Pernahkah Anda menyadari kaki atau pergelangan kaki tiba-tiba membengkak tanpa benturan atau cedera? Kondisi ini disebut edema dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya kadar albumin yang rendah dalam darah, sebuah protein tertentu yang sangat penting dalam menjaga cairan tetap berada di dalam pembuluh darah.
Artikel ini akan membahas fungsi, nilai normal, penyebab rendah dan tingginya, serta cara mengecek jumlah kadar jenis protein ini dalam tubuh. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui langkah terbaik ketika mengalami kelebihan atau kekurangan kadar.
Apa Itu Albumin dan Fungsinya bagi Tubuh?
Albumin adalah protein yang paling banyak ditemukan di dalam plasma atau cairan darah. Protein ini berasal dari organ hati dan memiliki banyak peran penting bagi tubuh.
Salah satu tugas protein ini adalah menjaga cairan agar tetap berada di dalam pembuluh darah. Jika tubuh mengalami kelebihan atau kekurangan protein ini, yang pertama perlu diperiksa adalah apakah fungsi hati berjalan normal atau tidak.
Apabila tubuh Anda kekurangan protein ini, cairan yang seharusnya berada di dalam pembuluh darah bisa merembes keluar dan menumpuk di jaringan tubuh.
Kemampuan untuk menahan cairan di dalam pembuluh darah sering disebut sebagai tekanan onkotik. Oleh karena adanya mekanisme tekanan onkotik ini, tubuh Anda bisa menjaga keseimbangan cairan antara pembuluh darah dan jaringan di sekitarnya.
Selain menjaga agar cairan tetap berada di dalam pembuluh darah, protein ini juga bertugas mengangkut berbagai zat penting ke seluruh tubuh. Contohnya adalah vitamin, enzim, dan obat-obatan yang perlu diantarkan ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkannya.
Nilai Normal Albumin Darah
Orang dewasa yang sehat biasanya memiliki kadar albumin normal antara 3,5 dan 5,5 g/dL. Meski begitu, angka ini bisa sedikit berbeda dari satu orang ke orang lain tergantung pada laboratorium dan cara dokter memeriksa darahnya.
Yang pasti, hasil di bawah atau di atas rentang tersebut bisa jadi menandakan adanya gangguan kesehatan tertentu. Karena itu, Anda perlu meminta dokter membacakan hasil tes tersebut supaya dapat memastikan apakah ada masalah kesehatan atau tidak.
Bahkan, satu hasil yang sedikit menyimpang tidak berarti ada masalah kesehatan yang serius. Sebab, faktor lain, seperti dehidrasi, kehamilan, atau kondisi tubuh juga bisa memengaruhi angka hasil tes tersebut.
Kadar protein ini bukanlah satu-satunya patokan bagi dokter untuk menentukan apakah Anda memang sedang punya masalah kesehatan tertentu atau tidak. Ketika melakukan tes tersebut, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lain terhadap keluhan yang Anda rasakan.
Nilai protein ini juga bisa sedikit menurun seiring bertambahnya usia pada sebagian orang. Oleh karena itu, dokter juga akan mempertimbangkan usia dan riwayat kesehatan saat menganalisis hasil tesnya.
Penyebab Albumin Rendah
Hipoalbuminemia adalah kondisi yang terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan protein albumin. Salah satu penyebab utamanya adalah gangguan fungsi hati yang bisa berpengaruh pada kemampuan hati dalam memproduksi protein tersebut.
Umumnya, kondisi seperti sirosis dan hepatitis bisa membuat kadar protein ini turun di bawah batas normal. Selain kondisi hati tersebut, penyakit ginjal juga bisa membuat albumin bocor keluar lewat urine dalam jumlah banyak.
Kondisi tertentu, seperti sindrom nefrotik (ginjal kehilangan kemampuan menahan protein dengan baik), juga bisa mengakibatkan kebocoran tersebut.
Selain itu, kekurangan gizi dan gangguan penyerapan nutrisi juga bisa membuat tubuh kekurangan bahan untuk memproduksi protein ini. Peradangan berat, infeksi, dan gagal jantung juga bisa menjadi beberapa penyebab terjadinya kekurangan kadar albumin di darah.
Penyebab terakhir yaitu akibat mengikuti proses perawatan kesehatan tertentu yang bisa meningkatkan risiko terjadinya hipoalbuminemia. Perawatan tersebut meliputi pembedahan, pemberian cairan lewat jarum infus, atau penggunaan mesin ventilator untuk membantu pernapasan yang terganggu.
Penyebab Albumin Tinggi
Sebaliknya, hiperalbuminemia adalah kondisi yang terjadi apabila protein albumin mencapai kadar yang lebih tinggi dari biasanya. Penyebab umumnya adalah dehidrasi atau kondisi tubuh ketika sedang kekurangan cairan.
Jika tubuh kekurangan cairan, tubuh tidak memiliki cairan yang cukup untuk membuat darah di dalam pembuluh tetap cair. Secara bersamaan, kadar protein yang lebih tinggi daripada cairan yang ada akan membuat darah mengental.
Diare berat yang membuat tubuh cepat kehilangan cairan juga bisa memicu kondisi ini. Selain itu, konsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi juga bisa membuat kadar protein ini meningkat untuk sementara.
Namun, kadar albumin dalam jumlah tinggi biasanya bukanlah masalah utama dan lebih sering mencerminkan kondisi cairan tubuh. Begitu kebutuhan cairan tubuh kembali tercukupi, kadar protein ini umumnya akan kembali normal.
Gejala Kekurangan Albumin
Gejala hipoalbuminemia umumnya tidak sering langsung terasa, terutama apabila tahapnya masih ringan. Namun, jika hipoalbuminemia sudah menimbulkan gejala, tanda yang paling umum terjadi adalah urine berwarna keruh, kesulitan bernapas, dan bengkak di kaki dan pergelangan.
Pembengkakan tersebut terjadi karena cairan merembes keluar dari pembuluh darah ke jaringan sekitar. Selain pembengkakan, hipoalbuminemia juga bisa menimbulkan gejala seperti hilangnya nafsu makan dan kelelahan.
Infeksi akibat luka bekas bedah yang terkena bakteri juga bisa mengakibatkan terjadinya hipoalbuminemia. Apabila infeksi ini terjadi, gejala yang biasanya muncul adalah demam dan keluarnya nanah putih atau berwarna krem bertekstur kental.
Makanan yang Mengandung Albumin Tinggi
Memenuhi kebutuhan protein harian yang cukup adalah kunci untuk membantu tubuh memproduksi albumin dengan lebih baik.
Makanan kaya protein alami yang pertama adalah putih telur. Selain putih telur, Anda bisa memakan ikan, daging tanpa lemak, dan ayam sebagai sumber protein berkualitas bagi tubuh.
Produk kacang-kacangan seperti kacang almond, hazelnut, kacang mede, dan kacang kenari juga bisa menjadi sumber protein nabati yang baik untuk tubuh. Namun, kacang-kacangan tersebut mempunyai kadar lemak yang cukup tinggi, sehingga Anda perlu mengonsumsinya dalam porsi secukupnya.
Hal yang sama juga berlaku pada produk susu yang bisa Anda konsumsi, seperti susu dan yogurt. Susu dan yoghurt juga dapat membantu memenuhi kebutuhan protein. Namun, saat memilih keduanya, pertimbangkan opsi produk yang rendah lemak dan bebas gula tambahan.
Sejatinya, untuk memenuhi kebutuhan protein tersebut, Anda punya opsi mengonsumsi protein hewani, nabati, maupun keduanya secara bersamaan. Ketika makan, pastikan menunya beragam, bergizi seimbang, serta mengandung kalori yang cukup agar tubuh bisa benar-benar menggunakan protein untuk membangun tubuh.
Tanpa kalori yang memadai, protein yang Anda makan justru akan dibakar menjadi energi dan bukan untuk memperbaiki jaringan tubuh.
Cara Tes Kadar Albumin
Dokter dapat memeriksa kadar protein ini melalui tes darah yang biasanya tidak memakan waktu lama. Petugas hanya perlu mengambil sedikit sampel darah dari pembuluh darah di lengan dengan jarum kecil.
Prosesnya berlangsung cepat dan Anda umumnya bisa kembali beraktivitas seperti biasa setelah mengikuti tes tersebut. Dokter kemudian akan mengeluarkan hasilnya setelah beberapa hari, tergantung kebijakan laboratorium.
Tes kadar protein ini juga bermanfaat untuk membantu dokter memeriksa fungsi dan kinerja hati serta organ ginjal.. Lewat hasil tes ini, dokter bisa menemukan apakah ada gangguan di hati dan ginjal yang perlu segera ditangani.
Sebelum mengikuti tes, dokter bisa meminta Anda menghentikan konsumsi obat tertentu untuk sementara. Obat-obatan tersebut adalah jenis yang berpotensi meningkatkan kadar albumin semisal steroid anabolik, androgen, hormon pertumbuhan, dan insulin.
Kapan Perlu Cek Albumin?
Saat Anda mulai menunjukkan tanda gangguan hati atau fungsi ginjal, Anda biasanya baru akan dianjurkan untuk mengikuti pemeriksaan albumin. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain pembengkakan pada kaki atau perut, rasa lelah yang berkepanjangan, serta perubahan warna atau jumlah urine.
Apabila Anda juga mengalami penyakit seperti diabetes dan peradangan di organ pencernaan, Anda juga perlu mengikuti pemeriksaan ini secara berkala. [2]
Untuk mengikuti pemeriksaan ini secara tuntas, Anda bisa mengikuti tes Albumin dari Bumame. Dengan tes ini, Anda bisa mengevaluasi performa ginjal dan hati serta menemukan apakah ada gangguan serius yang perlu segera ditangani atau keadaan yang memengaruhi keseimbangan cairan tubuh.
Anda tidak perlu puasa sebelum melakukan pemeriksaan, dan Anda hanya perlu menginformasikan obat-obatan dan vitamin yang sedang dikonsumsi. Tergantung jenis yang digunakan, dokter juga akan menentukan apakah konsumsi obat perlu dihentikan sementara atau dapat dilanjutkan seperti biasa.
Tes albumin ini hanya dipatok mulai dari harga Rp110.000 dan Anda sudah bisa memilih layanan pemeriksaan di rumah atau dengan mendatangi salah satu klinik Bumame. Begitu mengikuti tes ini, Anda bisa menerima hasilnya dari dokter dalam kurun waktu 1x24 jam.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Cleveland Clinic. (2024). Albumin Blood Test.
Cleveland Clinic. (2025). Hypoalbuminemia.
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2024). Albumin Blood Test.
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Albumin blood (serum) test
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine. (2025). Protein in diet.
Merck Manual Consumer Version. (2025). Carbohydrates, Proteins, and Fats.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
