Ketika membaca hasil tes darah dari laboratorium, pernahkah Anda bingung dengan istilah-istilah medis yang ada pada laporan tersebut? Di antara banyaknya istilah asing itu, ada yang bernama monosit, di mana keberadaan menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan aktivitas sistem imun tubuh saat sedang melawan penyakit.
Sebab, hasil angka yang tertera pada parameter itu sering menjadi patokan bagi tim medis untuk mengetahui apakah tubuh Anda sedang terkena infeksi atau tidak. Oleh karenanya, penting bagi Anda mengenal lebih jauh apa itu monosit, agar Anda lebih paham apa yang seharusnya dilakukan jika kadarnya rendah maupun tinggi.
Apa Itu Monosit?
Monosit (monocytes) merupakan salah satu jenis sel darah putih terbesar dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Ukurannya sekitar 12 sampai 20 mikrometer, atau dengan kata lain 2 sampai 3 lebih besar dari sel darah merah maupun sel darah putih lainnya, seperti limfosit dan neutrofil.
Sel induk hematopoietik yang ada di dalam sumsum tulang belakang bertugas untuk menghasilkan monocytes. Setelah itu, monocytes masuk ke aliran darah dan berpindah ke berbagai organ tubuh penting, seperti, hati, paru, limpa, dan kelenjar getah bening. Lalu, di jaringan organ tubuh tersebut, berubah menjadi makrofag atau sel dendritik.
Makrofag dan sel dendritik sendiri merupakan sistem imun khusus yang berperan sebagai pasukan garis depan pertahanan tubuh. Makrofag dapat memakan virus, bakteri, partikel asing, atau sel-sel tubuh yang sudah rusak. Sementara, sel dendritik dapat mendeteksi musuh dan mengaktifkan respons imun untuk menyerangnya.
Gejala dan Tanda Peringatan
Jumlah monosit di dalam tubuh bisa berubah-ubah tergantung dari kondisi kesehatan. Namun, perubahan ini biasanya tidak menimbulkan gejala fisik secara langsung. Keluhan justru dirasakan oleh seseorang karena disebabkan oleh penyakit yang sedang menyerang tubuhnya sehingga memicu respon sistem imun.
Ketika tubuh mengalami infeksi atau peradangan, jumlah monocytes akan meningkat. Karena tubuh membutuhkan pasukan untuk memperbaiki jaringan. Beberapa tanda umum yang menyertai kondisi tersebut meliputi, rasa lelah, nyeri otot, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, atau penurunan berat badan tanpa sebab.
Penyebab dan Faktor Risiko
Produksi kadar monosit di dalam tubuh mengikuti kondisi tubuh itu sendiri. Jika tubuh sedang sakit, sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih lebih banyak. Sedangkan, jika jumlahnya rendah, bisa jadi sumsum tulang belakang mengalami gangguan. Berikut faktor risiko yang menyebabkan jumlahnya bisa berubah.
Jumlah monosit tinggi artinya, tubuh sedang bekerja ekstra keras melawan infeksi, sehingga meningkatkan respons imun. Misalnya karena mengidap:
Infeksi kronis atau akut: Infeksi yang diakibatkan oleh bakteri, virus, atau jamur.
Peradangan kronis: Penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD).
Gangguan darah: Leukemia atau kanker darah.
Pemulihan dari infeksi: Pada fase penyembuhan dari infeksi akut dapat menyebabkan lonjakan jumlah monosit.
Stres: Baik stres fisik setelah olahraga, perubahan hormon, atau stres emosional, juga dapat memengaruhi peningkatan sel darah putih.
Jumlah rendah artinya, kadar monocytes di bawah batas normal yang disebabkan oleh beberapa faktor meliputi:
Gangguan sumsum tulang belakang: Seperti anemia aplastik.
Efek samping obat: Konsumsi obat kortikosteroid dalam jangka panjang.
Menjalankan pengobatan kemoterapi dan radioterapi: Pengobatan kanker dapat menurunkan jumlah sel darah.
Kekurangan nutrisi: Khususnya vitamin B12 dan asam folat.
Infeksi aliran darah berat: Sel darah putih menyebar ke seluruh aliran darah yang menyebabkan jumlahnya berkurang drastis bahkan habis terpakai untuk melawan infeksi.
Diagnosis dan Pemeriksaan
Untuk mengetahui jumlah pasti sel darah putih, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan tes darah (hematologi) lengkap. Melalui sampel darah dari pembuluh vena Anda, tenaga medis laboratorium dapat menganalisis kadar semua komponen darah termasuk kadar monosit. Dari situ dokter tahu kondisi tubuh yang sedang Anda alami.
Cara menghitung jumlah sel darah putih adalah dengan bantuan alat Hematology analyzer. Alat tersebut menggunakan teknologi laser atau aliran listrik sehingga dapat mendeteksi jumlah sel darah putih dengan sangat cepat. Selain itu, bisa juga dengan metode manual, yaitu memeriksa dan menghitung sel darah putih melalui mikroskop.
Namun, penting untuk Anda ingat bahwa pemeriksaan laboratorium hanya sebagai alat diagnosis penunjang, bukan sebagai bentuk pengobatan penyakit. Anda dapat melakukan pemeriksaan hematologi lengkap di Bumame sebagai langkah awal untuk memantau kesehatan sel darah putih Anda secara akurat.
Pilihan Pengobatan
Monosit di dalam darah yang jumlahnya naik turun bukan indikasi dari sebuah penyakit tertentu, melainkan menjadi tanda adanya kondisi medis lain. Oleh karenanya, penanganan medis atau pengobatannya harus sesuai dengan akar penyebab utamanya. Berikut beberapa contoh penyebab dan pengobatannya.
Infeksi bakteri: Pemberian antibiotik sesuai jenis bakteri yang menginfeksi. Misalnya pada penyakit tuberkulosis (TBC) harus mengonsumsi obat anti-tuberkulosis (OAT) selama 6 bulan berturut-turut.
Infeksi virus: Obat anti-virus, atau obat-obatan yang berfungsi meredakan gejala, seperti paracetamol untuk demam. Selebihnya pasien harus istirahat cukup, minum cukup, konsumsi makanan bergizi, dan suplemen vitamin.
Penyakit autoimun atau peradangan kronis: Obat kortikosteroid (anti radang kuat), imunosupresan (penekan imun), DMARDs (Disease-Modifying Antirheumatic Drugs) untuk menstabilkan imun, serta terapi biologis untuk meredakan peradangan.
Radang kronis non-autoimun: Contohnya pada penyakit radang usus dengan obat Sulfasalazine, atau penyakit jantung koroner dengan obat golongan statin. Selain itu juga perlu obat anti-inflamasi non steroid seperti ibuprofen untuk meredakan gejala nyeri.
Infeksi jamur sistemik: Obat antijamur atau antifungal, seperti Fluconazole, dan Itraconazole.
Kanker darah: Dengan terapi onkologi misalnya, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, atau transplantasi sumsum tulang belakang (sel induk hematopoietik).
Karena ada banyak sekali penyebabnya, maka hasil tes darah dari laboratorium harus Anda konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis profesional. Sehingga dokter dapat melakukan analisis lebih lanjut agar tidak terjadi salah diagnosis dan penanganannya tepat sasaran.
Strategi Pencegahan
Menjaga kesehatan tubuh sangat penting guna meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang tentunya berkaitan dengan jumlah monosit di dalam darah. Meski tidak semua penyebab dapat Anda cegah, namun dengan menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten akan mengurangi risiko terjadinya infeksi. Langkah pencegahan antara lain:
Rutin mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya antioksidan. Selain itu, batasi juga makanan yang memicu peradangan seperti, makanan tinggi gula, lemak trans, daging olahan, atau tepung olahan.
Berolahraga secara teratur sesuai kapasitas tubuh.
Istirahat yang cukup, terutama waktu tidur di malam hari.
Mengelola stres dengan baik, dengan melakukan aktivitas relaksasi yang Anda sukai.
Menghindari kebiasaan merokok dan minum alkohol.
Melindungi diri dari kuman, seperti rajin mencuci tangan, mandi, mengganti pakaian, dan memakai masker.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Jika Anda merasakan gejala yang tidak biasa dan tidak kunjung mereda, seperti kelelahan ekstrem, demam tinggi, dan hasil tes kadar monosit di luar batas normal, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Sehingga dokter dapat mengecek penyebab pasti keluhan yang Anda alami dan memberikan pengobatan secara tepat.
Melakukan pemeriksaan kesehatan tubuh secara berkala sangat berguna untuk mendeteksi sejak dini gangguan kesehatan sebelum berkembang menjadi lebih serius. Anda dapat melakukan reservasi layanan hematologi lengkap di Bumame atau pesan layanan home care dengan didampingi tenaga medis yang profesional dan terpercaya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Cleveland Clinic — Monocytes: Function, Range & Related Conditions
Docus.ai — Monocytes: Key Functions, Levels, and Health Impact
Cleveland Clinic — Monocytosis: Meaning, Causes & Treatment
Assay Genie — Monocytes: An Overview
National Library of Medicine — Histology, Monocytes
Ni Putu Puri Artini — Hitung Jenis Leukosit
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apa itu monosit dan apa fungsinya?
Monosit adalah jenis sel darah putih berukuran besar yang membantu melawan infeksi, membersihkan sel rusak, dan mendukung respons kekebalan tubuh.
Monosit tinggi artinya apa?
Monosit tinggi berarti jumlah monosit dalam darah melebihi batas normal. Kondisi ini dapat berkaitan dengan infeksi, peradangan kronis, penyakit autoimun, pemulihan dari infeksi, stres, atau gangguan darah tertentu.
Berapa kadar normal monosit dalam darah?
Menurut artikel, kadar normal monosit umumnya sekitar 2–8% dari total sel darah putih atau sekitar 200–800 sel per mikroliter darah. Rentang acuan dapat berbeda antar laboratorium.
Apa penyebab monosit rendah?
Monosit rendah dapat berkaitan dengan gangguan sumsum tulang, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, kemoterapi atau radioterapi, kekurangan vitamin B12 dan asam folat, serta infeksi berat pada aliran darah.
Bagaimana cara mengetahui kadar monosit?
Kadar monosit dapat diketahui melalui pemeriksaan darah lengkap atau hematologi lengkap. Hasilnya perlu dikonsultasikan dengan dokter untuk membantu menentukan penyebab perubahan kadar dan penanganan yang sesuai.
