Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Burnout Adalah: Tanda, Bedanya dengan Stres, dan Cara Memulihkan Diri
Kembali ke Artikel & Berita

Burnout Adalah: Tanda, Bedanya dengan Stres, dan Cara Memulihkan Diri

SBATips Kesehatan

Minggu malam, pikiran sudah sibuk dengan pekerjaan esok hari. Senin pagi, membuka laptop terasa berat, dan libur akhir pekan tidak lagi cukup untuk mengisi ulang energi. Banyak orang menyebutnya capek biasa.

Bila pola ini bertahan berbulan-bulan, kelelahan tersebut bisa berkembang menjadi burnout yang menurunkan semangat dan kinerja, mengganggu tidur, serta memengaruhi kesehatan fisik.

Artikel ini menjelaskan arti burnout menurut WHO, tandanya, bedanya dengan stres dan depresi, cara pulih, serta kapan perlu ke tenaga kesehatan.

Burnout Adalah Kelelahan akibat Stres Kerja yang Tidak Tertangani

Menurut WHO, burnout adalah sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Satu minggu yang padat belum tentu berarti burnout, karena kuncinya ada pada tekanan yang berlangsung lama. WHO menandainya dengan tiga ciri berikut:

  • Energi terkuras. Rasa kehabisan tenaga atau kelelahan yang menetap.

  • Jarak mental dari pekerjaan. Perasaan negatif atau sinis terhadap pekerjaan.

  • Efektivitas kerja menurun. Kemampuan menyelesaikan tugas dengan baik ikut turun.

Dalam Klasifikasi Penyakit Internasional edisi ke-11 (ICD-11), WHO mencatat burnout sebagai fenomena pekerjaan atau occupational phenomenon dan tidak menggolongkannya sebagai kondisi medis. Istilah ini juga khusus untuk konteks pekerjaan, walau sehari-hari sering dipakai untuk rasa jenuh saat kuliah atau mengurus keluarga.

Apa Saja Pemicu Burnout di Tempat Kerja?

Stres kerja kronis jarang datang dari satu sebab. Kemenkes mencatat beban yang tidak realistis, tuntutan tinggi tanpa kendali yang memadai, dan waktu pribadi yang tersita urusan kantor sebagai pemicu stres. Pemicu lain yang sering disorot antara lain:

  • Beban kerja berlebih. Target terus bertambah tanpa tambahan waktu atau tenaga, sehingga tekanan sulit surut. Pedoman WHO tentang kesehatan mental di tempat kerja menempatkannya sebagai risiko yang perlu ditangani.

  • Minim kendali dan dukungan. Pekerja yang tidak punya suara dalam mengatur jadwal lebih sulit menjaga ritme kerja. Kantor Surgeon General Amerika Serikat mencatatnya, bersama beban administrasi dan dukungan organisasi yang minim, sebagai pendorong burnout pada tenaga kesehatan.

  • Perlakuan negatif. WHO menyoroti perundungan dan kekerasan psikologis di tempat kerja sebagai keluhan yang berdampak buruk pada kesehatan mental. Masalah ini sering sulit dibicarakan karena isu kesehatan mental masih dianggap tabu.

Faktor yang Membuat Seseorang Lebih Rentan

Siapa pun yang bekerja bisa mengalami burnout. Tenaga kesehatan termasuk yang banyak disorot karena bekerja di lingkungan yang membebani kesejahteraan fisik, emosional, dan psikologis. Pedoman WHO juga meminta perlindungan khusus bagi pekerja kesehatan, kemanusiaan, dan gawat darurat.

Dari sisi pribadi, Kemenkes mencatat kurang tidur, asupan gizi yang tidak sesuai kebutuhan, kesehatan fisik atau mental yang menurun, serta riwayat trauma atau gangguan kesehatan mental sebagai kondisi yang membuat seseorang lebih rentan terhadap stres.

Tanda-Tanda Burnout yang Perlu Dikenali

Tanda burnout biasanya muncul perlahan, sehingga mudah dianggap capek biasa. Perhatikan pola berikut bila sudah berlangsung berminggu-minggu.

1. Energi Terasa Terkuras

Rasa kehabisan tenaga adalah ciri pertama dalam definisi WHO. Kelelahan memang bisa menjadi respons wajar terhadap stres atau kurang tidur. Namun, lelah yang tidak membaik setelah beberapa minggu perlu diperiksakan karena bisa menandakan kondisi fisik atau mental lain.

2. Sinis dan Menjaga Jarak dari Pekerjaan

Pekerjaan yang dulu terasa bermakna kini dijalani asal selesai, dan perasaan negatif terhadap kantor makin sering muncul. Surgeon General mendorong pekerja untuk belajar mengenali tanda burnout pada diri sendiri maupun rekan, sehingga perubahan sikap ini bisa disadari lebih awal.

3. Kinerja Turun dan Sulit Fokus

Ciri ketiga menurut WHO adalah efektivitas kerja yang menurun. Tugas rutin memakan waktu lebih lama dan keputusan sederhana terasa sulit diambil. Kemenkes juga mencatat sulit fokus, mudah lupa, dan pikiran pesimis sebagai gejala kognitif stres.

4. Tidur Terganggu

Stres yang berlangsung lama sering membuat seseorang sulit tidur. Kemenkes menjelaskan kurang tidur bisa menurunkan suasana hati, energi, dan konsentrasi. Bila sulit tidur terus berulang, kenali gejala insomnia dan ceritakan polanya kepada dokter.

5. Keluhan Fisik yang Berulang

Stres jangka panjang bisa muncul sebagai sakit kepala, gangguan pencernaan, pusing, lemas, atau jantung berdebar. Tubuh juga lebih mudah sakit, sejalan dengan kaitan stres dan imunitas tubuh. Keluhan ini tetap perlu diperiksa karena penyakit lain bisa menimbulkan gejala serupa.

6. Mudah Marah, Menarik Diri, dan Mencari Pelarian

Mudah frustrasi, suasana hati yang berubah-ubah, dan keinginan menghindari orang lain termasuk gejala psikis stres. Sebagian orang mencari pelarian lewat rokok, alkohol, atau kopi berlebih. Bila pemakaian alkohol atau zat lain meningkat dari biasanya, segera cari bantuan tenaga kesehatan.

Dampaknya bagi Kesehatan Bila Berlangsung Lama

Saat stres terus berlanjut, tubuh bereaksi seolah selalu dalam bahaya. Beban ini bisa berperan dalam munculnya depresi, gangguan kecemasan, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Kemenkes juga mengaitkan stres berkepanjangan dengan sakit kepala, asam lambung, dan tubuh yang lebih mudah terinfeksi.

Di dunia kerja, Surgeon General mencatat tenaga kesehatan yang mengalami burnout lebih berisiko menghadapi masalah kesehatan mental dan meninggalkan profesinya lebih awal. WHO memperkirakan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan gangguan kecemasan.

Burnout, Stres, atau Depresi?

Ketiganya sering tumpang tindih, tetapi titik awal dan cakupannya berbeda. Gambaran pengertian dan gejala stres membantu memahami bedanya, dan tabel berikut merangkum pola umumnya.

Aspek

Stres

Burnout

Depresi

Pemicu

Tuntutan apa pun, dari pekerjaan, keluarga, sampai keuangan

Stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola

Faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikologis

Cakupan

Bisa muncul di area hidup mana pun

Khusus konteks pekerjaan

Hampir seluruh aspek hidup sehari-hari

Ciri utama

Tubuh siaga, jantung berdetak cepat, otot menegang

Energi terkuras, sinis terhadap pekerjaan, kinerja menurun

Murung atau hilang minat hampir sepanjang hari

Status

Respons alami tubuh

Fenomena pekerjaan dalam ICD-11, tidak tergolong kondisi medis

Gangguan suasana hati yang perlu penanganan profesional

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Bila rasa murung dan hilang minat lebih menonjol, informasi tentang gejala dan pengobatan depresi mayor bisa membantu Anda menyiapkan pertanyaan untuk dokter.

Kapan Perlu ke Dokter atau Psikolog?

Segera cari pertolongan di IGD atau fasilitas kesehatan terdekat bila muncul pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup, rasa panik tidak bisa dikendalikan, atau Anda merasa tidak sanggup lagi menghadapi keadaan.

Buat janji dengan dokter, psikolog, atau psikiater bila keluhan berat berikut berlangsung dua minggu atau lebih:

  • Sulit tidur, atau pola makan berubah sampai berat badan naik atau turun tanpa disengaja.

  • Sulit bangun dari tempat tidur karena suasana hati, atau sulit memusatkan pikiran.

  • Kehilangan minat pada hal yang biasanya Anda nikmati.

  • Tidak mampu menjalani aktivitas harian seperti biasa.

Bagaimana Dokter Menilai Keluhan Burnout?

Penilaian burnout berangkat dari cerita Anda tentang keluhan, kondisi kerja, dan pemicu stres. Kemenkes menyebut kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) dan tanya jawab dengan dokter untuk mengukur tingkat stres.

Dokter juga perlu menyingkirkan penyebab lain. Rasa lelah bisa berasal dari anemia, penyakit tiroid, diabetes, infeksi, efek obat, atau gangguan tidur seperti sleep apnea atau henti napas saat tidur. Karena itu, dokter menanyakan pola tidur, aktivitas, dan nafsu makan, melakukan pemeriksaan fisik, dan bisa meminta tes laboratorium. Daftar penyebab mudah lelah bisa membantu Anda mencatat keluhan sebelum konsultasi.

Gangguan tiroid juga bisa menimbulkan gejala mirip depresi, sehingga gejala hipotiroid ikut dipertimbangkan. Depresi sendiri ditegakkan bila gejalanya muncul hampir setiap hari selama minimal dua minggu, dengan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.

Langkah Pemulihan dari Burnout

Pemulihan berjalan dari dua arah, yaitu mengurangi tekanan dari sumbernya dan memulihkan tenaga. Langkah berikut bisa dimulai bertahap:

  • Kenali pemicunya. Catat tugas atau situasi yang banyak menguras energi. Kemenkes menempatkan langkah ini sebagai awal penanganan stres sebelum mencari solusinya.

  • Bicarakan beban kerja. Diskusikan prioritas, pembagian tugas, atau jadwal dengan atasan. Surgeon General mendorong pekerja menyuarakan perubahan positif di tempat kerja.

  • Pilah prioritas. Tentukan apa yang perlu dikerjakan sekarang dan apa yang bisa menunggu. Di akhir hari, lihat kembali pekerjaan yang sudah selesai.

  • Kembali ke kebiasaan dasar. Tidur cukup dan batasi kafein. MedlinePlus menyebut jalan kaki 30 menit setiap hari bisa membantu Anda merasa lebih baik, begitu pula latihan napas, meditasi, dan tips mengelola stres lainnya.

  • Tetap terhubung. Ceritakan beban Anda kepada keluarga atau teman yang Anda percaya. Dukungan mereka termasuk bagian dari cara mengelola stres jangka panjang.

  • Libatkan tenaga profesional. Psikolog bisa membantu lewat konseling atau terapi perilaku kognitif. Dokter atau psikiater bisa meresepkan obat bila dibutuhkan, misalnya saat ditemukan depresi.

Mencegah Burnout lewat Kebiasaan dan Lingkungan Kerja

Pedoman WHO merekomendasikan tempat kerja menekan beban kerja berat dan perilaku negatif, termasuk melatih manajer agar mampu mencegah lingkungan kerja yang penuh tekanan dan merespons pekerja yang sedang kesulitan.

Dari sisi pribadi, kebiasaan berikut membantu kesehatan mental di tengah kesibukan tetap terjaga:

  • Bergerak teratur. Kemenkes menganjurkan olahraga minimal 30 menit, 5 kali seminggu. Jalan santai, bersepeda, atau berenang sudah termasuk.

  • Jaga rutinitas tidur. Tidur di jam yang sama setiap hari. Jauhkan gawai minimal satu jam sebelum tidur.

  • Beri batas yang jelas. Sisihkan waktu untuk hobi, ibadah, dan keluarga. Menjaga keseimbangan karier dan kehidupan pribadi memberi ruang untuk beristirahat.

Rawat Energi Anda agar Pekerjaan Kembali Terasa Bermakna

Rasa lelah yang terus berulang adalah sinyal untuk berhenti sejenak dan menata ulang beban kerja. Kenali tandanya dan libatkan tenaga kesehatan bila keluhan menetap. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Bila ingin memastikan lelah yang menetap tidak berasal dari kondisi fisik, medical check up bisa didiskusikan bersama dokter. Untuk informasi pemeriksaan, Anda bisa hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. World Health Organization. Burn-out an "Occupational Phenomenon": International Classification of Diseases.

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Apa Itu Stres: Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan.

  3. MedlinePlus, National Library of Medicine. Stress.

  4. U.S. Department of Health and Human Services, Office of the Surgeon General. Health Worker Burnout.

  5. World Health Organization. WHO and ILO Call for New Measures to Tackle Mental Health Issues at Work.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 10 Penyakit Akibat Stres Berkepanjangan.

  7. MedlinePlus, National Library of Medicine. Depression.

  8. MedlinePlus, National Library of Medicine. Fatigue.

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Burnout adalah kondisi seperti apa?

Burnout adalah sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Kondisi ini ditandai dengan energi terkuras, sikap negatif atau sinis terhadap pekerjaan, serta efektivitas kerja yang menurun.

Apa perbedaan burnout, stres, dan depresi?

Stres dapat dipicu berbagai tuntutan hidup, sedangkan burnout secara khusus berkaitan dengan stres kerja kronis yang tidak tertangani. Depresi merupakan gangguan suasana hati yang dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk suasana hati dan minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Apa saja tanda-tanda burnout yang perlu dikenali?

Tanda burnout meliputi kelelahan berkepanjangan, sikap sinis terhadap pekerjaan, penurunan kinerja, sulit fokus, gangguan tidur, dan keluhan fisik berulang. Gejala dapat muncul secara bertahap dan perlu diperhatikan jika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bagaimana cara mengatasi dan memulihkan diri dari burnout?

Mulailah dengan mengenali pemicu stres, membicarakan beban kerja dengan atasan, dan menentukan prioritas. Jaga tidur, berolahraga secara teratur, batasi kafein, serta ceritakan beban kepada orang tepercaya. Jika keluhan menetap, pertimbangkan konseling dengan psikolog atau konsultasi dengan dokter.

Kapan burnout perlu diperiksakan ke dokter atau psikolog?

Konsultasikan keluhan jika sulit tidur, kehilangan minat, perubahan pola makan, atau kesulitan menjalani aktivitas berlangsung selama dua minggu atau lebih. Segera cari pertolongan di IGD atau fasilitas kesehatan terdekat jika muncul pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup.