Begitu genap 6 bulan, tangan si kecil mulai sibuk meraih apa pun yang sedang Anda makan. Di saat yang sama, saran memberi biskuit bayi atau cemilan kemasan datang dari keluarga, teman, hingga rak supermarket.
Bulan-bulan pertama makan adalah masa bayi belajar mengenal rasa, tekstur, dan cara menelan. Cemilan yang dipilih di masa ini ikut membentuk seleranya, sementara makanan yang keras atau bulat utuh bisa membuatnya tersedak.
Artikel ini menjawab apakah bayi 6 bulan sudah butuh cemilan, lalu membahas pilihan yang aman, cara menyajikan, makanan yang perlu ditunda, pengenalan makanan pemicu alergi, dan kapan perlu ke dokter.
Apakah Bayi 6 Bulan Sudah Perlu Cemilan?
Jawaban jujurnya, cemilan untuk bayi 6 bulan sifatnya tambahan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa kebutuhan energi dan gizi bayi sampai usia 6 bulan bisa dipenuhi ASI saja. Makanan pendamping ASI (MPASI) mulai diberikan saat ASI saja tidak lagi mencukupi, yaitu sekitar usia 6 bulan.
WHO menganjurkan bayi usia 6 sampai 8 bulan mendapat MPASI 2 sampai 3 kali sehari, dengan tambahan 1 sampai 2 kali makanan selingan bila diperlukan. ASI tetap diberikan sesering bayi mau, karena pada usia 6 sampai 12 bulan ASI masih bisa memenuhi setengah atau lebih kebutuhan energinya.
Menurut NHS, di minggu-minggu awal jumlah yang dimakan belum terlalu penting karena tujuannya membiasakan bayi dengan rasa dan tekstur baru. Sebagian besar gizinya masih datang dari ASI atau susu formula. Jadi, cemilan bayi 6 bulan lebih tepat dipandang sebagai porsi kecil makanan bergizi di sela waktu makan.
Tanda Bayi Siap Mulai Makan
Usia 6 bulan adalah patokan umum, tetapi kesiapan tiap bayi tetap perlu dilihat. Menurut NHS, bayi siap makan bila ia bisa duduk sambil menahan kepala dengan stabil, bisa mengambil makanan lalu memasukkannya sendiri ke mulut, dan menelan makanan tanpa melepehkannya kembali. Ketiga tanda ini biasanya muncul bersamaan.
Mengemut kepalan tangan, lebih sering terbangun di malam hari, atau minta menyusu lebih sering belum tentu tanda bayi siap makan. Bila si kecil lahir prematur, tanyakan kepada dokter kapan waktu yang sesuai untuk mulai.
Syarat Cemilan yang Cocok untuk Bayi 6 Bulan
Sebelum menyiapkan cemilan, cek empat hal berikut:
Teksturnya lembut. Mulailah dari makanan yang dihaluskan atau dilumatkan, lalu naikkan ke tekstur kasar dan potongan lunak begitu bayi mampu. Perpindahan tekstur ini membantu bayi belajar mengunyah dan menelan.
Tanpa gula dan garam tambahan. Garam tidak baik untuk ginjal bayi, dan gula bisa memicu gigi berlubang. Kemenkes mencatat rasa manis bisa menimbulkan ketergantungan yang tidak disadari, jadi batasi gula dan garam dalam makanan anak sejak dini.
Mengandung zat besi. Sekitar usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi mulai melampaui yang bisa dipenuhi ASI. Daging, ikan, sayuran hijau tua, kacang-kacangan yang dimasak lunak, dan sereal yang diperkaya membantu memenuhi kebutuhan harian zat besi si kecil.
Bersih saat diolah. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan, cuci dan kupas buah, lalu dinginkan makanan panas sebelum diberikan. WHO memasukkan kebersihan makanan ke dalam prinsip dasar MPASI.
Pilihan Cemilan Bayi 6 Bulan yang Bisa Dibuat di Rumah
Bahan cemilan bayi bisa diambil dari menu keluarga sebelum diberi bumbu.
1. Buah Lunak
Pisang, alpukat, pepaya, dan melon bisa dilumatkan atau diiris memanjang agar mudah digenggam. Apel dan pir sebaiknya dimasak dulu tanpa gula sampai lunak. Sajikan buahnya dan hindari jus, karena jus buah tinggi gula dan tidak dianjurkan untuk bayi.
2. Sayuran dan Umbi Kukus
Wortel, brokoli, labu, kentang, ubi, dan singkong bisa dikukus sampai empuk lalu dihaluskan atau dipotong seukuran jari. Kenalkan juga sayuran yang tidak manis seperti brokoli dan bayam, karena menurut NHS cara ini membiasakan bayi dengan beragam rasa dan bisa membantu mencegah kebiasaan pilih-pilih makanan. Masak tanpa garam atau kaldu blok yang umumnya tinggi garam.
3. Telur Rebus Matang
Telur boleh dikenalkan sejak sekitar usia 6 bulan. Rebus sampai putih dan kuningnya padat, lalu lumatkan atau potong memanjang. Telur termasuk makanan pemicu alergi, jadi berikan sedikit dulu dan amati reaksinya.
4. Yogurt Tawar dan Keju
Yogurt tawar berlemak penuh dan keju bisa diberikan mulai sekitar 6 bulan. Pilih yogurt tanpa gula tambahan, keju yang rendah garam, dan produk yang dipasteurisasi. Produk susu yang tidak dipasteurisasi bisa membawa bakteri E. coli yang memicu diare berat.
5. Ikan dan Daging Tanpa Tulang
Ikan dan daging yang dimasak matang adalah sumber protein dan zat besi. Buang semua tulang dan duri, lalu suwir halus atau lumatkan bersama sayuran. Hindari ikan hiu, ikan todak, dan marlin karena kandungan merkurinya bisa memengaruhi perkembangan saraf bayi.
Cara Menyajikan Cemilan agar Bayi Tidak Tersedak
Potongan seukuran jari orang dewasa mudah digenggam bayi dan sebaiknya mudah hancur di mulut. Tabel berikut merangkum cara menyiapkan bahan yang sering dipakai:
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Kebiasaan saat makan juga menentukan keamanan:
Dudukkan bayi tegak. Kursi makan dengan sabuk pengaman membantu bayi menelan dengan baik. Awasi bayi selama ia duduk di kursi yang tinggi.
Selalu dampingi. Tetap berada di dekat bayi selama ia makan. Anda pun bisa segera menolong bila ia tersedak.
Ikuti tempo bayi. Tunggu bayi membuka mulut sebelum menyuapi, dan jauhkan televisi atau ponsel dari meja makan. Hentikan saat ia menutup mulut rapat atau menoleh menjauh, karena itu tanda ia sudah cukup.
Saat baru belajar makan, bayi sering mengalami gagging, yaitu refleks yang mendorong makanan kembali ke depan mulut. Matanya bisa berair, lidahnya terjulur, atau ia tampak seperti mau muntah. Menurut NHS, refleks ini wajar karena bayi sedang belajar mengatur jumlah makanan yang bisa dikunyah dan ditelan. Tersedak berbeda karena makanan menyumbat jalan napas, sehingga bayi perlu segera ditolong.
Makanan yang Perlu Ditunda
Beberapa makanan berikut belum cocok untuk bayi:
Madu. Madu kadang mengandung bakteri yang bisa memicu botulisme pada bayi, yaitu keracunan akibat racun bakteri yang tergolong serius. Madu baru boleh diberikan setelah anak berusia lebih dari 1 tahun.
Jus, sirup, dan makanan bergula. Bayi tidak membutuhkan gula atau pemanis. NHS menyarankan anak sampai usia 4 tahun menghindari makanan dan minuman bergula, termasuk jus buah dan sirup.
Cemilan kemasan yang asin atau manis. Kerupuk, keripik, dan biskuit bisa tinggi garam, gula, atau lemak jenuh. Kemenkes menyebut label gizi wajib mencantumkan kandungan gula, tetapi minat masyarakat membacanya masih rendah, jadi biasakan memeriksa label sebelum membeli.
Makanan keras dan kecil. MedlinePlus menyarankan permen keras dan berondong jagung tidak diberikan sebelum usia 3 tahun karena bisa membuat tersedak. Kacang utuh sebaiknya tidak diberikan pada anak di bawah 5 tahun.
Susu sapi sebagai minuman utama. Susu sapi boleh dipakai dalam masakan sejak sekitar 6 bulan. Sebagai minuman utama, susu sapi baru diberikan setelah usia 1 tahun karena belum memenuhi semua gizi yang dibutuhkan bayi.
Mengenalkan Makanan Pemicu Alergi Lewat Cemilan
Kacang tanah, telur, gluten dari gandum, dan ikan bisa dikenalkan sejak sekitar usia 6 bulan. NHS menyarankan memberikannya satu per satu dalam jumlah kecil, supaya reaksi yang muncul lebih mudah diketahui.
Menurut MedlinePlus, reaksi alergi pada bayi bisa berupa ruam, diare, atau muntah. Bila reaksi ini muncul setelah mencoba makanan baru, hentikan makanan tersebut dan konsultasikan kemungkinan alergi makanan ke dokter. Bila bayi tampak sulit bernapas atau wajahnya membengkak, segera bawa ke IGD terdekat.
Eksim atau dermatitis atopik pada bayi menaikkan risiko alergi makanan. Bila eksimnya berat atau bayi sudah alergi telur, risiko alergi kacangnya tinggi, sehingga dokter perlu menentukan waktu dan cara mengenalkan kacang, termasuk apakah perlu tes alergi. Sampaikan juga riwayat alergi keluarga sebelum bayi mencoba kacang.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Menolak makanan baru sesekali itu wajar. NHS menyebut bayi bisa butuh 10 kali percobaan atau lebih sebelum menerima rasa dan tekstur baru. Meski begitu, periksakan bayi ke dokter bila muncul kondisi berikut:
Berat badan tidak naik atau bayi terus menolak makan. Kondisi ini perlu dievaluasi untuk melihat ada tidaknya tanda gangguan tumbuh kembang. Dokter akan menilai pola makan dan grafik pertumbuhan bayi.
Muntah berulang setelah makan. Muntah sesekali saat belajar makan bisa terjadi akibat refleks gagging. Bila terus berulang, dokter perlu mencari penyebab anak muntah yang lain.
Sering batuk atau tersedak saat makan. Keluhan yang muncul hampir setiap kali makan perlu diperiksa. Dokter bisa menilai kemampuan menelan bayi.
Nikmati Proses Belajar Makan Bersama Si Kecil
Cemilan bayi 6 bulan yang baik itu sederhana. Buah lunak, sayuran kukus, telur matang, atau yogurt tawar sudah cukup, selama teksturnya aman dan tanpa gula maupun garam tambahan. Biarkan bayi menyentuh dan mencicipi makanannya, karena setiap suapan adalah latihan.
Pantau pertumbuhannya lewat kunjungan rutin ke dokter atau posyandu, dan pertimbangkan tes tumbuh kembang anak bila dokter menyarankannya. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan ibu dan anak, termasuk medical check up, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lokasi Klinik Bumame
Pemeriksaan tersedia di lima klinik Bumame.
Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi
Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat 11610. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Kelapa Gading Barat, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14240. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi
Pilih lokasi terdekat dari tempat Anda.
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. Gula Si Manis yang Menyebabkan Ketergantungan.
World Health Organization. Infant and Young Child Feeding.
NHS. Your Baby's First Solid Foods.
NHS. Foods to Avoid Giving Babies and Young Children.
MedlinePlus, National Library of Medicine. Infant and Newborn Nutrition.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apakah bayi usia 6 bulan sudah boleh diberi cemilan?
Boleh, jika bayi sudah menunjukkan tanda siap makan, seperti mampu duduk dengan kepala stabil, memasukkan makanan ke mulut, dan menelan tanpa selalu melepehkannya. Cemilan bersifat tambahan bila diperlukan, sedangkan ASI atau susu formula tetap menjadi sumber gizi utama.
Apa saja pilihan cemilan yang aman untuk bayi 6 bulan?
Pilihan yang bisa diberikan antara lain pisang, alpukat, pepaya, sayuran kukus, telur rebus matang, yogurt tawar, serta ikan atau daging matang tanpa tulang. Sajikan dalam tekstur lumat atau potongan lunak yang sesuai kemampuan bayi, tanpa tambahan gula dan garam.
Makanan apa yang harus dihindari untuk bayi usia 6 bulan?
Hindari madu sebelum usia 1 tahun, makanan tinggi gula atau garam, kacang utuh, serta makanan keras dan kecil yang berisiko menyebabkan tersedak. Susu sapi juga belum boleh menjadi minuman utama sebelum usia 1 tahun, meskipun dapat digunakan dalam masakan.
Apa perbedaan gagging dan tersedak pada bayi saat makan?
Gagging adalah refleks alami ketika bayi belajar mengunyah dan menelan, yang dapat ditandai mata berair atau lidah terjulur. Tersedak terjadi ketika makanan menyumbat jalan napas dan merupakan keadaan darurat. Selalu awasi bayi saat makan dan sajikan makanan dengan tekstur yang aman.
Bagaimana cara mengenalkan makanan pemicu alergi kepada bayi 6 bulan?
Kenalkan satu jenis makanan dalam jumlah kecil, seperti telur matang, ikan, atau kacang yang sudah dihaluskan, lalu amati reaksinya. Hentikan makanan dan konsultasikan ke dokter jika muncul ruam, muntah, atau diare. Jika bayi sulit bernapas atau wajahnya membengkak, segera cari pertolongan darurat.
