Kaki pernah bengkak setelah aktivitas seharian atau berdiri terlalu lama? Ini termasuk normal karena berdiri terlalu lama bisa membuat cairan akan menumpuk di bagian bawah tubuh. Tapi, Anda juga perlu waspada jika kondisi ini tidak kunjung membaik dan disertai keluhan lain seperti mudah lelah, perut bengkak, hingga urine berbusa, karena bisa jadi tanda hipoalbuminemia. Apa itu?
Hipoalbuminemia adalah kondisi saat kadar albumin dalam darah rendah sehingga membuat carian menumpuk di jaringan tubuh. Lalu, bagaimana cara menghadapinya? Artikel ini akan membahas penyebab, gejala, cara diagnosis, hingga penanganan gangguan ini.
Apa Itu Hipoalbuminemia?
Hipoalbuminemia adalah kondisi saat kadar albumin di dalam darah rendah. Albumin sendiri adalah protein utama di plasma darah yang berperan mempertahankan cairan agar tetap berada di pembuluh darah serta berfungsi mengangkut berbagai zat, seperti hormon, vitamin, dan obat-obatan ke seluruh tubuh.
Jika kadar albumin terlalu rendah, cairan dapat lebih mudah keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di jaringan. Oleh karena itu, orang yang terkena gangguan ini akan mengalami gejala bengkak di kaki termasuk di bagian pergelangan kaki.
Hipoalbuminemia juga bukan termasuk penyakit yang berdiri sendiri, tapi salah satu tanda dari kondisi tertentu. Atas alasan ini, penanganannya tidak bisa hanya dengan menaikkan kadar albumin, tapi perlu bergantung pada penyebab yang mendasari.
Hipoalbuminemia Ringan vs Berat
Pada dasarnya, istilah ringan ataupun berat dari gangguan ini untuk menggambarkan seberapa rendah kadar albumin di dalam tubuh. Hipoalbuminemia termasuk ringan jika kadar albuminnya antara 2,5 sampai 3,5 mg/dL, sedangkan termasuk berat jika kadarnya di bawah 2,5 mg/dl.
Pada kondisi berat, biasanya akan dilakukan infus albumin secara langsung untuk menghindari risiko komplikasi yang lebih tinggi. Sedangkan pada level ringan, umumnya memperbaiki pola makan dan hidup sudah cukup untuk mengatasinya.
Penyebab Hipoalbuminemia
Umumnya, gangguan ini terjadi karena tubuh memproduksi albumin yang lebih sedikit dari biasanya, kehilangan albumin dalam jumlah banyak, dan ada perubahan distribusi albumin di dalam tubuh. Semua kondisi-kondisi tersebut bisa disebabkan karena:
Penyakit hati, seperti sirosis atau hepatitis kronis, karena bisa berefek pada kemampuan hati dalam memproduksi albumin.
Penyakit ginjal tertentu, terutama pada penderita sindrom nefrotik, karena bisa menyebabkan albumin banyak terbuang melalui urine sehingga kadarnya di darah jadi rendah dan muncul proteinuria atau kandungan protein di urine tinggi.
Malnutrisi atau kekurangan asupan protein, karena salah satu sumber albumin dalam tubuh adalah makanan.
Masalah pencernaan, seperti enteropati kehilangan protein (protein-losing enteropathy), yang bisa membuat protein, termasuk albumin, ikut terbawa melalui saluran pencernaan.
Radang atau infeksi berat, terutama karena sepsis, trauma, dan kondisi sehabis operasi besar, karena ini bisa mengubah produksi dan distribusi albumin di tubuh.
Mengalami luka bakar karena bisa membuat protein menghilang dari jaringan tubuh.
Kelebihan cairan tubuh, karena kondisi ini bisa membuat kadar albumin terlihat lebih sedikit akibat dari pengenceran.
Mengidap penyakit kronis tertentu, seperti gagal jantung, kanker, diabetes, atau penyakit inflamasi, karena semua penyakit ini bisa mengganggu produksi dan meningkatkan risiko kehilangan albumin.
Gaya hidup yang kurang baik seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, karena bisa memengaruhi kesehatan tubuh yang berefek pada produksi albumin.
Gejala Hipoalbuminemia
Gejala dari gangguan ini bisa berbeda tergantung dari tingkat keparahan dan penyebabnya. Untuk lebih jelasnya, berikut tanda hipoalbuminemia baik untuk level ringan hingga berat.
1. Gejala Ringan
Pada tahap awal, gangguan ini bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali. Tapi, tidak menutup kemungkinan Anda akan merasakan gejala seperti:
Bengkak (edema) di kaki termasuk pergelangan kaki, tungkai, serta wajah karena penumpukan cairan.
Mudah lelah dan tubuh sering lemas, karena tubuh kekurangan protein sebagai sumber energi.
Nafsu makan turun, bahkan muncul gangguan pencernaan.
Berat badan meningkat tanpa sebab, karena cairan yang menumpuk di tubuh bisa menambah berat badan.
Luka sulit sembuh karena kurangnya protein yang berperan dalam memperbaiki jaringan yang rusak dan mengatasi peradangan.
2. Gejala Berat
Penyebab hipoalbuminemia yang tidak diatasi dengan cepat bisa memunculkan gejala yang lebih parah seperti:
Bengkak semakin melebar dan berat, bahkan muncul di perut.
Sesak napas, karena ada penumpukan cairan yang banyak di paru-paru.
Kulit dan mata menjadi sangat kuning, akibat dari organ hati yang rusak.
Urine berbusa dan berwarna merah, terutama jika berkaitan dengan penyakit ginjal.
Tidak bisa bergerak dengan leluasa karena pembekakan di beberapa bagian tubuh bisa membatasi gerak.
Kesadaran menurun hingga gangguan mental karena rendahnya albumin bisa membuat aliran darah ke otak menurun.
Diagnosis Kadar Albumin Darah
Untuk tahu kadar albumin dalam darah, Anda perlu melakukan tes darah. Biasanya prosedur pengecekan ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah menggunakan jarum kecil, untuk kemudian dianalisis di laboratorium untuk tahu kadar albuminnya apakah di ambang normal atau tidak.
Jika tidak normal, umumnya dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya, misalnya tes fungsi hati dan fungsi ginjal. Hasil pemeriksaan albumin umumnya dinyatakan dalam gram per desiliter (g/dL).
Selain itu, dokter biasanya akan melakukan tes urine untuk cek kandungan protein atau albumin dalam urine. Pengecekan ini penting mengingat kadar albumin yang tidak normal bisa berkaitan dengan faktor risiko penyakit ginjal, sehingga hasilnya pun bisa lebih akurat.
Pengobatan Hipoalbuminemia
Pengobatan gangguan ini bisa berbeda pada setiap orang tergantung dari penyebab dan kondisi kesehatan pasien. Berikut ini beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk menghadapi hipoalbuminemia.
Terapi dan pemberian obat sesuai penyebabnya, misalnya terapi anti-inflamasi atau anti-infeksi jika penyebabnya karena ada infeksi. Diperlukan tindakan dialisis atau pemberian obat tekanan darah jika penyebabnya adalah gangguan ginjal karena obat ini bisa mengurangi jumlah albumin yang keluar dari urine.
Melakukan program perbaikan gizi, dengan memperbanyak konsumsi makanan kaya protein seperti telur, ikan, daging tanpa lemak, susu, tahu, dan tempe, serta kurangi garam karena bisa meningkatkan risiko penumpukan cairan.
Pemberian obat diuretik untuk mengurangi bengkak, karena obat ini bisa membantu mengeluarkan kelebihan cairan tubuh.
Infus albumin untuk menambah kadarnya di dalam tubuh.
Memperbaiki pola hidup dengan mengurangi rokok dan konsumsi alkohol. Terutama untuk alkohol karena bisa merusak hati sehingga albumin tidak bisa diproduksi dengan baik.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama cek kadar albumin untuk memantau progres penyembuhan yang telah dilakukan.
Kapan Harus ke Dokter?
Anda disarankan untuk periksa ke dokter jika hasil pemeriksaan sudah menunjukkan kadar albumin rendah. Apalagi jika disertai dengan gejala seperti bengkak yang menetap, karakteristik urine yang berubah, perut membesar, mata menguning, mudah lelah, hingga berat badan naik atau turun drastis tanpa sebab, karena ini bisa jadi tanda ada komplikasi serius.
Cek Kadar Albumin Segera untuk Tahu Kondisi Tubuh
Hipoalbuminemia bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti masalah pada ginjal, hati, hingga infeksi. Pada tahap awal, gangguan ini bisa tidak menimbulkan gejala. Namun jika sudah di level berat, bisa menimbulkan bengkak di beberapa bagian tubuh, sesak napas, hingga penurunan kesadaran.
Untuk itulah, tindakan pencegahan sangat disarankan misalnya dengan menjaga pola makan dan hidup sehat serta melakukan tes albumin di klinik Bumame. Pemeriksaan ini bisa membantu Anda mengenali lebih cepat jika ada penurunan kadar albumin sehingga komplikasi bisa diminimalkan.
Tes albumin di Bumame juga tersedia layanan konsultasi dokter yang bisa digunakan untuk diskusi terkait hasil pemeriksaan dan menemukan tindakan penanganan terbaik jika hasilnya diluar batas normal. Untuk booking layanan, hubungi Bumame sekarang!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Siloam Hospitals. (2025). Hypoalbuminemia, Kenali Gejalanya saat Kekurangan Protein.
National Library of Medicine. (2017). Low Albumin Levels Are Associated with Mortality Risk in Hospitalized Patients.
Mandjur. (2026). Hipoalbuminemia: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya.
JIMKI. (2021). Potensi Ikan Gabus (Ophiocephalus stratius) Untuk Meningkatkan Kadar Albumin Pada Penderita Hipoalbuminemia.
MediCover Hospital. (2026). What Is Hypoalbuminemia? Signs, Risks, and How It's Treated.
Siloam Hospitals. (2025). Tes Darah Albumin - Tujuan, Prosedur, & Efek Samping.
Healthline. (2025). What Is Hypoalbuminemia and How Is It Treated?.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
.jpg&w=3840&q=75)