Otot memiliki peran penting dalam membantu tubuh bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, pada kondisi tertentu, jaringan otot dapat mengalami kerusakan yang cukup serius. Salah satu kondisi tersebut disebut rabdomiolisis, yang dapat menyebabkan zat dari dalam sel otot masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ lain, termasuk ginjal.
Rabdomiolisis dapat dipicu oleh berbagai hal, antara lain aktivitas fisik yang terlalu berat, cedera, kejang, hingga penggunaan obat tertentu. Kondisi ini perlu dikenali sejak awal karena tingkat keparahannya dapat berbeda-beda. Oleh karena itu, memahami gejala, penyebab, faktor risiko, dan pemeriksaannya dapat membantu menentukan kapan seseorang perlu mendapatkan pertolongan medis.
Apa itu Rabdomiolisis?
Setelah berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, tubuh biasanya terasa lelah dan otot terasa pegal. Namun, jika nyeri otot terasa jauh lebih berat dari biasanya, disertai dengan lemas dan urine berubah menjadi gelap, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Rabdomiolisis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan dan melepaskan berbagai zat dari dalam sel ke aliran darah.
Rabdomiolisis terjadi ketika sel otot rangka mengalami kerusakan dan melepaskan kandungannya ke dalam darah. Salah satu zat tersebut adalah mioglobin, yaitu protein yang terdapat dalam sel otot. Mioglobin dalam jumlah berlebihan dapat berdampak pada ginjal dan meningkatkan risiko cedera ginjal akut.
Tingkat keparahan rabdomiolisis dapat berbeda pada setiap orang. Kondisi kerusakan otot bisa terlihat baik melalui pemeriksaan laboratorium hingga komplikasi seperti gangguan elektrolit dan cedera ginjal akut. Karena itu, dokter perlu menilai kondisi pasien secara menyeluruh untuk menentukan penyebab dan tingkat keparahannya.
Gejala Rabdomiolisis
Gejala rabdomiolisis dapat berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang mengalami keluhan otot yang cukup jelas, sedangkan sebagian lainnya menunjukkan gejala yang kurang spesifik. Biasanya keluhan dapat muncul setelah olahraga berat, cedera, atau kondisi lain yang menyebabkan kerusakan jaringan otot.
Beberapa gejala rabdomiolisis yang perlu diperhatikan antara lain:
Nyeri pada otot.
Otot terasa lemah.
Otot mengalami pembengkakan atau terasa lebih sensitif.
Urine berwarna merah, cokelat, atau seperti teh.
Jumlah urine berkurang.
Tubuh terasa lelah atau lemas.
Urine berwarna gelap biasanya disebabkan karena mioglobin dari otot yang rusak masuk ke dalam urine. Namun, tidak semua orang dengan rabdomiolisis mengalami perubahan warna urine. Itu artinya, urine yang terlihat normal tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang terbebas dari rabdomiolisis.
Keluhan seperti nyeri, lemah, atau kram juga dapat muncul yang memengaruhi fungsi otot. Jika keluhan terasa tidak normal, terutama setelah aktivitas fisik berat atau cedera, konsultasikan keluhan kepada ahlinya. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.
Penyebab Rabdomiolisis
Rabdomiolisis umumnya terjadi saat kerusakan otot menyebabkan berbagai komponen dari dalam sel masuk ke aliran darah. Berbagai aktivitas, penyakit, atau paparan tertentu dapat memicu kerusakan jaringan otot tersebut.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan rabdomiolisis antara lain:
Aktivitas fisik yang berat.
Cedera otot atau trauma pada otot.
Kejang yang berulang atau berlangsung lama.
Suhu tubuh sangat tinggi atau rendah.
Infeksi tertentu.
Gangguan elektrolit, contohnya kadar kalium atau fosfat yang terlalu rendah.
Tekanan atau kurangnya aliran darah ke jaringan otot dalam waktu yang lama.
Penggunaan obat atau zat narkotika tertentu.
Penyakit atau kelainan pada otot tertentu.
Dalam pemeriksaan, dokter biasanya akan menanyakan informasi mengenai aktivitas fisik, riwayat cedera, obat yang dikonsumsi, hingga riwayat penyakit untuk mencari kemungkinan pemicu rabdomiolisis dan menentukan pemeriksaan yang sesuai.
Faktor Risiko Rabdomiolisis
Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami rabdomiolisis. Tiga faktor yang perlu mendapat perhatian antara lain aktivitas fisik yang terlalu berat, penggunaan obat tertentu, dan cedera yang merusak jaringan otot.
1. Olahraga Berlebih
Aktivitas fisik yang sangat intens dapat meningkatkan risiko rabdomiolisis, terutama ketika tubuh belum terbiasa dengan beban latihan tersebut. Kondisi ini dikenal sebagai exertional rhabdomyolysis ketika kerusakan otot terjadi setelah aktivitas fisik yang berat.
Risiko dapat meningkat ketika seseorang menjalani latihan dengan intensitas tinggi, terutama jika tubuh belum beradaptasi dengan jenis atau beban latihan tersebut. Kondisi panas dan kurangnya cairan juga perlu diperhatikan selama melakukan aktivitas fisik berat.
Bukan berarti Anda harus menghindari olahraga untuk mencegah rabdomiolisis. Tapi sebaiknya tingkatkan intensitas latihan secara bertahap, berikan waktu pemulihan yang cukup, dan perhatikan kondisi tubuh. Jika muncul nyeri otot yang tidak biasa, kelemahan berat, atau perubahan warna urine setelah latihan, jangan abaikan keluhan tersebut.
2. Penggunaan Obat Tertentu
Beberapa jenis obat dapat memengaruhi jaringan otot dan pada kondisi tertentu bisa meningkatkan risiko rabdomiolisis. Salah satunya adalah penggunaan statin, yaitu jenis obat yang digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol.
Gangguan otot serius seperti rabdomiolisis akibat penggunaan obat statin memang tergolong jarang. Meski begitu, risiko dapat berbeda pada setiap orang dan dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan maupun interaksi dengan obat lain.
Jika kamu mengalami nyeri atau keluhan otot yang tidak biasa setelah mengonsumsi obat, jangan langsung menghentikan obat resep tanpa arahan dokter. Sampaikan keluhan pada dokter agar dokter dapat mengevaluasi kemungkinan efek samping dan menentukan langkah selanjutnya.
3. Cedera
Cedera yang berat dapat merusak jaringan otot secara langsung dan meningkatkan risiko rabdomiolisis. Kecelakaan, benturan berat, luka bakar, atau tekanan pada bagian tubuh dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan mengganggu aliran darah ke otot.
Tidak semua cedera akan menyebabkan rabdomiolisis. Namun, cedera yang menimbulkan nyeri berat, pembengkakan, atau kelemahan otot perlu mendapat perhatian medis. Kondisi lain yang memengaruhi jaringan dan kekuatan otot, seperti distrofi otot, memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda sehingga perlu dibedakan dari rabdomiolisis.
Diagnosis Lewat Tes Kreatinin
Umumnya, dokter tidak menentukan rabdomiolisis hanya berdasarkan gejala. Dokter akan mempertimbangkan keluhan, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, serta hasil pemeriksaan laboratorium untuk mencari tanda kerusakan otot dan mengetahui apakah kondisi tersebut sudah memengaruhi organ lain.
Salah satu pemeriksaan utama untuk menilai kerusakan pada otot adalah creatine kinase (CK) menggunakan sampel darah. Saat sel otot mengalami kerusakan, kadar CK dalam darah dapat meningkat. Dokter akan menggunakan hasil pemeriksaan CK bersama kondisi klinis pasien untuk membantu mendiagnosis rabdomiolisis dan memantau perkembangannya.
Lalu, apa hubungannya dengan tes kreatinin? Tes kreatinin membantu menilai fungsi ginjal, bukan menjadi pemeriksaan utama untuk memastikan rabdomiolisis. Rabdomiolisis dapat menyebabkan cedera ginjal akut sehingga dokter perlu memeriksa kreatinin bersama elektrolit, urine, dan parameter lain untuk mengetahui apakah ginjal ikut terdampak atau tidak.
Pemeriksaan kreatinin bertujuan mengukur kadar kreatinin dalam darah dan dapat membantu tenaga kesehatan mengevaluasi kemampuan ginjal dalam menyaring zat sisa metabolisme. Jenis pemeriksaan ini dapat menjadi salah satu bagian dari evaluasi fungsi ginjal pada pasien dengan rabdomiolisis.
Jika ingin mengetahui kadar kreatinin dalam darah, Tes Kreatinin Bumame dapat menjadi salah satu pilihan pemeriksaan fungsi ginjal. Namun, tes kreatinin bukan pengobatan rabdomiolisis dan tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis kondisi tersebut.
Pengobatan dan Pemulihan Rabdomiolisis
Pengobatan dan pemulihan rabdomiolisis tergantung pada penyebab serta tingkat keparahan kondisi pasien. Dokter akan memeriksa penyebab kerusakan otot kemudian memantau fungsi ginjal, kadar elektrolit, jumlah urine, dan kemungkinan komplikasi lainnya.
Pada pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, dokter dapat memberikan cairan melalui pembuluh darah untuk menjaga sirkulasi dan mengurangi risiko gangguan ginjal pasien. Jika ditemukan ketidakseimbangan elektrolit, kondisi tersebut juga akan ditangani sesuai kebutuhan pasien.
Pada kondisi yang lebih berat, rabdomiolisis dapat menyebabkan cedera ginjal akut. Jika fungsi ginjal mengalami penurunan yang signifikan, pasien mungkin memerlukan penanganan tambahan, termasuk terapi pengganti ginjal seperti dialisis, sesuai dengan kondisi klinisnya.
Selain itu, dokter juga perlu mengatasi penyebab rabdomiolisis. Jika obat tertentu menjadi penyebabnya, dokter dapat mengevaluasi penggunaannya. Jika kondisi muncul setelah cedera, kejang, infeksi, atau aktivitas fisik berat, dokter akan menyesuaikan penanganan sesuai dengan penyebab tersebut.
Waktu pemulihan rabdomiolisis setiap orang dapat berbeda. Dokter dapat mempertimbangkan kondisi otot, fungsi ginjal, hasil pemeriksaan laboratorium, serta penyebab rabdomiolisis sebelum menentukan kapan seseorang dapat kembali beraktivitas. Karena itu, jangan langsung beraktivitas yang berat hanya karena rasa nyeri sudah berkurang.
Kapan Harus ke IGD?
Segera cari pertolongan medis jika mengalami nyeri otot yang berat, kelemahan yang tidak biasa, pembengkakan, urine berwarna merah atau cokelat setelah melakukan olahraga berat, cedera, atau kejadian lain. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada kerusakan yang serius pada otot atau tidak.
Pertolongan medis juga sangat diperlukan jika keluhan muncul setelah cedera berat, kejang berkelanjutan, atau kondisi lain yang berisiko merusak otot. Rabdomiolisis yang parah dapat menyebabkan gangguan elektrolit dan cedera ginjal, sehingga dokter perlu segera menilai kondisi Anda.
Tidak perlu menunggu sampai semua gejala muncul Selain itu, jika Anda mengalami keluhan otot yang tidak biasa setelah kejadian yang berisiko, sebaiknya segera periksakan diri.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
1. MedlinePlus Medical Encyclopedia. 2025. Rhabdomyolysis
2. Long B, Koyfman A, Gottlieb M. 2019. An Evidence-Based Narrative Review of the Emergency Department Evaluation and Management of Rhabdomyolysis
3. Torres PA, Helmstetter JA, Kaye AM, Kaye AD. 2015. Rhabdomyolysis: Pathogenesis, Diagnosis, and Treatment
4. Bäcker HC, Richards JT, Kienzle A, et al. 2023. Exertional Rhabdomyolysis in Athletes: Systematic Review and Current Perspectives
5. Tietze DC, Borchers J. 2014. Exertional Rhabdomyolysis in the Athlete: A Clinical Review
6. Newman CB, Preiss D, Tobert JA, et al. 2019. Statin Safety and Associated Adverse Events: A Scientific Statement From the American Heart Association
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
_(1).jpg&w=3840&q=75)