Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC)
Kembali ke Artikel & Berita

Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC): Diagnosis dan Pengobatan

SBAOthers

Jangan remehkan tanda-tanda awal seperti tubuh mudah memar atau kondisi perdarahan yang tak kunjung berhenti. Keluhan ini bisa jadi salah satu indikasi masalah serius pada sistem pembekuan darah di dalam tubuh. Tidak jarang kasus ini berkaitan erat dengan sindrom koagulasi intravaskular diseminata yang harus diwaspadai.

Sindrom koagulasi intravaskular diseminata bukan merupakan sebuah penyakit mandiri. Penyakit ini justru muncul sebagai komplikasi akibat infeksi berat, kanker, maupun trauma. Sindrom yang satu ini akan merangsang proses pembekuan darah di pembuluh kecil sekaligus menguras protein pembeku sehingga memicu perdarahan sangat parah.

Apa Itu Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC)?

Sederhananya, koagulasi intravaskular diseminata atau disseminated intravascular coagulation (DIC) adalah kondisi ketika sistem pembekuan darah aktif secara luas di dalam pembuluh darah.

Normalnya, pembekuan darah bekerja ketika tubuh mengalami luka. Trombosit dan berbagai faktor pembekuan membentuk bekuan untuk menghentikan perdarahan. Setelah kondisi terkendali, proses tersebut dihentikan dan bekuan secara bertahap diuraikan.

Sayangnya pada DIC, mekanisme ini berjalan secara tidak terkendali. Gumpalan kecil dapat terbentuk di pembuluh darah kecil dan mengganggu pasokan darah ke jaringan. Di sisi lain, trombosit dan faktor pembekuan terus digunakan sehingga tubuh dapat kehilangan kemampuan untuk menghentikan perdarahan secara efektif.

DIC sendiri dapat berlangsung cepat atau lebih perlahan, tergantung penyebabnya. DIC akut, misalnya, yang berkaitan dengan sepsis atau syok berat, dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan di rumah sakit.

Gejala DIC

Gejala DIC dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Hal ini bergantung pada apakah masalah yang lebih dominan adalah perdarahan, pembentukan bekuan darah, atau keduanya. Berikut beberapa tanda perdarahan yang dapat muncul:

  • Memar atau lebam yang mudah muncul.

  • Vaskulitis atau peradangan pembuluh darah yang menyebabkan bintik-bintik merah kecil pada kulit (petechiae).

  • Mimisan atau gusi berdarah.

  • Darah pada urine atau tinja.

  • Muntah darah.

  • Perdarahan yang terus keluar dari bekas suntikan, luka, atau area operasi.

  • Menstruasi yang lebih banyak dari biasanya.

  • Pusing, lemas, linglung, hingga penurunan kesadaran pada kondisi berat.

Saat terjadi pembentukan bekuan darah, penderita akan merasa nyeri, bengkak, dan rasa hangat pada tungkai. Jika bekuan mengganggu pembuluh darah paru, seseorang dapat mengalami sesak napas atau nyeri dada. Gangguan aliran darah ke organ lain juga dapat menimbulkan masalah sesuai organ yang terdampak.

Karena gejalanya tidak selalu khas, DIC tidak dapat dikenali hanya berdasarkan keluhan. Dokter perlu melihat kondisi yang mendasari serta melakukan pemeriksaan laboratorium.

Penyebab dan Faktor Risiko

Koagulasi intravaskular diseminata biasanya terjadi sebagai respons terhadap kondisi medis yang berat. Berikut penjelasannya.

1. Infeksi Berat dan Sepsis

Sepsis merupakan salah satu kondisi infeksi berat yang paling sering dikaitkan dengan DIC. Infeksi berat ini dapat memicu aktivasi sistem koagulasi dan peradangan secara luas.

2. Cedera Berat atau Syok

Trauma berat, luka bakar luas, operasi tertentu, serta kondisi syok dapat memicu gangguan pembekuan sistemik. Kondisi darurat ini dapat merusak jaringan tubuh secara masif sehingga memicu respons pembekuan darah yang tidak terkendali.

3. Komplikasi Kehamilan dan Persalinan

Beberapa komplikasi obstetri, seperti solusio plasenta, eklamsia, kematian janin dalam kandungan, emboli air ketuban, atau perdarahan berat dapat berhubungan dengan DIC. Berbagai komplikasi kehamilan ini melepaskan faktor pemicu pembekuan ke dalam aliran darah secara berlebihan.

4. Kanker

Beberapa jenis kanker, terutama kanker pada darah dan jaringan padat, dapat berhubungan dengan DIC. Pada kondisi yang berkembang lebih perlahan, masalah pembekuan darah dapat lebih menonjol dibandingkan perdarahan.

Penyebab lainnya dapat mencakup pankreatitis, penyakit hati tertentu, reaksi terkait transfusi atau transplantasi, serta kondisi lain yang memicu aktivasi koagulasi secara luas. Berbagai gangguan tambahan ini juga mampu mengganggu keseimbangan sistem hemostasis tubuh secara menyeluruh.

Diagnosis Lewat Tes D-Dimer dan PT/aPTT

Diagnosis koagulasi intravaskular diseminata tidak ditentukan hanya berdasarkan satu pemeriksaan darah. Dokter biasanya menggabungkan gejala, penyakit yang mendasari, pemeriksaan fisik, serta beberapa pemeriksaan laboratorium.

Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah D-dimer. D-dimer merupakan fragmen protein yang terbentuk ketika bekuan darah yang mengandung fibrin diuraikan tubuh. 

Kadar yang meningkat dapat menunjukkan bahwa proses pembentukan dan pemecahan bekuan sedang meningkat. Namun, D-dimer juga dapat meningkat pada berbagai kondisi lain sehingga hasil tinggi tidak otomatis berarti seseorang mengalami DIC.

Selain D-dimer, dokter dapat memeriksa:

  • PT (prothrombin time) atau waktu protrombin, untuk menilai salah satu jalur pembekuan darah.

  • aPTT (activated partial thromboplastin time), untuk menilai jalur pembekuan lainnya.

  • Jumlah trombosit, yang dapat menurun karena digunakan dalam proses pembekuan.

  • Fibrinogen, yang dapat menurun pada DIC tertentu.

  • Pemeriksaan darah lainnya, termasuk apusan darah dan evaluasi fungsi organ, sesuai kondisi pasien.

Kriteria penilaian DIC menggunakan kombinasi parameter seperti jumlah trombosit, D-dimer atau penanda fibrin terkait, PT, dan fibrinogen untuk overt DIC. Karena hasil laboratorium dapat berubah seiring perjalanan penyakit, pemeriksaan berulang juga dapat diperlukan. 

Dengan demikian, tes D-dimer sebaiknya dipahami sebagai salah satu bagian dari evaluasi klinis, bukan tes tunggal untuk memastikan DIC.

Pengobatan Kondisi Darurat DIC

DIC yang berkembang cepat merupakan keadaan darurat medis. Prinsipnya adalah menangani penyebabnya. Misalnya, bila DIC berkaitan dengan sepsis, dokter akan menangani infeksi dan mempertahankan fungsi organ. Bila berkaitan dengan komplikasi kehamilan dan cedera, penyebabnya perlu ditangani sesegera mungkin.

Jika terjadi perdarahan, dokter dapat memberikan terapi penggantian komponen darah, seperti trombosit, plasma, atau komponen lain sesuai kondisi klinis dan hasil pemeriksaan.

Terapi tidak diberikan semata-mata karena angka laboratorium abnormal, tetapi dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien, perdarahan, kebutuhan tindakan medis, serta penyebab koagulasi intravaskular diseminata.

Pada situasi tertentu ketika pembentukan bekuan menjadi masalah utama dan risiko perdarahan dapat dikendalikan, dokter dapat mempertimbangkan terapi antikoagulan. Pilihan terapi sangat bergantung pada jenis dan fase DIC sehingga tidak sebaiknya dilakukan sendiri tanpa pengawasan medis.

Komplikasi Jika Tidak Ditangani

Karena koagulasi intravaskular diseminata dapat memengaruhi pembuluh darah sekaligus sistem perdarahan, komplikasinya dapat terjadi pada berbagai organ. Gumpalan kecil yang mengganggu aliran darah dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan gangguan fungsi organ.

Pada kondisi berat, komplikasi dapat mencakup gangguan ginjal, gangguan hati, gangguan pernapasan, stroke, emboli paru, hingga kegagalan multiorgan. Selain itu, perdarahan berat juga dapat menyebabkan tekanan darah turun dan syok.

Risiko komplikasi sangat dipengaruhi oleh penyebab DIC, kecepatan kondisi berkembang, organ yang terdampak, serta seberapa cepat penyebab dasarnya ditangani.

Kapan Harus ke IGD?

Karena koagulasi intravaskular diseminata dapat mengancam nyawa, maka segera ke IGD jika mengalami gejala berikut:

  • muncul perdarahan yang sulit berhenti, 

  • muntah darah, 

  • BAB berdarah atau hitam, 

  • darah dalam urine, 

  • memar luas yang muncul tanpa sebab jelas, 

  • penurunan kesadaran, 

  • sesak napas mendadak, 

  • nyeri dada,

  • nyeri tungkai yang mendadak bengkak, dan 

  • nyeri terutama jika sebelumnya mengalami infeksi berat, cedera, operasi, komplikasi kehamilan atau persalinan, atau sedang menjalani pengobatan kanker. 

Jika perlu, lakukan pemeriksaan D-dimer untuk menemukan penyebab gangguan pembekuan atau penggumpalan darah. Untuk memudahkan, Bumame menyediakan pemeriksaan D-Dimer dengan harga mulai dari Rp820.000,00 yang dapat dilakukan melalui layanan home care maupun walk in.

Pemeriksaan ini tidak memerlukan persiapan khusus karena pemeriksaan mencakup tes D-Dimer. Meski demikian, perlu diingat bahwa hasil D-dimer yang tinggi tidak otomatis berarti DIC dan tetap perlu diinterpretasikan bersama kondisi klinis serta pemeriksaan lain oleh dokter.

Deteksi Lebih Dini, Tangani Sesuai Kondisi

Koagulasi intravaskular diseminata merupakan gangguan pembekuan yang kompleks dan dapat berkembang sebagai komplikasi penyakit berat. Gejalanya dapat berupa perdarahan, pembentukan bekuan, atau kombinasi keduanya. 

Pemeriksaan D-dimer, PT, aPTT, trombosit, fibrinogen, dan pemeriksaan lainnya membantu dokter menilai kondisi tersebut, tetapi tidak ada satu tes yang dapat berdiri sendiri untuk memastikan diagnosis.

Jika terdapat gejala yang mengarah pada perdarahan berat atau gangguan pembuluh darah, terutama setelah mengalami kondisi medis serius, jangan menunda pemeriksaan. Penanganan penyebab yang mendasari sedini mungkin sangat penting dalam pengelolaan DIC.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. Kemenkes. (2023). Apa itu Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)?.

  2. National Library of Medicine. (2025). Disseminated intravascular coagulation.

  3. Universitas Indonesia. (2022). Disseminated Intravascular Coagulation in Sepsis and Associated Factors.

  4. Medscape. (2022). Disseminated Intravascular Coagulation (DIC): Practice Essentials, Pathophysiology, Etiology.

  5. Journal of Intensive Care. (2014). Classifying types of disseminated intravascular coagulation: clinical and animal models.

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu DIC?
DIC atau koagulasi intravaskular diseminata adalah kondisi ketika sistem pembekuan darah aktif secara luas dan tidak terkendali di dalam pembuluh darah.
Apa saja gejala DIC?
Gejalanya dapat berupa mudah memar, mimisan, gusi berdarah, darah dalam urine atau tinja, perdarahan yang sulit berhenti, hingga pusing dan penurunan kesadaran pada kondisi berat.
Apa penyebab DIC?
DIC biasanya muncul sebagai komplikasi kondisi medis berat, seperti sepsis, trauma atau syok, komplikasi kehamilan dan persalinan, serta kanker.
Bagaimana cara mendiagnosis DIC?
Diagnosis dilakukan dengan menggabungkan kondisi klinis dan beberapa pemeriksaan laboratorium, seperti D-dimer, PT, aPTT, jumlah trombosit, dan fibrinogen.
Apakah DIC bisa sembuh?
DIC dapat membaik jika penyebab yang mendasarinya berhasil ditangani, tetapi tingkat keparahan dan pemulihan setiap pasien dapat berbeda.