Perut berbunyi di tengah rapat, lalu dada terasa panas setelah makan siang. Banyak orang dengan asam lambung yang sering naik mengenali pola ini dan bertanya apakah bunyi itu termasuk gejala GERD.
Sebagian besar bunyi perut berasal dari proses cerna yang wajar. Bunyi ini perlu diperhatikan bila datang bersama nyeri, muntah, atau perubahan buang air besar, karena kombinasi itu bisa mengarah ke gangguan lain.
Artikel ini membahas asal bunyi perut, kaitannya dengan refluks, cara meredakannya, dan tanda yang perlu diperiksakan ke dokter.
Apakah Perut Bunyi Termasuk Gejala GERD?
Bunyi gemuruh dari perut disebut borborygmi. Menurut gastroenterolog Henry Ford Health, bunyi ini normal dan muncul saat otot saluran cerna berkontraksi mendorong makanan dan gas di sepanjang usus, gerakan yang disebut peristaltik.
Bunyi perut tidak tercantum dalam daftar gejala GERD dari Kemenkes, NHS, maupun konsensus Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI). Gejala khasnya adalah rasa panas seperti terbakar di dada (heartburn) dan cairan asam atau pahit yang naik ke mulut (regurgitasi) setelah makan. GERD terjadi saat isi lambung berulang kali naik ke kerongkongan, dan penyebab GERD beragam, mulai dari berat badan berlebih, tekanan pada perut saat hamil, hingga makanan tinggi lemak.
Walau begitu, keduanya bisa muncul bersamaan. NHS dan Kemenkes mencatat kembung dan mual bisa menyertai GERD, meski ciri asam lambung naik umumnya berpusat di dada dan tenggorokan. Kemenkes juga mengutip pakar gastroenterologi bahwa begah, kembung, dan sendawa lebih khas pada maag, dan seseorang bisa mengalami GERD serta maag pada saat yang sama. Memahami perbedaan GERD dan maag membantu Anda menjelaskan keluhan kepada dokter.
Lima Alasan Perut Lebih Ramai Berbunyi saat Refluks Kambuh
Beberapa hal membuat perut lebih ramai berbunyi saat asam lambung naik.
1. Lebih Banyak Udara yang Tertelan
MSD Manual menyebut air liur yang berlebih, yang bisa terjadi pada refluks, membuat seseorang lebih banyak menelan udara. Sebagian besar udara itu keluar lagi lewat sendawa. Gastroenterolog Cleveland Clinic menjelaskan bunyi keras berkaitan dengan gas yang menumpuk di usus, jadi makin sedikit udara tertelan, makin kecil peluang perut berbunyi.
2. Kembung yang Ikut Menyertai Asam Lambung
Kemenkes menjelaskan perut sering kembung terjadi karena gas berlebih di saluran cerna. Pemicunya antara lain makan terlalu cepat, makanan penghasil gas, dan intoleransi laktosa, yaitu kesulitan mencerna gula alami susu. Saat kembung datang bersama refluks, gemuruh di perut pun lebih mudah terdengar.
3. Pemicu yang Sama di Piring dan Gelas
Kemenkes memasukkan soda, susu, dan makanan tinggi lemak ke daftar pemicu GERD. Soda, begitu pula produk susu pada orang dengan intoleransi laktosa, juga menambah gas. Makan terlalu banyak membuat lambung penuh sehingga isinya lebih mudah naik, sekaligus menambah udara yang tertelan.
4. Jam Makan yang Tidak Teratur
Bunyi dari perut bagian atas, menurut Cleveland Clinic, umumnya berkaitan dengan rasa lapar saat lambung kosong. Jadwal makan yang berantakan membuat perut kosong terlalu lama, lalu diikuti porsi besar atau makan malam terlalu larut. Kemenkes mencatat dua kebiasaan terakhir itu bisa memperburuk GERD.
5. Usus yang Lebih Peka dan Pikiran yang Tegang
MSD Manual menyebut sebagian orang, misalnya penderita sindrom iritasi usus besar (IBS), lebih peka terhadap jumlah gas yang normal. Kemenkes mencatat kondisi psikologis bisa memicu kembung, sedangkan NHS memasukkan stres dan kecemasan ke daftar pemicu heartburn. Karena GERD dan kecemasan saling berkaitan, mengelola stres ikut membantu.
Membedakan Bunyi Lapar, Gas Berlebih, dan Gejala Refluks
Ciri yang menyertai bunyi perut membantu Anda menduga sumbernya sebelum berkonsultasi.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Cara Meredakan Bunyi Perut sekaligus Menjaga Asam Lambung
Tujuannya mengurangi gas sekaligus menjaga asam lambung tetap terkendali. Langkah berikut bisa dicoba:
Makan perlahan dan kunyah dengan mulut tertutup. Cleveland Clinic menyarankan mengunyah makanan sampai halus agar udara yang tertelan lebih sedikit. Kemenkes juga menganjurkan makan dengan tenang supaya tidak berlebihan.
Pilih porsi lebih kecil. NHS menganjurkan porsi lebih kecil tetapi lebih sering. Lambung yang tidak terlalu penuh membuat isinya tidak mudah naik.
Kurangi minuman bersoda, sedotan, dan rokok. Henry Ford Health menyebut ketiganya menambah udara yang tertelan. Soda dan rokok juga tercantum sebagai pemicu GERD dalam daftar Kemenkes.
Catat makanan pemicu. Kemenkes menyarankan mencatat makanan dan keluhan yang muncul karena pemicu tiap orang berbeda. Kacang-kacangan, brokoli, dan kubis bisa menambah gas, sedangkan makanan berlemak, pedas, dan cokelat sering memperberat refluks.
Beri jeda sebelum berbaring. Kemenkes menyarankan jeda sekitar 2 sampai 3 jam antara makan malam dan tidur, sedangkan NHS menyebut 3 sampai 4 jam. Mengatur posisi tidur saat asam lambung naik juga membantu.
Tetap bergerak setelah makan. Cleveland Clinic menyebut tubuh yang aktif membantu usus ikut bergerak sehingga gas tidak menumpuk. Gerakan ringan termasuk cara mengeluarkan gas akibat asam lambung yang mudah dicoba.
Kelola stres. NHS menyarankan mencari cara untuk rileks, dan Henry Ford Health menyebut meditasi serta latihan napas sebagai pilihan. Bila keluhan sering datang, cara mengatasi GERD agar tidak kambuh bisa menjadi panduan harian.
Kapan Bunyi Perut Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Menurut gastroenterolog Cleveland Clinic, bunyi perut tanpa keluhan lain umumnya tidak berbahaya. Periksakan diri ke dokter bila bunyi disertai kondisi berikut:
Bunyi bernada tinggi, nyeri, kram, muntah, diare, atau sembelit. Henry Ford Health menyebut keluhan seperti ini bisa menjadi tanda sumbatan usus, peradangan usus, atau gangguan gerak usus.
Demam, perubahan pola buang air besar, atau tinja berdarah. Cleveland Clinic dan MSD Manual menilai keluhan ini perlu dievaluasi.
Sulit menelan, sering muntah, atau berat badan turun tanpa sebab. NHS menganjurkan konsultasi bila tanda ini muncul bersama heartburn, begitu pula bila rasa panas di dada datang hampir setiap hari.
Muntah darah atau tinja berwarna hitam. Kemenkes mencatat keduanya sebagai keluhan lanjutan yang bisa berkaitan dengan komplikasi GERD.
Segera ke IGD bila nyeri dada terasa berat, muncul tiba-tiba, atau disertai sesak napas. MSD Manual mengingatkan rasa penuh di dada yang disertai nyeri bisa menjadi tanda penyakit jantung, dan pada sebagian orang serangan jantung hanya terasa sebagai kembung atau dorongan kuat untuk bersendawa.
Pemeriksaan untuk Menelusuri Sumber Bunyi dan Rasa Panas
Konsensus PGI menyebut tanya jawab yang cermat sebagai cara utama mendiagnosis GERD. Dokter akan menanyakan kapan keluhan muncul. Langkah berikutnya bisa berupa:
Kuesioner GerdQ. Daftar pertanyaan ini membantu menilai kemungkinan GERD dan respons terhadap pengobatan.
Uji coba obat penekan asam. Pada orang dengan gejala khas tanpa tanda bahaya, PGI menyebut dokter bisa memberi obat penekan asam untuk sementara lalu menilai apakah keluhan membaik.
Endoskopi saluran cerna atas. Pemeriksaan endoskopi bisa memperlihatkan luka pada lapisan kerongkongan. PGI menganjurkannya bila ada tanda bahaya, misalnya sulit menelan yang memberat, berat badan turun tanpa sebab, atau muntah darah, dan bila keluhan tidak membaik dengan pengobatan.
Pemeriksaan lain sesuai keluhan. PGI menyebut tes laboratorium, rekam jantung (EKG), USG, atau foto dada bisa diminta untuk menyingkirkan penyakit dengan gejala serupa.
V-Drip Happy Stomach setelah Sumber Keluhan Jelas
Mual bisa menyertai GERD menurut NHS dan Kemenkes, dan dokter perlu menilai penyebabnya lebih dulu. Setelah sumber keluhan diketahui, dokter bisa mempertimbangkan V-Drip Happy Stomach sebagai salah satu pilihan pendukung. Halaman produknya mencantumkan kandungan Electrolytes, Gastric Protector, dan Antiemetic, dengan layanan Walk In maupun Home Care.
Infus ini tidak ditujukan untuk menghilangkan bunyi perut, dan pengobatan GERD tetap mengikuti arahan dokter. Halaman produk juga menyebut infus ini tidak disarankan untuk ibu hamil dan menyusui, serta tidak bisa digunakan oleh orang dengan riwayat epilepsi, alergi terhadap kandungannya, atau pemakaian obat tertentu. Untuk menanyakan kesesuaiannya, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Penanganan GERD yang Umum Diberikan Dokter
Konsensus PGI menempatkan perubahan gaya hidup sebagai dasar, khususnya menurunkan berat badan bila berlebih dan meninggikan kepala sekitar 15 sampai 20 cm saat tidur. Berhenti merokok, mengurangi porsi makan, dan memberi jeda makan malam setidaknya 3 jam sebelum tidur juga dianjurkan.
Bila keluhan belum terkendali, dokter bisa memberi obat dari golongan antasida, prokinetik, antagonis reseptor H2, atau penghambat pompa proton (PPI). Jenis, dosis, dan lama pemakaiannya ditentukan dokter.
Perut Lebih Tenang Berawal dari Kebiasaan Makan yang Teratur
Bunyi perut umumnya menandakan saluran cerna sedang bekerja. Saat bunyi datang bersama rasa panas di dada atau kembung, mulailah dari cara makan, porsi, dan jeda sebelum tidur. Langkah kecil untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan bisa dimulai hari ini.
Bila keluhan berulang atau disertai tanda yang perlu diperiksa, konsultasikan lebih awal. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk pertanyaan seputar layanan, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — GERD, Meskipun Biasa Terjadi pada Pencernaan Manusia, Jika Tidak Tertangani dengan Benar Apakah Bisa Berbahaya?
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Pola Makan Tepat untuk Membantu Mengendalikan Gejala GERD
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Berbagai Cara Mengatasi Perut Kembung
Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), Acta Medica Indonesiana — National Consensus on the Management of Gastroesophageal Reflux Disease in Indonesia
NHS — Heartburn and Acid Reflux
Gotfried J. (MSD Manual Consumer Version) — Gas
Cleveland Clinic, Health Essentials Podcast (Christine Lee, MD) — Can You Silence a Growling Stomach?
Henry Ford Health (reviewed by Eva Alsheik, MD) — Why Does My Stomach Make Noises? What's Normal and When to Seek Help
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
Frequently Asked Question
Apakah perut bunyi termasuk gejala GERD?
Bunyi perut tidak termasuk gejala khas GERD. Gejala utamanya adalah rasa panas di dada dan cairan asam atau pahit yang naik ke mulut. Namun, kembung dan bunyi perut dapat muncul bersamaan dengan refluks.
Kenapa perut sering berbunyi padahal tidak lapar?
Bunyi perut dapat terjadi ketika usus mendorong makanan, cairan, dan gas selama proses pencernaan. Udara yang tertelan, minuman bersoda, makanan penghasil gas, serta makan terlalu cepat dapat membuat bunyi lebih sering terdengar.
Apakah minuman bersoda membuat perut bunyi dan asam lambung naik?
Ya, pada sebagian orang. Minuman bersoda dapat menambah gas di saluran cerna dan termasuk salah satu pemicu GERD. Mengurangi soda serta makan perlahan dapat membantu meredakan keluhan.
Kapan perut bunyi perlu diperiksakan ke dokter?
Periksakan diri jika bunyi perut disertai nyeri, muntah, diare, sembelit, demam, tinja berdarah, atau penurunan berat badan tanpa sebab. Rasa panas di dada yang sering muncul atau sulit menelan juga perlu dikonsultasikan. Segera ke IGD jika nyeri dada berat disertai sesak napas.
Apakah stres bisa membuat perut berbunyi dan GERD kambuh?
Stres dan kecemasan dapat memperburuk heartburn pada sebagian orang, sedangkan kondisi psikologis juga dapat memengaruhi keluhan pencernaan seperti kembung. Mengelola stres melalui relaksasi dan latihan pernapasan dapat membantu mengendalikan gejala.
