Luka lepuh kecil di sudut bibir yang muncul lagi setiap kali Anda kecapekan. Atau ruam nyeri yang melingkar di satu sisi badan. Keduanya sama-sama sering disebut "herpes", padahal penyebabnya adalah virus yang berbeda, dengan cara penularan yang berbeda pula.
Kerancuan ini wajar terjadi. Nama "herpes" memang dipakai untuk beberapa penyakit sekaligus, dan gejalanya sama-sama berupa lepuhan atau ruam di kulit. Akibatnya, banyak orang keliru menilai dari mana infeksinya berasal dan bagaimana cara mencegahnya.
Apa Itu Herpes?
Herpes adalah istilah payung untuk penyakit yang disebabkan oleh keluarga virus herpes. Dalam percakapan sehari-hari, ada dua kelompok yang biasanya dimaksud orang, yaitu herpes simpleks dan herpes zoster. Herpes simpleks mencakup herpes mulut dan herpes kelamin, sedangkan herpes zoster lebih dikenal dengan nama cacar ular.
Semua virus herpes punya satu sifat yang sama dan penting dipahami. Sekali masuk ke tubuh, virus ini tidak benar-benar hilang. Ia menetap dalam kondisi "tidur" di dalam sel saraf selama bertahun-tahun, lalu bisa bangun lagi saat kondisi tubuh melemah. Dalam istilah medis proses ini disebut reaktivasi, artinya virus aktif kembali. Sifat inilah yang membuat herpes bisa kambuh berulang kali meski infeksi pertamanya sudah lama berlalu.
Jenis Herpes dan Penyebabnya
Hampir semua kasus yang orang sebut sebagai herpes berasal dari tiga jenis berikut. Ketiganya berangkat dari keluarga virus yang sama, tetapi berbeda dalam lokasi keluhan, jalur masuk ke tubuh, dan kelompok usia yang paling sering mengalaminya. Mengenali perbedaan ini membantu Anda memahami dari mana infeksi berasal dan langkah pencegahan mana yang relevan.
1. Herpes Simpleks Tipe 1 (HSV-1)
HSV (herpes simplex virus) tipe 1 umumnya menimbulkan luka lepuh di bibir, sudut mulut, atau area sekitar mulut lainnya. Karena itu, infeksinya sering disebut herpes mulut atau herpes oral.
Virus ini menular lewat kontak erat sehari-hari, misalnya ciuman atau berbagi alat makan dan minum. Banyak orang tertular HSV-1 sejak kecil dari orang dewasa di sekitarnya, misalnya lewat cium pipi, dan baru merasakan gejalanya bertahun-tahun kemudian. Infeksi HSV-1 termasuk umum terjadi di seluruh dunia.
2. Herpes Simpleks Tipe 2 (HSV-2)
HSV tipe 2 umumnya menimbulkan luka lepuh di area kelamin, sehingga dikenal sebagai herpes kelamin atau herpes genital. Penularannya hampir selalu terjadi lewat kontak seksual.
Perlu diketahui, kedua tipe HSV bisa bertukar lokasi. HSV-1 bisa berpindah ke area kelamin lewat seks oral, dan HSV-2 sesekali menimbulkan luka di area mulut. Jadi, lokasi luka tidak selalu menunjukkan tipe virus penyebabnya.
3. Herpes Zoster (Cacar Ular)
Herpes zoster berbeda dari dua jenis di atas. Ruam ini bukan berasal dari infeksi baru. Penyebabnya adalah virus Varicella zoster, virus yang juga menjadi penyebab cacar air saat seseorang pertama kali terinfeksi, biasanya di masa kanak-kanak. Setelah cacar air sembuh, virus ini tidak pergi dari tubuh. Ia menetap diam di dalam saraf.
Saat daya tahan tubuh menurun, terutama seiring bertambahnya usia, virus tersebut bisa aktif kembali. Hasilnya berupa ruam nyeri berisi cairan yang muncul di satu sisi tubuh dan sering membentuk pola memanjang seperti sabuk. Dari pola inilah sebutan cacar ular berasal. Jadi, herpes zoster hanya bisa dialami orang yang pernah terkena cacar air sebelumnya.
Bagaimana Herpes Menular?
Herpes simpleks berpindah dari satu orang ke orang lain lewat beberapa jalur berikut. Penularan terjadi ketika virus dari kulit, air liur, atau cairan lepuh seseorang bersentuhan dengan kulit atau selaput lendir orang lain. Peluangnya paling besar saat luka sedang aktif, meski bukan hanya pada saat itu.
Kontak langsung dengan luka atau lepuh, termasuk cairan di dalamnya. Sentuhan kulit dengan kulit pada area yang sedang ada lukanya adalah jalur utama penularan.
Ciuman dan berbagi alat pribadi. Alat makan, gelas, handuk wajah, atau lip balm yang dipakai bergantian bisa menjadi perantara HSV-1, terutama saat luka sedang aktif.
Kontak seksual, termasuk seks oral. Jalur ini berlaku untuk HSV-2 maupun HSV-1.
Dari ibu ke bayi saat persalinan. Kasusnya jarang, tetapi penting diketahui ibu hamil yang punya riwayat herpes kelamin agar persalinan bisa direncanakan bersama dokter.
Herpes zoster mengikuti aturan yang berbeda. Cacar ular tidak menular sebagai cacar ular. Namun, penderitanya bisa menularkan virus Varicella zoster ke orang yang belum pernah terkena cacar air dan belum divaksin. Orang yang tertular itu akan mengalami cacar air lebih dulu, dan di kemudian hari berpeluang mengalami herpes zoster.
Satu hal yang sering tidak disadari, virus herpes bisa menular meski luka tidak terlihat. Penderita yang sedang tanpa gejala tetap bisa melepaskan virus lewat kulit atau air liur. Dalam istilah medis kondisi ini disebut asymptomatic shedding, atau penularan tanpa gejala.
Baca Juga: 6 Infeksi Menular Seksual yang Sering Terjadi
Faktor yang Memicu Herpes Kambuh
Virus yang menetap di tubuh tidak selalu aktif. Kekambuhan biasanya muncul saat ada pemicunya, di antaranya sebagai berikut.
Daya tahan tubuh menurun, misalnya karena penyakit tertentu atau pengobatan yang menekan sistem imun.
Kelelahan dan stres yang menumpuk dalam waktu lama.
Demam atau infeksi lain yang sedang dilawan tubuh.
Paparan sinar matahari berlebih di area bibir, pemicu yang khas untuk HSV-1.
Menstruasi. Perubahan hormon menjelang haid bisa memicu kekambuhan pada sebagian perempuan.
Usia di atas 50 tahun. Kekebalan tubuh menurun secara alami seiring usia, dan ini menjadi faktor risiko utama herpes zoster.
Pemicu setiap orang bisa berbeda. Mencatat kondisi apa yang mendahului kekambuhan membantu Anda mengenali pola pribadi dan menghindarinya.
Gejala Singkat per Jenis
Secara garis besar, ketiga jenis herpes menunjukkan pola gejala yang berbeda. Perbedaannya terlihat dari lokasi lepuh, sisi tubuh yang terkena, dan keluhan yang muncul sebelum ruam tampak. Berikut gambaran singkat masing-masing jenis.
HSV-1 (herpes mulut). Lepuh kecil berkelompok di bibir atau sekitar mulut, sering diawali rasa kesemutan atau gatal di titik yang sama sebelum lepuh muncul.
HSV-2 (herpes kelamin). Luka atau lepuh perih di area kelamin. Pada infeksi pertama, keluhan kadang disertai demam, pegal, dan nyeri saat buang air kecil.
Herpes zoster. Ruam kemerahan berisi cairan di satu sisi tubuh dengan nyeri seperti terbakar. Nyerinya kadang terasa lebih dulu sebelum ruam terlihat.
Lepuh berkelompok yang terasa perih sebelum pecah termasuk ciri-ciri herpes yang khas, dan mengenalinya membantu membedakan herpes dari sariawan atau iritasi kulit biasa.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Sebagian besar kekambuhan herpes mulut membaik sendiri dalam satu sampai dua minggu. Meski begitu, beberapa kondisi berikut sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Luka di area kelamin. Hindari mendiagnosis diri sendiri. Luka atau benjolan di area ini bisa berasal dari kondisi lain seperti sifilis atau kutil kelamin, dan masing-masing membutuhkan penanganan yang berbeda.
Lepuh di dekat mata. Infeksi herpes di area mata perlu ditangani cepat karena bisa memengaruhi penglihatan.
Ruam zoster di wajah. Segera temui dokter, terutama bila ruam mendekati mata atau telinga.
Kekambuhan yang sangat sering. Dokter bisa meresepkan obat antivirus untuk menekan frekuensi kekambuhan.
Ibu hamil dengan riwayat herpes kelamin. Informasi ini penting untuk perencanaan persalinan yang aman bagi ibu dan bayi.
Diagnosis Herpes
Dokter biasanya menilai herpes dari bentuk dan lokasi luka serta riwayat keluhan Anda, misalnya kapan luka pertama muncul, apakah pernah kambuh, dan kondisi apa yang mendahuluinya.
Bila diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan jenis virusnya. Sampel bisa diambil dari cairan luka atau melalui tes darah. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk luka di area kelamin, karena hasilnya memengaruhi pilihan pengobatan dan langkah perlindungan bagi pasangan.
Pemeriksaan Kesehatan Seksual di Bumame
Luka di area kelamin punya banyak kemungkinan penyebab selain herpes. Infeksi menular seksual juga sering muncul bersamaan, sehingga seseorang bisa membawa lebih dari satu infeksi tanpa menyadarinya. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh lewat tes infeksi menular seksual membantu memastikan penyebab keluhan sekaligus melindungi pasangan Anda.
Bila ingin memeriksakan diri, Anda bisa memilih Tes Kesehatan Seksual di Bumame. Prosesnya sederhana dan privasi Anda terjaga di setiap tahap. Konsultasi gratis dengan CS Bumame tersedia sebelum pemeriksaan, sehingga Anda bisa bertanya lebih dulu tentang jenis tes yang sesuai dengan kebutuhan.
Pencegahan Herpes
Langkah-langkah berikut bisa menurunkan risiko tertular maupun menularkan herpes. Sebagian berlaku untuk siapa saja, sebagian lagi khusus bagi yang sudah pernah mengalami kekambuhan. Terapkan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Hindari kontak langsung saat ada luka aktif. Tunda ciuman dan hubungan seksual sampai luka benar-benar kering dan sembuh.
Simpan alat pribadi untuk diri sendiri saat kambuh. Alat makan, handuk, lip balm, dan pisau cukur sebaiknya tidak dipakai bergantian selama luka masih ada.
Gunakan kondom. Kondom menurunkan risiko penularan herpes kelamin, meski tidak menghilangkannya sepenuhnya, karena luka bisa berada di area kulit yang tidak tertutup kondom.
Kelola stres dan cukupi waktu istirahat. Daya tahan tubuh yang terjaga membuat virus lebih jarang aktif kembali.
Tanyakan soal vaksin ke dokter. Vaksin cacar air dan vaksin zoster tersedia untuk kelompok usia dan kondisi tertentu. Dokter bisa membantu menilai apakah vaksin ini sesuai untuk Anda.
Pahami Jenisnya, Kenali Pemicunya
Herpes bisa dikelola dengan baik. Kuncinya ada pada memahami jenis virus penyebabnya, mengetahui jalur penularannya, dan mengenali pemicu yang membuat gejalanya kambuh. Bila muncul luka atau ruam yang meragukan, periksakan diri agar penyebabnya jelas dan penanganannya tepat sejak awal.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
Referensi
1. World Health Organization. Herpes simplex virus. Retrieved 2 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus
2. CDC. About Genital Herpes. Retrieved 2 September 2026 from https://www.cdc.gov/herpes/about/index.html
3. Mayo Clinic. Shingles. Retrieved 2 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/shingles/symptoms-causes/syc-20353054
4. Cleveland Clinic. Herpes Simplex. Retrieved 2 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22855-herpes-simplex
5. NHS. Genital herpes. Retrieved 2 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/genital-herpes/
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
