Pernah merasa ingin buang air besar (BAB), tapi sulit mengeluarkan tinja meskipun sudah duduk cukup lama di toilet? Keluhan ini bisa muncul ketika pola makan berubah, aktivitas berkurang, ataupun tubuh kekurangan cairan. Sembelit adalah kondisi di mana BAB menjadi lebih jarang dari biasanya ataupun tinja terasa keras.
Meskipun masalah ini sering membaik dengan adanya perubahan kebiasaan, tapi sembelit yang menetap atau disertai gejala tertentu perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut untuk bisa mengetahui penyebabnya. Mari kenali lebih dalam dan cari tahu cara mengatasinya!
Memahami Sembelit dan Dampaknya bagi Tubuh
Konstipasi atau sembelit adalah gangguan dari pola BAB. Seseorang bisa saja mengalami sembelit jika BAB terjadi kurang dari tiga kali seminggu, tinja keras ataupun kering, perlu mengejan dengan berlebihan, ataupun merasa tinja belum keluar sepenuhnya.
Namun, frekuensi BAB normal bisa berbeda pada tiap orang sehingga perubahan dari kebiasaan biasanya juga perli diperhatikan. Ketika tinja bergerak terlalu lambat melalui usus besar, maka akan lebih banyak air diserap kembali oleh tubuh. Akibatnya, tinja bisa menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Konstipasi juga tidak selalu merupakan penyakit tersendiri. Sebab, terkadang masalah ini merupakan gejala dari kondisi kesehatan lainnya. Sembelit yang terjadi sesekali juga umumnya bukan masalah besar, dan bisa membaik melalui perubahan pola makan dan juga aktivitas.
Namun, jika memang sudah berlangsung lama, kondisi ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, memperburuk masalah ambeien, ataupun menyebabkan luka pada anus akibat tinja keras dan juga kebiasaan mengejan. Maka dari itu, jika keluhannya terus berulang sebaiknya jangan Anda abaikan.
Gejala Sembelit yang Perlu Dikenali
Perubahan dari pola BAB yang bisa membuat proses pengeluaran tinja menjadi sangat tidak nyaman. Nah, beberapa gejala sembelit adalah sebagai berikut.
BAB lebih jarang dari biasanya, termasuk kurang dari 3x dalam seminggu.
Tinja keras, kering, ataupun menggumpal, sehingga sulit dikeluarkan.
Perlu mengejan sangat berlebihan ketika BAB.
Perut terasa penuh ataupun kembung, terkadang disertai rasa tidak nyaman.
Merasa BAB belum tuntas, padahal sudah mengeluarkan tinja.
Nyeri ketika BAB, apalagi jika tinja sangat keras.
Segera cari pertolongan medis jika memang sembelit disertai nyeri perut yang berat ataupun menetap, muntah, perut membengkak, tidak bisa buang angin, atau muncul darah di tinja. Adanya penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas juga perlu perlu mendapat evaluasi.
Pada umumnya, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan penyakit serius, tapi tetap membutuhkan pemeriksaan agar penyebab pastinya tidak terlewat.
Penyebab Sembelit dan Faktor Risikonya
Masalah ini bisa muncul karena kebiasaan sehari-hari sampai kondisi medis tertentu. Nah, beberapa faktor penyebab sembelit adalah sebagai berikut.
Asupan serat kurang: Serat dari sayur, buah, kacang-kacangan, ataupun biji-bijian bisa sangat membantu membentuk tinja agar lebih mudah dikeluarkan.
Kurang minum: Asupan cairan yang tidak mencukupi juga bisa membuat tinja lebih keras, apalagi ketika konsumsi serat meningkat.
Jarang bergerak: Aktivitas fisik yang rendah juga bisa berkaitan dengan pergerakan usus yang kurang lancar.
Sering menahan keinginan BAB: Menunda ke toilet berulang kali juga akan membuat pola BAB semakin tidak teratur.
Perubahan rutinitas: Adanya perjalanan, perubahan jadwal makan, kehamilan, dan juga bertambahnya usia bisa memengaruhi kebiasaan BAB.
Efek obat atau suplemen: Obat pereda nyeri tertentu, suplemen zat besi, dan juga beberapa obat lain bisa menyebabkan sembelit.
Stres: Stres juga bisa memengaruhi pola BAB dan menyebabkan konstipasi.
Konsumsi susu dan keju: Mengonsumsi susu dan keju dalam jumlah besar dapat memengaruhi kelancaran BAB.
Kondisi kesehatan tertentu: Diabetes, gangguan tiroid, masalah otot dasar panggul, ataupun gangguan usus juga bisa menjadi faktor penyebab.
Obat-obatan tertentu: Beberapa obat seperti antidepressants, antihistamines, dan clozapine dapat menyebabkan konstipasi.
Kondisi kesehatan: Masalah kesehatan atau penyakit seperti diabetes, kanker kolorektal, dan lazy bowel syndrome juga dapat menyebabkan konstipasi.
Lansia, ibu hamil, orang yang kurang aktif bergerak, ataupun orang yang mengonsumsi obat tertentu bisa memiliki risiko lebih tinggi. Meski begitu, sembelit adalah masalah yang dapat menyerang siapa saja. Riwayat kesehatan, pola BAB, dan kebiasaan sehari-hari pun menjadi sumber pemeriksaan.
Diagnosis dan Pemeriksaan Sembelit
Nantinya dokter akan menanyakan frekuensi BAB, bentuk tinja, lama keluhan, pola makan, asupan cairan, aktivitas fisik, dan juga obat yang sedang Anda konsumsi. Biasanya dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk bisa menilai kondisi perut dan, bila memang diperlukan, ada juga pemeriksaan area anus atau rektum.
Namun, tidak semua orang membutuhkan tes laboratorium ataupun pemeriksaan pencitraan. Jika memang sembelit berlangsung lama, berulang, atau bahkan disertai tanda tertentu, dokter biasanya akan mempertimbangkan pemeriksaan tambahan sesuai dugaan penyebabnya.
Pemeriksaan darah, misalnya, bisa saja dipertimbangkan apabila ada kecurigaan terhadap kondisi medis yang memang mendasari. Medical check up juga bisa membantu menilai aspek kesehatan secara umum, tetapi bukan pemeriksaan khusus yang secara otomatis bisa mendiagnosis sembelit.
Jenis pemeriksaannya sebaiknya harus disesuaikan dengan keluhan dan juga rekomendasi dokter. Anda juga bisa membaca informasi tentang pilihan paket medical check up Bumame untuk memahami apa saja layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia di Bumame.
Jika memang keluhan utamanya adalah konstipasi, maka konsultasi medis tetap harus menjadi langkah awal untuk bisa menentukan pemeriksaan yang benar-benar dibutuhkan.
Cara Mengatasi Sembelit
Untuk sembelit ringan tanpa adanya tanda bahaya, maka perubahan rutinitas bisa membantu memperbaiki pola BAB. Beberapa cara mengatasi sembelit adalah sebagai berikut.
Tambah asupan serat secara bertahap: Jangan lupa untuk pilih sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Namun, pahami juga bahwa penambahan serat secara mendadak bisa membuat perut kembung, jadi pastikan untuk meningkatkannya secara perlahan.
Cukupi kebutuhan cairan: Minum secara teratur, apalagi ketika menambah asupan serat. Jika memang dokter membatasi cairan karena kondisi tertentu, maka tetap ikuti anjuran tersebut.
Lakukan aktivitas fisik: Berjalan kaki ataupun melakukan aktivitas sesuai kemampuan juga akan membantu mendukung fungsi usus.
Jangan menahan keinginan BAB: Usahakan juga menyediakan waktu ke toilet tanpa harus terburu-buru.
Bangun rutinitas BAB: Bagi sebagian orang akan terbantu dengan mencoba ke toilet pada waktu yang konsisten, seperti setelah sarapan.
Hindari mengejan berlebihan: Jika memang tinja sulit keluar dan sampai menimbulkan nyeri, maka jangan memaksakan diri.
Jika memang perubahan kebiasaan belum bisa membantu, dokter ataupun apoteker bisa menyarankan obat pencahar yang sesuai dengan kondisi. Jenis obat dan lama penggunaannya juga perlu diperhatikan, apalagi untuk anak, ibu hamil, lansia, ataupun orang dengan penyakit tertentu.
Jangan sembarangan menggunakan obat pencahar secara berlebihan ataupun dalam jangka panjang tanpa arahan tenaga kesehatan. Jika memang merasa cemas dan terganggu, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar penanganannya bisa sesuai.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Meski dapat sembuh dengan sendirinya, sembelit adalah masalah yang dapat menimbulkan komplikasi pada kasus tertentu. Karena itu, pastikan untuk membuat janji konsultasi jika memang sembelit tidak kunjung membaik dengan perubahan kebiasaan, sering kambuh, ataupun sampai mulai mengganggu aktivitas.
Pemeriksaan ini juga penting jika memang pola BAB berubah secara tiba-tiba, apalagi pada orang yang sebelumnya tidak pernah mengalami masalah serupa. Jangan menunda pertolongan jika sembelitnya sudah disertai gejala lain yang mengganggu.
Contonya nyeri perut berat ataupun menetap, muntah, tidak bisa buang angin, pendarahan dari anus, tinja berdarah, atau sampai penurunan berat badan dengan tanpa adanya sebab yang jelas. Gejala ini pastinya memerlukan evaluasi medis segera.
Jika memang membutuhkan pemeriksaan kesehatan, maka Anda bisa melihat layanan di website resmi Bumame. Untuk sembelit yang sedang menetap, maka utamakan konsultasi pada dokter agar pemeriksaan dan penanganannya bisa dipilih berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, serta kebutuhan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) — Definition & Facts for Constipation
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) — Symptoms & Causes of Constipation
National Health Service (NHS) — Constipation
Mayo Clinic — Constipation: Diagnosis and Treatment
Cleveland Clinic — Constipation
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apakah sembelit berarti tidak BAB setiap hari?
Tidak selalu. Frekuensi BAB setiap orang berbeda. Sembelit lebih berkaitan dengan perubahan pola BAB, tinja keras atau kering, kesulitan mengeluarkan tinja, mengejan berlebihan, atau merasa BAB belum tuntas. BAB kurang dari tiga kali seminggu juga merupakan salah satu tanda sembelit.
Apa penyebab sembelit yang paling umum?
Sembelit dapat disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, kurang aktivitas fisik, kebiasaan menahan keinginan BAB, perubahan rutinitas, stres, efek obat atau suplemen tertentu, serta kondisi medis seperti diabetes dan gangguan tiroid.
Bagaimana cara mengatasi sembelit secara alami?
Tambahkan asupan serat secara bertahap dari sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Cukupi kebutuhan cairan, lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, jangan menahan keinginan BAB, dan bangun rutinitas BAB yang teratur. Hindari mengejan secara berlebihan.
Apakah sembelit bisa menyebabkan ambeien?
Ya. Mengejan berlebihan saat BAB dapat meningkatkan tekanan pada area anus dan berkontribusi terhadap ambeien. Tinja yang keras juga dapat menyebabkan luka kecil pada anus sehingga menimbulkan rasa nyeri atau perdarahan.
Kapan sembelit perlu diperiksa oleh dokter?
Konsultasikan dengan dokter jika sembelit tidak membaik setelah perubahan kebiasaan, sering kambuh, mengganggu aktivitas, atau disertai perubahan pola BAB yang tiba-tiba. Segera cari pertolongan medis jika mengalami nyeri perut berat atau menetap, muntah, perut membengkak, tidak bisa buang angin, tinja berdarah, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
