Ketika Anda duduk berjam-jam bekerja di depan laptop atau menempuh perjalanan jauh di dalam kendaraan, tentu dapat membuat kaki terasa pegal, tegang, dan bengkak. Tanpa Anda sadari, kaki yang jarang bergerak memicu penyumbatan aliran darah dan membentuk gumpalan darah. Secara medis dikenal sebagai trombosis vena dalam.
Memahami apa itu trombosis vena dalam sejak awal sangat penting agar Anda lebih waspada terhadap gejala yang muncul, yang sering dianggap sebagai pegal biasa. Dengan pemahaman yang tepat, Anda dapat melakukan pencegahan atau mendapat penanganan medis dengan cepat, agar penyakit itu tidak menyerang pembuluh darah.
Apa Itu Trombosis Vena Dalam (DVT)?
Trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) adalah penumpukan darah yang membentuk bekuan atau gumpalan darah yang terjadi di satu atau lebih pembuluh vena. Pembuluh darah ini terletak jauh di dalam jaringan otot. Kondisi ini paling sering terjadi di tungkai kaki bawah, tapi bisa juga di tungkai kaki atas, panggul, dan lengan.
Pembuluh darah vena bekerja mengalirkan darah yang kadar oksigennya rendah, dari bagian tubuh bawah menuju ke jantung. Ketika terjadi pembekuan darah di dalam pembuluh vena tersebut, aliran darah menjadi tersumbat. Akibatnya, tekanan darah menjadi meningkat dan muncul peradangan di jaringan otot dan kulit di sekitarnya.
Gejala Trombosis Vena Dalam
Gejala dari trombosis vena dalam pada setiap orang dapat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga berat. Karakteristik penyakit ini berkembang secara perlahan, sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya, karena gejalanya tidak nampak. Namun, jika penyakit DVT sudah berkembang, maka akan menimbulkan gejala-gejala, seperti.
Pembengkakan pada salah satu sisi lengan atau kaki, seperti di betis dan pergelangan kaki.
Pegal, kram, dan nyeri betis, paha, atau lengan yang terasa seperti tertusuk, terlebih saat kaki ditekuk atau berdiri lama.
Sensasi hangat di bagian kaki atau lengan yang nyeri.
Perubahan warna kulit yang tampak kemerahan, kebiruan, atau lebih gelap dari kulit normal bagian lainnya. Namun, sulit terlihat jika kulit normalnya coklat gelap atau hitam.
Pembuluh darah vena yang membengkak terlihat lebih menonjol di permukaan kulit.
Penyebab Trombosis Vena Dalam dan Faktor Risiko
Ada tiga faktor utama penyebab trombosis vena dalam atau dikenal dengan Trias Virchow. Semakin banyak faktor risiko yang Anda miliki, semakin besar pula terjadi pembekuan darah dalam pembuluh darah Anda. Faktor sekaligus penyebabnya meliputi.
Aliran darah statis: Kondisi ketika aliran darah melambat atau bahkan berhenti. Ini terjadi pada orang yang kurang bergerak dalam jangka waktu yang lama. Contohnya, posisi duduk yang lama seperti pekerja kantor atau berkendara 4 jam lebih, menjalani bedrest pasca operasi, dan mengalami gagal jantung.
Cedera endotel: Kerusakan pada bagian dalam pembuluh darah. Pembuluh darah yang terluka akan memicu terbentuk bekuan darah sebagai respon perlindungan tubuh. Penyebabnya yakni, tekanan darah tinggi (hipertensi), trauma fisik atau cedera, fraktur tulang, peradangan, operasi panggul atau lutut.
Hiperkoagulasi: Kondisi di mana darah lebih cepat membeku dari biasanya. Pemicunya antara lain, kelainan genetik, kanker, penyakit autoimun, kehamilan, efek samping obat tertentu, kontrasepsi oral, obesitas, tidak pernah olahraga, dan kebiasaan merokok.
Apakah Trombosis Vena Dalam Berbahaya dan Bisa Sembuh?
Trombosis vena dalam pada dasarnya dapat berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang cepat dan tepat. Bahaya yang timbul yakni apabila gumpalan darah dari pembuluh vena baik di area kaki atau lengan, terlepas dan terbawa oleh aliran darah menuju organ-organ vital.
Kondisi ini dapat mengancam jiwa, karena gumpalan darah yang ikut mengalir tersebut dapat menyumbat pembuluh darah di organ paru-paru, yang disebut sebagai penyakit emboli paru. Selain itu, gumpalan darah yang lama menempel di dinding pembuluh vena dapat merusak katup-katup kecil vena, yang menimbulkan nyeri berkepanjangan.
Meski berpotensi berbahaya, namun sebenarnya kasus trombosis vena dalam dapat disembuhkan apabila mendapat penanganan medis sejak dini. Dengan terapi dan pengobatan yang tepat, gumpalan darah tidak menjadi besar atau terlepas ke organ lain. Tubuh juga memiliki mekanisme alami untuk melarutkan gumpalan darah tersebut.
Diagnosis Lewat Tes D-Dimer
Gejala fisik trombosis vena dalam seperti pegal, nyeri, dan bengkak sering kali menyerupai cedera otot biasa. Sehingga perlu penegakan diagnosis yang akurat untuk memastikan apakah gejala tersebut memang betul disebabkan oleh DVT atau bukan. Karena itu, dokter membutuhkan pemeriksaan penunjang.
Salah satu metode pemeriksaan medis yang mudah dan efisien adalah tes darah D-Dimer di laboratorium. D-Dimer merupakan potongan protein kecil yang terlepas ke dalam aliran darah ketika gumpalan darah pecah atau larut. Jika kadar D-Dimer normal, dokter bisa memastikan pasien tidak mengalami pembekuan darah yang berbahaya.
Sebaliknya, jika kadar D-Dimer terdeteksi tinggi, artinya itu menandakan bahwa aktivitas pembekuan darah di dalam tubuh meningkat. Selanjutnya, dokter perlu memastikan lokasi bekuan darah secara spesifik melalui USG Doppler. USG ini dapat memberikan gambaran langsung kondisi pembuluh darah di dalam tubuh.
Untuk membantu Anda memantau risiko kesehatan yang berkaitan dengan pembuluh darah, Anda dapat melakukan pengecekan kadar protein secara berkala melalui layanan pemeriksaan D-Dimer di Bumame. Hasil pemeriksaan tersebut dapat menjadi rujukan bagi dokter dalam menentukan langkah pengobatan selanjutnya secara tepat.
Pengobatan dan Pencegahan
Pengobatan secara medis umumnya berfokus pada bagaimana cara mengencerkan atau memecah gumpalan darah di pembuluh vena. Beberapa pengobatan dan terapi medis yang biasa dokter berikan, antara lain.
Obat pengencer darah (antikoagulan): Dapat membantu mencegah gumpalan darah semakin besar dan terbentuknya bekuan darah baru. Biasanya pasien harus mengonsumsi obat ini selama minimal tiga bulan atau sesuai pertimbangan dari dokter.
Kaus kaki kompresi: Dapat memberi tekanan secara bertahap pada area tungkai kaki bawah, sehingga aliran darah menuju ke jantung menjadi lebih lancar. Selain itu, alat ini juga mampu meredakan bengkak dan mengurangi risiko terjadi komplikasi jangka panjang.
Filter vena cava: Pemasangan alat ini khusus untuk pasien yang berisiko tinggi mengalami emboli paru atau tidak bisa minum obat antikoagulan karena memicu pendarahan. Cara kerja alat ini yaitu menyaring aliran darah yang melaluinya supaya gumpalan-gumpalan darah dari kaki tidak ikut naik ke organ paru-paru.
Selain pengobatan di atas, tindakan pencegahan juga tidak kalah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah sejak dini. Berikut tips untuk mencegah trombosis vena dalam di kemudian hari.
Ketika melakukan perjalanan jauh atau bekerja di balik meja, lakukan peregangan kaki, serta bangkit dari kursi dan berjalan sejenak setiap 1-2 jam sekali, agar sirkulasi darah menjadi lebih lancar.
Menerapkan gaya hidup sehat dengan berolahraga secara teratur minimal 30 menit sehari, kebutuhan minum tercukupi, dan konsumsi makanan bergizi, sehingga berat badan lebih terjaga.
Hindari kebiasaan merokok yang dapat merusak pembuluh darah.
Kapan Harus ke IGD?
Jika mengalami keluhan kaki bengkak dan nyeri hebat, yang disertai dengan gejala serius yang datang tiba-tiba, segera cari pertolongan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Gejala serius tersebut antara lain, sesak napas, nyeri dada tajam, batuk berdarah, denyut jantung sangat cepat, atau sakit kepala hebat hingga pingsan
Kondisi seperti itu bisa menjadi pertanda bahwa gumpalan darah mulai menyumbat pada organ vital khususnya paru-paru. Selain itu, perhatikan juga kondisi kaki, jika terlihat sangat pucat, dingin, dan kebas, menunjukkan aliran darah pada kaki terhambat parah. Sehingga perlu penanganan medis darurat agar tidak membahayakan Anda.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Penerbangan Jarak Jauh dan Risiko Trombosis Vena.
Mayo Clinic. (2023). Deep Vein Thrombosis (DVT).
National Health Service (NHS). (2023). Deep Vein Thrombosis (DVT).
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). About Venous Thromboembolism (Blood Clots).
Cleveland Clinic. (2025). Deep Vein Trombosis.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
_(1).jpg&w=3840&q=75)