Orang pada umumnya tidak terlalu memandang rasa sulit menelan dengan serius, apalagi jika sensasi itu hanya terjadi sesekali. Namun, apabila sensasi itu terus terjadi dan sering muncul, tubuh mungkin sedang mengalami gangguan tertentu. Gangguan itu kemungkinan terjadi karena beberapa sebab, salah satunya adalah kanker esofagus.
Sesuai dengan namanya, kanker ini mengenai saluran esofagus, bagian tubuh yang sangat penting perannya dalam menyalurkan makanan dan minuman dari mulut ke dalam lambung.
Pengetahuan yang cukup tentang kanker ini sangat penting untuk diketahui, karena gejalanya tidak hanya seputar kesulitan menelan. Faktanya, sulit menelan saja tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami kanker ini.
Gambaran Umum Kanker Esofagus
Kanker esofagus adalah kanker yang tumbuh di esofagus atau kerongkongan, yaitu saluran berbentuk tabung di dalam tubuh yang bertugas membawa makanan dan minuman dari faring menuju lambung untuk dicerna oleh tubuh.
Pada umumnya, kanker ini terjadi karena adanya perubahan pada sel-sel yang berada di lapisan atas saluran esofagus. Karena sel-sel ini berkembang tanpa kendali, kemudian dapat berubah dan berkembang menjadi tumor ganas.
Dokter membagi kanker saluran esofagus menjadi dua, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa.
Adenokarsinoma biasanya terjadi pada bagian bawah esofagus dan sering berkaitan dengan refluks asam lambung yang berlangsung lama.
Kemudian, karsinoma sel skuamosa lebih sering muncul di bagian atas dan tengah saluran esofagus, dan umumnya terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol dan kebiasaan merokok.
Walau pria dan wanita sama-sama berisiko mengalaminya, penyakit ini lebih sering menyerang pria, terutama adenokarsinoma. Penyakit ini juga cenderung muncul pada usia lanjut, meskipun orang yang lebih muda juga bisa mengalaminya.
Selain kedua jenis kanker di atas, ada juga jenis-jenis lainnya yang terhitung lebih jarang terjadi. Contoh-contoh jenis lain tersebut adalah karsinoma sel kecil, sarkoma, limfoma, melanoma, dan koriokarsinoma.
Gejala Kanker Esofagus
Kanker esofagus biasanya tidak menimbulkan gejala yang terlihat jelas pada tahap awal. Karena itu, kebanyakan orang baru menyadari ketika kankernya sudah mencapai tingkat lanjut.
Ciri yang paling khas dari kanker ini adalah kesulitan menelan makanan maupun minuman. Rasa sulit menelan ini biasanya makin terasa seiring membesarnya tumor di dalam saluran esofagus.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Nyeri, rasa tertekan, atau sensasi terbakar di dada juga bisa menjadi tanda peringatan adanya kanker di saluran kerongkongan.
Batuk yang tidak kunjung sembuh dan suara serak kadang-kadang juga dapat muncul sebagai gejala penyakit ini. Keluhan tersebut juga dapat disertai gangguan pencernaan atau nyeri ulu hati yang semakin berat akibat gangguan pada kerongkongan.
Apabila kanker ini telah melakukan metastasis (penyebaran sel kanker dari lokasi awal ke bagian tubuh lain), gejala tersebut bisa bermunculan di organ-organ lain seperti liver dan paru-paru.
Penyebab dan Faktor Risikonya
Penyebab kanker esofagus berkaitan dengan perubahan pada sel yang melapisi dinding esofagus. Meskipun sebagian besar kasus tidak diturunkan secara langsung dari keluarga, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengalaminya.
Penyakit asam lambung dan GERD umumnya merupakan faktor risiko yang cukup penting karena lambung berada persis di bawah esofagus. Kondisi lanjutan dari GERD, seperti esofagus Barrett, juga bisa meningkatkan risiko munculnya kanker ini.
Kebiasaan merokok dan minum alkohol yang berlebihan bisa membuat kanker ini lebih mudah muncul seiring waktu. Kemudian, faktor lain seperti berat badan berlebih dan pola makan minim buah serta sayur juga punya peran.
Kebiasaan minum minuman yang sangat panas secara rutin bisa meningkatkan risiko tertentu di balik munculnya kanker esofagus. Selain itu, paparan radiasi pada area dada di masa lalu juga bisa menjadi salah satu pemicunya.
Meski begitu, perlu diingat bahwa memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti pasti akan mengalami kanker ini. Namun, sebaiknya Anda tetap berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki beberapa faktor risiko tersebut dan mulai muncul gejala yang mengkhawatirkan.
Diagnosis Kanker Esofagus
Saat melakukan diagnosis, dokter akan memulai dengan sesi tanya jawab terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan untuk mengikuti beberapa tes untuk mengetahui letak masalahnya.
Endoskopi adalah pemeriksaan utama untuk melihat langsung bagian dalam saluran esofagus. Melalui endoskopi, dokter juga bisa melakukan biopsi untuk mengambil sampel jaringan esofagus.
Pemeriksaan foto dengan cairan kontras seperti barium juga membantu melihat bentuk saluran esofagus. Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan CT scan untuk menilai apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain.
Apabila dirasa perlu, dokter bisa memakai ultrasonografi lewat endoskopi untuk menilai kedalaman tumor. Pemeriksaan ini membantu melihat seberapa dalam kanker tumbuh di dinding esofagus.
Secara bersamaan, jika ingin melakukan pemeriksaan kesehatan yang lebih menyeluruh dan ingin mengelola faktor risiko atau komorbiditasnya, Anda bisa mempertimbangkan layanan Medical Check Up Plus dari Bumame. Layanan ini bisa membantu Anda melakukan pemeriksaan darah lengkap, profil lipid, fungsi organ penting, gula darah puasa, hingga pemeriksaan HbA1c dan tes Vitamin D 25-OH Total.
Layanan ini sangat tepat bagi yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Pilihan layanannya pun fleksibel, karena pemeriksaan ini dapat dilakukan langsung di klinik maupun melalui layanan kesehatan kunjungan rumah. Hasilnya pun bisa diakses dalam kurun waktu 1x24 jam setelah pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan tersebut dapat Anda gunakan sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit tertentu atau sebagai dasar untuk menentukan langkah perawatan kesehatan selanjutnya.
Penanganan Kanker Esofagus
Tenaga kesehatan akan menyesuaikan penanganan kanker esofagus berdasarkan jenis, stadium, dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Operasi adalah salah satu pilihan utama, terutama pada kanker yang masih pada tahap awal.
Ketika operasi berlangsung, dokter bisa mengangkat sebagian kecil atau hampir semua esofagus tergantung pada luas penyebaran kanker. Jika tumornya masih kecil, dokter akan melakukan operasi lewat endoskopi.
Sebelum melakukan operasi, dokter bisa melakukan terapi neoadjuvan atau pengobatan yang dilakukan sebelum operasi untuk membantu mengecilkan ukuran tumor. Terapi ini juga dapat membantu menurunkan risiko tumor muncul kembali di esofagus setelah dokter melakukan tindakan operasi.
Penanganan lain meliputi kemoterapi dan radioterapi, baik sebelum maupun sesudah tindakan operasi. Kedua terapi ini bisa membantu mengecilkan tumor atau membunuh sel kanker yang tersisa.
Terapi target dan imunoterapi juga bisa menjadi pilihan pada kondisi tertentu sesuai anjuran dokter. Jika kondisinya sudah mencapai tingkat lanjut, sebagian penanganan bertujuan untuk meringankan gejala, seperti membuka saluran esofagus yang tersumbat oleh tumor.
Penanganan lainnya juga mencakup dukungan gizi karena kesulitan menelan sering membuat asupan makanan berkurang lewat cara konvensional.
Strategi Pencegahan Kanker Esofagus
Tidak ada cara yang benar-benar pasti untuk mencegah kanker esofagus sepenuhnya. Namun, ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk menurunkan risiko munculnya kanker ini.
Langkah pertama adalah menjaga berat badan tetap ideal agar tidak mengalami obesitas. Kemudian, perlu juga menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol untuk menurunkan risiko munculnya kanker di kerongkongan.
Cara lainnya adalah bisa dengan mulai memperbanyak konsumsi buah dan sayur setiap hari supaya saluran pencernaan tidak mengalami masalah. Selain itu, perlu juga mengelola penyakit asam lambung dengan baik untuk menghindari risiko penyakit ini.
Apabila mempunyai kondisi esofagus Barrett, lakukan pemeriksaan berkala bersama dokter untuk memantau perkembangan kondisi tersebut. Terakhir, terapkan gaya hidup sehat secara konsisten karena cara sederhana ini masih tetap menjadi langkah bermanfaat yang bisa Anda jalani setiap hari.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebaiknya Anda segera menemui dokter untuk deteksi dini kanker jika mengalami kesulitan menelan secara terus-menerus dan terasa semakin berat. Anda juga harus segera memeriksakan diri apabila sudah mengalami gejala seperti penurunan berat badan tanpa sebab.
Gejala lain yang perlu Anda waspadai adalah nyeri dada, suara serak, atau batuk yang tidak kunjung sembuh. Selain itu, periksakan diri ke dokter apabila sensasi seperti terbakar di area ulu hati juga mulai terjadi secara terus-menerus.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Mayo Clinic — Esophageal Cancer: Symptoms and Causes
Johns Hopkins Medicine — Esophageal Cancer
Cleveland Clinic — Esophageal Cancer
National Cancer Institute — Esophageal Cancer Causes, Risk Factors, and Prevention
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine — Esophageal Cancer
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah kanker esofagus bisa sembuh?
Peluang kesembuhan bergantung pada stadium kanker saat terdeteksi, kondisi pasien, dan respons terhadap pengobatan. Deteksi dini dapat memperluas pilihan penanganan yang tersedia.
Apakah GERD pasti berkembang menjadi kanker esofagus?
Tidak. Sebagian besar penderita GERD tidak mengalami kanker esofagus. Namun, refluks asam kronis dapat meningkatkan risiko, terutama jika berkembang menjadi esofagus Barrett.
Apa ciri kanker esofagus pada tahap awal?
Kanker esofagus pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Kesulitan menelan yang terus berulang atau semakin berat merupakan salah satu tanda yang perlu diperiksa dokter.
Siapa yang paling berisiko menderita kanker esofagus?
Risiko lebih tinggi pada perokok, orang yang mengonsumsi alkohol berlebihan, penderita GERD kronis atau esofagus Barrett, serta orang dengan berat badan berlebih. Namun, kanker ini juga dapat terjadi pada orang tanpa faktor risiko tersebut.
Bagaimana cara mendiagnosis kanker esofagus?
Diagnosis dapat melibatkan pemeriksaan endoskopi dan biopsi untuk memeriksa jaringan esofagus. Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau ultrasonografi endoskopi, untuk menilai perkembangan kanker.
.jpg&w=3840&q=75)