Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Pemeriksaan Imunologi: Jenis dan Prosedur
Kembali ke Artikel & Berita

Pemeriksaan Imunologi: Tujuan, Jenis, dan Prosedurnya

SBAOthers

Tubuh pada dasarnya memiliki sistem pertahanan yang berperan melindungi tubuh dari infeksi. Meskipun demikian, sistem ini terkadang memberi respons berlebihan atau kurang efektif yang memicu kemunculan gejala tertentu. Dalam kasus ini, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan imunologi sebagai evaluasi medis.

Pemeriksaan ini sejatinya bukan hanya satu jenis tes, melainkan mencakup kelompok tes lab, seperti pemeriksaan antibodi, serologi, penanda autoimun, hingga peradangan. Kelompok pemeriksaan ini biasanya akan dipilih berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, dan kondisi medis penderita.

Apa Itu Tes Imunologi?

Secara umum, tes imunologi adalah pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menilai komponen dan aktivitas sistem imun. Pemeriksaan ini bisa dilakukan untuk membantu pemeriksaan alergi, infeksi, gangguan kekebalan, penyakit autoimun, dan beberapa kondisi peradangan.

Umumnya, salah satu komponen yang sering menjadi fokus pemeriksaan adalah imunoglobulin atau antibodi. Antibodi sendiri merujuk pada protein buatan sistem imun yang berfungsi mengenali dan melawan zat asing, termasuk mikroorganisme penyebab penyakit.

Pemeriksaan ini bisa mengukur kadar imunoglobulin tertentu di dalam tubuh, seperti IgG, IgA, dan IgM, atau mencari antibodi yang secara spesifik ditujukan terhadap antigen tertentu.

Pemeriksaan imunologi tidak selalu mengindikasikan bahwa seseorang mengalami gangguan imun. Dalam konteks ini, hasil pemeriksaan harus dievaluasi juga bersama gejala, pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan laboratorium lainnya.

Jenis Tes Imunologi

Sistem imun tubuh pada dasarnya memiliki banyak komponen, mulai dari sel darah putih (leukosit), immunoglobulin, organ limfoid, hingga sistem komplemen. Hal tersebut mendasari mengapa pemeriksaan imunologi terdiri dari berbagai pemeriksaan. Dokter bisa memilih satu atau beberapa pemeriksaan berdasarkan pertanyaan klinis yang ingin dijawab.

1. Tes Antibodi (Immunoglobulin/Ig)

Pemeriksaan imunoglobulin bertujuan mengukur kadar antibodi yang terkandung dalam darah. Dalam pemeriksaan ini, ada tiga jenis antibodi yang paling umum menjadi fokus pemeriksaan, yaitu IgG, IgA, dan IgM.

IgM biasanya menjadi salah satu antibodi yang muncul di awal setelah tubuh terinfeksi suatu mikroorganisme. Kemudian, IgG memiliki peran penting dalam proses respons imun jangka panjang. Sementara itu, IgA banyak ditemukan pada permukaan mukosa, termasuk saluran pernapasan dan pencernaan.

Jenis antibodi lain yang sering diperiksa dalam tes antibodi adalah  IgE, terutama dalam evaluasi alergi. Pemeriksaan ini terdiri atas dua jenis; IgE total dan spesifik.

Pemeriksaan IgE total bertujuan untuk mengukur IgE total dalam darah. Sedangkan pemeriksaan IgE spesifik digunakan untuk melihat respon terhadap alergen tertentu untuk mencari pemicu alergi.

2. Tes Serologi Infeksi dan Penyakit Menular

Tes serologi adalah pemeriksaan medis yang bertujuan mencari antibodi atau komponen imun tertentu di dalam darah yang berkaitan dengan paparan suatu mikroorganisme. Pemeriksaan ini umumnya menjadi sarana untuk membantu mengevaluasi berbagai infeksi.

Meskipun demikian, hasil tes ini perlu dibaca hati-hati. Pasalnya, pada banyak kasus, antibodi tidak selalu muncul setelah seseorang terinfeksi. Dalam hal ini, waktu pemeriksaan bisa mempengaruhi hasil karena tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk respons antibodi.

Selain itu, keberadaan antibodi tertentu juga bisa merujuk pada paparan sebelumnya, bukan selalu infeksi yang sedang aktif.

3. Tes Penanda Autoimun

Pada penyakit autoimun, sistem imun tubuh bisa keliru mengenali dan menyerang jaringan tubuh sendiri. Di sinilah pemeriksaan imunologi bisa membantu menemukan antibodi di darah yang menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri tersebut (autoantibodi).

Salah satu tes imunologi yang sangat terkenal untuk menemukan autoantibodi adalah pemeriksaan ANA (Antinuclear Antibody). ANA merujuk pada protein atau autoantibodi yang menyerang inti sel (nukleus) dalam jaringan tubuh.

ANA bisa ditemukan pada berbagai penyakit autoimun, termasuk lupus. Namun, hasil positif pada pemeriksaan ANA tidak berarti seseorang otomatis memiliki penyakit autoimun. Pasalnya, interpretasi hasil pemeriksaan juga harus berdasarkan gejala dan pemeriksaan lainnya.

Selain pemeriksaan ANA, tes rheumatoid factor (RF), anti-CCP, anti-dsDNA, anti-Sm, atau antibodi spesifik lainnya juga termasuk tes penanda autoimun.

4. Tes Penanda Peradangan dan Sistemik

Beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan sistem imun juga sering menjadi media untuk menilai proses peradangan atau aktivitas penyakit. Salah satunya adalah pemeriksaan kadar C-Reactive Protein (CRP) dalam darah, yang bisa meningkat saat  tubuh mengalami peradangan.

Contoh lainnya adalah pemeriksaan sistem komplemen C3 dan C4. Pemeriksaan ini umumnya bertujuan membantu mengevaluasi aktivitas penyakit autoimun dan adanya infeksi berat atau peradangan.

Kapan Perlu Melakukan Pemeriksaan Imunologi?

Dalam banyak kasus, pemeriksaan imunologi biasanya dilakukan saat dokter memiliki alasan klinis untuk melakukan evaluasi fungsi atau respons sistem imun. Misalnya pada kasus pasien yang sering mengalami infeksi berulang tidak biasa, alergi makanan, atau dugaan gangguan antibodi.

Selain itu, dokter juga bisa menyarankan pemeriksaan ini saat menemukan gejala pada pasien yang mengarah pada alergi, seperti reaksi berulang saat terpapar zat atau mengonsumsi makanan tertentu.

Pada keluhan seperti nyeri dan bengkak yang menetap, ruam tertentu, kekeringan mata atau mulut, atau gejala sistem lainnya, dokter umumnya bisa mempertimbangkan pemeriksaan autoantibodi jika ada kecurigaan kondisi penyakit autoimun.

Singkatnya, tes imunologi pada dasarnya tidak dilakukan secara acak. Pasalnya, semakin banyak pemeriksaan tanpa indikasi jelas justru akan berpotensi memunculkan false positive alias hasil pemeriksaan yang keliru menunjukkan adanya suatu kondisi medis.

Prosedur dan Cara Kerja Tes Imunologi

Sebagian besar pemeriksaan imunologi melalui sampel darah. Prosedurnya umumnya dimulai dengan pengambilan sampel darah dari pembuluh vena di lengan menggunakan jarum. Selanjutnya, sampel dikirim ke laboratorium untuk proses analisis menggunakan metode yang sesuai dengan jenis pemeriksaan.

Metode analisis yang digunakan bisa berbeda-beda. Beberapa pemeriksaan antibodi bisa menggunakan teknik immunoassay seperti enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).

Namun, ada juga yang menggunakan metode immunofluorescence, seperti untuk kasus pemeriksaan ANA (Antinuclear antibody). Dengan kata lain, pemilihan metode analisis ini bergantung pada jenis antibodi atau penanda yang menjadi fokus pemeriksaan.

Selain metode analisis, persiapan tes imunologi juga tidak selalu sama. Umumnya, pasien tidak perlu melakukan puasa sebelum menjalani pemeriksaan antibodi. Namun, hal ini bisa berubah jika pemeriksaan digabung dengan pemeriksaan lain, seperti pemeriksaan insulin atau profil lipid.

Cara Membaca Hasil Tes Imunologi

Hasil pemeriksaan imunologi bisa berbentuk angka, konsentrasi, titer, atau kategori (positif/negatif). Di sini, cara pembacaan hasil tes ini bergantung pada jenis pemeriksaan dan metode analisis yang laboratorium gunakan.

Anda perlu memahami bahwa hasil positif tidak selalu berarti Anda memiliki penyakit tertentu. Misalnya, kondisi ANA bisa terjadi pada orang tanpa penyakit imun. Contoh lainnya; RF positif tidak secara khusus membuktikan rheumatoid arthritis.

Selain itu, nilai rentang rujukan juga bisa berbeda antarlaboratorium. Oleh karena itu, jangan membandingkan hasil pemeriksaan hanya berdasarkan angka yang Anda temukan di Internet.

Konsultasi langsung ke dokter secara langsung menjadi pilihan yang lebih akurat. Pasalnya, dokter menilai hasil pemeriksaan bersama dengan gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil tes lainnya untuk menginterpretasikan maknanya.

Ketahui Kondisi Kesehatan Lewat Pemeriksaan Lengkap

Pemeriksaan imunologi tertentu dilakukan berdasarkan keluhan atau kecurigaan penyakit tertentu. Biaya tes imunologi juga bergantung pada jenis tes, alergen, dan jumlah parameter pemeriksaan.

Namun, bagi Anda yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, medical check-up bisa menjadi opsi yang memberikan gambaran kondisi tubuh secara menyeluruh. Paket Medical Check Up Plus dari Bumame adalah solusi pemeriksaan medis yang bisa Anda andalkan.

Paket pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, profil lipid, gula darah puasa, asam urat, urine lengkap, HbA1c, serta vitamin D 25-OH. Melalui pemeriksaan ini, Anda bisa melakukan pemantauan dan evaluasi medis lanjutan sesuai kebutuhan aktual tubuh.

Biaya Medical Check Up di Bumame termasuk cukup ramah di dompet, yaitu mulai dari Rp1.708.000,00.

Jika tujuan Anda memang spesifik mengevaluasi kondisi alergi, klinik Bumame juga menyediakan beberapa paket pemeriksaan spesifik yang bisa Anda pertimbangkan. Misalnya, paket IgE Atopy yang mencakup pemeriksaan kadar dan respons antibodi Imunoglobulin E terhadap alergen tertentu.

Pahami Pemeriksaan Imunologi Sesuai Kebutuhan

Kesimpulannya, pemeriksaan imunologi mencakup berbagai jenis tes untuk menilai antibodi, respons terhadap infeksi, autoantibodi, alergi, serta komponen sistem imun lainnya. Karena setiap tes memiliki tujuan dan keterbatasan berbeda, dokter umumnya memilih tes berdasarkan gejala dan kebutuhan medis.

Jika Anda mengalami keluhan berulang seperti alergi, infeksi tidak biasa, atau gejala yang mengarah pada penyakit autoimun, pertimbangkan untuk segera melakukan konsultasi medis. Dengan demikian, Anda akan bisa mendapatkan saran pemeriksaan yang benar-benar sesuai dengan kondisi Anda, termasuk untuk tes imunologi ini.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Immunoglobulins Blood Test.

  2. Castro, C., & Gourley, M. (2010). Diagnostic Testing and Interpretation of Tests for Autoimmunity. The Journal of Allergy and Clinical Immunology, 125(2 Suppl 2), S238–S247.

  3. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Antibody Serology Tests.

  4. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Autoantibody Testing.

  5. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2024). Allergy Blood Test. 

  6. Fritzler, M. J., Chan, E. K. L., Garcia-De La Torre, I., et al. (2014). International Recommendations for the Assessment of Autoantibodies to Cellular Antigens Referred to as Anti-Nuclear Antibodies. Annals of the Rheumatic Diseases.

  7. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Rheumatoid Factor (RF) Test.

  8. MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). C-Reactive Protein (CRP) Test.

  9. Coss, S. L., Zhou, D., Chua, G. T., et al. (2023). The Complement System and Human Autoimmune Diseases. Journal of Autoimmunity, 137, 102979.

  10. Brodszki, N., Frazer-Abel, A., Grumach, A. S., et al. (2020). European Society for Immunodeficiencies (ESID) and European Reference Network on Rare Primary Immunodeficiency, Autoinflammatory and Autoimmune Diseases (ERN RITA) Complement Guideline: Deficiencies, Diagnosis, and Management. Journal of Clinical Immunology, 40, 576–591.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu pemeriksaan imunologi?
Pemeriksaan imunologi adalah serangkaian tes laboratorium untuk menilai komponen dan aktivitas sistem kekebalan tubuh, termasuk antibodi, autoantibodi, serta respons imun tertentu. 
Apa saja jenis pemeriksaan imunologi?
Jenisnya meliputi tes antibodi atau imunoglobulin, serologi infeksi, penanda autoimun seperti ANA dan RF, serta pemeriksaan penanda peradangan dan sistem komplemen. 
Kapan perlu melakukan pemeriksaan imunologi?
Pemeriksaan dapat dilakukan ketika terdapat infeksi berulang yang tidak biasa, alergi, dugaan gangguan antibodi, atau gejala yang mengarah pada penyakit autoimun seperti nyeri, bengkak, dan ruam menetap. 
Apakah pemeriksaan imunologi perlu puasa?

Sebagian besar pemeriksaan antibodi tidak memerlukan puasa. Namun, persiapan dapat berbeda jika pemeriksaan imunologi dilakukan bersamaan dengan tes lain seperti insulin atau profil lipid. 

Apakah hasil tes imunologi positif berarti pasti memiliki penyakit?
Tidak selalu. Hasil positif perlu diinterpretasikan bersama gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta hasil pemeriksaan lainnya karena beberapa penanda dapat muncul tanpa adanya penyakit tertentu.