Gagap pada anak biasanya akan membuat orang tua khawatir, apalagi jika si kecil yang sebelumnya sudah lancar berbicara malah tiba-tiba mulai mengulang bunyi ataupun sampai kesulitan menyelesaikan kalimat. Kondisi ini juga bisa terjadi pada saat kemampuan bicara dan bahasa berkembang.
Sebenarnya, pada sebagian anak, masalah ini akan dapat membaik seiring waktu. Namun, orang tua sebaiknya bisa mengenali tanda gangguan bicara ini ataupun mengetahui kapan perlu mencari bantuan profesional. Yuk, simak lebih dalam tentang ciri, penyebab, hingga cara mengatasinya!
Apa Itu Gagap?
Gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang bisa membuat ucapan terputus ataupun tidak mengalir dengan normal. Biasanya anak atau penderita dapat mengulang bunyi, memanjangkan suara, ataupun mengalami hambatan saat hendak mengucapkan kata. Sebutan lainnya adalah stuttering atau stammering.
Uniknya, anak yang mengalami stuttering umumnya tetap bisa menyanyi dengan lancar. Menurut beberapa ahli, ini terjadi karena karena menyanyi dan berbicara datang dari sisi otak yang berlawanan, terutama pada orang yang dominan menggunakan tangan kanan.
Masalah ini biasanya akan mulai terlihat pada masa kanak-kanak, sering kali juga ketika anak berusia sekitar 2–6 tahun. Pada usia ini, anak sedang belajar menyusun kalimat dan juga menyampaikan gagasan yang lebih kompleks. Namun, pahami bahwa tidak semua pengulangan kata menandakan adanya gangguan.
Penilaian tetap perlu mempertimbangkan pola ketidaklancaran, frekuensi, dan juga apakah anak tampak kesulitan saat berbicara. Karena itu, untuk bisa memahami tahapan perkembangan bahasa dan juga kemampuan anak sesuai usianya, orang tua harus rutin cek tumbuh kembang anak sejak dini.
Ciri-Ciri Gagap pada Anak
Tanda stuttering bisa berbeda pada setiap anak. Nah, beberapa ciri yang perlu Anda perhatikan biasanya meliputi hal berikut.
Mengulang bunyi atau suku kata, misalnya “b-b-bola” atau “ma-ma-mau”.
Memanjangkan bunyi, seperti mengucapkan “ssssaya” sebelum bisa melanjutkan kalimat.
Mengalami hambatan bicara, yaitu tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi kata masih sulit keluar.
Menunjukkan ketegangan ketika berbicara, seperti dengan mengedipkan mata berulang kali ataupun menegangkan otot wajah.
Menghindari percakapan, misalnya enggan menjawab pertanyaan ataupun terlihat frustrasi pada saat berbicara.
Satu tanda saja masih belum cukup untuk bisa memastikan anak mengalami stuttering. Selain itu, stuttering pada dasarnya dapat menjadi salah satu bentuk perkembangan bicara yang normal terjadi pada anak. Jadi, wajar bila anak melakukan pengulangan kata atau salah mengeja ketika sedang belajar bicara.
Hanya saja, orang tua patut curiga jika gejalanya tidak kunjung berhenti atau bahkan semakin memburuk. Jika hal ini terjadi, sebaiknya amati apakah tanda tersebut masih sering berulang, berlangsung lama, ataupun sampai memengaruhi kenyamanan anak pada saat berkomunikasi.
Kenapa Anak Tiba-Tiba Gagap?
Ketika anak yang sebelumnya berbicara lancar mulai gagap, pasti orang tua bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang memicunya. Gangguan perkembangan ini umumnya tidak terletak pada kesalahan pola asuh. Penyebab pastinya sendiri belum sepenuhnya dipahami, tetapi masih ada sejumlah faktor diduga berperan.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan stuttering adalah sebagai berikut.
Perkembangan bicara dan bahasa. Anak biasanya sedang belajar merangkai kata dan juga kalimat yang semakin kompleks, sementara keterampilannya dalam merencanakan ucapan masih berkembang.
Riwayat keluarga. Stuttering biasanya bisa ditemukan pada beberapa anggota keluarga.
Koordinasi proses berbicara. Berbicara akan melibatkan kerja sama otak, pernapasan, suara, dan juga otot yang menghasilkan bunyi. Perbedaan dalam proses ini diduga turut berperan.
Stuttering bisa lebih terlihat pada saat anak bersemangat ataupun merasa harus segera menjawab atau berada dalam tekanan. Keadaan di mana anak merasa cemas dan stres atau memiliki trauma emosional pun bisa memicu gangguan ini
Namun, meski bisa memengaruhi kelancaran bicara, tapi bukan berarti situasi tersebut menjadi penyebab tunggalnya. Jika memang gangguan bicara muncul setelah adanya cedera kepala ataupun sampai disertai gejala neurologis mendadak, maka segeralah cari pertolongan medis.
Bagaimana Gagap pada Anak Didiagnosis?
Tidak ada satupun pemeriksaan darah yang bisa memastikan diagnosis. Penilaian umumnya sendiri akan dilakukan melalui riwayat perkembangan dan juga pengamatan pola bicara anak oleh tenaga profesional.
Orang tua bisa berkonsultasi dengan dokter anak ataupun terapis wicara, yaitu tenaga profesional yang akan menangani gangguan bicara, bahasa, dan juga komunikasi.
Evaluasinya akan mencakup kapan stuttering mulai muncul, seberapa sering terjadi, jenis hambatan yang dialami, sampai apakah anak merasa tertekan ataupun mulai menghindari percakapan. Untuk riwayat dalam keluarga juga bisa menjadi bahan pertimbangan.
Pemeriksaan tumbuh kembang pun bisa membantu menilai aspek perkembangan anak secara lebih luas. Namun, pemeriksaan ini tetap masih tidak bisa menggantikan evaluasi khusus terhadap kelancaran bicara.
Orang tua bisa membaca informasi mengenai pemeriksaan tumbuh kembang anak Bumame untuk memahami apa saja tujuan skrining perkembangan. Nah, jika memang stuttering menjadi kekhawatiran utama, maka konsultasikan dengan tenaga profesional.
Cara Mengatasi Gagap pada Anak
Penanganan stuttering tetap bergantung pada usia, pola bicara, dan juga kebutuhan anak. Sebagian anak akan mengalami perbaikan seiring waktu, tetapi orang tua juga tidak bisa memastikan sendiri apakah stuttering akan hilang tanpa bantuan. Karena itu, beberapa hal ini bisa Anda coba terapkan.
1. Dengarkan Anak Tanpa Terburu-buru
Pastikan untuk memberikan kesempatan kepada anak agar bisa menyelesaikan kalimatnya. Hindari memotong pembicaraan ataupun langsung menebak kata yang ingin mereka ucapkan. Tunjukkan juga bahwa orang tua memperhatikan isi ceritanya, bukan hanya tentang kelancaran bicaranya.
2. Gunakan Cara Bicara yang Tenang
Bicaralah dengan tempo santai dan juga berikan jeda dalam percakapan. Orang tua tidak perlu meminta anak dalam meniru cara bicara tertentu. Tujuannya untuk menciptakan suasana komunikasi yang nyaman, bukan hanya membuat anak merasa harus berbicara secara sempurna.
3. Hindari Menyalahkan atau Mengoreksi Berulang Kali
Ketika anak mengalami gangguan ini, mereka tentu akan merasa malu dan takut ketika bicara. Bahkan, anak akan cenderung kesulitan untuk bersosialisasi dan menghindari keadaan yang membuat mereka harus bicara. Karena itu, sebagai orang tua, Anda wajib melindungi kondisi psikologisnya.
Jangan memberi komentar seperti “cepat bicara”, “jangan gagap”, ataupun “ulang sampai benar” yang bisa menambah tekanan. Jangan pula menjadikan gangguan ini sebagai bahan candaan.
Jika memang anak terlihat frustrasi, maka tetap dengarkan perasaannya dan juga yakinkan bahwa ia tetap boleh berbicara dengan kecepatannya sendiri.
4. Ciptakan Waktu untuk Berbincang
Sediakan waktu untuk bisa membaca buku ataupun mengobrol bersama tanpa tergesa-gesa. Biasakan anggota keluarga bergantian berbicara dan juga tidak saling memotong. Lingkungan yang suportif sendiri akan sangat membantu anak untuk merasa aman dalam menyampaikan pikirannya.
5. Pertimbangkan Terapi
Terapis wicara bisa menilai pola stuttering dan juga membantu menentukan pendekatan yang sesuai. Pendampingannya bisa bisa melibatkan orang tua, strategi komunikasi di rumah, maupun dukungan terhadap perasaan anak saat berbicara. Metode dan hasilnya sendiri bisa berbeda pada setiap anak.
Apakah Gagap pada Anak Bisa Sembuh?
Sebagian anak dapat membaik dan akhirnya berbicara lebih lancar. Tapi, perjalanan setiap anak berbeda dan juga sulit memprediksi sejak awal apakah stuttering akan menghilang dengan sendirinya. Maka dari itu, stuttering yang menetap, semakin berat, ataupun sampai memengaruhi komunikasi sebaiknya mendapat evaluasi profesional.
Tujuan pendampingan bukan hanya sekadar meningkatkan kelancaran bicara, tapi juga membantu anak dalam berkomunikasi dengan nyaman dan juga tetap percaya diri.
Jika memang anak mengalami kesulitan berkomunikasi dalam situasi tertentu, orang juga bisa mengenali mutisme selektif pada anak. Mutisme selektif sendiri berbeda dari stuttering, sehingga penilaian profesional tetap diperlukan untuk bisa membedakan kedua kondisi tersebut.
Kapan Anak yang Gagap Perlu Periksa?
Pertimbangkan untuk berkonsultasi jika gagap berlangsung sekitar 3–6 bulan, semakin sering, disertai ketegangan, ataupun sampai membuat anak frustrasi dan juga menghindari percakapan. Orang tua sendiri juga bisa mencari bantuan lebih awal jika memang khawatir terhadap perkembangan bicara anak.
Rentang waktu itu bukan alasan untuk bisa menunda konsultasi ketika tanda lain sudah mengganggu. Jika memang stuttering muncul mendadak setelah cedera kepala ataupun disertai kelemahan tubuh, kebingungan, maupun gangguan bicara mendadak lainnya, maka segeralah cari pertolongan medis.
Untuk masalah ini, pemeriksaan yang paling relevan adalah evaluasi oleh dokter dan/atau terapis wicara. Medical check-up basic sendiri bukan pemeriksaan khusus untuk bisa mendiagnosis dan juga tidak menggantikan evaluasi bicara-bahasa.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu gagap pada anak?
Gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang membuat anak mengulang bunyi atau suku kata, memanjangkan suara, maupun mengalami hambatan saat mengucapkan kata. Kondisi ini juga dikenal sebagai stuttering.
Kenapa anak tiba-tiba gagap padahal sebelumnya lancar berbicara?
Gagap dapat mulai terlihat saat kemampuan bicara dan bahasa anak berkembang. Faktor yang diduga berperan meliputi perkembangan bahasa, riwayat keluarga, dan koordinasi proses berbicara. Penyebabnya tidak selalu dapat dipastikan dan bukan berarti orang tua melakukan kesalahan dalam pola asuh.
Apa saja ciri-ciri gagap pada anak?
Ciri-ciri gagap meliputi pengulangan bunyi atau suku kata, pemanjangan suara, hambatan saat mengucapkan kata, ketegangan pada wajah, serta kecenderungan menghindari percakapan atau merasa frustrasi ketika berbicara.
Bagaimana cara mengatasi gagap pada anak?
Dengarkan anak tanpa terburu-buru, gunakan tempo bicara yang tenang, hindari mengoreksi berulang kali, dan sediakan waktu untuk berbincang bersama. Terapis wicara dapat membantu mengevaluasi pola bicara dan menentukan pendekatan yang sesuai.
Kapan anak yang gagap perlu diperiksa?
Konsultasikan dengan dokter atau terapis wicara jika gagap berlangsung sekitar 3–6 bulan, semakin sering atau berat, disertai ketegangan, maupun membuat anak frustrasi dan menghindari percakapan. Jika gagap muncul mendadak setelah cedera kepala atau disertai kelemahan tubuh maupun kebingungan, segera cari pertolongan medis.
