Tubuh cepat lelah, napas mudah terengah-engah, atau jantung berdebar tanpa sebab yang pasti sering dianggap sebagai tanda tubuh sedang tidak fit. Tapi, jika keluhan-keluhan itu terus muncul, penyebabnya bisa jadi lebih serius, salah satunya jantung bocor yang menyebabkan aliran darah dalam jantung terganggu.
Apa Itu Jantung Bocor?
Jika mendengar istilah jantung bocor, mungkin Anda akan langsung panik dan memikirkan hal-hal terburuk. Wajar memang, karena jantung adalah organ penting, yang kalau disandingkan dengan kata “bocor”, terkesan sangat mengkhawatirkan.
Seperti yang telah kita semua pelajari di sekolah, jantung kita memiliki empat ruangan. Di setiap ruang dibatasi sekat atau katup. Nah, kebocoran yang dimaksud terjadi pada katup atau sekat tersebut. Istilah ini mencakup dua kondisi berbeda dari segi penyebab dan mekanismenya. Berikut ini penjelasannya.
1. Defek Septum Jantung
Defek septum adalah kondisi kongenital (bawaan lahir) sejak dalam kandungan yang memengaruhi sekat (septum) pemisah bilik jantung. Dalam kondisi ini, terdapat lubang abnormal di sekat tersebut. Akibatnya, darah yang kaya oksigen dari sisi kiri jantung bisa bercampur dengan darah di sisi kanan.
Terdapat dua jenis defek septum yang biasa terjadi, yaitu:
Atrial Septal Defect (ASD): Lubang pada dinding yang memisahkan dua serambi jantung (atrium kanan dan kiri).
Ventricular Septal Defect (VSD): Lubang pada dinding yang memisahkan dua bilik (ventrikel kanan dan kiri). Kelainan jantung yang paling umum terjadi pada anak-anak.
Kebocoran ini akan membuat darah bertekanan tinggi mengalir atau “bocor” ke tekanan rendah. Kalau lubangnya besar dan sudah lama terjadi, kondisi ini bisa jadi memicu hipertensi pulmonal (tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru-paru) yang berujung pada gagal jantung.
2. Regurgitasi Katup Jantung
Istilah kebocoran juga cocok menggambarkan kondisi katup jantung, yang bertugas memastikan darah mengalir dalam satu arah, tidak menutup rapat. Pada regurgitasi katup, salah satu atau lebih katup tidak menutup dengan sempurna, sehingga sebagian darah “bocor” mengalir kembali ke ruang jantung sebelumnya.
Terdapat dua jenis regurgitasi katup jantung, yaitu regurgitasi katup mitral (antara serambi kiri dan bilik kiri) dan regurgitasi katup aorta (antara bilik kiri dan pembuluh aorta). Baik defek septum atau regurgitasi katup, keduanya membuat jantung tidak efektif. Sehingga, jantung akan bekerja ekstra hanya untuk menjaga sirkulasi darah tetap teratur.
Penyebab Jantung Bocor
Untuk penyebabnya, jantung bocor bisa saja terjadi sejak dalam kandungan. Namun, bisa juga muncul karena kondisi-kondisi tertentu. Kita bahas satu per satu.
1. Kelainan Bawaan (Kongenital)
Kondisi ini terjadi karena ada gangguan saat pembentukan struktur jantung di kandungan, tepatnya di 6 minggu pertama kehamilan. Beberapa faktor yang bisa berkontribusi adalah sebagai berikut.
Genetik: Dalam jurnal penelitian National Center for Biotechnology Information, sekitar 15–40% kasus adalah bawaan genetik, termasuk kelainan kromosom atau mutasi pada gen tunggal. Misalnya, sindrom Down yang disertai VSD atau defek septum.
Infeksi Rubella: Ibu hamil yang terinfeksi virus rubella (campak Jerman) terbukti kuat bisa menyebabkan risiko kelainan jantung bawaan, termasuk septum, pada janin. Terutama pada trimester pertama kehamilan.
Diabetes: Diabetes melitus yang diidap ibu sebelum hamil (bukan diabetes gestasional yang muncul saat hamil) bisa meningkatkan risiko kelainan jantung pada janin sampai 3–5 kali lipat.
Paparan Zat Teratogen: Faktor penyebab ini mengacu pada penggunaan obat-obatan tertentu selama kehamilan. Contohnya, isotretinoin (obat jerawat) atau lithium (obat gangguan bipolar), bahkan termasuk alkohol dan rokok.
Faktor lingkungan lain seperti obesitas pada ibu hamil, hipertensi kronis, hingga paparan pelarut organik atau herbisida juga sering kali meningkatkan risiko pada perkembangan janin.
2. Kondisi yang Dapat Menjadi Penyebab
Berbeda dengan penyebab kongenital, jantung bocor juga bisa berkembang di kemudian hari, bukan sejak lahir. Berikut ini beberapa kondisinya.
Penyakit Jantung Rematik: Komplikasi dari infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptococcus yang pengobatannya tidak pernah tuntas bisa menjadi penyebab utama penyakit katup jantung, terutama stenosis (penyempitan katup) dan regurgitasi mitral.
Endokarditis Infektif: Infeksi di lapisan dalam jantung (endokardium) dan katup jantung juga termasuk penyebab gangguan kebocoran jantung. Biasanya terjadi pada pengguna obat suntik atau pasien yang memiliki katup jantung prostetik.
Degenerasi Katup: Seiring bertambahnya usia, katup jantung bisa mengalami degenerasi, pengapuran, hingga perubahan struktural lain (penyakit Barlow).
Hipertensi Kronis: Tekanan darah tinggi yang terjadi secara terus-menerus bisa membuat ruang jantung dan cincin katup melebar. Akibatnya, katup tidak bisa menutup dengan rapat lagi.
Penyakit Jantung Koroner atau Infark Miokard (Serangan Jantung): Jantung koroner maupun serangan jantung dapat merusak otot papiler atau dinding ventrikel yang menopang katup. Akibatnya, muncul regurgitasi mitral secara tiba-tiba.
Kardiomiopati: Sederhananya, kardiomiopati adalah kondisi melemahnya otot jantung. Misalnya saat ruang jantung melebar dan katup jadi tidak sesuai.
Gejala Jantung Bocor
Gejala penyakit jantung ini sangat beragam, mengingat ada banyak pula faktor penyebabnya. Mulai dari jenis kelainan, seberapa besar kebocorannya, hingga usia pasien. Bahkan, banyak kasus ringan yang sama sekali tidak bergejala. Namun, berikut ini gejala yang patut Anda kenali.
1. Sesak Napas (Dispnea)
Pada beberapa kasus kebocoran jantung, cairan bisa menumpuk di paru-paru (kongesti pulmonal) karena aliran darah yang berlebihan dalam sirkulasi paru. Akibatnya, pertukaran oksigen jadi terganggu. Sesaknya juga ada beberapa tingkatan, yaitu:
Pada bayi: sesak napas ketika menyusu, napas cepat (takipnea), dan kesulitan menghabiskan susu;
Anak dan dewasa: sesak napas saat naik tangga atau berlari; dan
Kasus berat: sesak napas muncul saat istirahat atau berbaring (ortopnea).
2. Mudah Lelah
Karena ada kebocoran, jantung harus memompa darah lebih keras. Namun, kiriman oksigen ke otot dan jaringan tubuh lain masih tidak efektif, sehingga penderita lebih mudah lelah.
3. Jantung Berdebar (Palpitasi)
Sebenarnya, sensasi jantung berdebar dalam kasus ini adalah gangguan irama jantung (aritmia). Terkadang juga bisa jadi fibrilasi atrium atau ekstrasistol (denyut jantung tambahan di luar irama normal).
4. Pembengkakan (Edema)
Jika jantung bagian kanan mengalami kegagalan fungsi, cairan bisa menumpuk di berbagai jaringan tubuh. Misalnya bengkak di kaki, pergelangan kaki, atau area mata. Pada bayi, tanda yang paling terlihat adalah pembesaran hati (hepatomegali).
5. Sianosis (Kebiruan)
Sianosis sudah termasuk tanda yang lebih serius. Kebiruan muncul bila ada komplikasi dari defek septum besar yang telah lama dan sudah berkembang menjadi sindrom Eisenmenger. Tandanya terlihat dari munculnya kebiruan di bibir, lidah, atau kuku jari.
6. Bising Jantung
Seperti namanya, bising jantung mengacu pada suara tambahan yang terdengar lewat stetoskop. Pada banyak kasus ringan, kebisingan di jantung ini sudah cukup untuk menjadi tanda kebocoran jantung.
Faktor Risiko Jantung Bocor
Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kebocoran jantung memang sulit dihindari. Sebab, kondisi ini sangat bergantung pada faktor-faktor sekitar seperti genetik, usia, dan riwayat penyakit.
Selain penyebab yang telah dibahas di atas, masih ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu:
Obesitas maternal;
Usia ibu di atas 40 tahun saat hamil; dan
Penyakit jaringan ikat, seperti sindrom Marfan atau Ehlers-Danlos.
Diagnosis Jantung Bocor
Selain melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang lebih tepat sasaran dengan memanfaatkan alat-alat medis. Berikut ini penjelasannya.
1. Ekokardiografi (USG Jantung)
Ekokardiografi adalah metode pemeriksaan utama yang paling penting dalam mendiagnosis jantung bocor. Alat ekokardiograf menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar gerak jantung secara real-time.
Dokter akan mengetahui banyak hal, mulai dari ASD/VSD beserta ukurannya, fungsi katup jantung, kecepatan darah, ukuran ruang jantung, fungsi pompa jantung, sampai perkiraan tekanan pulmonalis. Ada dua jenis ekokardiografi, yaitu transtorasik (TTE) lewat dinding dada dan transesofageal (TEE) yang melalui kerongkongan.
2. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan medis dengan metode elektrokardiogram (EKG) akan merekam aktivitas listrik jantung. Hasil EKG bisa saja normal pada kasus defek yang ukurannya kecil.
3. Rontgen Dada
Pemeriksaan rontgen dada bertujuan untuk menilai ukuran dan bentuk jantung, serta kondisi paru-paru. Sama seperti EKG, hasil rontgen bisa saja terlihat normal pada kasus ringan.
4. Cardiac MRI atau CT Scan
Pemeriksaan in dapat memberi gambaran anatomi jantung secara tiga dimensi (3D) dan detail. Biasanya, MRI atau CT scan berguna sebagai tambahan perspektif pada kelainan yang kompleks atau defek yang berada di lokasi yang sulit terlihat.
Pemeriksaan Kesehatan Metabolisme untuk Menjaga Jantung
Untuk memastikan penyebab gejala yang Anda rasakan, seperti sesak napas atau jantung berdebar, paket MCU Metabolisme Tubuh dari Bumame dapat Anda pilih.
Pemeriksaan ini mencakup sejumlah parameter kesehatan yang berkaitan dengan metabolisme tubuh, seperti pemantauan gula darah dan kolesterol serta tes fungsi hati dan ginjal. Sehingga, Anda bisa memantau kesehatan secara berkala dan lebih praktis.
Hasil pemeriksaan bisa menjadi informasi pendukung bagi dokter untuk mengevaluasi kelainan jantung, menemukan kemungkinan faktor yang berkaitan dengan hipertensi dan jantung koroner, serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Kapan Harus ke Dokter?
Pengetahuan mengenai gejala jantung bocor sangatlah penting untuk menentukan kapan Anda harus meminta pertolongan medis. Baik dewasa maupun bayi, tanda-tanda yang muncul akan mengganggu kegiatan sehari-hari.
Sebagai orang tua, Anda seharusnya mulai peka saat si kecil terlihat lebih kecil daripada teman sebayanya. Apalagi, ketika anak mulai sesak napas saat menyusu, kebiruan, hingga muncul bengkak. Kemudian, ketika dokter mendeteksi bising jantung, sebaiknya segera lakukan evaluasi lebih lanjut.
Sementara pada orang dewasa, segeralah pergi ke dokter ketika muncul sensasi palpitasi, sesak napas hingga pingsan, nyeri dada, atau muncul edema. Bagi perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan dan punya riwayat kelainan jantung, sebaiknya lakukan skrining kesehatan terlebih dahulu.
Siap Menjalani Skrining Jantung Bocor Sejak Dini?
Kelainan jantung ini memang bisa dipicu oleh faktor genetik bawaan, seperti ASD dan VSD, namun bisa juga akibat pola hidup yang kurang sehat dan usia. Gejalanya yang bervariasi juga menuntut Anda untuk lebih peka terhadap kebugaran diri. Semakin cepat melakukan pemeriksaan ketika gejala muncul, semakin besar pula kesempatan untuk pulih.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Meng, X., dkk. (2024). Congenital Heart Disease: Types, Pathophysiology, Diagnosis, and Treatment Options.
Vahanian, A., dkk. (2021). 2021 ESC/EACTS Guidelines for the Management of Valvular Heart Disease.
Mayo Clinic. (2024). Congenital Heart Defects in Children — Symptoms and Causes.
Alahmadi, M. H., & Oliver, T. I. (2024). Ventricular Septal Defect.
Gomersall, J. C., dkk. (2024). Maternal Modifiable Factors and Risk of Congenital Heart Defects: Systematic Review and Causality Assessment.
Otto, C. M., dkk. (2020). 2020 ACC/AHA Guideline for the Management of Patients With Valvular Heart Disease.
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
_(2).jpg&w=3840&q=75)