Redaksi Bumame
LDL Sering Disebut Kolesterol Jahat. Kenali Batas Normal dan Risikonya bagi Kesehatan Jantung
Kolesterol merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel, hormon, dan vitamin D. Namun, tidak semua jenis kolesterol memiliki fungsi yang sama. Salah satu jenis yang paling sering dibahas adalah LDL atau Low-Density Lipoprotein, yang dikenal sebagai "kolesterol jahat" karena kadarnya yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Menurut American Heart Association (AHA), kadar LDL yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak di dinding pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi terganggu dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.¹ Oleh karena itu, menjaga kadar LDL tetap normal merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Mengenal Kolesterol LDL dan Fungsinya dalam Tubuh
LDL (Low-Density Lipoprotein) adalah jenis lipoprotein yang bertugas membawa kolesterol dari hati ke berbagai jaringan tubuh. Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh, tetapi apabila jumlah LDL terlalu tinggi, kolesterol dapat menumpuk pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak.
Karena alasan tersebut, LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat. Sebaliknya, HDL (High-Density Lipoprotein) membantu membawa kolesterol kembali ke hati untuk diproses dan dikeluarkan dari tubuh.
Apabila ingin memahami lebih jauh perbedaan LDL dan HDL, penting diketahui bahwa kedua jenis kolesterol tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan kadar lemak di dalam darah.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menjaga keseimbangan LDL dan HDL merupakan salah satu cara efektif untuk menurunkan risiko penyakit jantung.²
Rentang Nilai Normal Kolesterol LDL
Kadar kolesterol LDL dinilai melalui pemeriksaan profil lipid atau tes kolesterol.
Secara umum, kategori kadar LDL adalah:
- Optimal: kurang dari 100 mg/dL.
- Mendekati optimal: 100–129 mg/dL.
- Batas tinggi: 130–159 mg/dL.
- Tinggi: 160–189 mg/dL.
- Sangat tinggi: ≥190 mg/dL.
Meski demikian, target LDL setiap orang dapat berbeda. Pada seseorang yang memiliki diabetes, penyakit jantung, atau riwayat stroke, dokter biasanya menetapkan target LDL yang lebih rendah.
Untuk mengetahui apakah hasil pemeriksaanmu masih sesuai batas aman, pahami terlebih dahulu kadar kolesterol normal berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan faktor risiko yang dimiliki.
Faktor Penyebab Kolesterol LDL Tinggi
Peningkatan kadar LDL dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang dapat dikendalikan maupun yang tidak.
Beberapa penyebab yang paling sering meliputi:
- Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
- Kurang aktivitas fisik.
- Obesitas.
- Merokok.
- Diabetes.
- Hipotiroid.
- Faktor keturunan (familial hypercholesterolemia).
- Pertambahan usia.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), pola hidup yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol LDL.³
Risiko Kesehatan akibat Kolesterol LDL Tinggi
Kadar LDL yang tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang baru mengetahuinya setelah menjalani pemeriksaan darah.
Apabila tidak dikendalikan, kolesterol LDL dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi yang berujung pada berbagai penyakit serius, seperti:
- Penyakit jantung koroner.
- Serangan jantung.
- Stroke.
- Penyakit arteri perifer.
Penumpukan plak pada pembuluh darah berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun sehingga pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksinya lebih awal.
Cara Menurunkan Kolesterol LDL
Menurunkan kadar LDL memerlukan kombinasi perubahan gaya hidup dan, bila diperlukan, pengobatan sesuai anjuran dokter.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
Mengurangi Lemak Jenuh
Batasi konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh seperti gorengan, makanan cepat saji, daging berlemak, dan produk olahan tinggi lemak.
Memperbanyak Serat
Serat larut dari oat, kacang-kacangan, buah, dan sayuran dapat membantu menurunkan kadar LDL.
Berolahraga Secara Rutin
WHO menganjurkan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit setiap minggu untuk membantu menjaga kesehatan jantung.
Menjaga Berat Badan Ideal
Penurunan berat badan pada orang yang mengalami kelebihan berat badan dapat membantu memperbaiki profil kolesterol.
Berhenti Merokok
Berhenti merokok membantu meningkatkan HDL sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung.
Selain perubahan gaya hidup, beberapa orang juga membutuhkan obat penurun kolesterol. Dokter dapat mempertimbangkan pemberian terapi berdasarkan hasil pemeriksaan dan tingkat risiko penyakit jantung.
Apabila ingin mengetahui berbagai cara menurunkan kolesterol, penting untuk memilih metode yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan tidak mengonsumsi obat tanpa rekomendasi dokter.
Beberapa orang juga mencari obat kolesterol alami sebagai pendamping perubahan gaya hidup. Namun, efektivitasnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan tidak menggantikan terapi medis apabila memang diperlukan.
Kapan Perlu Melakukan Tes Kolesterol?
Pemeriksaan kolesterol dianjurkan secara berkala, terutama apabila memiliki faktor risiko seperti:
- Usia di atas 40 tahun.
- Hipertensi.
- Diabetes.
- Riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi.
- Obesitas.
- Merokok.
Pemeriksaan juga dapat dilakukan lebih dini apabila dokter menilai terdapat faktor risiko tertentu.
Untuk membantu mengevaluasi kadar LDL dan profil lemak darah secara menyeluruh, kamu dapat melakukan tes kolesterol LDL sesuai rekomendasi dokter.
Apabila ingin mengetahui seluruh profil kolesterol, termasuk LDL, HDL, trigliserida, dan kolesterol total, tersedia juga tes kolesterol lengkap yang dapat membantu mendeteksi gangguan lemak darah secara lebih komprehensif.
Jangan Abaikan Kadar Kolesterol LDL
Kolesterol LDL yang tinggi sering tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke apabila tidak dikendalikan. Pemeriksaan secara berkala serta penerapan pola hidup sehat menjadi langkah penting untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal.
Jika kamu memiliki faktor risiko kolesterol tinggi atau ingin mengetahui kondisi kesehatan jantungmu, kamu dapat chat gratis dengan dokter untuk konsultasi agar mendapatkan rekomendasi pemeriksaan maupun penanganan yang sesuai.
Sumber: American Heart Association (AHA), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI),
Lokasi Klinik Bumame
Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Klinik Bumame TB Simatupang
1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310
Klinik Bumame Puri Indah
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Mengapa LDL disebut kolesterol jahat?
Karena LDL membawa kolesterol ke jaringan tubuh. Jika kadarnya terlalu tinggi, kolesterol dapat menumpuk pada pembuluh darah dan membentuk plak.
Berapa kadar LDL yang normal?
Secara umum, kadar LDL di bawah 100 mg/dL dianggap optimal. Namun, target dapat berbeda pada orang dengan penyakit tertentu.
Apakah kolesterol LDL tinggi selalu menimbulkan gejala?
Tidak. Sebagian besar penderita tidak merasakan gejala sehingga pemeriksaan darah menjadi cara terbaik untuk mengetahui kadar LDL.
Apakah olahraga bisa menurunkan LDL?
Ya. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu memperbaiki profil kolesterol, terutama bila disertai pola makan sehat.
Seberapa sering tes kolesterol perlu dilakukan?
Orang dewasa dianjurkan melakukan pemeriksaan kolesterol secara berkala. Frekuensinya dapat berbeda tergantung usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko yang dimiliki.
