Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Apakah Penderita Asam Lambung Tidak Boleh Capek? Fakta tentang Lelah, Stres, dan Kurang Tidur
Kembali ke Artikel & Berita

Apakah Penderita Asam Lambung Tidak Boleh Capek? Fakta tentang Lelah, Stres, dan Kurang Tidur

SBATips Kesehatan

Bagi sebagian orang, beberapa hari lembur, tidur larut, dan makan siang yang tertunda bisa diikuti rasa panas di dada atau perih di ulu hati. Orang di sekitar lalu sering menasihati bahwa penderita asam lambung tidak boleh capek.

Nasihat itu ada benarnya, walau perlu diluruskan. Bila semua aktivitas dihindari, tubuh justru kehilangan manfaat dari bergerak.

Artikel ini membahas apa yang terjadi saat Anda kelelahan, cara tetap bekerja dan berolahraga dengan lambung yang lebih nyaman, serta tanda yang perlu diperiksakan ke dokter.

Benarkah Penderita Asam Lambung Dilarang Capek?

Tidak ada larangan medis untuk merasa capek. Lelah adalah sinyal wajar bahwa tubuh butuh istirahat. Kemenkes justru menganjurkan penderita GERD (gastroesophageal reflux disease) untuk tetap melakukan aktivitas fisik secara rutin, menjaga waktu dan kualitas tidur, serta mengelola stres dengan baik.

NHS mencatat sejumlah hal yang bisa memicu atau memperberat heartburn atau rasa panas di dada, seperti kopi, makanan berlemak atau pedas, kelebihan berat badan, merokok, serta stres dan kecemasan. Rasa lelah tidak disebut sebagai pemicu tersendiri. Meski begitu, kelelahan jarang datang sendirian dan biasanya disertai stres, jam tidur yang terpotong, makan yang terburu-buru, serta kopi tambahan untuk menahan kantuk.

Jadi, yang perlu diatur adalah hal-hal yang menyertai rasa capek, sementara pekerjaan, urusan rumah, dan olahraga tetap bisa dijalani.

Apa yang Terjadi saat Asam Lambung Naik?

GERD terjadi ketika isi lambung, termasuk asam, naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini muncul saat sfingter esofagus bagian bawah, yaitu otot berbentuk katup di antara kerongkongan dan lambung, tidak bekerja secara optimal sehingga isi lambung mudah mengalir balik.

Keluhannya bisa berupa rasa panas di dada, rasa asam atau pahit di mulut, mual, dan kembung. NHS menyebut keluhan sering memburuk setelah makan, saat berbaring, dan saat membungkuk. GERD juga sering disamakan dengan maag. Kemenkes menjelaskan bahwa istilah maag umumnya dipakai untuk keluhan saluran cerna atas seperti nyeri ulu hati, sedangkan GERD secara khusus berkaitan dengan aliran balik isi lambung. Mengenali gejala dan penyebab penyakit asam lambung membantu Anda mencatat pola yang perlu disampaikan ke dokter.

Empat Hal di Balik Rasa Capek yang Memengaruhi Asam Lambung

Ada empat bagian dari rasa capek yang berkaitan dengan keluhan asam lambung, dan masing-masing bisa diatur dengan cara berbeda.

1. Stres yang Menumpuk

Kemenkes menyebut stres tidak langsung menyebabkan GERD pada semua orang. Pada sebagian penderita, stres berkaitan dengan keluhan yang terasa lebih kuat atau lebih berat. Studi di Sri Lanka terhadap 1.200 orang dewasa dari 25 distrik menemukan skor stres yang lebih tinggi pada mereka yang mengalami heartburn atau naiknya isi lambung setidaknya sekali seminggu. Para peneliti membahas kemungkinan kerongkongan menjadi lebih peka dan katup lambung lebih sering mengendur saat stres. Mereka menyarankan pengelolaan stres sebagai bagian dari penanganan keluhan.

Penelitian di Indonesia pada 241 mahasiswa juga menemukan hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan pola makan dengan kejadian GERD. Bila rasa cemas sering menyertai keluhan lambung, pahami juga keterkaitan GERD dan kecemasan agar keduanya dibahas sekaligus dengan dokter. Kelelahan akibat tekanan kerja yang berkepanjangan, atau burnout, juga layak mendapat perhatian yang sama.

2. Kurang Tidur dan Begadang

Hubungan tidur dan asam lambung berjalan dua arah. Meta-analisis dari 22 penelitian menemukan insomnia, tidur yang sering terganggu, dan durasi tidur yang pendek berkaitan dengan risiko GERD yang lebih tinggi. Sebaliknya, penderita GERD juga lebih berisiko mengalami kualitas tidur yang buruk.

Sebuah ulasan menjelaskan bahwa saat tidur, gerakan menelan, produksi air liur, dan gerakan kerongkongan yang biasanya membersihkan asam ikut menurun, sehingga asam bertahan lebih lama. Tidur yang terganggu juga bisa membuat kerongkongan lebih peka. Dalam satu studi kecil terhadap 10 penderita GERD dengan peradangan kerongkongan dan 10 orang sehat, penderita GERD merasakan asam lebih cepat dan lebih kuat setelah kurang tidur, sementara orang sehat tidak menunjukkan perbedaan. Membiasakan cara sederhana untuk tidur lebih nyenyak dan memilih posisi tidur saat asam lambung naik bisa membantu malam Anda lebih tenang.

3. Jam Makan yang Berantakan

Saat sibuk, makan sering tertunda lalu dilakukan sekaligus dalam porsi besar, atau baru sempat larut malam. Kemenkes mencatat makan terburu-buru memudahkan orang makan berlebihan, dan lambung yang terlalu penuh meningkatkan tekanan sehingga isinya lebih mudah naik.

Kemenkes menyarankan porsi yang wajar, tidak melewatkan makan secara berlebihan, dan memberi jeda sekitar 2 sampai 3 jam antara makan malam dan berbaring. Daftar kebiasaan sehari-hari yang memicu asam lambung naik bisa Anda cocokkan dengan rutinitas harian.

4. Kopi, Rokok, dan Obat Penenang

Kopi sering menjadi andalan untuk menahan kantuk. Kemenkes memasukkan minuman berkafein serta kopi, teh, dan soda ke dalam daftar pemicu keluhan GERD. Merokok juga termasuk perilaku yang memperburuk kondisi ini, dan NHS menyarankan untuk tidak merokok.

Bila kelelahan dan pikiran yang penuh membuat Anda sulit tidur, bicarakan dengan dokter sebelum memakai obat tidur atau obat penenang. Kemenkes mencantumkan obat penenang di antara obat yang bisa memicu GERD, dan sebagian obat untuk gangguan tidur diketahui bisa memperberat keluhan ini.

Olahraga Tetap Dianjurkan, Atur Intensitas dan Waktunya

Capek karena olahraga tidak perlu dihindari. Meta-analisis dari 33 penelitian dengan 242.850 peserta menemukan aktivitas fisik berkaitan dengan risiko GERD yang lebih rendah. Para penelitinya menyimpulkan aktivitas fisik sesuai anjuran, yaitu 150 menit per minggu, bisa membantu menurunkan angka GERD. Kemenkes juga menyebut penurunan berat badan bertahap lewat pola makan seimbang dan aktivitas fisik bisa mengurangi keluhan pada sebagian penderita.

Jenis dan intensitas olahraga tetap berpengaruh. Analisis yang sama mencatat olahraga intensitas rendah seperti jalan kaki, bersepeda, dan yoga cenderung bermanfaat, sedangkan olahraga intensitas tinggi seperti lari bisa memberi efek yang kurang baik. Gejala juga bisa muncul saat sedang berlatih. Beberapa penyesuaian berikut bisa dicoba:

  • Pilih olahraga intensitas ringan sampai sedang, lalu tambah durasinya secara bertahap menuju 150 menit per minggu. Persiapan olahraga untuk pemula bisa menjadi titik awal.

  • Beri jeda setelah makan besar sebelum olahraga berat atau mengangkat beban, karena lambung yang penuh lebih mudah mendorong isinya ke kerongkongan.

  • Kurangi gerakan membungkuk lama saat perut masih penuh, termasuk saat membersihkan rumah atau mengangkat barang di tempat kerja.

  • Kenakan pakaian yang longgar di pinggang, sesuai saran NHS untuk menghindari pakaian ketat di area ini.

  • Hentikan latihan dan segera cari pertolongan medis bila muncul nyeri dada yang berat atau tidak biasa, terutama bila disertai sesak napas, keringat dingin, atau pusing.

Ketika Asam Lambung Justru Membuat Badan Lelah

Arah sebaliknya juga terjadi. Kemenkes mencatat gejala GERD pada sebagian orang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas tidur. Ulasan tentang tidur tadi juga mengutip survei pada orang dengan keluhan refluks, yang menemukan gangguan tidur berkaitan dengan turunnya produktivitas kerja. Rasa capek di siang hari bisa jadi berawal dari malam yang terputus-putus.

Untuk keluhan malam hari, jeda makan sebelum tidur tadi tetap berlaku. NHS juga menyarankan meninggikan kepala ranjang sekitar 10 sampai 20 cm dengan balok kayu atau buku.

Kemenkes memasukkan pucat dan keluhan 5L (lesu, lelah, letih, lemah, lunglai) ke dalam gejala lanjutan yang bisa berkaitan dengan komplikasi GERD atau masalah kesehatan lain yang serius. Rasa lelah juga punya banyak sumber di luar lambung, sehingga penyebab mudah lelah yang lain ikut dinilai dokter.

Kapan Rasa Lelah dan Keluhan Lambung Perlu Diperiksakan?

Keluhan yang muncul sesekali bisa terjadi pada banyak orang. Periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami hal berikut:

  • Heartburn hampir setiap hari, atau keluhan tidak membaik dengan perubahan gaya hidup dan obat dari apotek.

  • Keluhan sering berulang, makin berat, atau mengganggu aktivitas dan tidur.

  • Lelah yang disertai pucat, BAB berwarna hitam, atau muntah darah.

  • Makanan terasa tersangkut di tenggorokan, sering muntah, atau berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Nyeri dada yang berat atau tidak biasa, terutama bila disertai sesak napas, keringat dingin, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, atau punggung, perlu segera mendapat pertolongan medis di IGD. Keluhan seperti ini perlu diperiksa lebih dulu sebelum disimpulkan sebagai GERD.

Dokter akan menanyakan pola keluhan, jam tidur, dan obat yang Anda pakai. Bila perlu, dokter bisa meresepkan obat penurun produksi asam atau merujuk Anda untuk pemeriksaan endoskopi, yaitu pemeriksaan dengan selang tipis berkamera lewat tenggorokan hingga ke lambung.

Opsi Pendukung yang Bisa Dibahas Bersama Dokter

Pada sebagian orang, keluhan lambung yang kambuh datang bersama mual. Penyebabnya perlu dinilai dokter lebih dulu karena penanganan tiap orang tidak selalu sama. Setelah penyebab keluhan diketahui, dokter bisa mempertimbangkan V-Drip Happy Stomach sebagai salah satu pilihan pendukung. Halaman produknya mencantumkan kandungan Electrolytes, Gastric Protector, dan Antiemetic. Infus ini tidak disarankan untuk ibu hamil dan menyusui, jadi sampaikan riwayat kesehatan serta obat yang sedang Anda pakai kepada tenaga kesehatan. Untuk menanyakan kesesuaiannya, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Istirahat Cukup, Aktivitas Tetap Jalan, Lambung Lebih Tenang

Rasa capek adalah bagian dari hari yang sibuk, dan penderita asam lambung tetap bisa bekerja, mengurus rumah, dan berolahraga. Mulailah dari langkah kecil, seperti tidur di jam yang sama, makan dengan porsi wajar, memberi jeda sebelum berbaring, dan meluangkan waktu untuk bersantai dengan cara meredakan stres yang cocok untuk Anda. Langkah ini sejalan dengan cara mengatasi GERD agar tidak kambuh. Bila keluhan tetap berulang, periksakan diri ke dokter. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Pola Makan Tepat untuk Membantu Mengendalikan Gejala GERD

  2. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Gerd, Meskipun Biasa Terjadi pada Pencernaan Manusia, Jika Tidak Tertangani dengan Benar Apakah Bisa Berbahaya?

  3. Putri TI, Yani ED, Hanum N, et al. (NASUWAKES Jurnal Kesehatan Ilmiah, Poltekkes Kemenkes Aceh) — Hubungan Pola Makan dan Tingkat Stres dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Mahasiswa di Universitas X

  4. NHS — Heartburn and acid reflux

  5. Wickramasinghe N, Thuraisingham A, Jayalath A, et al. (PLOS ONE) — The association between symptoms of gastroesophageal reflux disease and perceived stress, a countrywide study of Sri Lanka

  6. Tan X, Wang S, Wu F, Zhu J (PeerJ) — Bidirectional correlation between gastroesophageal reflux disease and sleep problems, a systematic review and meta-analysis

  7. Jung HK, Choung RS, Talley NJ (Journal of Neurogastroenterology and Motility) — Gastroesophageal reflux disease and sleep disorders, evidence for a causal link and therapeutic implications

  8. Yu C, Wang T, Gao Y, et al. (Journal of Sport and Health Science) — Association between physical activity and risk of gastroesophageal reflux disease, a systematic review and meta-analysis

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apakah penderita asam lambung tidak boleh capek?

Tidak ada larangan medis untuk merasa capek. Hal yang perlu diatur adalah faktor yang sering menyertainya, seperti stres, kurang tidur, dan pola makan yang tidak teratur.

Apakah stres bisa membuat asam lambung naik?

Stres tidak langsung menyebabkan GERD pada semua orang. Namun, pada sebagian penderita, stres berkaitan dengan gejala yang terasa lebih berat.

Apakah kurang tidur bisa memicu asam lambung naik?

Penelitian menunjukkan hubungan dua arah antara tidur dan GERD. Kurang tidur berkaitan dengan risiko GERD yang lebih tinggi, sedangkan GERD juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Apakah penderita asam lambung boleh berolahraga?

Boleh. Aktivitas fisik rutin berkaitan dengan risiko GERD yang lebih rendah. Pilih intensitas ringan hingga sedang, tingkatkan durasi secara bertahap, dan hindari olahraga berat saat perut masih penuh.

Kapan rasa lelah pada penderita asam lambung perlu diperiksakan?

Periksakan diri jika kelelahan disertai pucat, BAB berwarna hitam, muntah darah, sulit menelan, atau berat badan turun tanpa sebab yang jelas. Nyeri dada berat, terutama disertai sesak napas atau keringat dingin, memerlukan pertolongan medis segera.