Pernah coba ukur tekanan darah tapi hasilnya terus menunjukkan nilai tinggi meskipun sudah coba ubah pola makan dan minum obat? Pada beberapa kasus, ini bisa jadi tanda adanya gangguan hiperaldosteronisme atau kelebihan hormon aldosteron.
Pasalnya, kelebihan hormon ini akan menyebabkan tubuh menahan lebih banyak natrium dan air serta kehilangan banyak kalium sehingga membuat volume darah meningkat dan tekanan darah pun menjadi tinggi.
Lebih lengkapnya, artikel ini akan menguraikan penyebab, gejala, hingga cara penanganan gangguan ini sebagai bahan acuan Anda dalam menghadapinya.
Apa Itu Hiperaldosteronisme?
Hiperaldosteronisme merupakan kondisi saat tubuh memiliki kadar hormon aldosteron yang terlampau tinggi, karena terjadi produksi yang berlebihan oleh kelenjar adrenal akibat dari gangguan kesehatan tertentu. Hormon aldosteron sendiri merupakan hormon yang mengatur kadar natrium, air, dan kalium dalam tubuh.
Saat nilainya terlampau tinggi bisa menyebabkan ginjal cenderung menahan natrium dan air, sekaligus kehilangan kalium. Jika ini terjadi terus-menerus, bisa berefek pada tekanan darah dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Hubungannya dengan Sindrom Conn
Kaitannya dengan hiperaldosteronisme, istilah sindrom Conn digunakan untuk menyebutkan hiperaldosteronisme primer, yaitu kondisi ketika kelenjar adrenal memproduksi hormon aldosteron secara berlebihan secara mandiri, tanpa dipicu oleh peningkatan renin.
Artinya, sindrom Conn terjadi saat hormon aldosteron tinggi, tapi kadar renin tubuh justru rendah. Ini berbanding terbalik dengan jenis sekunder yang mana peningkatan hormon aldosteron terjadi karena peningkatan aktivitas renin.
Gejala Hiperaldosteronisme
Dampak utama dari gangguan ini yaitu tekanan darah lebih tinggi daripada biasanya dan terjadi terus-menerus bahkan setelah mencoba berbagai cara menurunkan darah tinggi. Namun, hiperaldosteronisme juga bisa menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit, terutama saat kadar kalium dalam darah menurun atau mengalami hipokalemia. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi otot, saraf, ginjal, dan jantung, sehingga memunculkan beberapa gejala sebagai berikut.
Otot menjadi lemah karena kadar kalium yang rendah bisa mengganggu fungsi otot.
Mudah lemas atau kekurangan energi.
Sering buang air kecil.
Sering merasa haus meski sudah cukup minum, akibat meningkatnya pengeluaran urine sehingga tubuh kehilangan lebih banyak cairan.
Sakit kepala berlebih, yang dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan gangguan keseimbangan elektrolit.
Jantung berdebar, karena turunnya kadar kalium bisa bisa mengganggu aktivitas listrik jantung.
Sering kram atau kesemutan.
Mual, terutama jika gangguan elektrolit sudah berat.
Sembelit, akibat dari kadar kalium rendah.
Kebingungan hingga perubahan mental, dapat terjadi pada gangguan elektrolit berat dan memerlukan penanganan segera.
Penyebab Peningkatan Kadar Aldosteron
Secara umum, penyebab gangguan ini akan berbeda tergantung dari bentuknya. Berikut penjelasannya.
1. Hiperaldosteronisme Primer
Jenis ini terjadi akibat dari produksi aldosteron yang berlebih oleh kelenjar adrenal. Beberapa kondisi yang bisa menimbulkan gangguan ini yaitu:
Aldosteronoma atau adanya tumor jinak di kelenjar adrenal sehingga merangsang produksi aldosteron secara berlebihan.
Hiperplasia adrenal bilateral, yaitu kondisi saat aktivitas kedua kelenjar adrenal meningkat sehingga memproduksi aldosteron secara berlebihan serta dapat terjadi tanpa adanya tumor atau benjolan pada kelenjar adrenal.
Hiperplasia adrenal unilateral, yaitu kondisi saat salah satu dari kelenjar adrenal mengalami peningkatan aktivitas sehingga mendorong produksi aldosteron secara berlebihan.
Perubahan genetik yang diturunkan oleh keluarga.
2. Hiperaldosteronisme Sekunder
Jenis ini terjadi saat ada kondisi lain yang memicu peningkatan produksi renin yang kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak aldosteron. Beberapa pemicunya yaitu:
Penyempitan arteri ginjal, sehingga aliran darah ke ginjal berkurang. Kondisi ini bisa membuat ginjal menganggap tubuh kekurangan aliran darah dan merangsang pelepasan renin.
Gagal jantung, karena berkurangnya aliran darah efektif ke organ bisa mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron dan meningkatkan produksi aldosteron.
Penyakit hati tertentu, seperti sirosis, yang bisa menyebabkan penumpukan cairan dan perubahan sirkulasi sehingga mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron.
Kehilangan cairan atau natrium dalam jumlah besar, karena dapat menurunkan volume darah dan memicu aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron.
Penggunaan obat diuretik, seperti furosemide atau hydrochlorothiazide, karena dapat meningkatkan pengeluaran natrium dan cairan melalui urine sehingga merangsang produksi renin.
Adapun risiko terkena hiperaldosteronisme akan semakin tinggi pada seseorang dengan pola makan tinggi natrium, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stres tinggi. Pasalnya, kondisi tersebut bisa berefek pada keseimbangan natrium serta cairan dalam tubuh, yang kemudian memperburuk kerja hormon aldosteron.
Diagnosis dan Pemeriksaan Elektrolit
Dalam mendiagnosis hiperaldosteronisme, biasanya akan dilakukan serangkaian pemeriksaan melalui cek darah dan urine. Namun, pemeriksaan umumnya akan diawali dengan menanyakan riwayat pasien secara terperinci, dengan fokus pada gejala, riwayat keluarga, dan kondisi medis yang ada, kemudian dilanjutkan dengan serangkaian pengecekan seperti berikut.
Pengecekan kadar aldosteron dan renin darah. Caranya yaitu dengan mengambil sampel darah untuk diukur kadar aldosteron dan reninnya, untuk kemudian membandingkan keduanya melalui aldosterone-renin ratio (ARR) sebagai bahan untuk diagnosis.
Cek elektrolit, meliputi pengecekan kadar kalium dan natrium dalam darah, yang mana jika nilai kadar kalium rendah dan kadar natrium tinggi maka berarti ada risiko hiperaldosteronisme.
CT scan kelenjar adrenal. Tujuannya adalah untuk melihat struktur kelenjar adrenal dan mencari kemungkinan penyebab hiperaldosteronisme.
Adrenal Venous Sampling (AVS) dengan mengambil sampel darah dari vena yang mengalirkan darah dari masing-masing kelenjar adrenal. Tujuannya adalah untuk melihat apakah produksi aldosteron berlebihan berasal dari satu atau kedua kelenjar adrenal, sehingga dokter bisa memberikan penanganan yang tepat.
Selain itu, beberapa pengecekan ini juga berguna untuk tahu risiko penyakit Addison yaitu kondisi saat kelenjar adrenal tidak bisa memproduksi cukup hormon kortisol dan aldosteron.
Pengobatan Hiperaldosteronisme
Pada dasarnya, pengobatan pada gangguan kesehatan ini sebaiknya disesuaikan dengan jenis dan penyebabnya. Beberapa penanganan yang biasanya dilakukan yakni sebagai berikut.
Operasi adrenalectomy, untuk mengangkat kelenjar adrenal yang memproduksi aldosteron secara berlebih, terutama jika gangguannya disebabkan oleh adanya tumor pada salah satu kelenjar adrenal.
Pemberian obat antagonis reseptor mineralokortikoid, seperti spironolakton atau eplerenon untuk mengontrol tekanan darah dan kadar kalium tubuh. Namun, metode ini biasanya dilakukan jika operasi tidak memungkinkan.
Pemberian obat tambahan, seperti amiloride atau triamterene. Biasanya diberikan jika pasien tidak bisa menggunakan spironolakton atau eplerenon.
Merubah gaya hidup, seperti membatasi konsumsi garam, menjaga berat badan tetap ideal, rutin olahraga, berhenti merokok, hingga membatasi alkohol, guna mengontrol tekanan darah.
Memantau kadar kalium dan fungsi ginjal secara rutin untuk memastikan keberhasilan proses pengobatan.
Kapan Perlu Cek ke Dokter?
Cek kesehatan terkait hiperaldosteronisme umumnya disarankan ketika tekanan darah terus menunjukkan angka tinggi dan sulit dikendalikan. Selain itu, pengecekan juga harus dilakukan jika mengalami beberapa hal seperti berikut.
Otot mulai melemah dan sering kram.
Mudah lelah.
Jantung sering berdebar.
Bengkak pada kaki atau perut.
Sering merasakan haus berlebihan dan buang air kecil.
Selain itu, jika memiliki riwayat penyakit jantung atau ginjal maupun keluarga dengan hiperaldosteronisme, sebaiknya langsung konsultasi ke dokter. Pasalnya, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko gangguan tekanan darah dan ketidakseimbangan elektrolit.
Kenali Hiperaldosteronisme, Cek Kondisi Elektrolit Sekarang!
Hiperaldosteronisme merupakan kondisi saat kelenjar adrenal memproduksi hormon aldosteron yang berlebihan sehingga menimbulkan tekanan darah tinggi dan gangguan elektrolit, terutama rendahnya kadar kalium dalam darah. Gangguan ini biasanya akan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, mudah lelah, sering haus, dan kelemahan otot.
Jika tidak ditangani, bisa berisiko menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal. Untuk itulah, jika Anda mendapati tekanan darah tinggi terus-menerus disertai gejala tersebut, sebaiknya langsung cek Na-K-Cl di Bumame.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi elektrolit dalam tubuh sehingga penanganan yang tepat dapat diberikan apabila hasilnya menunjukkan nilai tidak normal. Dengan mengacu pada hasil pemeriksaan ini, risiko komplikasi akibat hiperaldosteronisme juga dapat diminimalkan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Library of Medicine. (2025). Hyperaldosteronism.
Saint Johns Cancer Institute. Primary Hyperaldosteronism (Conn’s Syndrome).
Siloam Hospitals. (2025). Mengenal Sindrom Conn, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya.
Apollo Hospitals. (2025). Hiperaldosteronisme - Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan.
ESC. (2025). Primary hyperaldosteronism in hypertension.
Columbia. Guide to Primary Hyperaldosteronism (Conn's Syndrome).
Cleveland Clinic. (2022). Hyperaldosteronism.
Medicover Hospitals. Understanding Secondary Hyperaldosteronism: Causes, Symptoms & Treatment.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apakah hiperaldosteronisme sama dengan hipertensi?
Apakah hiperaldosteronisme bisa sembuh?
Apakah orang dengan hipertensi pasti mengalami hiperaldosteronisme?
Apa saja gejala hiperaldosteronisme?
Gejalanya dapat berupa tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan, kelemahan otot, mudah lelah, sering buang air kecil dan haus, sakit kepala, jantung berdebar, kram, atau kesemutan akibat gangguan elektrolit.
_(1).jpg&w=3840&q=75)