Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Infeksi Klamidia: Sebab, Gejala, dan Penanganan
Kembali ke Artikel & Berita

Infeksi Klamidia: Sebab, Gejala, dan Penanganan

SBATips Kesehatan

Banyak penyakit menular pada umumnya memiliki gejala yang terlihat jelas. Namun sayangnya, ada juga yang gejalanya tidak langsung muncul. Beberapa bahkan dapat berjalan tanpa gejala, sehingga penderitanya tidak menyadari telah terinfeksi dan berisiko menularkannya kepada orang lain. Salah satu contohnya adalah infeksi klamidia. 

Walau infeksi ini cukup umum, orang sering tidak menyadarinya karena infeksi ini sering tidak memiliki gejala yang nampak jelas. Bila gejala muncul, keluhan tersebut biasanya baru muncul beberapa minggu setelah terpapar infeksi. Karenanya, infeksi ini tidak bisa disepelekan begitu saja.

Apa Itu Infeksi Klamidia?

Infeksi klamidia adalah sejenis infeksi menular seksual yang cukup umum terjadi di masyarakat. Penyebab infeksi ini adalah bakteri Chlamydia trachomatis yang menular melalui kontak seksual tanpa pengaman.

Kontak seksual yang bisa menjadi media penularan bakteri ini adalah hubungan seksual melalui vagina, anus, dan mulut. Ibu hamil juga bisa menularkan infeksi ini kepada bayinya saat proses persalinan.

Hal yang sering membuat proses menangani infeksi menular ini cukup menantang adalah seringnya tidak adanya gejala yang jelas. Banyak orang menularkannya tanpa sadar karena merasa tubuhnya sehat-sehat saja.

Penularan bakteri ini bisa terjadi pada siapa saja yang aktif secara seksual, baik pria maupun wanita. Karena penularannya terjadi lewat hubungan seksual, banyak orang kadang masih malu untuk membahasnya.

Untungnya, sama seperti infeksi menular seksual lainnya, infeksi ini bisa sembuh dengan penanganan kesehatan yang tepat oleh dokter.

Gejala Infeksi Klamidia

Sebagian besar orang yang mengalami infeksi klamidia tidak merasakan gejala apa pun. Jika muncul, gejala biasanya baru terjadi beberapa minggu setelah infeksi dengan masa inkubasi sekitar 2-6 minggu.

Klamidia pada wanita bisa menimbulkan keputihan yang tidak biasa dan rasa perih saat buang air kecil. Gejala lainnya adalah nyeri perut bagian bawah dan perdarahan di luar siklus haid.

Sementara itu, klamidia pada pria biasanya memiliki gejala seperti keluarnya cairan yang tidak biasa dari ujung alat kelamin. Penderita pria juga bisa merasakan perih saat buang air kecil seperti halnya penderita wanita. Selain itu, penderita pria juga bisa mengalami rasa nyeri atau pembengkakan di area buah zakar yang mengganggu. 

Selain area alat kelamin, infeksi juga dapat menyerang dubur dan menyebabkan nyeri, keluarnya cairan, atau perdarahan ringan. Walau jarang terjadi, gejala pada tenggorokan atau mata juga bisa muncul akibat infeksi ini.

Penyebab dan Faktor Risikonya

Infeksi klamidia bisa terjadi karena bakteri yang menyebar melalui hubungan seksual yang berlangsung tanpa pengaman. Bakteri ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui cairan tubuh saat kontak seksual.

Hubungan seksual tanpa kondom merupakan cara penularan yang paling sering terjadi. Risiko infeksi juga bisa meningkat pada orang yang suka berganti-ganti pasangan atau memiliki pasangan baru dalam kurun waktu cepat. Selain itu, riwayat pernah mengalami penyakit menular seksual sebelumnya dapat menjadi faktor risiko tambahan.

Ibu hamil yang terinfeksi klamidia amat perlu perhatian khusus karena infeksi ini bisa menular ke bayi saat persalinan. Penularan klamidia tersebut bisa membuat bayi mengalami infeksi konjungtivitis di matanya. Selain itu, bayi juga bisa mengalami pneumonia dengan gejala seperti sesak napas atau batuk. Oleh karena itu, pemeriksaan selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mendeteksi infeksi ini sejak awal.

Perlu diketahui, karena penularannya terjadi melalui cairan tubuh saat kontak seksual, infeksi klamidia tidak menular melalui berpelukan, berjabat tangan, atau berbagi alat makan.

Komplikasi Klamidia

Ketika tidak kunjung ditangani, infeksi klamidia dapat menyebar dan menimbulkan komplikasi kesehatan. Wanita penderita klamidia bisa mengalami penyakit radang panggul, yaitu infeksi pada organ reproduksi seperti rahim, tuba falopi, atau ovarium. 

Infeksi yang belum ditangani juga dapat meningkatkan risiko tertular HIV melalui aktivitas seksual. Itulah pentingnya melakukan pemeriksaan dan penanganan dini untuk mencegah komplikasi tersebut.

Diagnosis Klamidia

Diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus untuk benar-benar memastikan apakah seseorang mengalami infeksi klamidia. Dalam pemeriksaan, dokter biasanya mengambil sampel urine atau usapan dari area kelamin untuk pemeriksaan.

Pemeriksaan sangat penting karena menjadi satu-satunya cara untuk memastikan apakah seseorang mengalami infeksi klamidia atau tidak, terutama karena infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala. Saat pemeriksaan, dokter umumnya tidak menggunakan tes Pap karena tes tersebut bertujuan mendeteksi perubahan sel leher rahim yang dapat berkaitan dengan infeksi human papillomavirus (HPV), bukan untuk mendeteksi klamidia.

Pantau Kesehatan Reproduksi Anda

Apabila Anda adalah seorang wanita yang ingin memantau kesehatan reproduksi, bisa menggunakan layanan Pemeriksaan Kesuburan Wanita dari Bumame. Layanan ini menghadirkan 6 jenis tes dalam satu paket sekaligus, seperti tes TSHs, progesteron, LH, FSH, prolaktin, dan estradiol. 

Contohnya, tes TSH bisa membantu Anda menilai kinerja fungsi kelenjar tiroid dan tes progesteron bisa membantu mengukur hormon progesteron yang berperan dalam siklus menstruasi dan kehamilan.

Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel darah dan dapat dilakukan di rumah maupun di salah satu klinik Bumame. Dari manfaatnya, tes ini sangat bermanfaat bagi individu yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala atau sedang mengalami keluhan tertentu.

Paket Pemeriksaan Kesuburan Wanita tersedia mulai dari Rp2.175.000, dengan hasil yang dapat diterima dalam 1×24 jam.

Penanganan Klamidia

Untungnya, infeksi klamidia bisa sembuh dengan resep antibiotik dari dokter. Antibiotik ini bertujuan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi di dalam tubuh. Penting sekali untuk menghabiskan seluruh obat antibiotik sesuai anjuran meski gejala sudah membaik. Jika menghentikan obat terlalu cepat, infeksi itu tidak akan sepenuhnya hilang dari tubuh dan berpotensi kambuh lagi.

Selama masa pengobatan, sebaiknya hindari berhubungan seksual dengan pasangan sampai infeksi benar-benar sembuh. Pasangan seksual juga sebaiknya ikut memeriksakan diri dan melakukan pengobatan agar tidak terjadi penularan ulang.

Walau antibiotik bisa menyembuhkan infeksi yang sedang berlangsung, antibiotik tidak bisa memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Karena itu, penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Anda perlu ingat juga bahwa sembuh dari infeksi ini tidak membuat seseorang kebal terhadap penularan berikutnya. Masih ada risiko untuk tertular kembali, apalagi jika berhubungan seksual kembali dengan pasangan yang belum diobati.

Risiko penularan kembali ini membuat pemeriksaan ulang atau pemeriksaan berkala setiap tahun sangat penting. Pemeriksaan berkala ini juga penting sekali apabila memiliki kehidupan seksual yang aktif dengan pasangan.

Strategi Pencegahan

Cara paling efektif untuk mencegah infeksi klamidia adalah dengan menerapkan perilaku seksual yang aman. Penggunaan kondom secara benar dan konsisten bisa menurunkan risiko penularan infeksi ini.

Membatasi jumlah pasangan dan menjalin hubungan yang saling setia dengan satu pasangan saja juga sangat membantu. Anda juga perlu melakukan pemeriksaan rutin, terutama jika kehidupan seksual bersama pasangan terhitung aktif atau memiliki pasangan baru.

Komunikasi yang terbuka dengan pasangan mengenai kesehatan seksual juga merupakan bagian penting dari pencegahan. Diskusikan riwayat pemeriksaan dan kondisi kesehatan masing-masing agar risiko penularan dapat ditekan.

Melindungi diri dari infeksi menular ini juga berarti Anda perlu menjaga diri dari yang lain. Salah satu caranya adalah dengan mencegah penyakit tertentu, seperti lewat vaksin HPV. Vaksin ini bisa mencegah Anda dari kanker di area penis, anus, dan tenggorokan.

Perlu diketahui juga, vaksin HPV ini tidak mencegah infeksi klamidia, sehingga tetap diperlukan perilaku seksual aman dan pemeriksaan rutin.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya segera menemui dokter jika sudah merasakan gejala yang mengarah pada infeksi ini. Gejala tersebut meliputi keputihan tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, atau nyeri di area panggul. 

Jika pasangan positif mengalami klamidia, Anda juga perlu segera memeriksakan diri. Pemeriksaan bersama ini penting agar Anda dan pasangan bisa mendapat penanganan segera dan tidak ada risiko infeksi kembali.

Gejala lain seperti nyeri hebat di perut bagian bawah atau demam juga tidak boleh Anda abaikan. Kemudian, apabila punya kehidupan seksual yang aktif, lakukan juga skrining kesehatan reproduksi secara aktif, terutama jika masih berusia muda.

Konsultasi juga diperlukan setelah menyelesaikan pengobatan antibiotik. Pantau kondisi tubuh Anda selama beberapa hari berikutnya. Jika gejala muncul kembali atau tidak membaik, segera konsultasikan kembali dengan dokter untuk evaluasi dan penanganan lanjutan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention — About Chlamydia

  2. Cleveland Clinic — Chlamydia

  3. Mayo Clinic — Chlamydia trachomatis: Symptoms and causes

  4. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine — Chlamydia infections

  5. Office on Women’s Health, U.S. Department of Health and Human Services — Chlamydia

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apakah infeksi klamidia bisa sembuh?

Ya. Infeksi klamidia dapat disembuhkan dengan antibiotik yang diresepkan dokter. Obat perlu dikonsumsi sesuai petunjuk hingga selesai, meskipun gejala sudah membaik. Penanganan sejak dini penting untuk mengurangi risiko komplikasi, sedangkan pasangan seksual juga perlu menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah penularan ulang.

Apakah klamidia selalu menimbulkan gejala?

Tidak. Banyak orang yang mengalami klamidia tidak merasakan gejala sehingga dapat tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Jika muncul, gejalanya dapat berupa keputihan yang tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, nyeri perut bagian bawah, atau keluarnya cairan dari alat kelamin. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan infeksi, terutama jika memiliki faktor risiko atau pasangan terdiagnosis klamidia.

Apakah klamidia bisa memengaruhi kesuburan?

Bisa. Klamidia yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul pada wanita dan merusak organ reproduksi, termasuk rahim serta tuba falopi. Komplikasi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan. Karena infeksi sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan dan penanganan dini penting untuk membantu mencegah komplikasi.

Apakah pasangan seksual juga perlu menjalani pengobatan klamidia?

Ya. Pasangan seksual perlu diberi tahu dan dianjurkan menjalani pemeriksaan serta pengobatan sesuai arahan dokter. Langkah ini membantu mencegah penularan kembali setelah pengobatan selesai. Hindari hubungan seksual sampai pengobatan yang dianjurkan telah selesai dan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Bagaimana cara mendiagnosis infeksi klamidia?

Klamidia didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium, biasanya menggunakan sampel urine atau usapan dari area tubuh yang berisiko terinfeksi. Karena infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan penting dilakukan jika pasangan terdiagnosis klamidia atau terdapat faktor risiko. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan riwayat dan kondisi pasien.