Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Proteinuria: Jenis dan Penyebab | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Proteinuria: Jenis dan Penyebab | Bumame

SBAOthers

Jika saat buang air kecil Anda mendapati urine memiliki busa yang lebih banyak dari biasanya dan terjadi lebih dari satu kali, maka jangan remehkan. Bisa jadi hal itu merupakan satu indikasi gangguan kesehatan bernama proteinuria.

Proteinuria sendiri merupakan kondisi ketika kadar protein dalam urine melebihi batas normal. Meskipun bisa menjadi petunjuk bahwa ada perubahan pada fungsi ginjal, tapi belum tentu berarti organ penting ini sudah mengalami kerusakan berat.

Apa Itu Proteinuria?

Secara umum, proteinuria merupakan kondisi ketika terdapat protein dalam urine dengan jumlah yang terus meningkat. Normalnya, ginjal bertugas menyaring darah serta mempertahankan berbagai zat penting, termasuk protein, agar tidak ikut terbuang bersama urine.

Ketika sistem penyaringan ginjal mengalami gangguan atau perubahan, sebagian protein dapat lolos ke urine. Kondisi inilah yang kemudian disebut proteinuria. Salah satu protein yang sering diperhatikan dalam pemeriksaan adalah albumin.

Masyarakat umum lebih mengenal proteinuria sebagai penyakit ginjal bocor untuk menggambarkan kondisi ketika protein keluar melalui urine. Meski begitu, istilah ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran sederhana, bukan berarti ginjal benar-benar memiliki lubang atau kebocoran secara harfiah.

Faktanya, proteinuria dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada ginjal, namun tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal berat. Untuk itu, tetap diperlukan pemeriksaan lanjutan agar dapat mengetahui penyebab jelasnya.

Jenis-Jenis Proteinuria

Berdasarkan prosesnya, terdapat beberapa jenis proteinuria yang bisa ditemui, di antaranya sebagai berikut.

1. Proteinuria Glomerular

Kondisi ini terjadi saat glomerulus, sebagai saringan utama darah di ginjal, mengalami kerusakan atau peregangan sehingga strukturnya menjadi lebih longgar. Akibatnya, molekul protein besar yang seharusnya tetap berada di dalam darah dapat lolos dan masuk ke dalam saluran urine.

Secara medis, kondisi ini sering kali menjadi tanda adanya gangguan kesehatan serius pada fungsi penyaringan ginjal, seperti penyakit ginjal kronis atau peradangan.

2. Proteinuria Tubular

Tipe ini muncul akibat adanya gangguan pada tubulus ginjal, yaitu saluran yang bertugas menyerap kembali zat-zat penting dari hasil saringan awal agar tidak terbuang sia-sia. Meskipun penyaring utama ginjal masih dapat bekerja dengan cukup baik, protein berukuran kecil yang lolos ke dalam filtrat tidak berhasil diserap kembali oleh tubulus.

Akibat kegagalan proses daur ulang tersebut, protein akhirnya ikut terbuang bersama aliran urine dan dapat mengindikasikan masalah pada bagian saluran ginjal tertentu.

3. Proteinuria Akibat Produksi Protein Berlebih

Pada kondisi tertentu, tubuh bisa menghasilkan protein secara berlebihan. Jumlahnya dapat melebihi kemampuan tubulus ginjal untuk menyerapnya kembali, dan itu menyebabkan sebagian protein akhirnya keluar bersama urine. Kondisi ini disebut overflow proteinuria.

Berdasarkan lamanya, proteinuria dapat bersifat sementara atau menetap. Proteinuria sementara bisa muncul saat demam, dehidrasi, atau setelah aktivitas fisik berat, lalu kembali normal setelah pemicunya hilang. Ada pula proteinuria ortostatik, yakni kondisi di mana protein dalam urine dapat meningkat ketika sedang berdiri atau melakukan aktivitas tertentu tapi kembali normal ketika Anda berbaring.

Karena itu, tidak selamanya keberadaan protein dalam urine menandakan adanya penyakit pada ginjal. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi serta hasil pemeriksaan sebelum menegakkan diagnosis.

Penyebab Proteinuria (Ginjal Bocor)

Ada cukup banyak hal yang dapat menyebabkan proteinuria. Beberapa di antaranya berkaitan langsung dengan ginjal, sementara yang lain berasal dari kondisi kesehatan yang memengaruhi fungsi ginjal.

Sebagai contoh, diabetes dan tekanan darah tinggi merupakan dua kondisi yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi ginjal dalam jangka panjang. 

Selanjutnya, pada pasien diabetes melitus tipe 2 juga menemukan adanya hubungan antara proteinuria dan penurunan laju filtrasi glomerulus atau kemampuan ginjal dalam menyaring darah.

Selain itu, proteinuria juga dapat ditemukan pada kondisi seperti:

  • Penyakit ginjal kronis.

  • Glomerulonefritis atau peradangan pada bagian penyaring ginjal.

  • Sindrom nefrotik.

  • Infeksi tertentu.

  • Beberapa penyakit autoimun.

  • Gagal jantung.

  • Preeklamsia pada kehamilan. 

Proteinuria juga dapat muncul sementara. Faktor penyebabnya yaitu aktivitas fisik berat, demam, dehidrasi, atau kondisi tertentu yang dapat menyebabkan perubahan sementara pada hasil urine.

Karena penyebabnya beragam, hasil protein urine yang meningkat sebaiknya tidak langsung disimpulkan sebagai “ginjal rusak”. Yang lebih penting adalah melihat hasil tersebut bersama kondisi kesehatan dan pemeriksaan lainnya.

Gejala Proteinuria

Salah satu alasan mengapa banyak orang menyebutkan bahwa proteinuria jarang diketahui karena kondisinya tidak memberikan gejala yang spesifik pada awalnya. Kondisi ini bahkan dapat ditemukan secara tidak sengaja ketika melakukan pemeriksaan urine atas kebutuhan lain.

Namun jika jumlah protein yang keluar cukup banyak atau sudah ada keterkaitannya dengan gangguan ginjal tertentu, berikut tanda-tandanya:

  • Urine tampak lebih berbusa dari biasanya dan terjadi secara berulang.

  • Bengkak pada bagian tubuh seperti kaki, pergelangan kaki, tangan, atau sekitar mata.

  • Perubahan jumlah urine.

  • Peningkatan berat badan karena adanya penumpukan cairan.

  • Mudah lelah dalam kondisi tertentu.

  • Penurunan tekanan darah.

Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak khusus hanya untuk proteinuria. Urine berbusa, misalnya, tidak otomatis berarti seseorang mengalami ginjal bocor. Untuk itulah, pemeriksaan urine tetap diperlukan jika ada keluhan yang menetap atau terdapat faktor risiko penyakit ginjal.

Diagnosis dan Nilai Normal Protein Urine

Nilai normal  protein urine yakni 150 mg perhari pada orang dewasa dan 130 mg perhari pada anak-anak. Meski demikian, batas yang diterapkan bisa bervariasi tergantung dari jenis pemeriksan maupun konteks klinis.

Selain mengetahui jumlah protein secara keseluruhan, dokter juga bisa meminta pemeriksaan albumin urine. Albumin merupakan salah satu protein utama di dalam darah. Pemeriksaan albumin urine bisa membantu mengetahui adanya perubahan pada proses penyaringan ginjal mulai dari tahapan awal.

Namun, hasil “protein urine positif” tidak selalu berarti bahwa ginjal mengalami kerusakan berat. Anda harus melihat secara keseluruhan nilai dari hasil tersebut, jenis pemeriksaan yang dilakukan, kondisi tubuh pada saat melakukan pemeriksaan, maupun hasil tes lainnya.

Pengobatan Proteinuria

Proteinuria sebenarnya bukan penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah temuan atau tanda yang dapat berkaitan dengan berbagai kondisi. Karena itu, pengobatannya tidak bisa disamaratakan.

Pertama, jika proteinuria berkaitan dengan diabetes, maka pengelolaan gula darah menjadi bagian penting dari perawatan. Selanjutnya, jika berkaitan dengan tekanan darah tinggi, pengendalian tekanan darah juga perlu diperhatikan. 

Sementara pada penyakit ginjal tertentu, dokter dapat memberikan terapi sesuai penyebab dan tingkat gangguannya. Dengan kata lain, tidak ada satu obat yang otomatis dapat mengatasi proteinuria untuk semua orang.

Hal penting lainnya adalah tidak sembarangan menghentikan penggunaan obat rutin hanya karena hasil pemeriksaan urine berubah. Bila sedang mengonsumsi obat, vitamin, atau suplemen tertentu, informasikan kepada tenaga medis agar hasil pemeriksaan dapat dinilai dengan konteks yang tepat.

Pola hidup sehat juga tetap berperan, seperti menjaga tekanan darah dan gula darah, mengonsumsi makanan dengan pola seimbang, cukup bergerak, serta menjaga asupan cairan sesuai kebutuhan dan anjuran dokter.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika protein ditemukan dalam urine, terutama bila hasilnya berulang atau disertai keluhan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Pemeriksaan juga sangat layak diprioritaskan bagi individu yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, atau sudah memiliki penyakit ginjal yang membutuhkan pemantauan.

Segera cari pertolongan medis jika muncul keluhan yang cukup berat, misalnya bengkak yang semakin jelas, jumlah urine berubah drastis, atau kondisi tubuh kian memburuk.

Intinya, tidak perlu menunggu sampai muncul gejala berat untuk mulai memerhatikan kesehatan ginjal. Pemeriksaan berkala justru dapat membantu menemukan perubahan kondisi ginjal lebih awal.

Cek Kondisi Ginjal dengan Pemeriksaan yang Tepat

Mengetahui ada atau tidaknya protein dalam urine merupakan salah satu bagian dari upaya memahami kondisi ginjal. Pemeriksaan mikroalbuminuria urine 24 jam dari Bumame, misalnya, dapat mengukur parameter urine sebagai bagian dari evaluasi fungsi ginjal dan keseimbangan tubuh.

Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi perubahan penyaringan ginjal atau kebocoran protein, termasuk perubahan pada tahap awal, dengan harga layanan terjangkau mulai dari Rp170.000,00.

Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari pemantauan pada orang dengan kondisi tertentu, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau penyakit ginjal yang membutuhkan pemeriksaan berkala.

Meski pemeriksaan ini bukan pengobatan untuk proteinuria, hasilnya dapat menjadi salah satu informasi yang membantu tenaga medis menilai kondisi ginjal dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau tindak lanjut berikutnya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2023). Mengenal Proteinuria.

  2. Bandung Medical Journal. (2020). Correlation between Proteinuria and Glomerular Filtration Rate in Type 2 Diabetes Mellitus.

  3. National Library of Medicine. (2024). Tubular toxicity of proteinuria and the progression of chronic kidney disease.

  4. National Library of Medicine. (203). Orthostatic Proteinuria.

  5. Jurnal Kesehatan Andalas. (2022). Hubungan Albuminuria dan Laju Filtrasi Glomerulus pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang Tidak Terkontrol.

  6. National Library of Medicine. (2010). Sources of Urinary Proteins and their Analysis by Urinary Proteomics for the Detection of Biomarkers of Disease.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apakah urine berbusa pasti menandakan proteinuria?
Tidak. Urine berbusa dapat terjadi karena berbagai kondisi dan tidak selalu menunjukkan adanya kelebihan protein dalam urine. Pemeriksaan diperlukan jika kondisi tersebut terjadi berulang atau disertai faktor risiko maupun keluhan lain. 
Apakah proteinuria berarti ginjal sudah rusak?
Belum tentu. Proteinuria dapat menjadi petunjuk adanya perubahan fungsi ginjal, tetapi juga bisa bersifat sementara akibat demam, dehidrasi, atau aktivitas fisik berat. 
Apa saja penyebab proteinuria?

Proteinuria dapat berkaitan dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal kronis, glomerulonefritis, sindrom nefrotik, infeksi, penyakit autoimun, gagal jantung, atau preeklamsia. Kondisi sementara seperti dehidrasi dan aktivitas fisik berat juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. 

Bagaimana proteinuria didiagnosis?
Proteinuria dapat diketahui melalui pemeriksaan urine untuk mengukur protein atau albumin. Hasil pemeriksaan perlu dinilai bersama jenis tes, kondisi tubuh saat pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan lainnya karena protein urine positif tidak selalu menunjukkan kerusakan ginjal berat. 
Apakah proteinuria bisa sembuh?
Proteinuria dapat membaik jika penyebabnya bersifat sementara, tetapi penanganannya bergantung pada kondisi yang mendasarinya. Jika berkaitan dengan diabetes, hipertensi, atau penyakit ginjal tertentu, pengobatan perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat gangguannya.