Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Akalasia adalah
Kembali ke Artikel & Berita

Penyakit Akalasia: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

SBAOthers

Pernah merasa kesulitan untuk menelan? Bisa jadi itu merupakan kondisi disfagia atau kesulitan dalam menelan makanan. Salah satu penyebabnya adalah akalasia, yaitu otot kerongkongan tidak bisa mendorong makanan masuk ke lambung sehingga makanan akan menumpuk di kerongkongan.

Apa itu Akalasia?

Normalnya, otot kerongkongan atau esofagus akan berkontraksi dan mendorong makanan masuk ke lambung. Otot sfingter bagian bawah atau Lower Esophageal Sphincter (LES) akan terbuka ketika makanan masuk lalu menutup untuk mencegah makanan dan asam lambung naik kembali ke atas.

Akalasia adalah kondisi langka ketika kerongkongan tidak mampu mendorong makanan dan minuman menuju lambung, sementara otot sfingter di ujung bawahnya tidak dapat terbuka dengan baik. Kondisi ini menyebabkan makanan dan minuman menumpuk di kerongkongan dan biasanya akan dimuntahkan.

Jika keadaan ini dibiarkan terus-menerus tanpa ada pengobatan medis, penderita akan mengalami penurunan berat badan yang ekstrem dan bahkan malnutrisi.

Jenis-Jenis Akalasia

Akalasia esofagus terbagi menjadi tiga tipe, yang dinilai berdasarkan dari hasil manometri.

  • Tipe I (akalasia klasik), saat kontraksi otot pada kerongkongan sangat minim dan makanan dapat turun hanya dengan bantuan gravitasi. 

  • Tipe II, terjadi tekanan yang meningkat di dalam kerongkongan secara berkala dan tidak adanya gerakan peristaltik atau gerakan mendorong makanan ke lambung.

  • Tipe III (akalasia spastik), terjadi kontraksi yang tidak normal pada bagian bawah kerongkongan yang berhubungan dengan lambung dan merupakan tipe akalasia paling berat. Kontraksi ini bisa mengakibatkan nyeri dada dan terbangun dalam tidur.

Gejala yang Biasa Muncul

Kebanyakan penderita akalasia ini tidak merasakan gejala apa pun selain kesusahan dalam menelan makanan. Namun, gejala lain juga bisa muncul karena kondisi yang tidak mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa gejala yang bisa muncul akibat akalasia menahun.

  • Disfagia, atau kesulitan dalam menelan makanan;

  • Makanan kembali ke mulut;

  • Nyeri dada yang bisa datang dan pergi;

  • Susah sendawa;

  • Pneumonia, atau paru-paru basah yang disebabkan oleh makanan yang masuk ke paru-paru akibat akalasia;

  • Heartburn, sensasi nyeri seperti terbakar di sekitar dada;

  • Cegukan terus-menerus;

  • Berat badan turun secara drastis;

  • Mengeluarkan banyak air liur;

  • Muntah-muntah;

  • Tersedak terus menerus.

Penyebab Akalasia

Tidak ada penyebab pasti dari terjadinya akalasia, namun para ahli menduga akibat hilangnya sel saraf di kerongkongan. Banyak juga teori yang menyebutkan bahwa kondisi ini merupakan akibat infeksi parah atau respons autoimun yang berlebihan. 

Respons autoimun ini akan membuatnya menyerang jaringan sel saraf yang ada di kerongkongan yang berguna untuk mengontrol otot dalam mendorong makanan masuk. Sel-sel saraf tersebut kemudian rusak secara perlahan, sehingga tidak lagi dapat menggerakkan makanan dan cairan dari kerongkongan menuju lambung.

Faktor Risiko Akalasia

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko akalasia antara lain:

  • Usia. Meskipun bisa menyerang siapa saja, akalasia ini lebih sering terjadi ke orang berusia 25 tahun hingga 60 tahun. 

  • Memiliki kondisi medis tertentu. Risiko ini lebih tinggi terjadi pada orang dengan gangguan alergi, insufisiensi adrenal, atau sindrom Allgrove, yaitu kondisi genetik langka.

Diagnosis dan Pemeriksaan Akalasia 

Akalasia sering tidak terdeteksi atau salah diagnosis karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan lainnya. Berikut adalah beberapa tindakan untuk membantu dalam proses diagnosis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

1. Manometri

Manometri adalah prosedur medis memasukkan selang kecil dari mulut atau hidung menuju kerongkongan atau esofagus. Pemeriksaan ini mengukur kontraksi otot kerongkongan saat menelan serta menilai seberapa baik otot sfingter bawah terbuka saat menelan.

2. Rontgen untuk Barium Swallow

Rontgen ini dilakukan setelah pasien meminum cairan putih yang mengandung barium. Cairan putih ini akan terlihat sangat jelas dalam hasil rontgen dan prosedur ini akan melihat berapa lama cairan tersebut bergerak menuju lambung.

3. Endoskopi

Pemeriksaan ini menggunakan kamera kecil di ujung selang yang lentur untuk melihat langsung kondisi saluran pencernaan bagian atas. Endoskopi juga berguna untuk menemukan sumbatan sebagian pada kerongkongan.

4. Functional Luminal Imaging Probe (FLIP)

Teknik baru ini dapat membantu memastikan diagnosis akalasia ketika hasil pemeriksaan lainnya belum cukup. Prosedur ini akan mengukur tekanan, dimensi, dan tingkat kelenturan dari dinding saluran organ pencernaan terutama kerongkongan.

5. Medical Check-Up

Medical check-up rutin dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini, termasuk kondisi yang dapat memengaruhi saluran pencernaan dan memperparah gejala akalasia. Pemeriksaan berkala juga membantu dokter memantau kondisi tubuh secara menyeluruh sehingga penanganan dapat diberikan lebih tepat. 

Bumame menyediakan Paket MCU Plus untuk mengecek darah, gula darah, asam urat, fungsi hati, fungsi ginjal, dan urine. Hanya dengan Rp950.000, Anda bisa mendapatkan pemeriksaan lengkap untuk memantau kesehatan tubuh secara menyeluruh dan mencegah risiko penyakit serius sejak dini.

Pengobatan dan Penanganan Akalasia

Penanganan akalasia ini berfokus untuk merilekskan otot sfingter bawah agar dapat terbuka sehingga makanan dan minuman bisa masuk ke dalam lambung. Berikut adalah beberapa tindakan medis, baik dengan operasi atau tanpa operasi, untuk penanganan akalasia.

1. Tanpa Operasi

Beberapa proses penanganan tanpa operasi antara lain:

  • Dilatasi Balon. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan balon ke kerongkongan menggunakan selang panjang. Kemudian, balon tersebut dikembangkan untuk membantu meregangkan otot sfingter bawah.

  • Obat-obatan. Obat seperti nitrat atau nifedipin dapat membantu melemaskan otot kerongkongan. Hal ini membuat proses menelan menjadi lebih mudah dan tidak terlalu nyeri.

  • Suntik Botox. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan botox langsung ke otot sfingter esofagus bagian bawah ketika proses endoskopi. Efeknya biasanya bertahan selama beberapa bulan atau tahun tetapi prosedur ini tetap harus diulang secara rutin untuk mencegah akalasia kambuh.

2. Operasi

Jika prosedur tanpa operasi tidak mendapatkan hasil yang sesuai, berikut adalah beberapa prosedur operasi untuk menghindari masalah yang lebih serius.  

  • Miotomi Heller. Prosedur ini akan mengubah otot di kerongkongan dan lambung agar makanan bisa lebih mudah lewat dan gejala akalasia dapat teratasi.

  • Peroral Endoscopic Myotomy (POEM). Prosedur ini juga dilakukan bersamaan dengan endoskopi. Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan endoskop ke dalam kerongkongan melalui mulut lalu mengubah otot sfingter bagian bawah.

  • Esofagektomi. Prosedur ini dilakukan untuk pasien dengan gejala akalasia berat seperti pelebaran kerongkongan sehingga harus dipertimbangkan untuk diangkat. Prosedur ini akan mengangkat sebagian atau seluruh bagian kerongkongan dan menggantinya sehingga proses menelan bisa kembali normal.

Cara Pencegahan Akalasia

Meskipun telah melakukan beberapa tindakan medis, masih ada kemungkinan gejala akalasia akan kembali. Berikut adalah beberapa hal untuk menurunkan risiko kambuhnya akalasia.

  • Memotong makanan menjadi kecil-kecil dan kunyah perlahan sampai hancur;

  • Minum air yang cukup sesuai kebutuhan;

  • Selalu makan dalam keadaan duduk untuk melancarkan proses pencernaan makanan;

  • Jangan tidur kurang lebih 4 jam setelah makan untuk memberikan waktu makanan diproses dalam lambung;

  • Susun bantal agak tinggi untuk membantu menggerakan makanan masuk ke lambung.

Selain beberapa cara pencegahan di atas, makanan juga memiliki peran penting dalam mencegah akalasia. Berikut adalah beberapa tips memilih makanan untuk mencegah terjadinya akalasia.

  • Selalu kupas buah-buahan seperti apel, anggur, dan tomat;

  • Masak sayuran sampai matang;

  • Hindari sayuran mentah tanpa proses masak;

  • Hindari makanan pedas karena bisa menimbulkan iritasi;

  • Jangan minum minuman beralkohol;

  • Makan makanan dengan suhu normal, jangan terlalu dingin ataupun terlalu panas;

  • Makan makanan dengan tekstur yang halus seperti bubur;

  • Hindari makan ikan yang memiliki tulang kecil yang bisa tertelan;

  • Hindari mengonsumsi tulang rawan, lemak, dan daging berserat yang susah untuk ditelan agar tidak terjadi akalasia;

  • Hindari mengonsumsi kafein berlebihan seperti kopi, teh, dan minuman berenergi karena dapat meningkatkan iritasi.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Akalasia yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat bisa berakibat fatal. Berikut adalah beberapa tanda Anda harus segera berkonsultasi ke dokter agar gejala bisa mendapatkan penanganan secepat mungkin. 

  • Kesusahan menelan dalam jangka waktu berhari-hari dan terasa sakit ketika menelan;

  • Regurgitasi atau kembalinya makanan ke mulut yang terjadi setiap waktu makan;

  • Batuk dan merasa tercekik setiap malam akibat adanya makanan yang tersisa di kerongkongan sehingga kualitas tidur menurun;

  • Merasa demam;

  • Nyeri dada atau kesulitan dalam bernapas.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Source

  1. Cleveland Clinic. (2025). Achalasia (Cardiospasm)

  2. National Health Service. (2023). Achalasia.

  3. Hopkins Medicine. (2026). Achalasia

  4. Mayo Clinic. (2026). Achalasia

  5. University of Michigan Health. (2024). Achalasia

  6. Achalasia Action. (2026). Living With Achalasia

  7. Mass General Brigham. (2026). Achalasia

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu akalasia?
Akalasia adalah kondisi langka ketika kerongkongan tidak mampu mendorong makanan dan minuman menuju lambung, sementara otot sfingter bagian bawah tidak dapat terbuka dengan baik.
Apa saja gejala akalasia?
Gejala akalasia meliputi kesulitan menelan, makanan kembali ke mulut, nyeri dada, sulit bersendawa, heartburn, cegukan terus-menerus, penurunan berat badan drastis, muntah, dan tersedak berulang.
Apa penyebab akalasia?
Penyebab pasti akalasia belum diketahui. Para ahli menduga kondisi ini berkaitan dengan kerusakan atau hilangnya sel saraf di kerongkongan yang mengatur gerakan otot untuk mendorong makanan menuju lambung.
Bagaimana cara mendiagnosis akalasia?
Diagnosis akalasia dapat dilakukan melalui manometri, rontgen barium swallow, endoskopi, dan Functional Luminal Imaging Probe (FLIP) untuk menilai fungsi serta kondisi kerongkongan.
Bagaimana cara menangani akalasia?
Penanganan akalasia bertujuan membantu otot sfingter bawah terbuka agar makanan dapat masuk ke lambung. Pilihannya meliputi obat-obatan, dilatasi balon, suntik Botox, miotomi Heller, dan POEM sesuai kondisi pasien.