Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

SIADH: Gejala dan Penyebab
Kembali ke Artikel & Berita

SIADH: Kenali Gejala, Penyebab, & Pengobatannya!

SBAOthers

Pernahkan Anda merasa sangat haus, lalu minum air putih dan seketika tubuh terasa segar kembali? Mekanisme rasa haus dan buang air di dalam tubuh diatur secara otomatis oleh sistem hormon. Namun, ketika hormon tersebut mengalami gangguan, maka tubuh akan terus menahan cairan, sehingga dapat menyebabkan SIADH.

Banyak orang yang tidak menyadari akan gangguan tersebut, karena gejala awalnya mirip dengan kelelahan biasa. Oleh karena itu, mengenali gejala awal dan penyebab gangguan SIADH syndrome sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius dan segera mendapatkan penanganan medis secara tepat jika mengalaminya.

Apa Itu SIADH?

SIADH adalah singkatan dari Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion atau sindrom sekresi hormon antidiuretik yang tidak tepat. SIADH syndrome merupakan suatu kondisi gangguan pada sistem endokrin di mana tubuh memproduksi hormon antidiuretik (ADH) atau vasopresin secara berlebihan atau tidak tepat waktu.

Secara alami, hormon ADH dihasilkan oleh hipotalamus (bagian dari otak) dan dilepaskan ke aliran darah oleh kelenjar pituitari posterior yang berada tepat di bawah hipotalamus. Hormon ADH berfungsi memberi sinyal kepada ginjal untuk menyerap air kembali ke dalam tubuh agar tidak kekurangan cairan atau dehidrasi.

Pada kondisi normal, jika tubuh sudah tercukupi kebutuhan airnya, maka produksi ADH akan berkurang, agar kelebihan cairan yang tidak terpakai dapat dibuang menjadi urine. Namun, pada penderita SIADH, pelepasan hormon ADH terus berlangsung meski cairan dalam tubuh sudah berlebih, sehingga ginjal hanya bisa membuang sedikit urine.

Akibat terjadi penumpukan cairan yang berlebih di dalam pembuluh darah, darah menjadi sangat encer. Ini menyebabkan kadar garam mineral dalam darah, terutama natrium menurun drastis (hiponatremia). Padahal, natrium merupakan elektrolit penting yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh agar organ berfungsi normal.

Gejala SIADH (Hiponatremia)

Menurunnya kadar natrium dalam darah atau hiponatremia akan berdampak pada fungsi organ, khususnya otak. Pada dasarnya, air akan mengalir dari area yang encer ke area yang pekat, yaitu sel-sel otak. Akibatnya, sel otak ikut menyerap kelebihan air hingga membengkak. Sehingga menimbulkan berbagai gejala seperti berikut.

  • Mual dan muntah.

  • Sakit kepala yang kadang muncul dan hilang.         

  • Kelelahan, otot terasa kram dan lemas.

  • Gangguan keseimbangan saat berjalan sehingga rentan terjatuh.

  • Sulit untuk mengingat, fokus, dan berkonsentrasi.      

  • Stres dan depresi.

  • Perubahan perilaku secara drastis, seperti halusinasi, kebingungan parah, agresif, dan cepat marah.

  • Kejang-kejang.

  • Kesadaran menurun, pingsan, bahkan koma.                                                                                                                                                                            

Penyebab dan Faktor Risiko SIADH

Munculnya penyakit ini merupakan efek dari kondisi medis lain atau penggunaan obat-obatan tertentu, yang membuat tubuh memproduksi terlalu banyak hormon ADH. Beberapa faktor penyebab dan risiko utama SIADH meliputi.

  • Gangguan sistem saraf pusat: Cedera atau peradangan pada otak seperti, stroke, pendarahan otak, trauma kepala, meningitis, atau tumor otak. Kondisi tersebut dapat mengganggu kerja hipotalamus dalam menghasilkan hormon ADH.

  • Penyakit paru-paru: Jaringan paru-paru yang mengalami infeksi atau peradangan kronis seperti, pneumonia, tuberkulosis, dan gagal napas, dapat merangsang pelepasan hormon ADH berlebih.

  • Kanker: Beberapa jenis sel tumor memiliki kemampuan untuk memproduksi hormon ADH sendiri secara abnormal. Jenis kanker yang paling sering menjadi penyebab SIADH adalah kanker paru sel kecil. Sedangkan jenis kanker kepala, leher, dan pankreas juga bisa menjadi pemicu meskipun jarang.

  • Penggunaan obat-obatan: Sejumlah obat-obatan tertentu dapat meningkatkan sensitivitas ginjal terhadap ADH. Jenis obat tersebut antara lain obat antidepresan, kejang, kanker, jantung, diabetes, dan tekanan darah.

  • Operasi: Prosedur pembedahan terutama pada bagian otak dengan anestesi umum dapat mempengaruhi pelepasan hormon ADH lebih banyak. Terlebih jika  rasa nyeri yang timbul setelah operasi atau adanya stres fisik berat juga dapat berpengaruh.

Diagnosis Lewat Tes Natrium

Diagnosis SIADH membutuhkan serangkaian pemeriksaan medis yang cermat, karena kondisi hiponatremia disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, dokter tidak hanya mengandalkan pemeriksaan fisik berdasarkan keluhan pasien saja, tetapi perlu analisis laboratorium untuk menegakkan diagnosis. Tes laboratoriumnya mencakup.

  • Tes natrium darah (natrium serum): Tes natrium berfungsi untuk mengukur kadar elektrolit natrium dalam aliran darah dan mengevaluasi fungsi ginjal. Seseorang yang mengalami hiponatremia, nilai kadar natriumnya rendah, yaitu di bawah 135 mEq/L (miliekivalen per liter).

  • Tes osmolaritas darah: Menggunakan alat osmometer untuk mengukur konsentrasi partikel terlarut dalam darah termasuk natrium. Pada penderita SIADH, nilai osmolalitas darah cenderung rendah atau encer. Sebaliknya nilai osmolalitas urine justru lebih tinggi atau pekat.

  • Tes natrium urine: Untuk mengetahui jumlah natrium yang dibuang oleh ginjal melalui urine. Jika hasilnya tinggi berarti ginjal tidak mampu menahan kadar natrium, sehingga ikut terbuang melalui urine tersebut. 

  • Evaluasi fungsi organ lain: Pemeriksaan pada ginjal, tiroid, dan adrenal untuk mengetahui fungsinya masing-masing. Jika kelenjar tiroid kurang aktif, akan menurunkan fungsi ginjal dalam mengeluarkan air. Sedangkan kelenjar adrenal, jika kekurangan hormon aldosteron, ginjal juga tidak mampu menahan natrium.

Pengobatan SIADH dan Komplikasi

Pengobatan berfokus pada pengembalian atau peningkatan kadar natrium dalam darah, serta mengatasi keluhan yang pasien rasakan. Berikut beberapa cara penanganannya.

  • Pembatasan cairan: Pada kasus hiponatremia ringan, dokter akan menyarankan pasien untuk membatasi asupan cairan harian agar penumpukan cairan tidak semakin banyak. Biasanya pasien hanya boleh minum air sekitar 500 hingga 1000 mL per hari.

  • Infus salin hipertonik: Pada kasus hiponatremia berat dengan gejala seperti kejang-kejang, dokter akan memberi cairan infus salin hipertonik, yaitu berupa natrium klorida 3%. Cairan infus ini berguna untuk menaikkan kadar natrium darah dan menarik kelebihan cairan di dalam sel otak.

  • Pengobatan medis tambahan: Dokter dapat meresepkan obat golongan antagonis reseptor vasopresin, (vaptan) atau obat diuretik (furosemide) sesuai kondisi pasien. Mekanisme kerja obat ini adalah dengan menghentikan hormon ADH agar ginjal dapat membuang kelebihan air tanpa membuang natrium.

  • Penanganan penyebab utama: Mengobati kondisi medis yang pasien alami seperti infeksi paru-paru, tumor, atau kanker. Selain itu, pasien juga harus menghentikan pemakaian obat-obatan yang dapat menyebabkan produksi ADH berlebih.

Hiponatremia akibat SIADH yang tidak ditangani dengan benar dapat memicu komplikasi fatal seperti, edema otak (pembengkakan otak), kejang, koma, hingga kematian. Selain itu, peningkatan kadar natrium darah tidak boleh terlalu cepat, karena dapat menyebabkan komplikasi saraf yakni, Osmotic Demyelination Syndrome (ODS).

Kapan Harus ke Dokter?

Pemeriksaan medis pada gejala SIADH secara tepat waktu sangat penting agar gejala yang dialami tidak semakin parah. Segera konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam apabila Anda atau anggota keluarga ada yang mengalami kondisi hiponatremia disertai dengan gejala-gejala serius seperti di bawah ini.

  • Mual dan muntah bukan karena keracunan makanan atau penyebab pasti, hingga berlangsung lama dan badan terasa lemas.

  • Otot sering mengalami kram hebat hingga sulit untuk melakukan aktivitas harian.

  • Sakit kepala yang terus menerus.

  • Sulit untuk fokus, berkonsentrasi, dan mengingat sesuatu.

  • Mengalami gangguan mental, seperti kebingungan parah (delirium), disorientasi, berhalusinasi, dan perubahan perilaku yang tidak biasa.

  • Kejang-kejang, kesadaran yang semakin menurun, tidak responsif, atau pingsan. Pada kondisi ini harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) di fasilitas kesehatan terdekat.

Hasil pemeriksaan kadar natrium dalam tubuh berguna untuk memberikan gambaran akurat mengenai kadar elektrolit tubuh dan fungsi ginjal. Analisis harus dilakukan di laboratorium yang akurat dan tepercaya. Untuk itu, Anda dapat melakukan pemeriksaan natrium di Bumame, sebagai solusi untuk mendeteksi SIADH sejak dini.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Cleveland Clinic. (2022). SIADH (Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion). 

  2. MedlinePlus. (2025). Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion. 

  3. Rupa Health. (2024). Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion (SIADH): A Root Cause Medicine Approach.

  4. Life in the Fast Lane (LITFL). (2025). SIADH.

  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI) PMC. (2020). Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion (SIADH).

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu SIADH?
Apa itu SIADH?
Apa saja gejala SIADH?
Gejalanya dapat berupa mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, kram dan kelemahan otot, gangguan keseimbangan, sulit berkonsentrasi, perubahan perilaku, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Apa penyebab SIADH?
SIADH dapat disebabkan oleh gangguan sistem saraf pusat, penyakit paru-paru, kanker, penggunaan obat tertentu, atau operasi yang memengaruhi pelepasan hormon ADH.
Bagaimana cara mendiagnosis SIADH?
Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan seperti tes natrium darah, osmolaritas darah, natrium urine, serta evaluasi fungsi ginjal, tiroid, dan adrenal.
Apakah SIADH bisa sembuh total?
Penyembuhan SIADH bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan efek samping obat atau infeksi sementara, kondisi dapat sembuh total, sedangkan penyebab kronis mungkin membutuhkan penanganan jangka panjang.