Redaksi Bumame
Fisura Anus Bikin Nyeri Saat BAB? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Nyeri saat buang air besar (BAB) yang disertai darah merah segar sering dikaitkan dengan ambeien. Padahal, keluhan tersebut juga dapat terjadi akibat fisura anus atau fisura ani, yaitu robekan kecil pada jaringan di sekitar lubang anus.
Fisura ani umumnya muncul akibat trauma pada jaringan anus, terutama ketika mengeluarkan tinja yang keras atau berukuran besar. Robekan dapat kembali terbuka setiap kali BAB sehingga menimbulkan rasa sakit yang cukup mengganggu.
Sebagian kasus dapat membaik dengan menjaga konsistensi tinja dan menghindari kebiasaan mengejan. Namun, fisura yang terus berulang atau disertai perdarahan sebaiknya diperiksakan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.
Mengenal Fisura Anus atau Fisura Ani
Fisura anus adalah robekan kecil pada lapisan jaringan yang terdapat di sekitar lubang anus. Kondisi yang sama juga dikenal dengan istilah fisura ani.
Robekan tersebut dapat menimbulkan rasa sakit ketika tinja melewati anus. Otot di sekitar anus juga dapat mengalami spasme atau kontraksi sehingga rasa sakit terasa lebih kuat dan proses penyembuhan luka menjadi lebih sulit.
Fisura ani dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa.
Meskipun sama-sama dapat menyebabkan nyeri dan perdarahan ketika BAB, fisura anus berbeda dengan ambeien. Fisura merupakan luka atau robekan, sedangkan ambeien terjadi akibat pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau rektum bagian bawah.
Berbagai Penyebab Fisura Anus
Fisura anus paling sering terjadi akibat trauma pada jaringan anus. Salah satu pemicunya adalah mengeluarkan tinja yang keras atau berukuran besar ketika BAB.
Beberapa kondisi yang dapat memicu fisura ani antara lain:
1. Sembelit
Sembelit membuat tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Ketika tinja melewati lubang anus, jaringan dapat mengalami peregangan berlebihan hingga terbentuk robekan.
Kebiasaan mengejan terlalu kuat juga dapat meningkatkan tekanan pada area anus dan memperburuk luka yang sudah terbentuk.
2. Diare Berkepanjangan
Fisura tidak selalu disebabkan oleh tinja keras. BAB yang terlalu sering juga dapat menyebabkan iritasi berulang pada jaringan anus.
Seseorang yang mengalami diare kronis dapat mengalami iritasi berkepanjangan sehingga kondisi yang mendasarinya perlu diperhatikan.
3. Persalinan
Tekanan dan peregangan pada area anus selama proses persalinan dapat memicu terbentuknya fisura pada sebagian wanita.
4. Kondisi Medis Tertentu
Fisura yang muncul berulang, sulit sembuh, atau berada pada lokasi yang tidak umum dapat berkaitan dengan kondisi medis lain.
Karena itu, fisura yang menetap sebaiknya tidak terus ditangani sendiri tanpa mengetahui penyebab yang mendasarinya.
Gejala Fisura Anus yang Perlu Dikenali
Gejala yang paling khas adalah rasa nyeri tajam ketika BAB. Rasa sakit dapat berlanjut menjadi sensasi perih atau terbakar setelah selesai BAB.
Keluhan lain yang dapat menyertai fisura ani antara lain:
- Darah merah segar pada tinja atau kertas toilet
- Rasa perih di sekitar anus
- Robekan kecil yang terlihat di sekitar lubang anus
- Benjolan kulit kecil atau skin tag pada fisura kronis
Darah akibat fisura umumnya berwarna merah segar karena berasal dari area anus. Namun, tidak semua perdarahan saat BAB disebabkan oleh fisura.
Ada berbagai penyebab BAB berdarah, mulai dari ambeien hingga gangguan pada saluran pencernaan. Karena itu, perdarahan yang terus berulang perlu dievaluasi dan tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai fisura ani.
Perbedaan Fisura Anus dan Ambeien
Fisura anus dan ambeien sering tertukar karena keduanya dapat menimbulkan darah setelah BAB.
Perbedaannya terletak pada bagian yang mengalami gangguan. Fisura anus merupakan robekan pada jaringan anus, sedangkan ambeien atau hemoroid merupakan pembengkakan pembuluh darah pada area anus atau rektum.
Fisura biasanya menimbulkan nyeri tajam saat tinja keluar yang dapat dilanjutkan dengan rasa terbakar setelah BAB.
Sementara itu, ambeien dapat menimbulkan perdarahan, rasa gatal, tidak nyaman, hingga benjolan di sekitar anus. Kondisi ini juga dapat terjadi pada usia produktif. Mengenali faktor ambeien di usia muda dapat membantu membedakan faktor risikonya dengan fisura.
Karena keluhan keduanya dapat tumpang tindih, pemeriksaan diperlukan apabila penyebab perdarahan belum diketahui.
Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Fisura Anus
Dokter biasanya akan menanyakan karakteristik keluhan, termasuk kapan rasa sakit muncul, bagaimana pola BAB, apakah terdapat riwayat sembelit atau diare, serta bagaimana karakteristik darah yang keluar.
Selanjutnya, pemeriksaan pada area anus dapat dilakukan untuk melihat adanya robekan.
Pada fisura dengan gambaran yang khas, pemeriksaan fisik sering kali sudah cukup membantu diagnosis. Namun, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan jika lokasi luka tidak umum, keluhan berlangsung lama, atau terdapat gejala yang mengarah pada kondisi lain.
Salah satunya adalah radang usus, yang pada kondisi tertentu dapat disertai diare berkepanjangan, nyeri perut, atau perdarahan saluran cerna.
Pilihan Pengobatan Fisura Anus
Tes darah bukan pemeriksaan utama untuk mendiagnosis fisura anus. Diagnosis fisura terutama ditentukan melalui riwayat keluhan dan pemeriksaan pada area anus.
Namun, jika perdarahan terjadi berulang atau disertai keluhan seperti mudah lelah dan pucat, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan darah untuk mengevaluasi kondisi tubuh secara lebih lanjut.
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah Hematologi Lengkap. Pemeriksaan ini mengevaluasi hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit, trombosit, serta komponen darah lainnya. Pemeriksaan sel darah merah dan hemoglobin dapat membantu mengevaluasi anemia, sementara trombosit berkaitan dengan proses pembekuan dan penghentian perdarahan.
Jika dibutuhkan pemeriksaan kesehatan yang lebih luas, Medical Check Up Basic mencakup Hematologi Lengkap bersama pemeriksaan fungsi hati, ginjal, gula darah, dan profil lemak.
Pilihan lainnya adalah MCU Gula Darah dan MCU Basic yang juga mencakup Hematologi Lengkap sebagai salah satu parameter pemeriksaannya bersama HbA1c, glukosa puasa, fungsi hati, fungsi ginjal, dan profil lipid.
Bagi yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan lebih komprehensif, Paket MCU General Plus juga mencakup Hematologi Lengkap serta pemeriksaan fisik dan konsultasi dokter umum.
Perlu diingat, pemeriksaan tersebut tidak digunakan untuk memastikan diagnosis fisura ani. Dokter akan menentukan apakah tes darah atau pemeriksaan lainnya diperlukan berdasarkan karakteristik dan durasi perdarahan serta gejala yang menyertai.
Bagaimana Cara Mengobati Fisura Anus?
Sebagian besar fisura anus dapat membaik ketika faktor yang menyebabkan luka terus terbuka berhasil dikendalikan.
Perawatan terutama bertujuan membuat tinja lebih mudah dikeluarkan, mengurangi trauma pada anus, dan membantu luka mendapatkan kesempatan untuk sembuh.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mencukupi kebutuhan serat
- Konsumsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber serat lainnya dapat membantu menjaga tinja tetap lunak.
- Minum air yang cukup
- Asupan cairan yang cukup membantu menjaga konsistensi tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan.
- Tidak menahan BAB
- Menahan BAB terlalu lama dapat membuat tinja semakin keras dan sulit dikeluarkan.
- Menghindari mengejan berlebihan
- Mengejan terlalu kuat dapat meningkatkan tekanan pada anus dan membuat robekan kembali terbuka.
- Berendam dengan air hangat
- Sitz bath atau berendam dalam air hangat dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman dan membuat otot di sekitar anus lebih rileks.
Jika perawatan tersebut belum membantu, dokter dapat memberikan pengobatan untuk membantu mengatasi sembelit, mengurangi nyeri, atau membuat otot sfingter anus lebih rileks.
Pada fisura kronis yang tidak membaik dengan terapi konservatif, tindakan medis lebih lanjut hingga operasi dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien.
Tanda Fisura Anus Perlu Diperiksa ke Dokter
Nyeri atau perdarahan yang hanya terjadi sesekali tetap perlu diperhatikan, terutama jika penyebabnya belum diketahui.
Pemeriksaan dokter semakin penting apabila:
- Nyeri semakin berat atau mengganggu aktivitas
- Perdarahan terjadi berulang
- Luka tidak menunjukkan perbaikan
- Terdapat perubahan pola BAB yang menetap
- Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
- Terdapat benjolan atau perubahan pada area anus
- Perdarahan cukup banyak atau tidak berhenti
- Nyeri anus disertai demam
Beberapa gejala pada area anus dapat menyerupai kondisi lain. Misalnya, perdarahan, perubahan kebiasaan BAB, atau munculnya benjolan juga dapat ditemukan pada kondisi yang lebih serius.
Mengenali gejala kanker anus bukan berarti setiap keluhan tersebut menandakan kanker, tetapi dapat membantu mengetahui tanda yang tidak sebaiknya diabaikan.
Langkah Pencegahan Fisura Anus
Pencegahan fisura ani terutama dilakukan dengan menjaga pola BAB agar jaringan anus tidak terus mengalami trauma.
Pastikan kebutuhan cairan dan serat tercukupi agar tinja tidak terlalu keras. Hindari menahan keinginan BAB dan jangan memaksakan mengejan ketika tinja sulit dikeluarkan.
Aktivitas fisik secara rutin juga dapat membantu menjaga fungsi pencernaan dan pola BAB.
Jika sembelit atau diare terus berulang, penyebabnya perlu diketahui dan ditangani agar iritasi pada anus tidak berlangsung terus-menerus.
Nyeri dan BAB Berdarah Jangan Terus Diabaikan
Fisura ani merupakan robekan kecil pada jaringan anus yang dapat menyebabkan nyeri tajam dan keluarnya darah merah segar saat BAB. Kondisi ini sering berkaitan dengan sembelit dan tinja yang keras, tetapi diare berkepanjangan, persalinan, serta kondisi medis tertentu juga dapat menjadi pemicu.
Menjaga tinja tetap lunak dan menghindari mengejan dapat membantu proses penyembuhan. Namun, perdarahan atau nyeri yang terus berulang perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui dan penanganannya disesuaikan dengan kondisi kamu.
Jika nyeri atau perdarahan saat BAB membuat kamu khawatir, kamu dapat chat gratis dengan dokter untuk konsultasi agar keluhan dapat dievaluasi dan kamu mendapatkan rekomendasi langkah selanjutnya.
Sumber: World Health Organization (WHO), National Health Service (NHS), Mayo Clinic, Cleveland Clinic,
Lokasi Klinik Bumame
Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Klinik Bumame TB Simatupang
1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310
Klinik Bumame Puri Indah
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apakah fisura ani sama dengan fisura anus?
Ya. Fisura ani dan fisura anus merupakan istilah untuk kondisi yang sama, yaitu robekan kecil pada jaringan yang melapisi lubang anus.
Apakah fisura anus bisa sembuh sendiri?
Banyak kasus dapat membaik dengan menjaga tinja tetap lunak, mencukupi asupan serat dan cairan, serta menghindari mengejan. Fisura yang tidak kunjung membaik perlu diperiksa dokter.
Apa perbedaan fisura anus dan ambeien?
Fisura merupakan robekan pada jaringan anus, sedangkan ambeien terjadi akibat pembengkakan pembuluh darah di area anus atau rektum. Keduanya dapat menyebabkan perdarahan, tetapi penyebab dan penanganannya berbeda.
Apakah fisura anus menyebabkan BAB berdarah?
Bisa. Fisura dapat menyebabkan darah merah segar setelah BAB. Namun, BAB berdarah memiliki banyak kemungkinan penyebab sehingga perdarahan berulang sebaiknya diperiksakan.
Apakah fisura anus berbahaya?
Fisura anus umumnya bukan kondisi berbahaya. Namun, fisura yang tidak sembuh dapat menjadi kronis dan membutuhkan pengobatan lebih lanjut.
Apa yang harus dihindari saat mengalami fisura anus?
Hindari mengejan terlalu kuat, menahan BAB, serta kebiasaan yang menyebabkan tinja semakin keras. Menjaga pola makan dan asupan cairan dapat membantu proses penyembuhan.
Kapan fisura anus perlu diperiksa?
Pemeriksaan diperlukan jika rasa sakit semakin berat, perdarahan terus terjadi, keluhan tidak membaik, atau muncul gejala lain seperti demam, perubahan pola BAB yang menetap, maupun penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
_(1).jpg&w=3840&q=75)