Pernahkah Anda memegang gelas es teh, lalu tak lama kemudian tangan terasa gatal dan muncul bentol-bentol merah? Atau kulit mendadak biduran setelah keluar ruangan yang berangin dingin? Jika iya, mungkin Anda sedang mengalami gangguan yang sering disebut “alergi dingin”. Bagaimana hal ini terjadi? Mari kupas tuntas di sini!
Apa itu Alergi Dingin?
Dalam dunia medis, alergi ini lebih dikenal dengan sebutan urtikaria dingin. Urtikaria adalah istilah untuk biduran. Jadi, urtikaria dingin adalah reaksi kulit (muncul biduran) karena paparan udara, air, dan benda dingin atau perubahan suhu dari dingin ke hangat.
Kenapa bisa alergi dingin? Kondisi ini termasuk inducible. Jadi, ada pemicu dari faktor fisik tertentu, bukan sekadar alergi atau reaksi kulit karena makanan atau debu. Pemicu gejalanya seringkali adalah tekanan, keringat, panas, getaran, atau bahkan sinar matahari.
Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan
Ciri-ciri alergi dingin yang paling utama adalah wheal, atau bentol kemerahan yang gatal di permukaan kulit. Kadang, muncul juga angioedema, atau pembengkakan di lapisan kulit yang lebih dalam, biasanya muncul di bibir, kelopak mata, tangan, atau kaki.
Alergi ini punya pola yang cukup khas, yakni muncul tak lama setelah paparan lalu mereda dengan sendirinya. Gejala biasanya timbul 2-5 menit setelah paparan dingin dan bertahan sekitar 1-2 jam.
Gejala pada Kulit
Beberapa keluhan yang paling sering muncul adalah sebagai berikut.
Bentol atau biduran. Benjolan merah, merah muda, atau pucat yang gatal. Ukurannya bisa sekecil biji jeruk nipis, tetapi bisa juga menyatu menjadi area yang luas.
Rasa gatal, panas, atau terbakar.
Kemerahan dan bengkak di area yang terpapar.
Reaksi yang justru muncul saat kulit menghangat, dan ini sering mengecoh. Banyak penderita baru merasakan bentol atau gatal beberapa menit setelah berhenti terpapar dingin, bukan saat masih kedinginan.
Kabar baiknya, bentol alergi dingin biasanya hilang tanpa meninggalkan bekas luka atau memar, sama seperti biduran pada umumnya.
Gejala Lain
Pada sebagian orang, reaksinya tidak berhenti di kulit. Paparan dingin yang lebih luas bisa menimbulkan gejala di bagian tubuh lain. Contohnya seperti pusing, lemas, hampir pingsan, sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, diare, jantung berdebar, hingga tekanan darah turun.
Tanda Bahaya
Tanda bahayanya adalah anafilaksis dan reaksi ini dapat mengancam nyawa. Pemicunya adalah paparan dingin yang luas, terutama berenang atau menyelam di air dingin. Tanda-tanda kondisi ini adalah sebagai berikut.
Sesak napas, mengi, atau sulit bernapas.
Bibir, lidah, atau tenggorokan membengkak.
Suara serak atau sulit berbicara.
Pusing berat, pingsan, atau kulit pucat dan dingin.
Sakit perut hebat disertai muntah.
Bentol yang menyebar cepat dan disertai gejala di seluruh tubuh.
Apa Penyebab Alergi Dingin?
Satu hal yang jelas, ada pemicu langsungnya yang berupa paparan dingin. Menurut para ahli, suhu diduga mengubah struktur atau sinyal di kulit sehingga mengaktifkan sel mast, lalu melepaskan histamin. Akibatnya, pembuluh darah melebar, cairan merembes ke jaringan kulit, lalu munculah bentol, gatal, dan bengkak.
Pemicunya pun beragam, mulai dari udara dingin, angin, hujan, ruangan ber-AC yang sangat dingin, air dingin, es, minuman dingin, makanan beku, sampai peralihan dari suhu dingin ke hangat. Tidak harus suhu ekstrem. Pada orang sensitif, perbedaan suhu yang cukup tajam atau paparan dingin yang cukup lama sudah bisa memicu reaksi.
Alergi dingin sendiri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
Primer atau idiopatik: Penyebab pastinya tidak diketahui dan inilah jenis yang paling umum.
Sekunder: Muncul berkaitan dengan kondisi kesehatan lain, terutama kelainan darah, infeksi, atau gangguan imun tertentu.
Pada praktiknya, banyak kasus tidak menemukan penyakit dasar yang jelas. Meski begitu, sejumlah kondisi berikut kadang berkaitan dengan bentuk sekunder.
Krioglobulinemia, yaitu kondisi saat protein tertentu dalam darah menggumpal pada suhu dingin.
Infeksi virus, termasuk hepatitis virus, mononukleosis, dan infeksi saluran pernapasan.
Cacar air atau varicella.
Sifilis.
Kelainan darah atau limfoma tertentu, seperti leukemia limfositik kronis.
Imunisasi, pada sebagian kasus.
Diagnosis dan Tes Alergi Dingin
Dokter biasanya memulai dengan anamnesis. Mempertimbangkan kapan bentol muncul, berapa paparan dinginnya, dan apakah ada gejala saat sudah hangat. Dokter juga akan menanyakan hal lain, seperti berikut.
Apakah ada bengkak bibir, sesak, pusing, atau pingsan?
Adakah riwayat alergi, asma, eksim, atau urtikaria jenis lain?
Apakah ada demam berulang, nyeri sendi, penurunan berat badan, atau pembesaran kelenjar?
Apakah sedang mengonsumsi obat tertentu?
Tes
Tes yang paling umum adalah dengan es batu, salah satunya ice cube test atau cold stimulation test. Caranya sederhana, dokter menempelkan es batu ke kulit lengan bawah Anda selama sekitar 1–5 menit. Lalu, setelah es diangkat dan kulit mulai menghangat, dokter mengamati apakah muncul bentol merah atau bengkak yang khas.
Jika muncul dalam beberapa menit, hasilnya mendukung diagnosis urtikaria dingin. Meski mengetahui metode ini, mohon jangan mencobanya sendiri. Bentol atau bengkak yang muncul perlu pengamatan medis agar mengetahui diagnosisnya. Apalagi untuk orang dengan riwayat anafilaksis, melakukan tes ini harus sangat hati-hati.
Pemeriksaan Penunjang
Tes penunjang lain mungkin juga perlu jika dokter menduga adanya penyebab sekunder. Beberapa contoh tes mungkin: tes darah lengkap, kimia darah, CRP atau laju endap darah, atau pemeriksaan krioglobulin. Begitu pula tes lain untuk infeksi atau gangguan sistem imun.
Kondisi Lain
Pemeriksaan dan tes-tes tersebut harus dengan pengamatan tenaga medis karena ada juga kondisi lain yang gejalanya mirip. Kondisi tersebut adalah sebagai berikut.
Frostnip atau radang dingin, yaitu kerusakan kulit karena suhu sangat dingin, bukan reaksi alergi.
Fenomena Raynaud, yaitu jari berubah warna, kesemutan, atau nyeri karena pembuluh darah menyempit saat dingin.
Urtikaria kolinergik, bentol kecil akibat keringat, olahraga, atau naiknya suhu tubuh.
Dermatografisme, bentol akibat gesekan atau tekanan pada kulit.
Angioedema herediter atau akibat obat, yaitu pembengkakan tanpa bentol yang mungkin tidak merespons antihistamin.
Pilihan Pengobatan atau Opsi Perawatan
Kabar baiknya, alergi dingin bisa Anda kelola. Pendekatannya bertahap, dari langkah paling sederhana hingga terapi khusus untuk kasus yang membandel.
1. Mengelola Pemicu
Langkah pertama adalah menghindari dan mengurangi paparan dingin yang memicu gejala. Bisa juga dengan menggunakan pakaian yang lebih hangat, sarung tangan, atau syal. Mandi dengan air yang sangat panas juga tidak disarankan. Karena perubahan suhu ekstrem dapat membuat sebagian orang tidak nyaman.
2. Antihistamin
Antihistamin adalah obat lini pertama. Cara kerjanya dengan menekan efek histamin dari sel mast, sehingga gatal dan bentol mereda. Konsultasikan dengan dokter mengenai jenis obatnya, sebagian obat untuk mengobati gejala dan jenis obat lain untuk persiapan sebelum melakukan aktivitas yang berisiko.
3. Terapi
Bila antihistamin tidak cukup, dokter spesialis alergi-imunologi atau dermatologi dapat mempertimbangkan terapi tambahan untuk kasus alergi dingin berat dan membandel.
Omalizumab: suntikan yang dapat membantu urtikaria kronis yang tidak membaik dengan antihistamin.
Antagonis reseptor leukotriene.
Siklosporin, obat penekan imun untuk kasus berat dan refrakter.
Kortikosteroid sistemik, yang membantu sesaat pada keadaan berat tetapi bukan solusi jangka panjang karena efek sampingnya bila berulang.
4. Desensitisasi
Pada sebagian pasien, dokter bisa mempertimbangkan induksi toleransi dingin. Di mana pasien akan mendapat paparan dingin yang meningkat sedikit-sedikit secara terkontrol. Tujuannya untuk melatih kulit agar tidak selalu terlalu reaktif.
5. Menangani Reaksi Berat
Bila dokter menilai risiko anafilaksis tinggi, Anda mungkin akan dibekali autoinjektor epinefrin (adrenalin). Epinefrin adalah obat lini pertama untuk keadaan darurat anafilaksis. Setelah menggunakannya, masih harus ada pemantauan dokter meski gejala mereda.
Strategi Pencegahan
Hidup dengan alergi dingin sebenarnya soal menjaga kebiasaan kecil yang konsisten. Seperti menjaga suhu ruangan kerja, mengenakan pakaian hangat, atau segera mengeringkan diri setelah hujan atau berenang.
Satu catatan penting, jika berenang, usahakan jangan sendirian. Reaksi berat mungkin muncul dan bisa membuat pingsan. Pastikan ada bekal obat yang Anda bawa serta bicarakan soal penolongan pertama pada orang terdekat.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika bentol atau bengkak sudah berulang setelah paparan dingin, jangan menunggu sampai benar-benar mengganggu. Segera periksakan diri, terutama bila keluhan sampai menyulitkan aktivitas, tidur, pekerjaan, atau olahraga.
Diagnosis yang tepat akan sangat penting karena gejala serupa juga bisa berasal dari urtikaria jenis lain, infeksi, atau kondisi kulit yang berbeda. Terlebih, jika sudah muncul gejala anafilaksis, seperti sesak napas, bengkak di bibir atau tenggorokan, atau pingsan.
Siap Menghadapi Alergi Dingin dengan Lebih Tenang?
Kulit yang sering bereaksi adalah petunjuk dari dalam tubuh. Untuk melihat gambaran lebih menyeluruh, Anda bisa mencoba MCU Skin Panel (Core) dari Bumame. Paket berisi 6 pemeriksaan ini menilai faktor metabolik, nutrisi, dan peradangan yang berkaitan dengan kesehatan kulit, tersedia lewat homecare maupun klinik.
Namun, pahami bahwa tes ini tidak bisa menggantikan pengobatan dan diagnosis langsung dari dokter. Hasilnya akan menjadi petunjuk jika Anda kondisi tertentu yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
DermNet — Cold Urticaria
Mayo Clinic Staff — Cold Urticaria: Symptoms and Causes
American Academy of Allergy, Asthma & Immunology — Hives (Urticaria) and Angioedema Overview
Maltseva, N., Borzova, E., Fomina, D., et al. — Cold Urticaria: What We Know and What We Do Not Know
Mehta, S., Goldin, J., & Danosos, G. N. — Chronic Urticaria
DermNet — Urticaria: An Overview
Bernstein, J. A., Lang, D. M., & Khan, D. A. — The Diagnosis and Management of Acute and Chronic Urticaria: 2014 Update
Mayo Clinic Staff — Cold Urticaria: Diagnosis and Treatment
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apakah alergi dingin bisa hilang sendiri?
Gejala alergi dingin dapat membaik atau menghilang seiring waktu, tetapi durasinya berbeda pada setiap orang. Jika keluhan berulang, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penanganan yang sesuai.
Apakah alergi dingin menular?
Tidak. Alergi dingin atau urtikaria dingin merupakan reaksi kulit terhadap paparan suhu rendah dan bukan penyakit menular.
Apakah alergi dingin sama dengan masuk angin?
Tidak. Alergi dingin ditandai dengan bentol, gatal, atau pembengkakan setelah terpapar dingin. Sementara itu, istilah masuk angin biasanya digunakan untuk menggambarkan keluhan seperti meriang, mual, atau kembung.
Bolehkah penderita alergi dingin tetap berolahraga saat cuaca dingin?
Boleh dengan perlindungan yang sesuai, seperti mengenakan pakaian hangat dan memulai olahraga secara bertahap. Konsultasikan dengan dokter sebelum berenang atau berolahraga di suhu dingin karena paparan luas dapat memicu reaksi berat.
Kapan alergi dingin harus segera ditangani oleh dokter?
Segera cari pertolongan medis jika alergi dingin disertai sesak napas, pembengkakan bibir atau tenggorokan, pusing berat, atau pingsan. Gejala tersebut dapat menandakan anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang mengancam nyawa.
