresepkan hanya karena akan menjalani pemeriksaan tanpa arahan tenaga medis. Untuk hasilnya, Anda dapat memperolehnya dalam waktu lebih dari 1×24 jam.
Pemeriksaan ini relevan bagi orang dengan keluhan mudah memar, sering mimisan, perdarahan lama, menstruasi sangat banyak, riwayat bekuan darah, keguguran berulang, penyakit hati, gangguan pembekuan, atau bagi orang yang akan menjalani tindakan medis tertentu.
2. D-dimer
Berbeda dari aPTT, D-dimer merupakan fragmen protein yang terbentuk ketika bekuan fibrin dipecah oleh tubuh. Pemeriksaan ini dapat membantu mengevaluasi kemungkinan adanya proses pembentukan dan pemecahan bekuan, terutama ketika dicurigai DVT atau emboli paru.
Namun, D-dimer yang tinggi tidak selalu berarti seseorang memiliki bekuan darah. Kehamilan, usia, operasi atau trauma baru-baru ini, penyakit tertentu, dan sejumlah kondisi lain juga dapat meningkatkan kadarnya. Karena itu, hasilnya perlu dibaca bersama gejala dan penilaian klinis.
Pengobatan dan Penanganan
Penanganan gangguan pembekuan darah tidak bisa disamaratakan. Hal itu karena terapi bergantung pada penyebab, jenis gangguan, tingkat keparahan, serta apakah masalah utamanya adalah perdarahan atau pembentukan bekuan.
Pada gangguan perdarahan tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggantian faktor pembekuan atau terapi lain yang membantu mengendalikan perdarahan. Pada kondisi tertentu yang menyebabkan pembentukan bekuan, dokter dapat memberikan obat antikoagulan untuk mencegah bekuan bertambah besar atau terbentuk kembali.
Pengobatan juga dapat ditujukan pada penyakit yang mendasarinya. Karena obat yang memengaruhi pembekuan memiliki manfaat sekaligus risiko perdarahan, penggunaannya perlu mengikuti dosis dan pengawasan tenaga medis.
Hindari mengonsumsi obat, suplemen, atau menghentikan obat pengencer darah secara mandiri hanya berdasarkan hasil laboratorium. Nilai pemeriksaan harus dipahami dalam konteks kondisi klinis secara keseluruhan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis jika mengalami perdarahan yang tidak berhenti, perdarahan dalam jumlah banyak, atau gejala yang mengarah pada bekuan darah. Khususnya, sesak napas mendadak, nyeri dada, batuk berdarah, atau denyut jantung yang cepat dapat menjadi tanda emboli paru dan membutuhkan evaluasi medis segera.
Untuk keluhan yang tidak bersifat darurat, seperti mudah memar, mimisan berulang, menstruasi sangat banyak, atau riwayat keluarga dengan gangguan pembekuan, buat janji dengan dokter agar penyebabnya dapat ditelusuri.
Kenali Tanda Tubuh Sejak Dini
Gangguan pembekuan darah dapat memiliki gejala yang beragam. Jika keluhan muncul berulang atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebab serta penanganan yang sesuai.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
National Library of Medicine. (2020). Coagulation Disorders: Manifestations in the Gastrointestinal Tract.
MDPI. (2026). Biomarkers of Coagulation Disorders—Where to from Here?.
National Library of Medicine. (2020). Coagulopathy and its associated factors among patients with a bleeding diathesis at the University of Gondar Specialized Referral Hospital, Northwest Ethiopia.
Journal of Trauma: Injury, Infection & Critical Care. (2008). The Coagulopathy of Trauma: A Review of Mechanisms.
MDPI. (2022). Management of Coagulopathy in Bleeding Patients.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
.jpg&w=3840&q=75)