Seorang anak terlihat lebih kecil dibanding teman sebayanya, dan keluarganya menganggap hal itu bawaan dari orang tua yang bertubuh mungil.
Tinggi badan memang dipengaruhi keturunan. Namun, tubuh yang pendek untuk usianya juga bisa menjadi tanda stunting, gangguan pertumbuhan yang ikut memengaruhi kemampuan berpikir dan belajar anak.
Berikut penjelasan tentang pengertian, penyebab, ciri, diagnosis, dan cara mencegah stunting sejak sebelum hamil.
Apa Itu Stunting?
Menurut WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat asupan gizi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang kurang. Anak disebut mengalami stunting bila panjang atau tinggi badan menurut umurnya berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan WHO, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Kementerian Kesehatan menyebutnya masalah kekurangan gizi kronis yang bisa menghambat pertumbuhan dan memengaruhi kemampuan emosional, sosial, serta fisik anak. Masa yang menentukan adalah 1.000 hari pertama kehidupan, sejak pembuahan sampai usia 2 tahun. WHO memperkirakan sekitar 150 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada 2024.
Keturunan ikut berperan, tetapi lingkungan berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak. Standar pertumbuhan yang dipakai Kementerian Kesehatan berangkat dari temuan bahwa anak dari negara mana pun tumbuh dengan pola yang sama bila gizi, kesehatan, dan pola asuhnya terpenuhi. Karena itu, anak yang pendek perlu diukur dan dinilai sebelum disimpulkan sebagai bawaan keluarga.
Penyebab Stunting pada Anak
Menurut WHO, penyebab langsungnya adalah asupan gizi yang kurang dan infeksi yang mengganggu pemanfaatan zat gizi. Penyebab yang umum antara lain:
Asupan gizi kurang dalam waktu lama. Anak tidak makan cukup, atau makanannya kurang mengandung zat gizi pendukung pertumbuhan. Kekurangan selama berbulan-bulan membuat pertambahan panjang badan melambat.
Infeksi berulang atau penyakit kronis. Kondisi ini mengganggu asupan, penyerapan, dan pemanfaatan zat gizi. Diare yang sering kambuh, misalnya, bisa menurunkan berat badan dan menghambat pertumbuhan.
Pemberian makan bayi yang kurang tepat. Kementerian Kesehatan menyoroti ASI yang tidak eksklusif serta MPASI yang kurang jumlah, mutu, dan variasinya. Menurut WHO, MPASI yang terlalu dini atau tidak dimulai sekitar usia 6 bulan bisa membuat pertumbuhan tersendat.
Gizi ibu dan kurangnya stimulasi. WHO mengaitkan stunting dengan gizi dan kesehatan ibu yang kurang baik serta stimulasi psikososial yang kurang. Kekurangan gizi sejak remaja sampai hamil juga bisa memicu Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil.
Baca Juga: Peran Penting Vitamin D bagi Tumbuh Kembang Anak
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Stunting?
Risiko stunting meningkat bila beberapa kondisi berikut terjadi bersamaan:
Keterbatasan ekonomi. WHO mencatat kemiskinan memperbesar risiko kekurangan gizi. Keluarga dengan sumber daya terbatas lebih sulit menyediakan makanan beragam dan menjangkau layanan kesehatan.
Sanitasi, air bersih, dan kebiasaan setempat. Lingkungan yang kurang bersih memudahkan infeksi berulang. Kementerian Kesehatan juga mencatat peran budaya, seperti pola pemberian makan, pernikahan dini, dan cara pengasuhan.
Anemia pada remaja putri. Remaja putri lebih berisiko mengalami anemia karena menstruasi. Kementerian Kesehatan memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) kepada mereka, salah satunya untuk menurunkan risiko kelahiran bayi dengan stunting atau berat badan lahir rendah (BBLR).
Ciri-Ciri Stunting yang Perlu Diperhatikan
Ciri utama stunting terlihat dari hasil pengukuran, sehingga catatan tinggi dan berat badan lebih bisa diandalkan dibanding perkiraan mata.
1. Panjang atau Tinggi Badan di Bawah Standar Usianya
Anak tampak lebih pendek dari anak seusianya, dan hasil ukurnya berada di bawah batas normal pada grafik pertumbuhan. Selisih beberapa sentimeter sulit dinilai dengan mata, jadi hasil ukur tenaga kesehatan menjadi patokannya.
2. Pertumbuhan Melambat dari Bulan ke Bulan
Perlambatan pertambahan panjang badan bisa menjadi tanda awal risiko stunting. Kementerian Kesehatan memakai tabel pertambahan berat dan panjang badan untuk mengenali anak usia 0 sampai 24 bulan yang berisiko gagal tumbuh.
3. Berat Badan Bisa Tampak Normal
Anak dengan stunting tidak selalu terlihat kurus. Menurut Kementerian Kesehatan, berat badan anak yang pendek bisa sesuai dengan tinggi badannya, bahkan berlebih, sehingga status gizinya perlu dinilai dari semua indeks.
4. Lebih Sering Sakit
WHO mencatat anak dengan stunting lebih sering sakit. Hubungan ini berjalan dua arah karena infeksi berulang juga memperlambat pertumbuhan. Anak yang sering sakit perlu dipantau pertumbuhannya lebih cermat.
5. Perkembangan dan Kemampuan Belajar Tertinggal
Pertumbuhan panjang badan di awal kehidupan berkaitan erat dengan perkembangan kognitif, bahasa, serta kemampuan sensorik dan motorik. Keterlambatan seperti ini perlu dinilai dokter karena bisa juga berkaitan dengan kondisi lain.
Dampak Stunting dalam Jangka Panjang
Menurut WHO, stunting sebagian besar sulit dipulihkan karena tinggi badan tidak bisa dikejar semudah berat badan. Dampak jangka panjangnya antara lain:
Belajar dan bekerja. Anak dengan stunting cenderung kurang berprestasi di sekolah. Saat dewasa, kondisi ini berkaitan dengan pendapatan dan produktivitas yang lebih rendah.
Penyakit kronis. Bila kelak disertai kenaikan berat badan berlebihan, risiko penyakit kronis terkait gizi saat dewasa meningkat. Karena itu, upaya menambah asupan anak perlu diimbangi pencegahan obesitas pada anak.
Apa Beda Stunting dengan Gizi Kurang dan Berat Badan Kurang?
Ketiga istilah ini sering tertukar. Masing-masing memakai ukuran yang berbeda, dan seorang anak bisa mengalami lebih dari satu kondisi sekaligus.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Periksakan anak ke dokter bila hasil pengukuran di posyandu menunjukkan garis pertumbuhan yang mendatar, menurun, atau berada di bawah batas normal. Kementerian Kesehatan mewajibkan tata laksana segera bila ditemukan risiko gagal tumbuh atau perawakan pendek.
Konsultasi juga dianjurkan bila anak sering sakit, sulit makan dalam waktu lama, atau menunjukkan tanda gangguan tumbuh kembang lain. Anak yang tampak sangat kurus, lemas, atau sulit minum perlu segera diperiksa di fasilitas kesehatan.
Bagaimana Dokter Memastikan Stunting?
Diagnosis stunting bergantung pada pengukuran yang tepat dan penilaian penyebabnya. Langkah yang umum dilakukan:
Mengukur sesuai usia. Anak usia 0 sampai 24 bulan diukur panjang badannya sambil telentang, sedangkan anak di atas 24 bulan diukur tinggi badannya sambil berdiri. Alat dan teknik pengukurannya wajib sesuai standar.
Membandingkan dengan standar. Hasil ukur dibandingkan dengan Standar Antropometri Anak yang mengacu pada standar WHO, dengan kategori pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted). Grafik pertumbuhan juga menunjukkan arah pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Mencari penyebab. Dokter menanyakan riwayat kehamilan, berat lahir, pola makan, dan penyakit yang sering dialami anak. Bila perlu, dokter meminta pemeriksaan penunjang seperti tes tumbuh kembang anak.
Tes Darah Penunjang di Bumame
Stunting dipastikan lewat pengukuran tubuh, sedangkan tes darah membantu dokter menilai masalah gizi yang menyertainya. Zat besi termasuk zat gizi mikro penting untuk tumbuh kembang, dan WHO menyebut kekurangannya bisa mengganggu kesehatan dan perkembangan anak.
Bila dokter menyarankan tes darah, Bumame menyediakan paket Tumbuh Kembang Anak Basic yang berisi hematologi lengkap, glukosa sewaktu, serum iron (SI), TIBC, dan ferritin. Pemeriksaan ini tidak memerlukan persiapan khusus dan tersedia di klinik maupun Home Care. Hasilnya sebaiknya dibahas bersama dokter. Untuk mengatur jadwal, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Penanganan Stunting
Penanganan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi anak. Kementerian Kesehatan mewajibkan tata laksana sesuai kebutuhan begitu masalah gizi ditemukan. Rencananya mencakup perbaikan asupan, penanganan infeksi atau penyakit penyerta, dan pemantauan pertumbuhan berkala.
Karena tinggi badan sulit dikejar, langkah yang dimulai sedini mungkin memberi peluang perbaikan lebih besar. Dokter atau ahli gizi bisa membantu menyusun menu sesuai kebutuhan gizi harian anak. Saat anak sakit, WHO menyarankan cairan dan ASI diberikan lebih sering bersama makanan lunak yang disukai anak.
Cara Mencegah Stunting Sejak Sebelum Hamil
Pencegahan stunting dimulai sebelum anak lahir dan berlanjut sampai usia 2 tahun. Langkah yang bisa dilakukan keluarga:
Siapkan gizi sejak remaja dan selama hamil. Remaja putri dianjurkan minum TTD dan makan bergizi seimbang untuk menurunkan risiko anemia dan KEK. Saat hamil, Kementerian Kesehatan menganjurkan pemeriksaan kehamilan rutin, 3 kali makan ditambah 1 sampai 2 kali selingan, TTD, garam beryodium, serta kecukupan asam folat untuk ibu hamil.
Berikan ASI eksklusif. WHO dan UNICEF menganjurkan menyusui dalam 1 jam setelah lahir, ASI saja selama 6 bulan, lalu tetap menyusui sampai usia 2 tahun atau lebih. ASI membantu melindungi bayi dari diare dan pneumonia.
Mulai MPASI tepat waktu dan bergizi. MPASI dimulai pada usia 6 bulan dengan jumlah, tekstur, dan variasi yang sesuai usia. Kementerian Kesehatan meminta protein hewani seperti ikan, telur, ayam, daging, dan hati diprioritaskan.
Jaga kebersihan dan lengkapi imunisasi. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, lalu jaga kebersihan alat makan, sanitasi, dan air. Ikuti jadwal vaksinasi anak dan periksakan anak yang sakit agar infeksinya segera tertangani.
Pantau pertumbuhan dan beri stimulasi. Timbang dan ukur anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan, lalu minta petugas menjelaskan grafik pertumbuhannya. Ajak anak bermain dan bercakap setiap hari untuk mendukung perkembangannya.
Dukung Tumbuh Kembang Anak Mulai Hari Ini
Sebagian besar langkah pencegahan stunting bisa dimulai dari rumah, dari isi piring makan sampai kebiasaan rutin membawa anak ke posyandu. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan anak, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
World Health Organization. Stunting in a Nutshell.
World Health Organization. Malnutrition.
World Health Organization. Infant and Young Child Feeding.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Ayo Sehat). Cegah Stunting dengan Pola Asuh yang Baik.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Ayo Sehat). Cegah Anemia pada Remaja Putri dengan Tablet Tambah Darah.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Ayo Sehat). 1000 Hari Pertama Kehidupan, Kehamilan.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu stunting pada anak?
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial. Anak dikategorikan mengalami stunting jika panjang atau tinggi badannya menurut usia berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan WHO.
Apa saja ciri-ciri anak yang mengalami stunting?
Ciri utamanya adalah panjang atau tinggi badan di bawah standar usianya berdasarkan pengukuran. Pertumbuhan yang melambat, lebih sering sakit, serta keterlambatan perkembangan dan kemampuan belajar juga dapat ditemukan. Namun, diagnosis perlu didasarkan pada pengukuran dan penilaian tenaga kesehatan, bukan hanya penampilan anak.
Apa penyebab utama stunting pada anak?
Penyebab utamanya meliputi asupan gizi yang tidak mencukupi dalam waktu lama dan infeksi berulang. Pemberian ASI dan MPASI yang kurang tepat, kondisi gizi ibu yang kurang baik, sanitasi yang buruk, serta kurangnya stimulasi psikososial juga dapat meningkatkan risiko stunting.
Apakah semua anak bertubuh pendek mengalami stunting?
Tidak. Tinggi badan dipengaruhi faktor keturunan, tetapi anak yang pendek tetap perlu diukur dan dibandingkan dengan standar pertumbuhan sesuai usianya. Dokter juga akan menilai riwayat pertumbuhan, asupan gizi, dan kondisi kesehatan sebelum menentukan apakah anak mengalami stunting.
Bagaimana cara mencegah stunting sejak dini?
Pencegahan dimulai sejak sebelum kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, dilanjutkan dengan ASI eksklusif selama enam bulan, MPASI bergizi sejak usia enam bulan, imunisasi lengkap, serta kebersihan lingkungan. Pantau pertumbuhan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan dan berikan stimulasi melalui aktivitas bermain serta komunikasi setiap hari.
