Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

GTM Adalah: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

GTM Adalah: Penyebab dan Cara Mengatasinya

SBATips Kesehatan

Jam-jam makan yang biasanya menyenangkan malah terasa melelahkan saat anak memalingkan wajah, mengatupkan mulut, ataupun menolak setiap suapan. Perilaku ini pun sering disebut gerakan tutup mulut. GTM adalah penolakan makan sesekali yang bisa saja terjadi selama masa tumbuh kembang.

Situasi ini pun kerap membuat para orang tua khawatir dan stres karena takut si kecil tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Lantas, apa sebenarnya penyebab masalah ini? Bagaimana cara mengatasinya? Simak selengkapnya lewat pembahasan berikut!

Apa Itu GTM pada Anak?

GTM adalah istilah sehari-hari dan bukan medis untuk gambarkan perilaku anak yang menolak makanan ataupun menutup mulut saat disuapi. Selain itu, gerakan tutup mulut bukan sebuah diagnosis medis tersendiri. 

Perilaku ini bisa saja muncul sesekali, misalnya saat anak kenyang, lelah, sedang sakit, ataupun belum terbiasa dengan rasa dan juga tekstur makanan tertentu. Pada anak usia balita, nafsu makan dan juga pilihan makanan pun bisa berubah-ubah seiring pertumbuhan serta adanya perkembangan kemandirian. 

Anak kemungkinan membutuhkan waktu untuk menerima makanan baru. Hanya saja, penolakan yang berlangsung terus-menerus, dikhawatirkan membuat variasi makanan sangat terbatas, ataupun sampai mengganggu pertumbuhan yang perlu mendapat evaluasi lebih lanjut. 

Penyebab dan penanganannya sendiri tidak selalu sama. Khususnya untuk bayi yang sudah mulai MPASI, makanan pendamping biasanya diberikan sekitar usia 6 bulan dengan tekstur yang telah disesuaikan kemampuan makan dan juga menelannya.

Penyebab Anak Mengalami GTM

Anak GTM adalah anak yang sedang menunjukkan perilaku menolak makan. Sedangkan bayi GTM adalah bayi yang menolak ASI, susu, ataupun makanan pendamping. Penyebab gerakan tutup mulut pun cukup beragam. Jadi, jangan serta merta langsung menganggap anak sekadar pilih-pilih makanan.

Faktor yang Berkaitan dengan Kebiasaan Makan

Anak mungkin menolak karena belum terbiasa dengan rasa, aroma, ataupun tekstur makanan. Apalagi jika jadwal makannya tidak teratur, terlalu banyak camilan ataupun minuman di antara waktu makan, serta suasana makan yang penuh tekanan juga bisa saja memengaruhi keinginan anak untuk makan.

Kondisi Fisik atau Masalah Makan

Nafsu makan bisa langsung menurun saat anak sedang sakit ataupun merasa tidak nyaman. Ada juga pada sebagian anak, kesulitan mengunyah ataupun menelan, sensitivitas terhadap tekstur, maupun pengalaman makan yang tidak amat menyenangkan juga bisa membuat waktu makan menjadi sulit. 

Jika memang anak sering tersedak, batuk saat makan, atau sampai kesulitan menerima banyak jenis makanan, maka konsultasikan dengan tenaga kesehatan. 

Karena penyebabnya sendiri bisa beragam, maka perhatikan kapan penolakan muncul, jenis makanan yang ditolak, serta apakah anak tetap aktif dan juga tumbuh sesuai usianya. Informasi ini akan sangat membantu dokter menilai situasi dengan lebih akurat.

Tanda dan Dampak GTM pada Anak

Tanda GTM adalah menutup mulut saat disuapi, memalingkan kepala, mendorong sendok, memilih makanan tertentu saja, ataupun hanya mau makan dalam jumlah sedikit. Perilaku ini harus Anda perhatikan bersama pola makan dan juga pertumbuhan anak, bukan hanya berdasarkan satu kali waktu makan saja.

Jika memang berlangsung berkepanjangan, maka asupan makanan yang tidak mencukupi bisa meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan mengganggu pertumbuhan anak atau stunting.

Namun, anak yang hanya sesekali menolak makan belum tentu mengalami kekurangan gizi. Jadi, tetap pantau berat dan juga tinggi badan secara berkala melalui grafik pertumbuhan sesuai usianya.

Cara Mengatasi GTM agar Anak Mau Makan

Pendekatan yang tenang dan konsisten lebih bermanfaat daripada memaksa anak untuk bisa menghabiskan makanan. WHO sendiri menganjurkan pemberian makan responsif, yaitu dengan orang tua mengenali isyarat lapar dan juga kenyang anak, kemudian meresponsnya secara sesuai dan juga penuh dukungan.

Bangun Rutinitas Makan yang Nyaman

Beberapa langkah yang bisa dicoba di rumah masing-masing.

  • Atur waktu makan: sediakan jadwal makan utama dan juga camilan yang teratur agar anak nantinya tidak terus-menerus kenyang sebelum waktu makan.

  • Mulai dengan porsi kecil: berikan porsi yang sesuai usia dan juga tambahkan bila anak masih lapar.

  • Hindari paksaan: jangan memaksa, mengancam, ataupun mengejar anak dengan sendok.

  • Makan bersama: orang tua juga bisa menjadi contoh dengan menikmati makanan yang beragam.

  • Kenalkan makanan berulang kali: jangan lupa untuk tawarkan kembali makanan yang ditolak pada kesempatan lain tanpa harus memaksa anak mencicipinya.

Kenali Isyarat Lapar dan Kenyang

Anak bisa saja menunjukkan rasa lapar dengan mencari makanan ataupun tampak tertarik pada saat makanan disajikan. Sebaliknya, memalingkan kepala, memperlambat makan, ataupun menutup mulut bisa menjadi tanda kenyang ataupun tidak ingin melanjutkan. 

Respons terhadap isyarat inilah yang perlu Anda sesuaikan dengan usia dan juga kondisi anak. Waktu makan juga sebaiknya tidak terlalu panjang ataupun dipenuhi distraksi. 

Hindari juga menjadikan makanan sebagai hadiah ataupun hukuman karena cara itu bisa menambah tekanan anak pada saat makan. Jika memang upaya di rumah tidak membantu ataupun anak semakin membatasi makanan, maka mintalah saran dokter anak.

Makanan yang Bisa Diberikan Saat Anak Mengalami GTM

Tidak ada satu jenis makanan pasti untuk mengatasi masalah ini. Anda bisa memilih makanan bergizi sesuai usia. Lalu, sesuaikan dengan kemampuan mengunyah dan menelan, sampai kebiasaan makan anak. Variasikan juga sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan sumber lemak dalam menu sehari-hari.

Contoh pilihan yang dapat disesuaikan untuk GTM adalah sebagai berikut.

  • Sumber protein: telur matang, ikan tanpa duri, ayam, tahu, ataupun tempe dengan tekstur sesuai kemampuan anak.

  • Sumber karbohidrat: nasi, bubur, kentang, atau ubi yang juga diolah sesuai usia.

  • Sayur dan buah: sajikan dalam tekstur yang aman, misalnya dilumatkan ataupun dipotong sesuai kemampuan makan.

  • Makanan bertekstur lembut: dapat dicoba juga jika memang anak lebih nyaman dengan tekstur tersebut, sambil nanti bertahap mengenalkan variasi sesuai perkembangannya. 

Untuk bayi yang mulai MPASI, maka tingkatkan tekstur secara bertahap sesuai kemampuan. Hindari makanan yang berisiko menyebabkan tersedak, seperti adanya kacang utuh, potongan keras, ataupun bentuk makanan bulat yang tidak disiapkan dengan aman. 

Jangan tiba-tiba memberikan MPASI sebelum usia sekitar 6 bulan tanpa adanya arahan tenaga kesehatan. Orang tua juga bisa membaca panduan Bumame tentang cemilan bayi usia 6 bulan dan cara menyajikannya untuk bisa memahami pilihan dan juga bentuk makanan yang sesuai tahap perkembangan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menghadapi GTM

Beberapa respons yang terlihat praktis justru bisa membuat waktu makan semakin menegangkan. Karena itu, hindari memaksa anak membuka mulut, memarahi anak, ataupun malah membandingkan jumlah makanannya dengan anak lain.

Jangan pula langsung mengganti setiap makanan yang sudah si kecil tolak dengan camilan manis ataupun makanan favorit yang sama setiap kali. Hindari juga memberikan suplemen penambah nafsu makan tanpa adanya rekomendasi dokter.

Sebab, suplemen tidak selalu dibutuhkan, dan juga penanganan seharusnya disesuaikan dengan penyebab kesulitan makan. Bila memang ada dugaan kekurangan zat gizi, maka dokter akan menentukan apakah pemeriksaan ataupun intervensi tertentu diperlukan.

Kapan GTM pada Anak Perlu Konsultasi ke Dokter?

GTM adalah kondisi yang sebenarnya tidak selalu berujung buruk. Namun, tetap lakukan konsultasi tentang kondisi anak jika memang penolakan makannya terus berulang, pilihan makanannya semakin terbatas, ataupun orang tua khawatir asupan hariannya tidak mencukupi. 

Pemeriksaan juga sangat penting jika berat badan turun, pertumbuhan tidak sesuai pola sebelumnya, ataupun sampai anak menolak sebagian besar makanan padat setelah memasuki usia makan pendamping. Selain itu, segeralah cari pertolongan medis juga jika memang anak tampak sangat lemas.

Terutama jika anak menunjukkan tanda dehidrasi seperti buang air kecil jauh berkurang, ataupun mengalami kesulitan bernapas maupun tersedak. Batuk berulang saat makan, kesulitan menelan, ataupun muntah yang sering juga perlu mendapat pemeriksaan. 

Nah, untuk bisa membantu memantau pertumbuhan dan kondisi kesehatan anak, orang tua bisa mempertimbangkan layanan Tumbuh Kembang Anak Basic Bumame. Pemeriksaan ini bisa mendukung pemantauan kesehatan dan juga pertumbuhan, tapi bukan pemeriksaan khusus untuk bisa mendiagnosis penyebab GTM. 

Jika memang anak mengalami kesulitan makan, maka konsultasikanlah dengan dokter anak yang menjadi langkah penting. Ayo, lebih perhatikan perilaku si kecil dan kenali setiap kebutuhannya!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. World Health Organization (WHO) — WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age

  2. National Health Service (NHS) — Fussy Eaters

  3. American Academy of Pediatrics (AAP), HealthyChildren — How Do I Help My Picky Eater Try More Healthy Foods?

  4. HealthyChildren — Symptom Checker: Solid Foods (Baby Foods)

  5. Universitas Airlangga — GTM, Bukan Istilah Medis, Istilah Emak-emak yang Anaknya Tak Mau Makan

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apa itu GTM pada anak?

GTM atau gerakan tutup mulut adalah istilah sehari-hari untuk perilaku anak yang menolak makanan atau menutup mulut saat disuapi. Kondisi ini bukan diagnosis medis tersendiri.

Apa penyebab anak mengalami GTM?

Apa penyebab anak mengalami GTM?

Bagaimana cara mengatasi GTM agar anak mau makan?

Buat jadwal makan teratur, berikan porsi kecil sesuai usia, hindari paksaan, makan bersama anak, dan tawarkan kembali makanan yang ditolak tanpa memaksa. Kenali juga isyarat lapar dan kenyang anak.

Makanan apa yang bisa diberikan saat anak mengalami GTM?

Berikan makanan bergizi sesuai usia dan kemampuan mengunyah serta menelan, seperti telur matang, ikan tanpa duri, ayam, tahu, tempe, nasi, bubur, kentang, sayur, dan buah dengan tekstur yang aman.

Kapan anak yang mengalami GTM perlu dibawa ke dokter?

Konsultasikan dengan dokter jika penolakan makan terus berulang, pilihan makanan semakin terbatas, berat badan turun, pertumbuhan terganggu, atau anak sering batuk dan tersedak saat makan maupun kesulitan menelan. Segera cari pertolongan medis jika anak sangat lemas, mengalami dehidrasi, atau kesulitan bernapas.