Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Ureum Tinggi Artinya Apa? Penyebab, Cara Turunkan
Kembali ke Artikel & Berita

Ureum Tinggi Artinya Apa? Ini Penyebab dan Cara Menurunkannya

SBAOthers

Ketika Anda melihat hasil pemeriksaan darah lalu menemukan kadar ureum yang lebih tinggi dari nilai rujukan, wajar jika hal tersebut menimbulkan pertanyaan, ureum tinggi artinya apa dan apakah kondisi ini selalu mengindikasikan gangguan ginjal?

Jawabannya belum tentu, karena sebenarnya kadar ureum juga bisa dipengaruhi oleh kondisi seperti pola makan tinggi protein, dehidrasi, obat tertentu, atau gangguan fungsi ginjal. Untuk itu, hasil ureum harus dibaca bersama dengan pemeriksaan lain.

Ureum Tinggi Artinya Apa?

Melansir National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), ureum tinggi artinya kadar ureum dalam darah melebihi batas rentang rujukan laboratorium.

Ureum merupakan zat sisa yang terbentuk di hati dari hasil pemecahan protein, lalu dibawa lewat aliran darah menuju ginjal untuk disaring dan dikeluarkan bersama urine. Ketika proses pembuangan tersebut mengalami masalah atau tubuh mengalami kondisi tertentu, kadar ureum bisa meningkat.

Nilai normal ureum bisa berbeda tergantung pada metode pemeriksaan dan laboratorium. Misalnya, salah satu laboratorium rumah sakit memakai rentang 2,5–7,8 mmol/L untuk ureum darah pada orang dewasa.

Sementara itu, pemeriksaan blood urea nitrogen (BUN) menggunakan satuan dan rentang yang berbeda. Hal tersebut membuat hasilnya tidak bisa disamakan begitu saja dengan angka ureum.

Maka dari itu, ketika membaca hasil ureum, pastikan menggunakan rentang rujukan yang tercantum di lembar hasil pemeriksaan. Kadar ureum yang nilainya di atas angka tersebut belum secara otomatis menandakan bahwa Anda mengalami penyakit ginjal.

Penyebab Ureum Tinggi

Ada beragam penyebab ureum tinggi, mulai dari kondisi sementara yang cukup sederhana sampai gangguan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Berikut ini beberapa penyebab utamanya.

1. Gangguan Fungsi Ginjal

Fungsi ginjal berperan sebagai penyaring beragam zat sisa dari darah lalu membuangnya lewat urine. Saat kemampuan penyaringan ginjal menurun, ureum bisa menumpuk di dalam darah sehingga hasil pemeriksaannya akan meningkat. Gangguan yang berhubungan dengan peningkatan ureum adalah:

Akan tetapi, ureum saja tidak cukup untuk menentukan tingkat fungsi ginjal. Pemeriksaan kreatinin, urine, dan eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate) bisa memberi gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi ginjal.

2. Dehidrasi

Kekurangan cairan bisa membuat volume darah berkurang sehingga aliran darah ke ginjal juga ikut menurun. Kondisi ini berakibat pada pembuangan ureum lewat ginjal yang berkurang dan kadarnya dalam darah meningkat.

Dehidrasi bisa terjadi setelah muntah, banyak berkeringat, diare, demam, maupun kurang minum. Dalam kondisi seperti ini, ureum tinggi artinya belum tentu mengindikasikan terjadinya kerusakan ginjal.

3. Pola Makan Tinggi Protein

Protein dari ayam, jagung, telur, susu, ikan, dan produk protein lainnya akan dipecah di dalam tubuh dan menghasilkan zat sisa, termasuk ureum. Mengonsumsi protein dalam jumlah yang tinggi bisa mengakibatkan kadar ureum meningkat sementara.

Hal tersebut perlu diperhatikan, khususnya ketika Anda menjalani pola makan yang tinggi protein maupun mengonsumsi suplemen protein secara rutin.

4. Perdarahan Saluran Cerna

Perdarahan saluran cerna bisa meningkatkan kadar ureum karena darah yang masuk ke saluran cerna mengandung protein. Protein tersebut kemudian dicerna dan bisa meningkatkan pembentukan ureum. Kondisi ini perlu menjadi perhatian jika peningkatan ureum disertai keluhan lain yang mengarah ke perdarahan saluran cerna.

5. Gangguan Jantung dan Aliran Darah

Mengutip MedlinePlus, kondisi berupa gagal jantung bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah yang efektif menuju ginjal. Akibatnya, kemampuan ginjal dalam membuang ureum tinggi artinya bisa menurun sehingga kadarnya dalam darah justru meningkat.

6. Obat atau Kondisi Medis Tertentu

Beberapa obat juga bisa memengaruhi kadar ureum, lho. Kondisi seperti serangan jantung, luka bakar berat, maupun stres fisiologis berat mengakibatkan peningkatan kadar tersebut.

Gejala yang Menyertai Ureum Tinggi

Kadar ureum yang tinggi pada tahap awal kerap tidak memunculkan gejala yang khas. Bahkan, penyakit ginjal kronis di tahap awal juga bisa berlangsung tanpa ada keluhan, sehingga pemeriksaan urine dan darah menjadi langkah yang penting untuk mendeteksinya.

Ketika gangguan fungsi ginjal sudah lebih lanjut dan zat sisa semakin menumpuk di dalam darah, beberapa keluhan yang bisa muncul adalah:

  • Nafsu makan berkurang;

  • Merasa lemas atau mudah lelah;

  • Kesulitan tidur;

  • Sulit berkonsentrasi;

  • Mual atau muntah;

  • Kram atau kelemahan otot;

  • Kulit terasa gatal atau lebih kering;

  • Urine berbusa;

  • Perubahan jumlah atau frekuensi urine;

  • Berat badan menurun tanpa direncanakan;

  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, wajah, atau tangan; serta

  • Sesak napas atau nyeri di dada pada kondisi yang lebih berat.

Cara Menurunkan Ureum Tinggi

Berdasarkan penyebabnya, cara menurunkan ureum tinggi artinya haruslah spesifik. Berikut ini penjelasannya.

1. Cukupi Kebutuhan Cairan Tubuh Harian

Jika peningkatan kadar ureum dalam tubuh terjadi karena dehidrasi, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi. Caranya bisa dengan mengonsumsi air putih secara teratur, khususnya saat cuaca panas atau tubuh kehilangan banyak cairan karena muntah, berkeringat, atau diare. Akan tetapi, seseorang dengan penyakit gagal jantung atau penyakit ginjal justru harus membatasi konsumsi air sesuai arahan dokter.

2. Batasi Asupan Protein

Jika kadar ureum tinggi artinya berhubungan dengan gangguan ginjal, maka asupan protein mungkin perlu disesuaikan. Sumber protein yang harus Anda perhatikan adalah ayam, daging merah, telur, ikan, susu, dan makanan dan minuman tinggi protein.

Pembatasan bukan berarti Anda harus menghindari protein sepenuhnya. Pedoman Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) merekomendasikan kurang lebih 0,8 gram protein/kg berat badan per hari untuk orang dewasa dengan penyakit gagal ginjal kronis yang belum menjalani cuci darah (hemodialisis).

Maka dari itu, penting untuk melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi individu. Hal ini karena terlalu sedikit asupan protein juga bisa mengakibatkan kekurangan gizi, sehingga pengaturan porsinya harus sesuai anjuran dokter atau ahli gizi.

3. Perbanyak Serat

Buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan sumber serat lainnya dalam porsi yang sesuai bisa menjadi bagian dari pola makan sehat. Bagi penderita penyakit ginjal, pilihan makanan tetap harus disesuaikan karena kebutuhan fosfor, kalium, dan zat gizi lainnya bisa berbeda.

Pola makan dengan lebih banyak makanan berbasis tumbuhan dan lebih sedikit makanan ultra-proses (Ultra Processed Food) juga direkomendasikan untuk pengelolaan penyakit ginjal kronis.

4. Kurangi Garam

Ultra Processed Food (UPF) yang umumnya mencakup daging olahan, mi instan, makanan ringan kemasan, makanan beku tertentu, dan produk siap santap memiliki kandungan natrium tinggi.

Mengurangi garam bisa membantu menjaga tekanan darah, terutama bagi Anda yang mempunyai penyakit ginjal. Pedoman KDIGO juga menyarankan agar asupan natrium harian untuk orang sehat hanya kurang dari 2 gram atau setara dengan kurang dari 5 gram per hari untuk penderita penyakit ginjal kronis.

5. Kendalikan Penyakit Penyerta

Diabetes dan hipertensi adalah penyebab penting dari penyakit ginjal kronis yang dialami orang dewasa. Untuk itu, menurunkan kreatinin dalam darah, mengendalikan gula darah dan tekanan darah bisa membantu melindungi fungsi ginjal.

Jika terdapat gangguan ginjal, penyakit jantung, atau kondisi lain yang berpotensi memengaruhi kadar ureum, penyakit tersebut juga harus ditangani sesuai dengan anjuran dokter.

Kapan Perlu Tes Ureum?

Berdasarkan penjelasan di atas, tes ureum tinggi artinya bisa dilakukan sebagai bagian dari evaluasi fungsi ginjal atau untuk memantau kondisi penyerta. Pemeriksaan menjadi semakin penting ketika Anda mempunyai faktor risiko penyakit ginjal maupun mengalami keluhan yang mengarah ke gangguan fungsi ginjal.

Beberapa kondisi yang bisa menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan ureum adalah:

  • Memiliki penyakit jantung;

  • Memiliki diabetes:

  • Mengalami keluhan yang mengarah ke gangguan fungsi ginjal;

  • Menderita hipertensi;

  • Mengalami perubahan frekuensi atau jumlah urine;

  • Mengonsumsi obat tertentu dalam jangka panjang yang bisa berpotensi memengaruhi ginjal;

  • Mengalami pembengkakan di kaki maupun bagian tubuh lain; dan

  • Sudah pernah memperoleh hasil pemeriksaan fungsi ginjal yang tidak normal.

NIDDK menyebutkan bahwa seseorang dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, maupun riwayat keluarga gagal ginjal perlu memperoleh pemeriksaan untuk menilai kondisi ginjalnya.

Cek Fungsi Ginjal Setelah Ureum Tinggi

Mengetahui ureum tinggi artinya bukan hanya melihat apakah angkanya sudah melewati batas normal atau belum. Hasil tersebut masih harus dilihat bersama dengan parameter lain karena ureum juga bisa berubah karena asupan protein, dehidrasi, dan beragam kondisi di luar penyakit ginjal.

Bumame menawarkan layanan Pemeriksaan Fungsi Ginjal yang mencakup pemeriksaan kreatinin + eGFR, ureum, asam urat, dan urine lengkap. Kombinasi ini bisa memberi gambaran secara lebih menyeluruh daripada hanya melihat kadar ureum.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan hasil pemeriksaan ke dokter jika ureum tinggi disertai perubahan jumlah urine yang cukup jelas, pembengkakan, mual dan muntah berulang, nyeri dada, sesak napas, kebingungan, maupun kondisi tubuh yang semakin lemah. Keluhan tersebut bisa berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Jangan Terpaku pada Satu Angka di Hasil Laboratorium

Jadi, ureum tinggi artinya kadar zat sisa metabolisme protein di dalam darah di atas rentang normal. Namun, hasil tersebut tidak secara otomatis menandakan bahwa ginjal Anda mengalami kerusakan.

Konsumsi protein tinggi, dehidrasi, obat tertentu, dan beberapa kondisi medis lain juga bisa memengaruhinya. Jika hasil di atas normal, langkah yang tepat bukan hanya mencari cara menurunkan ureum tinggi, melainkan mencari penyebabnya agar penanganannya tepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. MedlinePlus. (2025). BUN (Blood Urea Nitrogen): MedlinePlus Medical Test.

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2026). Identify & Evaluate Patients with Chronic Kidney Disease.

  3. University Hospitals Sussex NHS Foundation Trust. (2026). Urea (serum).

  4. MedlinePlus. (2026). BUN – blood test.

  5. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2026). Chronic Kidney Disease Tests & Diagnosis.

  6. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2026). What Is Chronic Kidney Disease in Adults?

  7. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2026). What is Kidney Failure?

  8. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). (2024). KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease.

  9. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2026). Chronic Kidney Disease (CKD).

  10. Bumame. (2026). Paket Fungsi Ginjal.

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa arti kadar ureum tinggi dalam hasil pemeriksaan darah?
Ureum tinggi berarti kadar zat sisa pemecahan protein dalam darah melebihi rentang rujukan laboratorium. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal, dehidrasi, pola makan tinggi protein, atau kondisi medis lainnya.
Apa penyebab ureum tinggi selain penyakit ginjal?
Selain gangguan ginjal, ureum tinggi dapat disebabkan oleh dehidrasi, konsumsi protein berlebihan, perdarahan saluran cerna, gangguan jantung, penggunaan obat tertentu, serta kondisi medis seperti luka bakar berat.
Apakah banyak minum air putih bisa menurunkan ureum tinggi?
Mencukupi kebutuhan cairan dapat membantu jika ureum tinggi disebabkan oleh dehidrasi. Namun, penderita gagal jantung atau penyakit ginjal mungkin perlu membatasi cairan sesuai arahan dokter.
Apa saja gejala yang dapat menyertai ureum tinggi?
Gejala yang dapat muncul meliputi nafsu makan berkurang, mudah lelah, sulit tidur atau berkonsentrasi, mual, muntah, kram otot, kulit gatal, perubahan jumlah urine, pembengkakan, hingga sesak napas pada kondisi berat.
Kapan seseorang perlu memeriksakan kadar ureum ke dokter?
Pemeriksaan perlu dipertimbangkan jika memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, perubahan jumlah urine, pembengkakan, atau riwayat hasil fungsi ginjal tidak normal. Segera konsultasikan ke dokter jika disertai sesak napas, nyeri dada, muntah berulang, kebingungan, atau tubuh semakin lemah.