Apakah Anda merasa ada benjolan yang muncul di selangkangan atau sekitar pusar saat mengangkat barang, batuk, atau mengejan? Jika ya, penyakit hernia adalah salah satu kemungkinan kondisi yang tidak boleh Anda sepelekan. Hernia bisa muncul pada beberapa bagian tubuh di mana pada awalnya tidak selalu menimbulkan rasa sakit.
Apa Itu Penyakit Hernia (Turun Berok)?
Secara medis, penyakit hernia adalah kondisi saat bagian organ maupun jaringan tubuh terdorong keluar lewat celah maupun area lemah di jaringan yang seharusnya menahannya. Pada hernia dinding perut, jaringan yang berasal dari rongga perut bisa menonjol lewat titik lemah di dinding perut sehingga akan terlihat seperti benjolan di bawah kulit.
Di Indonesia, penyakit hernia kerap dinamakan “turun berok”, khususnya saat benjolan muncul di selangkangan sampai skrotum pada pria. Benjolan juga bisa terlihat secara lebih jelas ketika batuk, mengangkat benda yang berat, berdiri, atau mengejan. Akan tetapi, aktivitas tersebut umumnya membuat benjolan lebih terlihat, bukan sekadar menjadi penyebab terbentuknya penyakit hernia.
Hernia bisa terjadi sejak lahir karena kelemahan struktur tertentu yang masih belum menutup secara sempurna. Pada orang dewasa, kondisi tersebut bisa berkembang karena melemahnya jaringan seiring dengan peningkatan tekanan di dalam perut, pertambahan usia, maupun adanya kelemahan di dinding perut.
Jenis-jenis Hernia
Jenis hernia dapat Anda bedakan berdasarkan kondisi lokasi munculnya benjolan. Berikut ini penjelasannya.
1. Hernia Inguinalis
Hernia inguinalis merupakan hernia yang muncul di area atas selangkangan maupun lipatan antara paha dan perut. Jenis ini menjadi salah satu penyakit hernia yang paling banyak ditemukan dan dialami oleh pria. Untuk kondisi tertentu, tonjolan bisa turun hingga ke skrotum.
Melansir Mayo Clinic, hernia inguinalis bisa dibedakan menjadi indirect inguinal hernia dan direct inguinal hernia. Hernia indirect mengikuti jalur kanal inguinal lewat cincin inguinal bagian dalam. Sementara hernia direct menonjol lewat bagian lemah dinding belakang kanal inguinal.
2. Hernia Umbilikalis
Hernia umbilikalis merupakan tonjolan yang muncul di area sekitar pusar. Pada bayi, kondisi tersebut bisa terlihat saat bayi mengejan atau menangis dan sering kali tidak menyebabkan keluhan.
Pada orang dewasa, tekanan dalam rongga perut, kehamilan berulang, kelebihan berat badan atau obesitas, serta kondisi tertentu yang bisa meningkatkan tekanan perut juga bisa berperan dalam kemunculan hernia umbilikalis.
3. Hernia Femoralis
Hernia femoralis terdapat di bagian atas paha, tepat di bawah lipatan selangkangan. Jenis hernia ini lebih sering ditemukan pada perempuan dan harus mendapatkan perhatian karena mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami strangulasi atau kondisi saat aliran darah ke jaringan yang terjepit terganggu.
4. Hernia Insisional
Hernia insisional terdapat di area bekas sayatan operasi di dinding perut. Tonjolan bisa muncul beberapa waktu pascaoperasi, bahkan bertahun-tahun kemudian. Hal ini karena jaringan di bekas sayatan bisa menjadi titik yang lebih rentan.
5. Hernia Epigastrik
Hernia epigastrik muncul pada bagian tengah perut, umumnya antara tulang dada bagian bawah dan pusar. Jenis ini terjadi saat jaringan menonjol lewat celah lemah di dinding perut.
Selain kelima jenis tersebut, terdapat pula hernia hiatal, yaitu kondisi saat bagian atas lambung menonjol lewat celah di diafragma menuju rongga dada. Jenis ini tidak sama dengan hernia dinding perut dan bisa berhubungan dengan keluhan seperti refluks asam lambung (GERD) atau nyeri ulu hati.
Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Hernia
Penyakit hernia adalah penyakit yang tidak selalu mempunyai satu penyebab jelas. Biasanya, kondisi ini muncul karena kombinasi antara adanya bagian jaringan yang lemah dan tekanan dari dalam tubuh.
1. Kelemahan Dinding Perut
Dinding perut yang mempunyai area lemah bisa menjadi tempat keluarnya jaringan maupun organ dari dalam tubuh. Kelemahan tersebut bisa sudah ada sejak lahir atau berkembang karena proses penuaan, cedera, atau operasi sebelumnya.
2. Usia dan Riwayat Keluarga
Risiko hernia tertentu, terutama hernia inguinalis, bisa meningkat seiring dengan bertambahnya usia karena otot dan jaringan mengalami perubahan. Selain itu, riwayat keluarga juga bisa berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk terkena hernia.
3. Operasi pada Bagian Perut
Bekas operasi bisa menjadi area yang cenderung lebih rentan pada dinding perut. Maka dari itu, seseorang yang pernah menjalani operasi perut mempunyai kemungkinan mengalami hernia insisional di area bekas sayatan.
4. Kehamilan dan Kondisi Tertentu
Kehamilan dapat meningkatkan tekanan dalam perut dan menyebabkan peregangan di dinding perut. Selain itu, kondisi berupa sembelit berkepanjangan atau batuk kronis bisa meningkatkan tekanan berulang yang kemudian berkontribusi terhadap munculnya hernia.
Gejala Hernia
Setiap orang yang mengidap hernia mungkin merasakan gejala yang berbeda. Bahkan, sebagian penyakit hernia tidak menimbulkan keluhan yang berarti dan ternyata baru diketahui saat melakukan pemeriksaan.
1. Benjolan Membesar Ketika Mengejan atau Batuk
Tanda yang paling mudah Anda kenali dari gejala penyakit hernia adalah munculnya benjolan pada lokasi tertentu, seperti sekitar pusar, selangkangan, atau bekas operasi. Biasanya, benjolan lebih terlihat saat batuk, berdiri, mengejan, maupun mengangkat tangan.
2. Nyeri atau Rasa Tidak Nyaman
Hernia bisa mengakibatkan rasa perih, nyeri, sensasi terbakar, atau tekanan di area benjolan. Keluhan bisa semakin terasa saat penderita batuk, beraktivitas, membungkuk, atau mengangkat benda berat.
3. Benjolan Sulit Didorong Kembali
Pada beberapa kasus, benjolan pada jaringan masih bisa kembali ke rongga perut. Akan tetapi, ketika benjolan menjadi nyeri, keras, serta tidak bisa didorong kembali, kondisi ini menunjukkan hernia yang terjepit atau incarcerated hernia.
4. Mual, Muntah, atau Nyeri Semakin Berat
Mual dan muntah yang disertai dengan benjolan berubah warna keunguan atau merah, nyeri hebat, dan kesulitan buang gas atau air bisa menjadi tanda Anda mengalami strangulated hernia. Pada kondisi ini, jaringan yang terjepit mengalami gangguan aliran darah, sehingga harus segera memperoleh pertolongan medis.
Diagnosis Penyakit Hernia
Diagnosis penyakit hernia tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat benjolan. Dokter akan mempertimbangkan bentuk benjolan, lokasi, keluhan yang menyertai, dan perubahan benjolan saat pasien duduk, berdiri, atau mengejan.
1. Pemeriksaan Fisik
Biasanya, pemeriksaan fisik merupakan langkah pertama. Dokter bisa memeriksa area yang dianggap mengalami hernia ketika pasien berdiri maupun meminta pasien untuk melakukan Valsava maneuver atau mengejan dengan meningkatkan tekanan di dalam perut agar bisa mengetahui apakah benjolan muncul atau lebih jelas.
2. USG
USG (ultrasonografi) bisa digunakan saat diagnosis belum jelas dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menemukan hernia yang tidak bisa terlihat secara jelas, khususnya pada kondisi tertentu, maupun saat dokter harus membedakannya dari penyebab benjolan lainnya.
3. MRI atau CT Scan
Untuk kasus tertentu, dokter bisa mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan pencitraan lanjutan seperti CT scan (computed tomography) atau MRI (magnetic resonance imaging). MRI, misalnya, bisa membantu dokter ketika keragu-raguan terhadap hernia masih tetap tinggi meskipun hasil dari USG belum menunjukkan adanya kelainan secara jelas.
Deteksi Kelainan Tubuh Sejak Dini dengan MCU Rutin
Menjaga kesehatan bukan sekadar hal yang Anda lakukan saat tubuh sudah merasakan ketidaknyamanan. Anda perlu melakukan pemeriksaan secara berkala karena bisa membantu memberi gambaran tentang kondisi tubuh dan menemukan sejumlah masalah kesehatan sebelum berkembang lebih jauh.
Salah satu pilihan pemeriksaan yang bisa Anda pertimbangkan adalah Medical Check Up Basic dari Bumame. Paket ini menawarkan pemeriksaan hematologi lengkap, fungsi ginjal, fungsi hati, glukosa puasa, profil kolesterol, asam urat, dan urin lengkap, sehingga membantu memantau beragam indikasi kesehatan umum secara teratur.
Namun, perlu Anda ingat bahwa MCU bukan pemeriksaan khusus untuk melakukan diagnosis penyakit hernia. Jika terdapat benjolan di pusar, selangkangan, maupun area bekas operasi, pemeriksaan dokter, USG maupun pencitraan lain tetap menjadi langkah yang disarankan untuk mengetahui penyebabnya.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebaiknya Anda memeriksakan diri ketika menemukan benjolan baru di sekitar pusar, selangkangan, maupun bagian tubuh lain yang dicurigai sebagai hernia, khususnya ketika benjolan sudah semakin besar atau mengakibatkan rasa tidak nyaman dan bahkan ketika benjolan tidak bisa kembali seperti semula.
Jangan menunda mendapatkan pertolongan medis ketika terasa nyeri hebat yang semakin memburuk, demam, mual dan muntah, tidak bisa buang gas atau buang air besar, atau benjolan berubah warna menjadi ungu, gelap, atau merah.
Kenali Hernia, Dengarkan Sinyal Tubuh Sejak Awal
Penyakit hernia adalah kondisi saat jaringan atau organ terlihat menonjol lewat bagian tubuh yang melemah, dan jenisnya bisa dibedakan sesuai dengan lokasi, seperti insisional, inguinalis, femoralis, dan umbilikalis. Benjolan yang muncul dan bahkan membesar ketika mengejan dan batuk adalah tanda yang harus Anda perhatikan, tetapi diagnosis juga memerlukan pemeriksaan medis.
Dengan mengetahui perubahan tubuh lebih awal serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, Anda bisa mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan tanpa perlu menunggu keluhan semakin parah dan mengganggu.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
MSD Manual Professional Edition. (2024). Hernias of the Abdominal Wall.
Mayo Clinic. (2025). Inguinal Hernia – Symptoms & Causes.
Ruhl, C. E., & Everhart, J. E. (2007). Risk Factors for Inguinal Hernia Among Adults in the US Population. American Journal of Epidemiology, 165(10), 1154–1161.
Shakil, A., Aparicio, K., Barta, E., & Munez, K. (2020). Inguinal Hernias: Diagnosis and Management. American Family Physician, 102(8), 487–492.
Mayo Clinic. (2025). Umbilical Hernia – Symptoms & Causes.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apa itu penyakit hernia?
Apa saja jenis penyakit hernia?
Jenis hernia dibedakan berdasarkan lokasi munculnya benjolan, seperti hernia inguinalis di area selangkangan, umbilikalis di sekitar pusar, femoralis di atas paha, insisional di bekas operasi, dan epigastrik di bagian tengah perut. Ada juga hernia hiatal yang terjadi ketika bagian atas lambung menonjol melalui diafragma.
Apa penyebab dan faktor risiko penyakit hernia?
Hernia dapat terjadi karena kelemahan dinding perut yang sudah ada sejak lahir atau berkembang seiring usia, cedera, maupun operasi. Faktor lain yang dapat berperan meliputi riwayat keluarga, kehamilan, sembelit berkepanjangan, dan batuk kronis yang meningkatkan tekanan di dalam perut.
.jpg&w=3840&q=75)