Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Demam Kelenjar: Tanda-Tanda, Faktor Risiko, dan Pengobatannya
Kembali ke Artikel & Berita

Demam Kelenjar: Tanda-Tanda, Faktor Risiko, dan Pengobatannya

SBAOthers

Ketika tubuh terasa lesu dan tenggorokan mulai tidak nyaman, banyak orang menganggapnya sebagai indikasi kelelahan yang biasa. Namun, jika gejala ini muncul bersama demam dan pembengkakan kelenjar getah bening, kondisi yang dikenal sebagai demam kelenjar bisa menjadi penyebabnya.

Dalam artikel ini, Anda akan memahami gejala dan penyebabnya. Anda juga akan belajar tentang cara penyebarannya serta pilihan pengobatannya di Bumame.

Demam Kelenjar: Mengenal Infeksi yang Dapat Menyebabkan Kelelahan pada Tubuh

Penyakit demam kelenjar timbul akibat infeksi yang umumnya dipicu oleh virus Epstein-Barr (EBV). Nama lain penyakit ini adalah mononukleosis menular dan lebih sering terjadi pada remaja serta orang dewasa muda. 

Selain itu, penyakit ini bisa menular melalui air liur akibat infeksi virus. Penularan dapat terjadi, misalnya, saat berciuman atau menggunakan gelas yang sama dengan orang yang terinfeksi.

Ketika mengalami demam kelenjar, seseorang bisa merasakan demam, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan pembesaran kelenjar getah bening, terutama di bagian leher. Namun, gejala yang dialami bisa berbeda antara individu. Beberapa orang, terutama anak-anak, bisa terinfeksi tanpa menunjukkan gejala yang nyata.

Sebagian besar orang yang mengalami sakit dapat pulih dengan istirahat yang cukup serta perawatan untuk meredakan gejalanya. Namun, kelelahan terkadang dapat bertahan selama beberapa minggu atau bahkan lebih lama. 

Oleh karena itu, sangat perlu untuk mengidentifikasi tanda-tandanya dan segera menemui dokter apabila keluhan tidak kunjung membaik atau justru bertambah buruk.

Tanda-tanda Demam Kelenjar yang Dapat Mengganggu Kegiatan Sehari-hari

Gejala demam kelenjar sering kali menyerupai flu atau radang tenggorokan, sehingga seseorang mungkin tidak langsung menyadari penyebab keluhan yang dirasakan. Gejala-gejala tersebut juga dapat muncul secara bertahap dan bervariasi pada setiap individu. Oleh karena itu, pahami gejala atau tanda berikut agar Anda dapat lebih memahami konteks situasi ini.

1. Demam

Penderita bisa merasakan kenaikan suhu tubuh ketika sistem imun berusaha melawan infeksi virus. Demam kadang-kadang bertahan selama beberapa hari dan diiringi perasaan lemas yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

2. Sakit Tenggorokan

Infeksi bisa menyebabkan rasa sakit di bagian tenggorokan, terutama saat Anda menelan. Pada beberapa orang, amandel dapat membengkak sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman saat menelan makanan atau minuman.

3. Bengkak pada Kelenjar Getah Bening

Pembengkakan pada kelenjar getah bening, khususnya yang berlokasi di area leher dan ketiak, dapat terjadi ketika tubuh sedang berupaya melawan infeksi penyakit. Pembengkakan ini biasanya terasa seperti adanya benjolan ketika disentuh.

4. Rasa Lelah yang Terus-Menerus

Individu yang mengidap demam kelenjar akan merasakan kelelahan ekstrem meskipun telah memperoleh istirahat yang memadai. Kelelahan ini bisa bertahan selama beberapa minggu, meskipun gejala lainnya sudah mulai membaik.

5. Sakit Kepala dan Nyeri Otot

Beberapa orang yang terinfeksi dapat mengalami sakit kepala, rasa pegal, atau nyeri pada otot selama infeksi berlangsung. Kondisi ini bisa membuat tubuh tidak nyaman sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

6. Pembesaran Limpa atau Hati

Dalam situasi tertentu, infeksi dapat memicu pembengkakan pada limpa maupun hati. Maka dari itu, sangat penting untuk waspada terhadap pembesaran limpa karena benturan atau aktivitas fisik yang berat dapat meningkatkan risiko cedera pada organ ini.

Penyebab dan Faktor yang Meningkatkan Risiko Terkena Demam Kelenjar

Virus Epstein-Barr (EBV) merupakan pemeran utama dari penyakit demam kelenjar. Namun, tidak setiap individu yang terinfeksi memunculkan gejala yang sama. Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:

1. Infeksi Virus Epstein-Barr (EBV)

Virus Epstein-Barr adalah penyebab utama demam kelenjar. Setelah masuk ke tubuh, virus ini menginfeksi sel-sel tertentu dalam sistem kekebalan dan dapat tetap berada di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Saat infeksi pertama kali muncul, pasien bisa mengalami demam, nyeri tenggorokan, serta pembengkakan pada kelenjar getah bening.

2. Kontak dengan Air Liur Orang yang Terinfeksi

Penyakit mononukleosis dapat menular lewat air liur, contohnya ketika seseorang berciuman atau berbagi gelas, botol, dan alat makan. Selain itu, orang yang tidak menunjukkan gejala pun dapat menularkan penyakit tersebut. Karena gejalanya mirip dengan infeksi virus lain, penting untuk memahami kondisi ini agar Anda tidak salah mengira demam yang dialami hanya kelelahan biasa.

3. Usia Remaja dan Orang Muda

Demam kelenjar lebih sering muncul pada kalangan remaja dan orang muda, khususnya dalam kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) mampu memicu manifestasi klinis yang cukup mencolok, misalnya kelelahan berkepanjangan serta nyeri pada tenggorokan. Namun, pada populasi anak-anak, infeksi ini umumnya berlangsung lebih ringan atau bahkan tidak menimbulkan gejala sama sekali. 

4. Sistem Imun yang Lemah

Sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melawan infeksi EBV. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah lebih berisiko terjangkit komplikasi atau masalah kesehatan yang lebih serius akibat infeksi ini.

5. Lingkungan yang Melibatkan Interaksi Jarak Dekat

Tinggal atau melakukan kegiatan di lokasi yang digunakan bersama, seperti asrama, dapat memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhubungan secara langsung dengan orang lain. Risiko umumnya bertambah saat terjadi pertukaran air liur atau saat bersentuhan dengan objek yang terpapar air liur dari individu yang terinfeksi virus.

Macam-Macam Tes untuk Mendiagnosis Mononukleosis Menular

Dokter tidak hanya mengidentifikasi demam kelenjar berdasarkan gejala, tetapi juga dapat memastikan sumber keluhan melalui pemeriksaan fisik dan tes laboratorium yang sesuai dengan kondisi pasien. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat membantu proses diagnosis demam kelenjar.

1. Evaluasi Klinis dan Riwayat Gejala

Dokter akan menanyakan kapan gejala mulai muncul dan bagaimana perkembangannya. Berikutnya, dokter melakukan pemeriksaan pada amandel, tenggorokan, serta kelenjar getah bening. Mereka juga dapat memverifikasi adanya pembengkakan pada organ hati atau limpa.

2. Tes Darah Lengkap

Tes darah lengkap (complete blood count/CBC) digunakan untuk membantu dokter mengetahui jumlah dan jenis sel darah. Pada penderita mononukleosis menular, dokter dapat mengamati kenaikan jumlah jenis sel darah putih tertentu, seperti limfosit atipikal. Limfosit atipikal adalah sel limfosit yang dapat berubah bentuk saat tubuh berupaya melawan infeksi tersebut.

3. Tes Antibodi Mononukleosis

Dokter dapat menawarkan tes monospot untuk mendeteksi demam kelenjar. Tes ini bekerja dengan mengidentifikasi antibodi heterofil dalam darah. Namun, hasil negatif tidak selalu berarti Anda tidak terinfeksi, terutama jika tes dilakukan pada minggu pertama setelah gejala muncul.

4. Pemeriksaan Antibodi Virus Epstein-Barr

Dokter mungkin akan meminta tes antibodi khusus untuk virus Epstein-Barr (EBV). Tes ini berguna untuk membedakan infeksi yang baru dengan infeksi yang sudah ada sebelumnya. Dokter akan menjelaskan hasilnya sesuai dengan gejala dan riwayat kesehatan Anda.

Selain mengecek masalah kesehatan yang ada, Anda juga bisa merawat kesehatan melalui pemeriksaan rutin. Bumame menawarkan Paket MCU General Plus untuk membantu Anda mengevaluasi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, jika Anda merasakan gejala demam kelenjar, sebaiknya bicarakan dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan yang tepat.

Tindakan Perawatan untuk Membantu Pemulihan dari Demam Kelenjar

Gejala demam kelenjar, misalnya suhu tubuh yang meningkat drastis dan nyeri di tenggorokan, dapat menjadikan aktivitas harian menjadi sangat tidak nyaman. Dalam menangani kondisi ini, pendekatan yang tepat diterapkan cenderung berpusat pada perawatan diri, mengingat infeksi virus Epstein-Barr (EBV) umumnya dapat ditangani secara alami oleh sistem kekebalan tubuh.

Berikut adalah beberapa langkah yang tepat.

1. Istirahat yang Cukup

Istirahat penting untuk membantu tubuh mengembalikan energinya dan mengurangi rasa lelah saat terjangkit infeksi.

2. Penuhi Kebutuhan Cairan

Mengonsumsi air putih secara berkala penting untuk mencegah kekurangan cairan, terutama ketika demam atau merasa sulit untuk menelan.

3. Gunakan Obat Pereda Gejala

Jika keadaan kesehatan memungkinkan dan mengikuti pedoman yang berlaku, mengonsumsi parasetamol atau ibuprofen dapat membantu menurunkan suhu tubuh serta meredakan rasa sakit.

4. Redakan Sakit Tenggorokan

Saat menelan, Anda dapat mengurangi rasa tidak nyaman dengan berkumur menggunakan air garam hangat atau dengan mengonsumsi makanan yang mudah ditelan.

5. Hindari Olahraga Berat untuk Sementara

Infeksi dapat menyebabkan pembesaran limpa yang meningkatkan risiko cedera, jadi sebaiknya hindari olahraga dan aktivitas berat untuk sementara waktu.

Strategi Pencegahan Demam Kelenjar agar Risiko Penularan Berkurang

Anda dapat membantu mencegah demam kelenjar dengan menghindari kontak dengan air liur serta tidak berbagi barang pribadi. Beberapa langkah sederhana berikut dapat Anda lakukan sehari-hari.

  • Jangan berbagi alat makan seperti sendok, garpu, piring dan lainnya untuk meminimalisir risiko penularan melalui air liur.

  • Jangan berbagi barang pribadi seperti lip balm dan sikat gigi atau barang yang berhubungan langsung dengan mulut.

  • Jangan berciuman dengan orang yang terinfeksi, bahkan sekadar di pipi, karena air liur menjadi sarana penularan virus.

  • Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan secara umum, sering-seringlah mencuci tangan.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Penyakit demam kelenjar umumnya dapat sembuh sendiri, namun gejalanya tetap dapat mengganggu kegiatan harian dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, selama masa penyembuhan, pastikan Anda memperoleh istirahat yang cukup dan menghindari aktivitas berat.

Jika gejala tidak membaik, malah semakin parah, atau muncul keluhan serius seperti sesak napas dan nyeri mendadak di perut kiri atas, segera hubungi dokter untuk berkonsultasi.

Agar kesehatan Anda tetap terjaga secara menyeluruh, Anda juga bisa mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan medis secara berkala. Segera periksa kesehatan Anda di Bumame untuk mengetahui kondisi tubuh Anda.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Makin, S., & Davies, G. — Glandular Fever

  2. StatPearls — Mononucleosis

  3. Centers for Disease Control and Prevention — About Infectious Mononucleosis (Mono)

  4. Sylvester, J. E., Buchanan, B. K., & Silva, T. W. — Infectious Mononucleosis: Rapid Evidence Review

  5. Hirslanden — Glandular Fever: Symptoms & Treatments

  6. bpacnz — Sick and Tired of Being Tired and Sick: Laboratory Investigation of Glandular Fever

  7. NHS inform — Glandular Fever

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa saja gejala demam kelenjar?

Gejala demam kelenjar meliputi demam, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, kelelahan berkepanjangan, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada beberapa kasus, limpa atau hati juga dapat membesar.

Apa penyebab demam kelenjar?

Demam kelenjar umumnya disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini dapat menyebar melalui air liur, misalnya saat berciuman atau berbagi gelas dan alat makan.

Berapa lama demam kelenjar bisa sembuh?

Sebagian besar penderita pulih dengan istirahat dan perawatan untuk meredakan gejala. Namun, kelelahan dapat bertahan selama beberapa minggu atau lebih lama, meskipun gejala lainnya sudah membaik.

Bagaimana cara mengobati demam kelenjar?

Penanganan demam kelenjar berfokus pada istirahat cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan meredakan gejala dengan obat sesuai anjuran tenaga medis. Hindari olahraga berat sementara waktu karena pembesaran limpa dapat meningkatkan risiko cedera.

Kapan penderita demam kelenjar perlu ke dokter?

Konsultasikan dengan dokter jika gejala tidak membaik atau semakin parah. Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau nyeri mendadak di perut kiri atas.