Apakah Anda pernah mengalami batuk yang tidak sembuh juga meski sudah minum obat warung selama beberapa hari? Apakah batuk itu awalnya terasa seperti flu biasa, tapi lama-lama disertai demam yang naik turun dan napas yang mulai terasa berat? Gejala-gejala sangat mirip dengan pneumonia, yaitu penyakit akibat infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri atau virus.
Sayangnya, orang sering kali menyepelekan batuk karena mengira itu akan hilang dengan sendirinya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pneumonia dan penyebab infeksi paru-paru masih menjadi salah satu sebab kematian akibat penyakit infeksi tertinggi di dunia. Anak-anak di bawah lima tahun dan lansia dengan kondisi kesehatan yang rentan biasanya merupakan kelompok yang paling rentan mengalami pneumonia.
Meski pneumonia terlihat menyeramkan, seperti penyakit lain, pneumonia bisa sembuh selama bisa menanganinya dengan benar.
Apa Itu Infeksi Paru-Paru (Pneumonia)?
Pneumonia adalah peradangan akut pada jaringan paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Kebanyakan orang biasanya mengenal peradangan ini sebagai paru-paru basah. Peradangan ini terjadi ketika kantung-kantung udara kecil di paru-paru, yang disebut alveoli, terisi cairan atau nanah.
Ketika alveoli dipenuhi cairan, oksigen menjadi lebih sulit masuk ke aliran darah dengan lancar. Inilah sebabnya penderita pneumonia sering merasa sesak napas meski sedang tidak beraktivitas. Tingkat keparahan pneumonia bisa bervariasi, mulai dari ringan yang bisa sembuh sendiri hingga berat yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Sama seperti infeksi di paru-paru, infeksi di dalam tubuh sebenarnya bisa menyerang hampir semua organ. Contoh-contoh infeksi itu adalah infeksi hepatitis di hati, infeksi saluran kemih di saluran kandung kemih, dan bahkan ginjal pun bisa mengalami infeksi ginjal jika kuman menyebar dari saluran kemih.
Jenis-Jenis Infeksi Paru-Paru Pneumonia
Terdapat beberapa jenis pneumonia yang sering terjadi berdasarkan di mana penderitanya tertular.
1. Community-Acquired Pneumonia (CAP)
Pneumonia ini asalnya dari lingkungan di sekitar, seperti di rumah, jalan raya, sekolah, tempat kerja, dan sebagainya. Jenis pneumonia ini umumnya terjadi ketika penderita terpapar bakteri, virus, dan jamur yang ada di lingkungan sekitar.
2. Hospital-Acquired Pneumonia (HAP)
Ini adalah jenis pneumonia yang didapat pasien saat sedang dirawat inap di rumah sakit untuk penanganan penyakit lain. Pneumonia ini bisa menjadi cukup serius karena penyebab infeksi paru-paru kategori ini umumnya adalah bakteri Staphylococcus aureus yang kebal terhadap antibiotik.
3. Healthcare-Associated Pneumonia (HCAP)
Jenis pneumonia ini dialami oleh orang yang tidak sedang dirawat inap di rumah sakit, tetapi rutin mendapatkan tindakan medis di fasilitas kesehatan. Seseorang yang sering menjalani rawat jalan, tindakan medis berkala, atau menetap di pusat perawatan jangka panjang memiliki risiko terpapar bakteri penyebab jenis pneumonia ini.
4. Ventilator-Associated Pneumonia (VAP)
Ini adalah jenis pneumonia yang terjadi karena penyebab infeksi paru-paru yang menyebar lewat respirator atau alat bantu napas. Bakteri adalah penyebab umum dari pneumonia jenis ini, yang juga mencakup bakteri kebal antibiotik.
Penyebab Infeksi Paru-Paru Pneumonia
Ada tiga kelompok mikroorganisme yang menjadi penyebab pneumonia yang memiliki cara penularan dan tingkat keparahan yang berbeda.
1. Bakteri
Bakteri adalah penyebab paling umum dari pneumonia, terutama pada orang dewasa. Bakteri Streptococcus pneumoniae paling sering ditemukan sebagai biang keladinya. Infeksi bakteri bisa muncul dengan sendirinya atau berkembang setelah seseorang mengalami pilek maupun flu yang tidak kunjung membaik.
Biasanya, pneumonia jenis ini hanya memengaruhi satu bagian atau lobus paru-paru, meski pada kasus yang lebih parah bisa menyebar ke bagian lain.
2. Virus
Virus juga menjadi penyebab yang cukup sering ditemui, termasuk virus influenza dan virus penyebab flu biasa. Pneumonia akibat virus umumnya menimbulkan gejala yang lebih ringan dibanding pneumonia bakteri, meski durasinya bisa lebih lama.
Namun, beberapa jenis virus seperti SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa memicu pneumonia yang jauh lebih berat dan berisiko fatal, terutama pada kelompok rentan.
3. Jamur
Ini adalah penyebab yang lebih jarang dibanding bakteri dan virus, namun tetap perlu diwaspadai. Infeksi ini biasanya terjadi ketika seseorang menghirup spora jamur yang kemudian berkembang biak di dalam paru-paru.
Penderita pneumonia akibat infeksi jamur biasanya adalah orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah akibat mengidap penyakit kronis lainnya.
Secara umum, penyebab infeksi paru-paru biasanya lewat percikan air liur atau droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Kuman penyebab pneumonia juga bisa masuk ke tubuh saat tangan yang belum dicuci menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang permukaan yang sudah terkontaminasi.
Faktor Risiko Infeksi Paru-Paru
Siapa saja bisa mengalami infeksi paru-paru pneumonia. Namun, ada beberapa kelompok tertentu yang risikonya lebih tinggi.
Bayi dan anak di bawah dua tahun termasuk golongan yang rentan terjangkit pneumonia karena sistem imun mereka belum berkembang sempurna. Lansia berusia di atas 65 tahun juga punya risiko tinggi mengalami pneumonia, apalagi jika memiliki penyakit penyerta lain.
Ada juga kategori lain selain kategori umur di atas. Contohnya adalah orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti penderita HIV, kanker yang sedang menjalani kemoterapi, atau pengguna obat imunosupresan.
Perokok aktif maupun pasif juga menghadapi risiko lebih besar karena rokok merusak lapisan pelindung alami di saluran pernapasan.
Orang yang tinggal atau bekerja di tempat ramai seperti asrama, panti jompo, atau lingkungan padat penduduk juga lebih mudah terpapar kuman penyebab pneumonia. Riwayat penyakit paru kronis, seperti PPOK atau asma yang tidak terkontrol, juga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi ini.
Gejala Infeksi Paru-Paru yang Perlu Diwaspadai
Gejala pneumonia bisa muncul perlahan atau tiba-tiba, tergantung jenis mikroorganisme yang menyebabkannya. Karena gejala awalnya mirip flu biasa, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang mengalami kondisi yang lebih serius.
Beberapa gejala yang cukup sering muncul antara lain demam dan menggigil, batuk berdahak yang kadang disertai darah, serta nyeri dada saat menarik napas dalam atau batuk. Penderitanya juga bisa merasa sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas ringan.
Jika pneumonia yang dialami cukup parah, penderitanya bisa mengalami jantung berdebar lebih cepat, tubuh terasa sangat lemas, hingga kebingungan, terutama pada lansia.
Jika anak-anak sedang menderita pneumonia, mereka biasanya akan bernapas lebih cepat dari biasanya dan mengalami demam tinggi.
Beberapa kondisi yang lebih serius, seperti kanker paru-paru, juga bisa menimbulkan gejala pernapasan yang mirip dengan infeksi. Agar pemicu utamanya terdeteksi dengan tepat, hindari berspekulasi dan lakukan pemeriksaan medis secara komprehensif.
Diagnosis Infeksi Paru-Paru
Untuk memeriksa penderita pneumonia, dokter biasanya memakai stetoskop untuk mendengarkan suara napas yang tidak normal. Dokter juga akan menanyakan apakah ada gangguan kesehatan lain dalam beberapa hari terakhir.
Supaya hasil pemeriksaannya bisa lebih akurat, dokter umumnya merekomendasikan rontgen dada guna melihat area paru yang mengalami peradangan atau penumpukan cairan.
Secara bersamaan, dokter juga akan mengambil contoh dahak untuk mengidentifikasi jenis kuman, apakah bakteri, virus, atau jamur yang menjadi penyebabnya. Dokter juga bisa melakukan tes darah supaya bisa menilai tingkat keparahan infeksi serta kondisi tubuh secara keseluruhan.
Tes Pemeriksaan Kesehatan Paru Bumame
Selain pemeriksaan untuk mendiagnosis infeksi aktif, Anda juga perlu memerhatikan kesehatan paru dalam jangka panjang, terutama jika memiliki faktor risiko berikut.
Seorang perokok aktif.
Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan paru.
Punya riwayat infeksi paru berulang, seperti TBC maupun PPOK.
Untuk memastikan diagnosis, Bumame menyediakan LungClear seharga Rp3.300.000, layanan skrining kesehatan yang bisa membantu Anda mengecek kesehatan paru-paru Anda.
LungClear adalah tes darah molekuler yang menggunakan teknologi microRNA untuk mendeteksi risiko gangguan pada jaringan paru secara dini. Pemeriksaan ini sifatnya noninvasif dan bisa dokter lakukan lewat pengambilan sampel darah, tanpa perlu persiapan khusus sebelumnya.
Jika ingin mengetahui kondisi paru-paru secara lebih menyeluruh, Anda bisa melakukan tes ini bersama Bumame. Bahkan, apabila Anda sering mengalami masalah pernapasan atau punya riwayat penyakit paru, tes ini bisa membantu Anda pulih lebih cepat.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika gejala-gejala pneumonia berikut sudah muncul, segera kunjungi dokter untuk menjelaskan keluhan Anda.
Demam yang tidak kunjung turun setelah beberapa hari.
Batuk yang tidak kunjung sembuh dan semakin memburuk.
Mulai merasa sesak napas bahkan saat sedang beristirahat.
Termasuk golongan yang rentan mengalami pneumonia, seperti anak-anak dan orang lanjut usia.
Seperti gangguan lainnya, harap tidak meremehkan infeksi paru-paru pneumonia begitu saja, karena jika yang sering kambuh bisa jadi tanda kanker paru-paru.
Terkadang, kanker paru-paru pada stadium awal berkembang tanpa menunjukkan gejala yang khas. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan paru-paru yang dilakukan untuk mendiagnosis pneumonia dapat memberikan gambaran klinis yang lebih menyeluruh, sehingga potensi gangguan kesehatan lain dapat teridentifikasi sejak dini.
Periksakan Kesehatan Anda dengan Tes yang Sesuai
Selain melakukan tes pemeriksaan pneumonia, Anda bisa melakukan tes kesehatan lainnya, misalnya untuk memeriksa saluran napas hingga area yang lebih intim yang bisa diperiksa lewat tes IMS atau infeksi menular seksual.
Lewat tes-tes pemeriksaan ini, tidak ada masalah kesehatan yang bisa luput begitu saja dari perhatian Anda. Selama Anda segera melakukan pemeriksaan, termasuk penyebab infeksi paru-paru, pneumonia atau penyakit lainnya pun bisa berpeluang pulih lebih cepat dan Anda bisa kembali sehat.
Bila perlu informasi lebih lengkap, hubungi Bumame untuk konsultasi tentang kesehatan atau menemukan tes yang paling sesuai untuk Anda!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Cleveland Clinic. (2026). Pneumonia.
U.S. Centers for Disease Control and Prevention. About Pneumonia.
National Heart, Lung, and Blood Institute. (2026). What Is Pneumonia?.
National Library of Medicine. (2018). Guidelines for the Evaluation and Treatment of Pneumonia.
World Health Organization. (2022). Pneumonia in children.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
_(1).jpg&w=3840&q=75)