Mengalami mudah memar atau muncul bintik-bintik merah kecil pada kulit tanpa sebab yang jelas? Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda penyakit ITP yang berkaitan dengan rendahnya jumlah trombosit dalam darah.
Secara medis, ITP adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menghancurkan trombosit. Memahami gejala serta penyebabnya pun dapat membantu Anda mengenali dan mengatasi kondisi ini lebih dini!
Apa Itu Penyakit ITP?
Immune thrombocytopenia atau penyakit ITP adalah gangguan autoimun yang menyebabkan jumlah trombosit dalam darah menurun, dulu disebut sebagai Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Trombosit sendiri berperan penting dalam membantu menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan darah untuk menutup luka.
Jika jumlahnya terlalu rendah, tubuh bisa lebih mudah memar atau mengalami perdarahan. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh justru menyerang dan menghancurkan trombosit yang sehat.
Proses tersebut umumnya terjadi di limpa, sementara produksi trombosit juga dapat terganggu sehingga jumlahnya semakin berkurang. Meskipun penyebab pasti ITP belum diketahui sepenuhnya, kondisi ini tetap berpotensi terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.
Gejala Penyakit ITP yang Perlu Dikenali
Gejala ITP tidak sama pada setiap penderita, tergantung pada jumlah trombosit serta tingkat keparahan kondisi orang tersebut. Sebagian orang hanya mengalami gejala ringan, sedangkan yang lain dapat mengalami perdarahan yang lebih serius. Berikut beberapa gejala yang perlu Anda kenali.
Bintik merah pada kulit (petechiae): Bintik-bintik merah atau keunguan berukuran kecil yang biasanya muncul pada kulit, termasuk lengan dan kaki.
Mudah memar (purpura): Muncul bercak atau memar pada kulit tanpa sebab yang jelas atau setelah benturan ringan.
Mimisan dan gusi berdarah: Perdarahan dari hidung yang berulang atau gusi yang mudah berdarah, misalnya saat menyikat gigi.
Perdarahan sulit berhenti: Luka kecil membutuhkan waktu lebih lama untuk berhenti mengeluarkan darah.
Menstruasi lebih banyak: Perdarahan menstruasi menjadi lebih banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
Darah dalam urine atau tinja: Urine dapat tampak kemerahan, sedangkan tinja bisa terlihat berdarah atau berwarna hitam.
Mudah lelah dan lemas: Tubuh terasa kurang bertenaga, terutama jika terjadi perdarahan yang menyebabkan anemia.
Sakit kepala: Keluhan ini dapat muncul karena berbagai faktor. Namun, sakit kepala berat yang mendadak, gangguan penglihatan, atau penurunan kesadaran perlu diwaspadai karena bisa menandakan kondisi serius.
Jika mengalami perdarahan yang tidak mudah dihentikan, muntah darah, tinja berwarna hitam, sampai sakit kepala hebat secara mendadak, segera cari pertolongan medis.
Penyebab dan Faktor Risikonya
Penyebab penyakit ITP memang belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan autoimun. Ada beberapa faktor yang juga dapat memicu atau berkaitan dengan munculnya ITP, yaitu.
Infeksi virus atau bakteri: ITP dapat muncul setelah infeksi tertentu, terutama pada anak-anak.
Vaksinasi: Pada kasus yang jarang terjadi, ITP dapat muncul setelah vaksinasi. Namun, hal ini tidak berarti vaksinasi selalu menyebabkan ITP.
Paparan bahan kimia tertentu: Paparan zat berbahaya, seperti beberapa jenis insektisida, perlu diperhatikan sebagai kemungkinan faktor yang berkaitan dengan gangguan kesehatan
Penyakit autoimun lain: Kondisi seperti lupus dapat berkaitan dengan penurunan jumlah trombosit akibat gangguan sistem kekebalan tubuh
Pengobatan tertentu: Beberapa obat, termasuk obat kemoterapi, dapat menurunkan jumlah trombosit. Namun, penurunan trombosit akibat obat tidak selalu berarti seseorang mengalami ITP.
Diagnosis Penyakit ITP dan Pemeriksaan yang Diperlukan
Diagnosis ITP dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes darah. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan dokter:
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pertama, dokter akan menanyakan gejala, riwayat kesehatan, penggunaan obat, serta infeksi yang pernah dialami. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat tanda perdarahan atau memar pada tubuh.
2. Tes Darah Lengkap
Selanjutnya, dokter dapat melakukan tes darah lengkap untuk mengukur jumlah trombosit dan menilai komponen darah lainnya. Jumlah trombosit normal umumnya berkisar antara 150.000–450.000 per mikroliter darah. Jika kurang daripada itu, indikasi pasti akan mengarah ke penyakit ITP.
3. Pemeriksaan Penunjang
Jika perlu, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti apusan darah tepi, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal, serta tes lainnya. Pemeriksaan ini bertujuan membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari rendahnya jumlah trombosit.
Pilihan Pengobatan untuk Penyakit ITP
Pengobatan ITP disesuaikan dengan jumlah trombosit, tingkat perdarahan, usia, dan kondisi kesehatan pasien. Berikut beberapa pilihan penanganan yang mungkin dokter rekomendasikan.
1. Kortikosteroid
Pertama, dokter dapat meresepkan kortikosteroid, seperti prednison, untuk menekan respons sistem kekebalan tubuh yang menyerang trombosit. Jika jumlah trombosit sudah mencapai tingkat yang aman, dosis obat dapat dikurangi secara bertahap sesuai arahan dokter.
2. Imunoglobulin Intravena (IVIG)
Jika kortikosteroid tidak memberikan hasil yang memadai atau pasien membutuhkan peningkatan trombosit dengan cepat, dokter dapat memberikan IVIG. Terapi ini juga dapat digunakan untuk membantu menangani perdarahan serius atau sebelum tindakan operasi tertentu.
3. Obat yang Meningkatkan Produksi Trombosit
Selanjutnya, dokter dapat meresepkan obat seperti romiplostim, eltrombopag, atau avatrombopag untuk merangsang sumsum tulang menghasilkan lebih banyak trombosit. Penggunaannya memerlukan pemantauan medis karena dapat meningkatkan risiko pembekuan darah.
4. Obat yang Memengaruhi Sistem Kekebalan Tubuh
Pada penyakit ITP yang berlangsung lama atau tidak merespons pengobatan sebelumnya, dokter dapat mempertimbangkan obat seperti rituximab atau fostamatinib. Pemilihan obat disesuaikan dengan kondisi pasien, respons terhadap terapi sebelumnya, serta potensi efek sampingnya.
5. Operasi Pengangkatan Limpa (Splenektomi)
Jika pengobatan lain belum berhasil, dokter dapat mempertimbangkan splenektomi untuk mengurangi penghancuran trombosit di limpa. Namun, tindakan ini perlu dipertimbangkan secara matang karena dapat meningkatkan risiko infeksi dalam jangka panjang.
Cara Mencegah Komplikasi Penyakit ITP
Penyakit ini tidak selalu dapat dicegah karena penyebab pastinya belum diketahui. Namun, risiko perdarahan dan komplikasi dapat dikurangi dengan memantau kondisi tubuh, menghindari cedera, serta mengikuti anjuran dokter. Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan.
1. Memantau Jumlah Trombosit Secara Rutin
Pertama, lakukan pemeriksaan darah sesuai jadwal yang ditentukan dokter untuk memantau jumlah trombosit. Perhatikan juga gejala seperti mudah memar, mimisan, atau gusi berdarah agar perubahan kondisi dapat segera mendapat penanganan.
2. Menghindari Aktivitas yang Berisiko Menyebabkan Cedera
Selanjutnya, hindari olahraga kontak fisik atau aktivitas yang berisiko menimbulkan benturan, terutama ketika jumlah trombosit sedang rendah. Pilih aktivitas yang lebih aman sesuai kondisi tubuh dan konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan olahraga dengan risiko cedera tinggi.
3. Berhati-Hati saat Mengonsumsi Obat
Beberapa obat, seperti aspirin dan ibuprofen, dapat mengganggu fungsi trombosit atau meningkatkan risiko perdarahan. Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat pereda nyeri, suplemen, maupun produk herbal. Jangan menghentikan obat yang telah diresepkan tanpa arahan tenaga medis.
4. Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut
Untuk mengurangi risiko perdarahan pada gusi, gunakan sikat gigi berbulu lembut dan lakukan perawatan gigi secara hati-hati. Jika berencana menjalani perawatan atau tindakan gigi, beri tahu dokter gigi mengenai kondisi penyakit ITP yang dialami.
5. Mengenali Tanda Perdarahan Serius
Terakhir, segera cari pertolongan medis jika mengalami perdarahan yang sulit berhenti, tinja berwarna hitam, urine berdarah, sakit kepala hebat secara mendadak, atau gangguan kesadaran. Gejala tersebut dapat menandakan komplikasi serius yang membutuhkan penanganan segera.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter
Segera konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami tanda perdarahan yang tidak biasa. Seperti mudah memar tanpa sebab yang jelas, perdarahan dari luka kecil yang sulit berhenti, menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari biasanya, serta perdarahan berkepanjangan setelah operasi kecil atau prosedur gigi.
Pada anak-anak, orang tua perlu menghubungi dokter anak jika anak mudah memar, mengalami ruam merah atau ungu, dan muncul bintik-bintik merah kecil (petechiae). Perhatikan juga jika anak sering mimisan, gusi berdarah, atau terdapat lepuh berisi darah di dalam mulut maupun bibir.
Jika muncul perdarahan berat atau sakit kepala hebat secara mendadak, segera cari pertolongan medis. Untuk membantu mengevaluasi kondisi darah, Anda dapat melakukan pemeriksaan Hematologi Lengkap dari Bumame.
Pemeriksaan ini menilai sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan hemoglobin untuk memberikan gambaran kondisi darah, termasuk membantu mendeteksi jumlah trombosit yang rendah. Namun, diagnosis penyakit ITP tetap memerlukan evaluasi dokter dan pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi pasien.
Kenali Penyakit ITP dan Jaga Kesehatan Darah!
Penyakit ITP adalah gangguan autoimun yang menyebabkan jumlah trombosit dalam darah menurun sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Meski tidak semua pasien memerlukan pengobatan segera, pemantauan rutin dan penanganan yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko komplikasi.
Jika mengalami gejala mudah memar, mimisan berulang, atau perdarahan yang sulit berhenti, segera temui dokter. Pemeriksaan Hematologi Lengkap Bumame pun dapat membantu mengevaluasi jumlah trombosit dan komponen darah lain sebagai bagian dari pemeriksaan awal untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Idiopatik Trombositopenik Purpura
Rumah Sakit Bunda — ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura): Penyebab Trombosit Rendah dan Cara Mengatasinya
Siloam Hospitals — Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP): Penyebab & Gejala
Mayo Clinic — Trombositopenia Imun (ITP)
Harvard Medical School — Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP)
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apa itu penyakit ITP?
Penyakit ITP atau immune thrombocytopenia adalah gangguan autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan trombosit sehat. Akibatnya, jumlah trombosit dalam darah menurun dan risiko memar serta perdarahan meningkat.
Apa saja gejala penyakit ITP?
Gejala ITP meliputi mudah memar, bintik-bintik merah atau ungu pada kulit, mimisan, gusi berdarah, menstruasi berlebihan, serta perdarahan yang sulit berhenti. Sebagian penderita juga dapat mengalami darah dalam urine atau tinja dan mudah lelah. Gejala berat, seperti sakit kepala hebat yang muncul mendadak, memerlukan pertolongan medis segera.
Apa penyebab penyakit ITP?
Penyebab pasti ITP belum diketahui sepenuhnya, tetapi kondisi ini berkaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Faktor yang dapat berhubungan dengan ITP meliputi infeksi tertentu, penyakit autoimun lain seperti lupus, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Pada kasus yang jarang, ITP juga dapat muncul setelah vaksinasi, tetapi vaksinasi tidak selalu menyebabkan kondisi ini.
Bagaimana cara mendiagnosis penyakit ITP?
Diagnosis ITP dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes darah lengkap untuk mengukur jumlah trombosit serta menilai komponen darah lainnya. Dokter juga dapat menyarankan apusan darah tepi, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal, atau tes tambahan untuk menyingkirkan penyebab lain dari rendahnya trombosit.
Apakah penyakit ITP bisa sembuh?
Pada sebagian pasien, terutama anak-anak, ITP dapat membaik dengan sendirinya. Namun, pada pasien lain, kondisi ini dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan pemantauan atau pengobatan. Penanganan dapat mencakup kortikosteroid, imunoglobulin intravena (IVIG), obat untuk meningkatkan produksi trombosit, obat yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, atau operasi pengangkatan limpa sesuai kondisi pasien dan pertimbangan dokter.
