Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Episkleritis: Gejala, Penyebab, dan Mengobatinya
Kembali ke Artikel & Berita

Episkleritis: Gejala, Penyebab, dan Mengobatinya

SBATips Kesehatan

Setelah bangun tidur lalu bercermin Anda mendapati bagian putih mata tampak merah, seperti ada bercak? Tidak ada kotoran, penglihatan jelas, hanya sedikit mengganjal dan berair. Mungkin Anda berpikir kondisi ini muncul karena kurang tidur, gangguan tidur insomnia, atau terlalu lama menatap layar. Masuk akal, tapi ada satu kemungkinan yang sering terlewat yaitu episkleritis (episcleritis).

Ini adalah peradangan ringan pada lapisan tipis di permukaan mata. Namun, tetap jangan diagnosis sendiri karena penyebab mata merah sangat beragam dan tampilannya sering mirip. Mari membahas gejala, penyebab, cara pemeriksaan, pilihan penanganan, hingga langkah pencegahannya!

Apa Itu Episkleritis?

Episkleritis adalah peradangan yang menyerang episklera, lapisan tipis di antara konjungtiva (selaput bening di permukaan mata) dan sklera (bagian putih mata). Kondisi ini bukan infeksi; kebanyakan kasus juga ringan dan jarang mengganggu ketajaman penglihatan.

Lebih mudahnya begini, pembuluh darah kecil di episklera melebar karena meradang, sehingga area di atas sklera tampak merah. Peradangan bisa muncul pada satu mata saja atau pada kedua mata sekaligus.

Episkleritis juga terbagi menjadi dua bentuk. Bentuk difus membuat kemerahan menyebar atau hanya mengenai satu sektor mata, dan dokter menemukannya pada sekitar 70 persen pasien. 

Bentuk kedua, nodular, ditandai dengan benjolan kecil yang terangkat dan terasa nyeri saat disentuh, dan dokter menemukannya pada sekitar 30 persen pasien. Dokter paling sering mendiagnosis kondisi ini pada perempuan berusia muda hingga paruh baya, dan kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak.

Gejala dan Tanda Peringatan

Gejala episkleritis biasanya muncul mendadak, tetapi terasa lebih ringan daripada kelihatannya. Mata memang tampak cukup merah, namun rasa tidak nyamannya sering kali hanya sedikit. Beberapa keluhan yang umumnya dilaporkan pasien meliputi.

  • Mata merah pada satu area atau seluruh permukaan mata.

  • Rasa tidak nyaman ringan, kadang terasa seperti mengganjal atau perih.

  • Mata berair lebih banyak dari biasanya.

  • Benjolan kecil yang terasa nyeri bila ditekan (berbentuk nodular).

  • Penglihatan tetap normal.

Kotoran mata dan rasa silau jarang muncul. Tetapi, jika kedua gejala itu muncul, dokter akan mempertimbangkan penyebab lain. Selain itu, salah satu kondisi yang perlu dibedakan adalah skleritis, yaitu peradangan pada lapisan sklera yang lebih dalam. Berikut perbandingan singkatnya.

Pembeda

Episkleritis

Skleritis

Rasa nyeri

Tidak ada atau ringan

Ringan sampai berat

Warna kemerahan

Merah terang

Dapat tampak kebiruan atau keunguan

Kondisi

Ringan dan cenderung sembuh sendiri.

Lebih berat dan perlu penanganan lebih intensif.

Perbedaan inilah yang menjadi alasan utama mengapa pemeriksaan mata tetap perlu dilakukan, meskipun episcleritis sendiri umumnya tidak serius. [1, 3, 4]

Penyebab dan Faktor Risiko Episkleritis

Sering kali, dokter tidak menemukan penyebab pastinya. Mereka menyebutnya idiopatik, artinya tidak ada pemicu spesifik yang berhasil teridentifikasi. Meski begitu, sekitar 26–36 persen pasien ternyata memiliki kondisi lain di tubuh yang berkaitan dengan peradangan tersebut.

Beberapa kondisi pernah dikaitkan dengan episkleritis, antara lain penyakit jaringan ikat dan penyakit autoimun, yakni ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sendiri. Sejumlah infeksi juga tercatat berkaitan, seperti penyakit Lyme, tuberkulosis, sifilis atau raja singa, herpes zoster, dan cat scratch fever (dari bakteri di liur kucing).

Pada sebagian kecil kasus, episcleritis bahkan muncul sebagai tanda awal granulomatosis dengan poliangiitis, yaitu penyakit peradangan pembuluh darah yang jarang terjadi. Dari sisi faktor risiko, perempuan dan mereka yang berusia muda hingga paruh baya lebih sering dilaporkan mengalami kondisi ini, sekitar usia 47 dan 60 tahun.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Dokter menegakkan diagnosis melalui pemeriksaan mata. Pemeriksaan ini dimulai dengan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Tujuan utama pemeriksaan adalah memastikan bahwa kondisi tersebut benar-benar episkleritis, bukan skleritis atau penyebab mata merah lain yang membutuhkan penanganan berbeda. 

Lalu, bagaimana jika sering kambuh atau disertai keluhan lain seperti nyeri pada sendi, ruam pada kulit, atau gangguan pencernaan? Dalam situasi seperti itu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan laboratorium untuk mencari kemungkinan kondisi lain yang mendasarinya.

Di sinilah medical check-up (MCU) di Bumame berperan sebagai langkah awal. Pemeriksaan ini dapat memberikan Anda gambaran umum tentang kondisi kesehatan secara menyeluruh. Dengan begitu, dokter dapat menentukan langkah pengobatan selanjutnya.

Perlu diingat, MCU hanya sarana skrining dan deteksi dini, bukan pengobatan. MCU juga tidak bisa menggantikan pemeriksaan langsung yang dilakukan dokter mata.

Opsi Penanganan dan Terapi Episkleritis

Kebanyakan orang yang terkena hanya merasakan gejala ringan dan sementara. Mata mereka biasanya sembuh sendiri dalam 2 sampai 21 hari tanpa perlu pengobatan khusus. Namun, jika bentuknya nodular, proses penyembuhannya biasanya lebih lama.

Dokter menangani episcleritis bukan untuk menghilangkan penyebabnya (karena penyebabnya memang sering tidak jelas), melainkan untuk meredakan rasa tidak nyaman dan mempercepat pemulihan. Biasanya dokter akan melakukan langkah-langkah berikut.

  • Dokter cukup mengamati saja. Pada kasus ringan, dokter biasanya hanya menyarankan untuk memantau perkembangan mata.

  • Dokter memberi tetes air mata buatan dan menyarankan kompres dingin. Keduanya membantu mengurangi rasa mengganjal dan perih.

  • Dokter akan meresepkan obat tetes mata antiinflamasi. Dokter bisa memberikan tetes mata kortikosteroid supaya gejalanya mereda lebih cepat.

  • Jika dokter menemukan penyakit lain yang berkaitan, dokter spesialis yang sesuai akan ikut menanganinya.

Sedangkan untuk perawatan mandiri, Anda dapat melakukan kompres dingin dan dinginkan obat tetes mata yang ada. Satu hal penting! Gunakan obat tetes mata kortikosteroid hanya dengan resep dan pengawasan dokter. 

Episcleritis juga bisa kambuh di kemudian hari, dan pada kasus yang jarang, peradangannya bisa berkembang menjadi skleritis. Jadi, hasil yang realistis, sebagian besar orang memang membaik, tapi tidak ada jaminan kondisi ini tidak akan muncul lagi.

Langkah Pencegahan Episkleritis

Sampai saat ini memang belum ada cara khusus yang benar-benar terbukti ampuh mencegah episcleritis. Tapi, kita tetap bisa menjaga kesehatan mata dan mengurangi risiko iritasi lewat kebiasaan-kebiasaan sederhana berikut.

  • Jangan mengucek mata, terutama kalau tangan belum dicuci.

  • Cuci tangan secara rutin dan jaga kebersihan area di sekitar mata.

  • Biarkan mata beristirahat dari layar secara berkala dan pastikan Anda tidur cukup.

  • Kelola penyakit penyerta seperti penyakit autoimun sesuai anjuran dokter.

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin lewat medical check-up supaya kondisi tubuh Anda selalu terpantau.

Dengan mendeteksi dini kondisi yang mendasari, Anda membuka lebih banyak pilihan penanganan. Itulah tujuan utama pemeriksaan berkala.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter

Mata merah ringan memang sering membaik dengan sendirinya. Namun, ada batas waktu dan tanda-tanda yang perlu Anda waspadai. Segera temui dokter jika:

  • Keluhan mata merah bertahan lebih dari 2 minggu.

  • Nyeri mata semakin terasa.

  • Penglihatan Anda berubah, misalnya menjadi buram atau menurun.

  • Mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya atau mengeluarkan banyak kotoran.

  • Keluhan sering muncul kembali atau disertai nyeri sendi, ruam, dan gejala di bagian tubuh lain.

Kenali Gejala Episkleritis dan Periksakan Diri Sejak Dini!

Jika penglihatan mulai berubah atau nyeri di mata justru makin parah, segera periksakan diri ke dokter mata. Dokter akan memeriksa lebih detail supaya bisa menemukan penyebab pastinya.

Nah, kalau ingin tahu kondisi kesehatan secara keseluruhan, apalagi jika keluhan sering muncul, Anda bisa langsung menjadwalkan pemeriksaan lewat layanan medical check-up (MCU) Bumame. Bawa saja hasil pemeriksaannya saat konsultasi dengan dokter, agar pembahasannya jauh lebih fokus dan tepat sasaran.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Schonberg, S., & Stokkermans, T. J. — Episcleritis

  2. U.S. National Library of Medicine — Episcleritis

  3. Balakrishnan, S. A., Feldman, B. H., Read, R. W., Hossain, K., Halfpenny, C., Bernfeld, E., Karakus, S., & Gurnani, B. — Episcleritis

  4. MyVision.org — Episcleritis: Causes and Treatment

  5. Moorfields Eye Hospital — Episcleritis

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apakah episkleritis menular?

Tidak. Episkleritis merupakan peradangan pada episklera, bukan infeksi yang menular. Kondisi ini umumnya tidak menyebar melalui sentuhan langsung atau penggunaan barang bersama. Namun, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebab mata merah.

Apakah episkleritis bisa sembuh sendiri?

Ya. Sebagian besar kasus episkleritis membaik dengan sendirinya dalam sekitar 2–21 hari. Dokter dapat menyarankan kompres dingin atau air mata buatan untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Jika nyeri semakin berat atau penglihatan berubah, segera periksakan mata.

Apa perbedaan episkleritis dan konjungtivitis?

Episkleritis merupakan peradangan pada episklera, lapisan di antara konjungtiva dan sklera, sedangkan konjungtivitis menyerang konjungtiva. Episkleritis biasanya menyebabkan mata merah dengan rasa tidak nyaman ringan dan jarang menimbulkan kotoran mata. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh infeksi atau alergi dan sering disertai mata berair, gatal, atau kotoran mata.

Apakah episkleritis dapat menyebabkan kebutaan?

Episkleritis umumnya ringan dan jarang memengaruhi ketajaman penglihatan. Namun, mata merah yang disertai nyeri berat atau gangguan penglihatan perlu segera diperiksa untuk menyingkirkan kondisi lain yang lebih serius, seperti skleritis.

Apakah episkleritis berkaitan dengan penyakit lain?

Ya. Sebagian kasus episkleritis berkaitan dengan penyakit autoimun, gangguan jaringan ikat, atau infeksi tertentu. Jika peradangan sering kambuh atau disertai keluhan lain, seperti nyeri sendi, ruam kulit, atau gangguan pencernaan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan untuk mencari kondisi yang mendasarinya.