Badan lemas terus saat menstruasi dan berat badan turun drastis sering disangka akibat kurang tidur atau stres berlebih. Padahal, keluhan menetap ini bisa menjadi tanda awal dari penyakit Addison, yaitu gangguan kesehatan langka ketika kelenjar adrenal gagal memproduksi hormon penting secara memadai.
Kondisi langka tersebut dicirikan oleh rendahnya produksi hormon kortisol dan aldosteron dari kelenjar adrenal. Karena perkembangan yang lambat, pasien kerap mengabaikan tanda awal yang mereka rasakan. Itulah mengapa, pendeteksian awal diperlukan untuk membantu mencegah memburuknya gejala.
Apa Itu Penyakit Addison?
Penyakit Addison merupakan bentuk dari insufisiensi adrenal primer. Kondisi ini terjadi karena kelenjar adrenal mengalami kerusakan fisik. Kerusakan tersebut menyebabkan kelenjar tidak dapat menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tubuh.
Kelenjar adrenal merupakan dua organ berukuran kecil terletak di bagian atas ginjal yang berfungsi mengeluarkan hormon kortisol. Hormon ini membantu tubuh merespons stres dengan menjaga tekanan darah tetap stabil, mengatur kadar gula darah, dan berperan dalam proses metabolisme.
Selain kortisol, adrenal juga menghasilkan aldosteron untuk menyeimbangkan kadar natrium, kalium, dan cairan di dalam tubuh.
Jadi, adanya gangguan pada fungsi adrenal tidak hanya mengakibatkan rasa lelah yang berkepanjangan. Masalah tersebut juga mengubah jumlah cairan serta kadar elektrolit pada pasien.
Penyakit Addison memiliki karakteristik yang tidak sama dengan insufisiensi adrenal sekunder atau tersier. Pada penyakit ini, sumber gangguan terletak secara langsung di dalam kelenjar adrenal. Sementara pada jenis insufisiensi lainnya, hambatan muncul dari kelenjar pituitari atau hipotalamus, yang berperan mengatur produksi hormon oleh kelenjar adrenal.
Gejala Penyakit Addison
Gejala penyakit Addison bisa berkembang secara perlahan. Inilah salah satu alasan kondisi ini kadang tidak langsung dikenali. Seseorang mungkin merasa “tidak enak badan” selama berbulan-bulan sebelum mengetahui penyebabnya.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
mudah lelah atau merasa tidak bertenaga atau lemas,
kelemahan otot,
nafsu makan menurun,
berat badan turun tanpa sebab yang jelas,
nyeri perut,
mual muntah,
diare,
tekanan darah rendah,
pusing, terutama saat berdiri,
menginginkan makanan yang asin,
gula darah rendah pada kondisi tertentu,
gangguan menstruasi pada sebagian perempuan, dan
Penggelapan warna kulit, terutama pada lipatan kulit, bekas luka, buku jari, siku, lutut, bibir, atau bagian dalam mulut.
Tidak semua orang mengalami seluruh gejala tersebut. Bahkan, gejalanya bisa berbeda dari satu orang ke orang lain.
Contohnya, perubahan warna kulit menjadi lebih gelap juga tidak selalu muncul pada setiap kondisi kekurangan kortisol. Namun, pada insufisiensi adrenal primer seperti Addison, perubahan ini merupakan salah satu tanda yang cukup khas dan dapat membantu dokter dalam mengarahkan pemeriksaan.
Penyebab Kekurangan Hormon Kortisol
Pada penyakit Addison, penyebab yang sering ditemukan adalah penyakit autoimun. Sederhananya, sistem kekebalan tubuh keliru mengenali jaringan adrenal sebagai sesuatu yang perlu diserang.
Kerusakan yang berlangsung perlahan membuat produksi hormon adrenal menurun, yang dapat memengaruhi keseimbangan berbagai hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang berkaitan dengan fungsi reproduksi seperti hormon estrogen.
Selain autoimun, penyakit Addison juga dapat berkaitan dengan infeksi tertentu. Misalnya tuberkulosis yang dapat menyerang kelenjar adrenal dan menyebabkan gangguan fungsinya. Penyebab lainnya yaitu perdarahan pada kelenjar adrenal, kanker, operasi pengangkatan adrenal, kelainan genetik, atau obat tertentu.
Hal yang perlu dibedakan adalah penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang. Penggunaan obat ini dapat menekan sistem pengatur hormon tubuh. Jika obat dihentikan secara tiba-tiba setelah digunakan dalam waktu lama, tubuh dapat kesulitan menghasilkan kortisol dalam jumlah yang cukup.
Karena itu, obat steroid sebaiknya tidak dihentikan atas kemauan sendiri dan harus sesuai arahan tenaga medis. Dokter biasanya akan mengarahkan penurunan dosis secara bertahap sesuai kondisi masing-masing pasien.
Faktor Risiko dan Diagnosis
Penyakit Addison tergolong jarang. Meski begitu, risiko dapat lebih tinggi pada orang yang memiliki penyakit autoimun tertentu, riwayat gangguan kelenjar adrenal, infeksi yang dapat memengaruhi adrenal, atau kondisi tertentu yang berkaitan dengan kelenjar pituitari.
Diagnosisnya tidak cukup hanya berdasarkan gejala. Dokter biasanya akan menanyakan keluhan, riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, serta melakukan pemeriksaan fisik. Selanjutnya, pemeriksaan darah dapat digunakan untuk menilai kadar kortisol dan hormon lain yang berkaitan dengan fungsi adrenal.
Salah satu pemeriksaan yang umum digunakan untuk membantu memastikan insufisiensi adrenal adalah ACTH stimulation test. Pemeriksaan ini dapat menilai respons tubuh setelah diberikan ACTH, yaitu hormon yang memberi sinyal kepada kelenjar adrenal untuk menghasilkan kortisol.
Dokter juga dapat memeriksa kadar renin, aldosteron, serta elektrolit seperti natrium dan kalium. Pemeriksaan tambahan, termasuk CT scan atau MRI, mungkin diperlukan untuk membantu mencari penyebab gangguan adrenal atau masalah pada kelenjar pituitari.
Karena aldosteron berperan dalam menjaga keseimbangan natrium dan kalium, pemeriksaan elektrolit dapat menjadi salah satu bagian dari evaluasi kondisi pasien. Jika dokter menyarankan pemeriksaan elektrolit, Anda dapat mempertimbangkan Paket Na, K, Cl dari Bumame dengan harga mulai dari Rp350.000,00.
Pemeriksaan ini menggunakan sampel darah untuk mengukur natrium, kalium, dan klorida sebagai elektrolit utama tubuh. Hasil pemeriksaan elektrolit dapat membantu dokter menilai keseimbangan cairan dan elektrolit serta melihat kondisi yang mungkin berkaitan dengan dehidrasi, gangguan ginjal, muntah, diare berkepanjangan, maupun kondisi metabolik lain.
Pengobatan Penyakit Addison
Karena masalah utamanya adalah tubuh kekurangan hormon tertentu, pengobatan penyakit Addison umumnya dilakukan dengan terapi penggantian hormon. Tujuannya adalah menggantikan hormon yang tidak dapat diproduksi tubuh dalam jumlah memadai.
Kortisol biasanya digantikan dengan obat golongan kortikosteroid, seperti hidrokortison. Pada pasien yang juga mengalami kekurangan aldosteron, dokter dapat memberikan fludrokortison untuk membantu mengatur keseimbangan natrium, cairan, dan tekanan darah.
Perlu dipahami bahwa dosis obat tidak bisa disamakan untuk semua orang. Dokter akan menyesuaikannya berdasarkan kondisi dan respons tubuh.
Hal lain yang cukup penting adalah penyesuaian dosis saat tubuh sedang mengalami tekanan fisik, misalnya demam, infeksi, operasi, atau cedera. Pasien dengan Addison biasanya perlu mendapatkan edukasi mengenai stress dose, yaitu penyesuaian dosis kortikosteroid ketika tubuh membutuhkan lebih banyak hormon.
Karena itu, pengobatan bukan sekadar minum obat setiap hari. Pemantauan rutin dan pemahaman mengenai kondisi tubuh juga menjadi bagian penting dari perawatan.
Komplikasi Addison yang Perlu Penanganan Segera: Krisis Adrenal
Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah krisis adrenal. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan kortisol yang berat, terutama saat menghadapi stres fisik seperti infeksi berat, cedera, operasi, atau kondisi sakit tertentu.
Tanda-tandanya dapat berupa muntah dan diare yang berat, kelemahan ekstrem, tekanan darah turun, nyeri hebat pada perut atau punggung, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran.
Krisis adrenal merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Terapi di fasilitas kesehatan dapat mencakup pemberian kortikosteroid melalui suntikan serta cairan melalui infus.
Bagi orang yang sudah terdiagnosis Addison, dokter biasanya juga akan memberikan edukasi mengenai cara menghadapi kondisi darurat, termasuk membawa kartu identitas medis atau informasi bahwa dirinya mengalami insufisiensi adrenal.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua rasa lelah berarti penyakit Addison. Namun, sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika rasa lelah berlangsung lama dan disertai penurunan berat badan yang tidak direncanakan, tekanan darah rendah, pusing berulang, gangguan pencernaan, perubahan warna kulit, atau keinginan makan makanan asin yang tidak biasa.
Terlebih jika Anda memiliki riwayat penyakit autoimun atau sedang menggunakan maupun baru saja menghentikan obat kortikosteroid dalam jangka panjang.
Jika sudah memiliki diagnosis insufisiensi adrenal dan mengalami muntah atau diare terus-menerus, kelemahan berat, kebingungan, pingsan, atau kondisi yang terasa memburuk secara tiba-tiba, jangan menunggu gejala membaik sendiri. Segera cari pertolongan medis.
Kenali Kondisi Tubuh, Jangan Abaikan Gejalanya
Penyakit Addison memang tidak selalu mudah dikenali sejak awal karena gejalanya bisa mirip dengan keluhan sehari-hari. Namun, keluhan yang terus berulang seperti lelah berkepanjangan, pusing, atau berat badan turun tetap perlu diperhatikan.
Jika dokter mencurigai adanya gangguan hormon adrenal, pemeriksaan dapat dilakukan untuk membantu mencari penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
The Lancet Diabetes & Endocrinology. (2026). Clinical features, investigation, and management of Addison's disease.
National Library of Medicine. (2021). Addison's Disease: A Diagnosis Easy to Overlook.
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma. (2012). ADDISON'S DISEASE.
American Family Physician. (2014). Addison Disease: Early Detection and Treatment Principles.
The Lancet Diabetes & Endocrinology. (2026). Clinical features, investigation, and management of Addison's disease.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apakah penyakit Addison bisa sembuh total?
Penyakit Addison tidak dapat sembuh total. Pasien membutuhkan terapi penggantian hormon jangka panjang untuk menggantikan hormon yang tidak dapat diproduksi tubuh dalam jumlah memadai.
_(2).jpg&w=3840&q=75)