Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Disartria Adalah: Mengenal Gangguan Saraf Motorik!
Kembali ke Artikel & Berita

Disartria Adalah: Mengenal Gangguan Saraf Motorik!

SBAOthers

Pernah mendengar kerabat tiba-tiba bicara kabur sehingga Anda sulit memahaminya, padahal ia tahu persis ingin bilang apa? Ini bisa menunjukkan tanda disartria. Disartria adalah gangguan bicara akibat otot-otot bicara tidak bekerja normal. Kondisi ini pun bisa berkaitan dengan masalah saraf. Mari kenali kondisi selengkapnya di bawah ini!

Apa itu Disartria?

Singkatnya, dysarthria atau disartria adalah gangguan bicara motorik. Jadi, yang terserang adalah otot-otot bicaranya, sehingga bisa melemah, sulit koordinasi, atau tidak bergerak normal karena ada kerusakan pada otak atau saraf. 

Bagi lawan bicara, suara akan terdengar pelan, terbata-bata, monoton, terlalu cepat, atau sulit dipahami. Padahal, ide dan kalimat di kepala penderitanya masih tetap jelas. Gangguan ini juga sering tertukar dengan dua kondisi lain, seperti afasia dan apraksia. Padahal, ketiganya tetap berbeda. 

Pada disartria, penderita tahu ingin mengatakan apa. Namun, penyampaiannya kabur karena ada masalah dengan sistem bicaranya. Sedangkan pada afasia, masalahnya di bahasa. Penderita mungkin kesulitan mencari kata, menyusun kalimatnya, atau kesulitan memahami perkataan orang lain. 

Lalu, pada apraksia, masalahnya di otak. Penderita kesulitan merencanakan gerakan bicara, sehingga tampak mencoba-coba posisi bibir, lidah, dan mulut. Namun, otot penggeraknya bukan penyebab utama timbulnya masalah.

Cara Kerja Bicara yang Normal

Saking terbiasanya berbicara, Anda mungkin sering melupakan bahwa proses berbicara sebenarnya melalui sebuah sistem yang menakjubkan. Berikut penjelasannya.

  • Pernapasan: menyediakan udara dan tenaga untuk suara.

  • Fonasi: munculnya suara dari getaran pita suara di tenggorokan.

  • Resonansi: pengaturan aliran udara lewat mulut dan hidung.

  • Artikulasi: gerakan lidah, bibir, rahang, dan langit-langit untuk membentuk kata.

  • Prosodi: irama, kecepatan, intonasi, tekanan, dan jeda saat bicara

Nah, kalau satu atau beberapa komponen di atas terganggu, bicara tentu akan terdengar “berantakan”. Bisa saja konsonannya menjadi tidak jelas, suara serak, atau tekanan dan jeda-jeda yang tidak pada tempatnya.

Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan Disartria

Gejalanya bisa berbeda-beda, tergantung yang terganggu saraf atau otot. Namun, yang paling mudah terdengar adalah cara bicara yang tidak seperti biasanya. Dalam artian, lebih sulit dipahami. Berdasarkan terganggunya sistem berbicara, beberapa pengelompokan gejala yang muncul pada disartria adalah sebagai berikut.

  • Pernapasan: kalimat pendek, suara melemah di ujung kalimat, sering berhenti untuk ambil napas. 

  • Suara: serak, kasar, bergetar, nada tidak stabil

  • Artikulasi: konsonan tak jelas, vokal berubah, kata terdengar “menyatu”.

  • Resonansi: terlalu sengau (seperti hidung tersumbat)

  • Prosodi: bicaranya datar, intonasi tidak sesuai dengan emosi/ekspresi.

Karena masalah juga menyerang otot, Anda mungkin merasa atau melihat gejala lain yang muncul di wajah dan mulut. Contohnya otot wajah (bibir, lidah atau rahang) melemah, bergetar, gerakan mulut terbatas, sulit mengatur air liur, dan kesulitan menelan.

Penyebab Disartria

Kondisi ini terjadi karena gangguan di otak, saraf, atau otot. Penyebabnya pun bisa datang mendadak seperti gangguan fungsi otak stroke, berkembang pelan-pelan seperti penyakit degeneratif, ada infeksi, cedera, atau obat tertentu yang memicunya.

Penyebab Neurologis

Beberapa penyebab yang paling umum dari disartria adalah sebagai berikut.

  • Stroke: sumbatan (iskemik) atau pendarahan otak.

  • Cedera kapala.

  • Tumor di otak, batang otak, atau area kepala dan leher.

  • Cerebral Palsy.

  • Penyakit gangguan saraf parkinson.

  • Penyakit multiple sclerosis (MS): ketika sistem imun menyerang pelindung saraf

  • ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis): penyakit yang merusak sel saraf penggerak otot.

  • Penyakit langka huntington.

  • Myasthenia gravis: Kondisi autoimun yang membuat otot melemah.

  • Distrofi otot: Kelompok penyakit yang melemahkan otot.

  • Sindrom Guillain-Barré: Ketika sistem imun menyerang sistem saraf tepi.

  • Hidrosefalus.

Dari Infeksi dan Peradangan

Sejumlah infeksi juga bisa mengganggu saraf dan otot bicara. Beberapa di antaranya adalah COVID-19, herpes zoster, penyakit Lyme, ensefalitis (radang otak), dan meningitis.

Zat Beracun, Gangguan Metabolik, dan Obat

Selain gangguan di saraf, penyebabnya juga bisa muncul karena hal berikut.

  • Keracunan karbon monoksida, logam berat, lithium, atau bahan kimia tertentu.

  • Botulisme (keracunan toksin bakteri).

  • Hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif) atau gangguan hati tertentu.

  • Kekurangan oksigen pada otak.

Obat-obatan juga bisa memicu kondisi ini pada sebagian orang. Dan kalau terjadi, sebaiknya segera jelaskan ke dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis sendiri. 

Faktor Risiko 

Faktor risiko disartria pada dasarnya adalah faktor risiko penyakit penyebabnya.

  • Stroke: Tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, penyakit jantung, kurang gerak, dan riwayat stroke di keluarga.

  • Cedera kepala: setelah kecelakaan kendaraan, jatuh, olahraga berisiko.

  • Usia: penyakit saraf degeneratif seperti Parkinson lebih sering muncul seiring bertambahnya usia.

  • Riwayat autoimun atau neuromuskular: misalnya MS dan myasthenia gravis.

  • Paparan zat beracun atau obat tertentu yang memengaruhi sistem saraf.

Diagnosis dan Tes

Diagnosis awam mungkin seperti “bicaranya terdengar aneh sekarang”, tapi di mata dokter tidak sesederhana itu. Tenaga kesehatan perlu memastikan dulu apakah benar yang terjadi adalah disartria, mencari penyebabnya, seberapa parah, dan memeriksa kondisi yang menyertainya.

Pemeriksaan Awal

Dokter akan memulai dengan bertanya kapan kesulitan bicara muncul, mendadak atau berangsur, apakah pernah membaik atau malam memburuk. Lalu mencari penyebabnya seperti apakah ada stroke, cedera kepala, infeksi, obat, dan lain-lain. Terakhir, bagaimana kondisinya mengganggu kehidupan pasien. 

Setelah itu, dokter mulai melakukan pemeriksaan fisik, mencakup otot wajah, lidah, langit-langit mulut, rahang, dan suara. Dokter juga akan menguji kekuatan, koordinasi, dan refleks.

Pemeriksaan oleh Terapis Wicara

Biasanya, terapis wicara (speech-language pathologist) adalah tenaga ahli yang akan bersama pasien paling lama. Mereka akan mendengarkan dan menilai sistem bicara mana yang bermasalah. 

Akan ada metode-metode unik, seperti membaca, mengulang kata, bercerita, bernyanyi, hingga menggerak-gerakkan otot wajah. Mereka juga akan menilai seberapa jelas pesan pasien ke pendengar. Mereka kadang membandingkan bicara saat pasien dalam keadaan segar dan lelah demi memahami gejalanya.

Tes untuk Mencari Penyebab

Setelah dokter memiliki dugaan, tes lanjutan yang disarankan untuk disartria adalah sebagai berikut.

  • MRI atau CT scan: memotret otak, kepala, dan leher untuk mendeteksi stroke, tumor, cedera, atau kelainan struktur.

  • EEG (elektroencefalogram): merekam aktivitas listrik otak, terutama bila ada kejang.

  • EMG dan pemeriksaan kecepatan saraf.

  • Tes darah dan urine.

  • Pungsi lumbal: mengambil sampel cairan serebrospinal (cairan yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang) untuk mendeteksi infeksi serius, gangguan sistem saraf pusat, atau kanker otak dan saraf tulang belakang pada kasus tertentu.

  • Tes neuropsikologis: menilai kemampuan berpikir, memahami bahasa, membaca, dan menulis, sehingga disartria bisa dibedakan dari gangguan bahasa atau kognitif

Pilihan Pengobatan dan Opsi Perawatan

Pendekatan perawatan akan berbeda-beda setiap pasien. Kondisi ini pun bisa diobati dengan tujuan membuat komunikasi lebih jelas, efektif, dan nyaman. Sebenarnya, jika melihat bab diagnosis, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa selain mengobati penurunan cara bicara, dokter juga akan mencari penyebab/penyakit yang menyertai. 

Selain itu, terapi wicara dan bahasa juga akan dilakukan untuk mendukung efektivitas bicara penderita. Mulai dari latihan napas hingga volume suara stabil, latihan artikulasi, dan prosodi. Bila bicaranya masih kesulitan, terapis mungkin merekomendasikan AAC (augmentative and alternative communication).

Strategi Pencegahan

Tidak semua disartria ada formula pencegahannya, terutama bila penyebabnya penyakit genetik atau kelainan sejak lahir. Meski begitu, risiko dua penyebab utamanya, yakni stroke dan cedera kepala bisa Anda hindari.

Mencegah risiko stroke yang menyebabkan disartria adalah dengan mengontrol tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga aktif bergerak dan berhenti merokok. Sementara untuk cedera kepala, bisa Anda mulai dari menggunakan helm saat naik motor, menggunakan sabuk pengaman, atau memasang pegangan di rumah.

Jika memiliki diagnosis sakit saraf, pastikan pengobatan tetap teratur dan pemantauan gejala bicara sejak awal agar membantu kecepatan penyembuhan. Terakhir, jangan lupa gaya hidup sehat, seperti tidur yang cukup, kelola stres, konsumsi makanan yang bergizi seimbang, dan olahraga.

Kapan Harus ke Dokter?

Bila perubahan bicaranya mendadak, anggap itu sebagai kondisi darurat. Segera datang ke IGD dan jangan “menunggu perkembangannya”. Bila perubahannya pelan-pelan, buatlah janji dengan dokter atau terapis wicara. Anda bisa mulai dari dokter umum terlebih dahulu. 

Bagi pendamping, siapkan kronologi gejala dengan jelas, utarakan kalau ada penyakit yang menyertai, atau bila pernah ada kecelakaan di kepala. Beritahu juga obat-obatan yang sedang Anda konsumsi.

Jangan Abaikan Sinyal Tubuh, Mulai dari Cek Kesehatan!

Kesimpulannya, disartria adalah gangguan bicara yang bukan sekadar bicara “tidak jelas”. Stroke pun bisa menjadi salah satu penyebab utamanya. Jadi, menjaga tekanan darah, kolesterol, dan gula darah tetap terkendali adalah langkah pencegahan yang masuk akal.

Anda pun bisa memulainya dengan melakukan Medical Check Up Basic di Bumame. Paket ini akan memberikan layanan pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, profil kolesterol, gula darah puasa, asam urat, dan urine dalam sekali pengambilan sampel. Ayo, lakukan pemeriksaan dari sekarang untuk cegah komplikasi sejak dini!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) — Dysarthria

  2. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) — Dysarthria in Adults

  3. Mayo Clinic — Dysarthria: Symptoms and Causes

  4. National Health Service (NHS) — Dysarthria (Difficulty Speaking)

  5. Cleveland Clinic — Dysarthria

  6. Enderby, Pam — Disorders of Communication: Dysarthria

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apakah disartria adalah tanda stroke?

Bisa. Disartria dapat menjadi tanda stroke, terutama jika perubahan bicara terjadi secara mendadak. Segera cari pertolongan medis di IGD jika hal ini terjadi.

Apakah disartria bisa sembuh?

Pemulihan disartria bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Penanganan dapat mencakup pengobatan kondisi yang mendasari serta terapi wicara untuk membantu memperjelas komunikasi.

Apa bedanya disartria dengan afasia?

Disartria memengaruhi kemampuan mengucapkan kata akibat gangguan saraf atau otot bicara, sedangkan afasia memengaruhi kemampuan berbahasa, seperti menemukan kata atau memahami ucapan.

Bagaimana cara berbicara dengan penderita disartria?

Kurangi kebisingan, berhadapan langsung saat berbicara, dan beri waktu kepada penderita untuk menyelesaikan kalimatnya. Pastikan pesan dipahami tanpa terburu-buru menyela pembicaraan.

Apakah disartria menular?

Tidak. Disartria merupakan gangguan bicara akibat masalah pada saraf atau otot, bukan penyakit menular. Penyebab yang mendasarinya perlu dievaluasi oleh tenaga medis.