Pernahkah ketika bangun tidur pada suatu pagi Anda menyadari kelopak mata terlihat sembap tanpa sebab yang jelas? Kemudian, setelah lewat beberapa hari, apakah pergelangan kaki juga ikut bengkak dan kencing terlihat lebih banyak busanya daripada biasanya?
Biasanya, orang hanya menganggap gejala ini sebagai akibat dari kelelahan yang berlebihan. Padahal, berbagai gejala ini bisa jadi menandakan adanya gangguan bernama sindrom nefrotik. Perlu sekali memahami gejalanya dan kapan harus memeriksakannya ke dokter supaya tidak menjadi semakin parah.
Apa Itu Sindrom Nefrotik?
Sindrom nefrotik adalah sejenis gangguan ginjal yang bisa membuat tubuh kehilangan terlalu banyak protein lewat urine. Sindrom ini bisa terjadi karena glomerulus, unit penyaring berukuran kecil pada organ ginjal, mengalami kerusakan.
Jika dalam kondisi sehat dan mampu bekerja sebagaimana mestinya, glomerulus bisa menyaring limbah dan menahan protein penting supaya tubuh tidak kekurangan protein.
Tetapi ketika glomerulus rusak, ginjal tidak dapat menahan protein dengan baik sehingga protein ikut keluar bersama urine. Akibatnya, kadar albumin dalam tubuh dapat menurun, padahal protein ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan di dalam pembuluh darah.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena albumin membantu mempertahankan cairan tetap berada di dalam pembuluh darah, dan jika kadar albumin terlalu rendah, cairan dapat merembes ke jaringan tubuh dan menyebabkan pembengkakan.
Pada umumnya, hanya 3 dari 100.000 orang dewasa yang mengalami sindrom ini setiap tahun. Apabila tidak segera ditangani, sindrom ini bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah dan kolesterol karena tubuh berusaha menggantikan hilangnya protein.
Sindrom Nefrotik vs Nefrosis
Dalam beberapa sumber, nefrosis digunakan sebagai istilah lain untuk sindrom nefrotik pada anak. Namun, istilah medis yang lebih umum dan tepat digunakan saat ini adalah sindrom nefrotik.
Oleh karena itu, dokter biasanya menggunakan istilah nefrosis ketika menemukan gejala-gejala sindrom ini pada anak-anak. Meski mereka punya nama yang berbeda, keduanya tetap mengacu pada kebocoran protein akibat kerusakan ginjal.
Gejala Sindrom Nefrotik
Meski sindrom ini punya gejala yang tidak langsung terlihat, Anda tetap perlu tahu cara mendeteksinya.
Pertama, penderita sindrom ini dapat mengalami edema, yaitu pembengkakan pada bagian-bagian tertentu di tubuh mereka. Pembengkakan ini biasanya muncul di sekitar mata pada pagi hari, lalu di kaki dan pergelangan kaki.
Selain itu, penderitanya juga akan mengeluarkan urine yang tampak berbusa saat sedang kencing akibat kandungan protein yang tinggi. Penderita juga bisa secara mendadak mengalami kenaikan berat badan karena cairan yang terus menumpuk di tubuh mereka.
Tidak hanya itu, penderita sindrom ini bisa mengalami rasa lelah dan lemas luar biasa serta mengalami penurunan nafsu makan.
Walaupun gejala-gejala tersebut dapat muncul secara terpisah, Anda perlu waspada jika keduanya terjadi secara bersamaan. Segera periksakan diri ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Penyebab Terjadinya Sindrom Nefrotik
Di dunia kesehatan, para ahli membagi penyebab sindrom ini ke dalam dua kelompok, yaitu penyebab primer dan sekunder.
Penyebab Primer
Penyebab primer sindrom nefrotik berasal dari penyakit yang langsung menyerang glomerulus. Contohnya adalah minimal change disease, penyakit pada glomerulus yang paling sering ditemukan pada anak-anak, dan focal segmental glomerulosclerosis (FSGS), yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada sebagian glomerulus.
Penyebab primer sering kali bersifat idiopatik, yang berarti penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti. Kondisi ini tetap dapat menimbulkan gejala, seperti protein dalam urine, kadar albumin darah yang rendah, dan pembengkakan pada tubuh.
Penyebab Sekunder
Selain penyakit yang langsung menyerang ginjal, sindrom nefrotik juga dapat disebabkan oleh penyakit lain di dalam tubuh yang kemudian merusak ginjal. Penyebab seperti ini disebut penyebab sekunder.
Contohnya adalah diabetes, salah satu penyebab sekunder yang paling umum dibalik sindrom ini. Penyebab lainnya meliputi lupus, infeksi seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Tidak hanya itu, tekanan darah tinggi dan konsumsi obat pereda nyeri tertentu dalam jangka panjang juga bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan ini.
Dibandingkan dengan anak-anak, orang dewasa biasanya lebih banyak mengalami sindrom nefrotik akibat penyebab sekunder dibandingkan dengan penyebab primer.
Diagnosis dan Pemeriksaan Protein Urine
Untuk mendiagnosis sindrom nefrotik dan menilai kondisi ginjal, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan guna mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang fungsi ginjal dan kadar protein dalam tubuh.
Pertama, dokter akan melakukan tes urine yang sangat penting untuk mengukur jumlah protein yang bocor. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi proteinuria, yaitu kondisi ketika urine memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Selain itu, dokter juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa kondisi ginjal secara keseluruhan dengan mengukur kadar albumin dan kolesterol di dalamnya. Kadar albumin yang rendah serta kolesterol yang tinggi dapat ditemukan pada sindrom nefrotik.
Apabila dirasa perlu, dokter akan melakukan biopsi ginjal dalam kasus tertentu. Biopsi dilakukan dengan mengambil sejumlah kecil sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di laboratorium. Dokter baru akan melakukan biopsi apabila tes lainnya tidak cukup untuk memberikan gambaran tentang kondisi ginjal.
Pengobatan Sindrom Nefrotik
Perihal cara mengobatinya, dokter biasanya akan membuat resep obat untuk mengurangi pembengkakan dan menurunkan tekanan darah. Biasanya, dokter akan meresepkan obat golongan kortikosteroid seperti prednison apabila pasien mengalami minimal change disease.
Tidak hanya itu, penderita juga perlu mengurangi asupan garam untuk mengurangi pembengkakan tubuh. Perlu juga mengatur pola makan sesuai arahan dokter supaya bisa segera pulih.
Namun, karena setiap penderita bisa mengalami gejala yang berbeda, penanganan yang didapat juga bisa berbeda. Contohnya, beberapa penderita juga perlu mengonsumsi obat tambahan penurun kolesterol.
Oleh karena itu, menjelaskan kondisi secara detail bisa sangat membantu dokter menentukan penanganan yang paling sesuai.
Sindrom Nefrotik pada Anak
Anak-anak lebih sering mengalami sindrom nefrotik daripada orang dewasa. Biasanya, kondisi ini disebabkan karena minimal change disease dan umumnya bisa dokter tangani.
Gejala pertama yang kerap muncul adalah bengkak yang muncul di sekitar mata pada pagi hari. Seiring berjalannya waktu, pembengkakan ini bisa meluas ke kaki, pergelangan kaki, dan bagian tubuh lainnya.
Kemudian, anak juga bisa tampak pucat dan lebih mudah lelah. Mereka juga menjadi tidak nafsu makan dan lebih mudah rewel dari biasanya.
Untungnya, orang tua bisa membantu anak cepat sembuh dengan memberikan penanganan yang tepat. Meski begitu, orang tua perlu tetap waspada karena sindrom itu bisa menandakan infeksi lain yang serius, sehingga pemeriksaan tetap penting.
Kapan Harus ke Dokter?
Ketika muncul gejala-gejala sindrom nefrotik, segera kunjungi dokter untuk memeriksakannya. Contoh gejala yang perlu Anda waspadai adalah urine yang terus berbusa dan berat badan yang tiba-tiba meningkat drastis akibat penumpukan cairan.
Memeriksakan kondisi ke dokter juga diperlukan jika jumlah urine berkurang, urine tampak kemerahan atau berwarna seperti teh, tekanan darah meningkat, nafsu makan menurun, atau tubuh terasa lebih lelah dari biasanya. Pada anak-anak, orang tua perlu memerhatikan apakah anak menjadi lebih rewel, tampak pucat, atau mengalami pembengkakan pada perut dan kaki.
Segera cari pertolongan medis jika gejala tersebut sudah disertai sesak napas, demam tinggi, atau tubuh terasa sangat lemas.
Terlepas dari apa penyebabnya, pemeriksaan tetap perlu dilakukan untuk mengetahui apakah gejala tersebut berkaitan dengan sindrom nefrotik atau kondisi medis lain. Dokter dapat melakukan pemeriksaan urine, darah, dan fungsi ginjal untuk menentukan diagnosis serta penanganan yang sesuai. Untuk itu, jangan menunda pemeriksaan, terutama jika gejala semakin berat atau muncul secara tiba-tiba.
Cek Kadar Protein dan Albumin Anda!
Karena kebocoran protein adalah gejala utama sindrom nefrotik, Anda perlu penanganan yang sesuai untuk menanganinya. Bisa dengan segera pergi ke dokter dan melakukan pemeriksaan laboratorium.
Bumame menyediakan pemeriksaan Albumin untuk membantu mengukur kadar albumin dalam darah. Pemeriksaan ini dapat membantu memantau kondisi yang berkaitan dengan fungsi ginjal, status kesehatan, dan keseimbangan cairan dalam tubuh.
Meski bermanfaat, pemeriksaan ini bukan merupakan pengobatan dan tidak dapat menggantikan diagnosis dokter. Hasilnya dapat menjadi informasi pendukung bagi dokter dalam menentukan langkah pemeriksaan atau penanganan medis berikutnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Mayo Clinic. (2022). Nephrotic syndrome: Symptoms & causes.
National Kidney Foundation. (2026). Childhood Nephrotic Syndrome.
Cleveland Clinic. (2026). Nephrotic Syndrome: Causes, Symptoms & Treatment.
National Kidney Foundation. (2026). Nephrotic syndrome symptoms, causes, & treatment.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2023). Nephrotic Syndrome in Adults.
Padoan, F., et. al. (2025). Kidney Function and Size in Children With Down Syndrome: A Cross-Sectional Study.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
.jpg&w=3840&q=75)