Surat undangan skrining IVA dari puskesmas atau kantor sering disimpan dulu. Alasannya beragam, mulai dari merasa sehat, takut sakit, sampai cemas membayangkan hasilnya.
Perubahan sel di leher rahim yang mendahului kanker jarang menimbulkan keluhan. WHO mencatat sel yang tidak normal umumnya butuh 15 sampai 20 tahun untuk berkembang menjadi kanker, sehingga ada waktu panjang untuk menemukannya lewat skrining.
Berikut cara kerja IVA, siapa yang perlu menjalaninya, persiapan, langkah pemeriksaan, arti setiap hasil, dan posisinya dibanding tes HPV DNA.
Apa Itu IVA Test?
IVA adalah singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat. Petugas kesehatan mengoleskan asam asetat encer, sejenis cuka, ke permukaan serviks atau leher rahim, yaitu bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Menurut Kementerian Kesehatan, bercak putih akan tampak sekitar satu menit kemudian bila ada sel yang tidak normal di leher rahim.
Kementerian Kesehatan menyebut IVA sebagai salah satu metode skrining kanker serviks, bersama pap smear dan tes HPV DNA. Alatnya sederhana dan biayanya rendah, sehingga IVA cocok untuk layanan dengan sumber daya terbatas. Di Indonesia, bidan dan dokter umum di puskesmas dilatih untuk melakukannya.
Hasil IVA juga bisa diketahui pada hari yang sama. Kajian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat pendekatan sekali kunjungan, yaitu IVA yang langsung diikuti krioterapi atau pembekuan jaringan bila diperlukan, dinilai efisien dan hemat biaya.
Apa yang Dinilai Petugas Saat IVA?
IVA menilai tampilan permukaan leher rahim dengan mata telanjang. Petugas mencari sambungan skuamo-kolumnar (SSK), yaitu batas antara dua jenis sel di leher rahim, lalu memperhatikan perubahan warna setelah olesan asam asetat. Area dengan sel yang berubah akan tampak memutih.
Area di sekitar SSK disebut zona transformasi. Menurut WHO, area ini perlu terlihat utuh agar hasil IVA bisa dinilai dengan baik.
Siapa yang Disarankan Menjalani IVA?
Kanker serviks bisa dialami semua perempuan, terutama yang sudah pernah aktif secara seksual. Penyebab utamanya adalah infeksi human papillomavirus (HPV) yang menular lewat kontak seksual dan sering tidak bergejala. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 36.000 perempuan Indonesia didiagnosis kanker serviks setiap tahun.
WHO menyarankan skrining mulai usia 30 tahun dan diulang setiap 5 sampai 10 tahun dengan tes berkinerja tinggi. Perempuan dengan HIV enam kali lebih berisiko, sehingga disarankan mulai pada usia 25 tahun dengan jarak 3 sampai 5 tahun. Usia awal dan jarak pemeriksaan di tiap program bisa berbeda, jadi bicarakan jadwal skrining kanker serviks yang sesuai dengan dokter.
Beberapa kondisi juga meningkatkan risiko, seperti daya tahan tubuh lemah, kebiasaan merokok, riwayat infeksi menular seksual, mulai berhubungan seksual atau hamil di usia sangat muda, serta terlalu sering hamil. Perempuan dengan kondisi ini perlu lebih disiplin mengikuti jadwal skrining.
Persiapan Sebelum Pemeriksaan
Beberapa langkah berikut membantu pemeriksaan berjalan lebih nyaman:
Tanyakan ketentuan fasilitas. Saat membuat janji, tanyakan aturan persiapan yang berlaku, misalnya soal jadwal haid. Catat juga tanggal haid terakhir, kemungkinan hamil, dan hasil skrining sebelumnya.
Pilih pakaian yang praktis. NHS, layanan kesehatan Inggris, menyarankan pakaian yang bisa tetap dikenakan selama pemeriksaan, seperti rok. Anda hanya perlu melepas pakaian bagian bawah di balik tirai.
Sampaikan rasa cemas. Ceritakan kekhawatiran Anda agar petugas tahu dukungan yang dibutuhkan. Anda juga boleh membawa pendamping dan mencoba latihan napas untuk menenangkan diri.
Minta penyesuaian bila perlu. Anda boleh meminta spekulum berukuran lebih kecil atau posisi berbaring yang berbeda. Anda tetap memegang kendali dan bisa meminta pemeriksaan dihentikan kapan saja.
Tubuh yang rileks juga membantu petugas. Penelitian UGM pada bidan di Kalimantan Barat mencatat pasien yang tegang dan takut membuat SSK lebih sulit ditemukan, terutama saat pemasangan spekulum terasa tidak nyaman.
Bagaimana Prosedur IVA Berlangsung?
Urutan pemeriksaan umumnya seperti berikut:
Anda melepas pakaian bagian bawah, lalu berbaring dengan lutut ditekuk dan terbuka. Petugas biasanya menyediakan kain penutup.
Petugas memasukkan spekulum, alat berbentuk tabung yang bisa dibuka, ke vagina secara perlahan. Alat ini dibuka sedikit agar leher rahim terlihat jelas.
Petugas mencari SSK, lalu mengoleskan asam asetat encer ke permukaan leher rahim. Setelah itu, petugas menunggu sekitar satu menit.
Petugas mengamati ada tidaknya bercak putih, lalu melepas spekulum. Hasilnya dijelaskan sebelum Anda pulang.
NHS menyebut skrining leher rahim dengan spekulum biasanya tidak menyakitkan, meski sebagian orang merasa tidak nyaman. Flek ringan setelahnya bisa terjadi dan umumnya berhenti dalam beberapa jam.
Membaca Hasil IVA dan Langkah Berikutnya
Hasil IVA disampaikan pada kunjungan yang sama. Istilah yang dipakai bisa sedikit berbeda antarfasilitas, tetapi polanya umumnya seperti di bawah ini.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Hasil positif menandakan ada area yang perlu ditindaklanjuti. WHO menjelaskan, pengobatan lesi prakanker adalah prosedur singkat yang membantu mencegah perkembangannya menjadi kanker. Krioterapi memakai alat dingin, sedangkan ablasi termal memakai alat panas untuk merusak sel yang tidak normal.
Pengobatan langsung punya syarat. Menurut WHO, seluruh lesi dan zona transformasi harus terlihat, lesi tidak masuk ke saluran leher rahim, dan tidak ada kecurigaan kanker. Bila syarat ini tidak terpenuhi, dokter akan merujuk untuk kolposkopi, yaitu pemeriksaan leher rahim dengan alat pembesar, dan bila perlu biopsi atau pengambilan sampel jaringan.
Hal yang Memengaruhi Ketepatan Hasil IVA
IVA bergantung pada mata dan pengalaman pemeriksa. National Cancer Institute (NCI) Amerika Serikat menilai IVA praktis untuk layanan dengan sumber daya terbatas, tetapi ketepatan dan konsistensi hasilnya rendah. Beberapa hal berikut ikut berpengaruh:
Keterampilan pemeriksa. Penelitian di Kalimantan Barat menemukan keterampilan bidan melakukan IVA berkaitan dengan pengetahuan, tingkat pendidikan, dan lama bekerja. Pelatihan dan praktik rutin membantu menjaga mutu pemeriksaan.
Kondisi saat pemeriksaan. SSK lebih sulit ditemukan pada sebagian pasien, misalnya pada usia lanjut, berat badan berlebih, atau saat pasien tegang. Bila zona transformasi tidak terlihat utuh, hasil IVA belum bisa disimpulkan.
Batas kemampuan tes. Dalam perhitungan pedomannya, WHO memakai perkiraan sensitivitas IVA sekitar 60%, artinya sekitar 40 dari 100 lesi prakanker bisa terlewat. Spesifisitas sekitar 79% berarti sebagian perempuan tanpa lesi tetap mendapat hasil positif.
Meski begitu, IVA tetap bermanfaat bila tes lain belum tersedia. NCI mencatat, dalam uji klinis di pedesaan India, satu kali IVA yang langsung diikuti penanganan menurunkan kejadian kanker serviks sekitar 25% dan kematian sekitar 35% setelah 7 tahun, dibanding kelompok yang hanya mendapat edukasi.
Posisi IVA Dibanding Tes HPV DNA
WHO kini menyarankan tes HPV DNA sebagai tes skrining utama dan mendorong negara yang memakai IVA untuk segera beralih. Program berbasis HPV DNA lebih efektif menurunkan kesakitan dan kematian akibat kanker serviks serta lebih hemat biaya. Kementerian Kesehatan menyebut tes ini sudah tersedia di puskesmas kota besar, rumah sakit swasta, dan laboratorium klinik.
IVA tetap punya peran. Dalam pedoman yang sama, IVA bisa dipakai sebagai tes lanjutan setelah hasil HPV positif untuk menentukan perlu tidaknya pengobatan. Ulasan perbedaan pap smear, HPV DNA, dan IVA membantu Anda menimbang pilihan bersama dokter.
Tes HPV DNA di Bumame sebagai Pilihan Skrining
Tes HPV DNA mencari materi genetik HPV tipe risiko tinggi pada sampel swab, sehingga infeksi bisa diketahui sebelum perubahan sel terlihat. Karena itu, dokter bisa menyarankannya sebagai skrining utama atau pelengkap IVA.
Bumame menyediakan pemeriksaan HPV DNA Swab 21 Tipe yang memeriksa 21 tipe HPV, termasuk tipe 16 dan 18. Untuk menanyakan persiapan dan cara pengambilan sampel, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
IVA ditujukan bagi perempuan tanpa keluhan. Bila muncul gejala kanker serviks, temui dokter meski hasil skrining terakhir normal. Tanda yang perlu diperiksakan antara lain:
Perdarahan tidak biasa. Perdarahan di luar jadwal haid, setelah berhubungan seksual, atau setelah menopause perlu dicari sumbernya. Perdarahan ringan pun layak dilaporkan.
Keputihan yang berubah. Perhatikan cairan yang berwarna, bercampur darah, berbau tidak sedap, atau disertai gatal. Keputihan tidak normal juga bisa berasal dari infeksi lain.
Nyeri yang menetap. Nyeri panggul saat berhubungan, nyeri punggung, atau nyeri tungkai yang tidak reda perlu dinilai dokter. Keluhan ini bisa memiliki banyak penyebab.
Periksakan diri juga bila perdarahan setelah IVA terasa banyak atau flek tidak berhenti setelah beberapa jam. Bila hasil IVA positif, datangi jadwal tindak lanjut dari petugas. Kajian UGM tentang negara berkembang mencatat sebagian perempuan dengan IVA positif tidak kembali untuk pengobatan, antara lain karena kurang informasi, rasa takut atau malu, dan kendala biaya.
Jadwalkan Skrining dan Jaga Kesehatan Leher Rahim
IVA adalah cara sederhana untuk melihat kondisi leher rahim, dan hasilnya bisa langsung ditindaklanjuti. Pilih metode skrining yang tersedia dan sesuai anjuran dokter, lalu ulangi tepat waktu. Vaksin HPV untuk perempuan membantu menurunkan risiko infeksi, dan WHO menekankan skrining tetap penting walau sudah divaksin. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Bila ingin berdiskusi tentang pilihan skrining kanker serviks, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker Serviks.
Adistyatama R, Ganap EP, Trirahmanto A. Jurnal Kesehatan Reproduksi, Universitas Gadjah Mada. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Skrining Kanker Serviks dan Loss to Follow Up pada Wanita dengan IVA Positif yang Menjalani Krioterapi di Negara Berkembang: Scoping Review.
Mardiana, Dasuki D, Pradjatmo H. Jurnal Kesehatan Reproduksi, Universitas Gadjah Mada. Pengetahuan dan Keterampilan Bidan untuk Skrining Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Kalimantan Barat.
World Health Organization. Cervical Cancer (Fact Sheet).
World Health Organization. WHO Guideline for Screening and Treatment of Cervical Pre-Cancer Lesions for Cervical Cancer Prevention (Questions and Answers).
National Cancer Institute. Cervical Cancer Screening (PDQ), Health Professional Version.
NHS. What Happens at Your Cervical Screening Appointment.
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apa itu IVA test dan bagaimana cara kerjanya?
IVA test adalah pemeriksaan untuk skrining kanker serviks dengan mengoleskan asam asetat encer ke leher rahim. Jika terdapat perubahan sel, area tertentu dapat tampak putih setelah sekitar satu menit.
Apakah pemeriksaan IVA test terasa sakit?
IVA test umumnya tidak menyakitkan, tetapi pemasangan spekulum dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Anda boleh meminta alat yang lebih kecil, mengubah posisi, atau menghentikan pemeriksaan kapan saja.
Apa arti hasil IVA negatif dan IVA positif?
IVA negatif berarti tidak terlihat bercak putih setelah pengolesan asam asetat. IVA positif menunjukkan area yang mengalami perubahan sel dan perlu ditindaklanjuti, tetapi tidak otomatis berarti kanker serviks.
Siapa yang disarankan menjalani IVA test dan kapan pemeriksaan dimulai?
Skrining kanker serviks disarankan bagi perempuan sesuai usia dan kondisi kesehatannya. WHO menyarankan mulai usia 30 tahun untuk populasi umum dan 25 tahun bagi perempuan dengan HIV. Jadwal dapat berbeda sesuai program dan anjuran dokter.
Apa perbedaan IVA test dan tes HPV DNA?
IVA test mengamati perubahan pada permukaan leher rahim setelah pengolesan asam asetat, sedangkan tes HPV DNA mendeteksi materi genetik HPV berisiko tinggi. WHO merekomendasikan tes HPV DNA sebagai metode skrining utama jika tersedia.
