Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Apa Itu Bell’s Palsy? Ini Ciri, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Apa Itu Bell’s Palsy? Ini Ciri, Penyebab, dan Pengobatan

SBATips Kesehatan

Pernah merasa salah satu sisi wajah tiba-tiba sulit digerakkan saat tersenyum, berkedip, atau makan dan minum? Jika pernah, Anda harus waspada karena Bell’s palsy adalah kondisi yang mungkin melatarbelakanginya.

Karena bisa mengganggu aktivitas sehari-hari meskipun dalam waktu singkat dan terkadang menyerupai tanda stroke, kondisi ini perlu Anda kenali sejak awal agar penanganan yang tepat bisa segera dilakukan.

Apa itu Bell’s Palsy?

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), Bell’s palsy adalah gangguan saraf kranial yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan otot pada satu sisi wajah. Kondisi yang juga dikenal sebagai paralisis fasial idiopatik ini umumnya muncul secara mendadak.

Bell’s palsy terjadi ketika saraf fasialis atau saraf kranial ketujuh mengalami gangguan. Saraf ini berperan dalam mengendalikan otot-otot yang mengatur ekspresi wajah, seperti tersenyum, mengerutkan dahi, dan menutup mata, serta turut berperan dalam fungsi pengecapan pada sebagian lidah.

Menurut informasi dari University of California, San Francisco (UCSF), Bell’s palsy vs stroke sama-sama bisa menyebabkan salah satu sisi wajah terlihat turun atau terkulai. Meskipun demikian, kedua kondisi ini memiliki penyebab dan mekanisme yang berbeda.

Bell’s palsy terjadi akibat gangguan pada saraf fasialis, sedangkan stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau pembuluh darah di otak pecah (stroke hemoragik) sehingga merusak jaringan otak. Perbedaan tersebut juga memengaruhi gejala dan penanganan kedua kondisi.

Bell’s palsy umumnya berkembang dalam waktu singkat dan banyak kasus membaik secara bertahap, meskipun sebagian orang dapat mengalami kelemahan wajah yang menetap. Sementara itu, stroke merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera untuk mengurangi risiko kerusakan otak dan komplikasi serius.

Apa Penyebab Bell’s Palsy?

Hingga hari ini, penyebab Bell’s palsy belum diketahui secara pasti. Tapi, para peneliti menduga bahwa reaktivasi virus yang sebelumnya berada dalam kondisi tidak aktif (dorman) bisa memicu peradangan dan pembengkakan saraf tersebut. Beberapa virus yang diduga berkaitan dengan Bell’s palsy adalah sebagai berikut.

  • Virus Herpes Simplex (HSV), terutama HSV tipe 1, diduga memiliki hubungan dengan Bell’s palsy. Jenis virus ini umumnya menyebabkan luka lepuh di sekitar bibir atau mulut, sedangkan HSV tipe 2 lebih sering menyebabkan herpes genital.

  • Virus Varicella-Zoster adalah virus yang menyebabkan cacar air dan cacar ular (herpes zoster). Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus ini dapat menetap dalam kondisi tidak aktif di jaringan saraf dan kembali aktif di kemudian hari sehingga menyebabkan peradangan saraf, termasuk saraf fasialis. 

  • Cytomegalovirus (CMV) adalah virus dari keluarga Herpesviridae yang bisa kembali aktif ketika sistem kekebalan tubuh melemah. Infeksi CMV juga dapat ditularkan dari ibu kepada janin selama kehamilan sehingga menyebabkan infeksi kongenital.

Selain dugaan keterlibatan virus, respons imun tubuh juga diperkirakan berperan dalam terjadinya Bell’s palsy. Peradangan yang muncul akibat respons imun terhadap infeksi diduga menyebabkan pembengkakan dan gangguan fungsi saraf fasialis.

Kondisi inilah yang berpotensi menghambat penghantaran sinyal saraf menuju otot wajah sehingga menimbulkan kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi wajah.

Faktor Risiko Bell’s Palsy

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami Bell’s palsy adalah sebagai berikut.

  • Kehamilan: Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan, termasuk perubahan hormon dan penumpukan cairan di jaringan tubuh. Kondisi tersebut diduga bisa memicu pembengkakan jaringan dan meningkatkan tekanan pada saraf wajah.

  • Diabetes: Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang bisa merusak pembuluh darah kecil atau menyebabkan mikroangiopati. Kerusakan tersebut dapat mengganggu fungsi saraf, termasuk saraf wajah, sehingga berpotensi mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada otot wajah.

  • Hipertensi: Tekanan darah yang tinggi dalam jangka panjang juga bisa merusak dinding pembuluh darah dan mengganggu fungsi sirkulasi. Jika aliran darah menuju saraf wajah terganggu, saraf tersebut berpotensi mengalami kekurangan oksigen atau iskemia. 

  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Virus seperti adenovirus bisa memicu respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi. Pada kondisi tertentu, respons peradangan tersebut diduga dapat berkontribusi terhadap gangguan pada saraf wajah.

Ciri Bell’s Palsy 

Gejala Bell’s palsy umumnya muncul secara tiba-tiba dan dapat memburuk dalam 48–72 jam pertama, meskipun perkembangannya bisa berbeda pada setiap orang. Gejala yang muncul cukup bervariasi, mulai dari:

  • Otot pada salah satu sisi wajah melemah sehingga penderitanya kesulitan menggerakkan wajah secara normal;

  • Wajah terlihat turun atau tidak simetris, misalnya sudut mulut tampak menurun dan senyum terlihat tidak seimbang; serta

  • Nyeri di sekitar telinga sebelum atau bersamaan dengan munculnya kelemahan otot wajah. Rasa nyeri tersebut dapat terasa di belakang telinga, di sekitar rahang, atau di bagian telinga tertentu.

Selain ketiga gejala tersebut, Bell’s palsy juga dapat menimbulkan beberapa keluhan lain, seperti:

  • Kesulitan tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah;

  • Kesulitan menutup salah satu mata;

  • Air liur menetes akibat kelemahan otot di sekitar mulut;

  • Sakit kepala atau pusing;

  • Mata berair atau terasa kering karena sulit menutup mata dengan sempurna;

  • Sensitivitas terhadap suara yang meningkat pada salah satu telinga;

  • Perubahan indra pengecap, terutama pada bagian depan lidah; dan

  • Kesulitan berbicara dengan jelas akibat kelemahan otot bibir.

Diagnosis Bell’s Palsy

Dokter umumnya mendiagnosis Bell’s palsy berdasarkan gejala kelemahan otot wajah dan hasil pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter juga melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis. Berikut ini penjelasannya.

  • Wawancara medis: Dokter akan menanyakan kapan gejala mulai muncul, bagaimana perkembangannya, dan apakah pasien mengalami keluhan lain.

  • Pemeriksaan fisik: Mencakup tes kemampuan pasien untuk mengangkat alis, menutup mata, tersenyum, dan menggerakkan mulut guna menilai kekuatan dan pergerakan otot wajah pasien.

  • Elektromiografi (EMG): Prosedur pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik otot untuk menilai fungsi saraf yang mengendalikan pergerakan otot.

  • Tes darah: Dokter akan menyarankan tes darah jika pasien menunjukkan gejala atau memiliki riwayat kesehatan yang mengarah pada penyakit lain, contohnya penyakit Lyme, yaitu infeksi yang dapat memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan kelemahan otot wajah.

  • Tes Pencitraan: Dokter pun bisa merekomendasikan pemeriksaan CT scan atau MRI jika gejala pasien tidak biasa, kelemahan wajah semakin memburuk, atau terdapat tanda yang mengarah pada gangguan lain.

Komplikasi Bell’s Palsy

Sebagian besar pasien Bell’s palsy bisa sembuh secara bertahap, tetapi beberapa orang mengalami pemulihan yang tidak sempurna, terutama jika kerusakan saraf cukup berat. Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

  • Otot wajah terasa kaku, tertarik, atau mengalami kontraksi berlebihan;

  • Sinkinesis, merupakan kondisi ketika pemulihan saraf yang tidak normal menyebabkan gerakan otot wajah yang tidak disengaja. Contohnya, ketika pasien tersenyum atau menggerakkan mulut, kelopak mata pada sisi wajah yang terdampak Bell’s palsy ikut menutup tanpa disengaja; serta

  • Kemampuan menutup kelopak mata terganggu, dan jika dibiarkan, kornea dapat mengalami iritasi, luka, atau kerusakan yang berpotensi mengganggu penglihatan hingga kebutaan.

Cara Mengobati Bell’s Palsy

Dokter dapat merekomendasikan beberapa jenis pengobatan berikut sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan gejala.

  • Konsumsi obat kortikosteroid seperti prednisolone yang mengandung vitamin B12 membantu mengurangi peradangan pada saraf wajah sehingga dapat meningkatkan peluang pemulihan.

  • Penggunaan obat tetes mata untuk pasien kesulitan menutup mata pada sisi wajah yang terdampak.

  • Penggunaan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen, untuk membantu mengurangi rasa sakit yang menyertai Bell’s palsy, terutama di sekitar telinga atau wajah.

Cegah Komplikasi dengan Melakukan Medical Check Up (MCU) Rutin

Bell’s palsy adalah kondisi yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah akibat gangguan pada saraf wajah. Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui dan belum ada cara yang terbukti dapat mencegah kondisi ini, Anda tetap dapat menjaga kesehatan melalui pemeriksaan rutin.

Medical Check Up (MCU) Plus di Bumame menawarkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh dengan pilihan paket yang terjangkau. Melalui pemeriksaan berkala, Anda dapat memantau kondisi kesehatan dan mendeteksi faktor risiko penyakit tertentu sejak dini.

Kapan Harus ke Dokter?

Bell’s palsy adalah salah satu kondisi penyakit yang sifatnya sementara namun hampir memiliki gejala seperti stroke. Jika Anda sudah merasa ada kekakuan maupun penurunan pada wajah, sebaiknya konsultasikan langsung ke dokter. Dengan deteksi dini, penanganan dapat disesuaikan dengan gejala sehingga dapat membantu pemulihan lebih cepat dan tepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Cara Menangani Bell’s Palsy

  2. National Institutes of Health — Bell’s Palsy

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Bell’s Palsy

  4. University of California San Francisco — How to Tell the Difference Between Bell’s Palsy vs. Stroke

  5. Rindyahapsari, D., Manyakori, S. — Herpes Zoster Otikus dengan Facial Palsy pada Pasien Lanjut Usia: Laporan Kasus

  6. Honest Docs — Bell’s Palsy: Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

  7. Kementerian Kesehatan Arab Saudi — Bell’s Palsy

  8. Mayo Clinic — Bell’s Palsy

  9. Cleveland Clinic — Bell’s Palsy


Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apa itu Bell’s palsy?

Bell’s palsy adalah gangguan saraf fasialis yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan otot pada satu sisi wajah dan umumnya muncul secara mendadak.

Apa penyebab Bell’s palsy?

Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, reaktivasi virus tertentu dan respons imun tubuh diduga memicu peradangan serta pembengkakan saraf fasialis.

Apakah Bell’s palsy bisa disembuhkan?

Sebagian besar penderita membaik secara bertahap dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Namun, sebagian orang dapat mengalami kelemahan wajah yang menetap atau pemulihan yang tidak sempurna.

Apakah Bell’s palsy termasuk penyakit berbahaya?

Bell’s palsy dapat menimbulkan komplikasi, terutama jika mata sulit ditutup sehingga kornea berisiko mengalami kerusakan. Gejalanya juga bisa menyerupai stroke, sehingga kelemahan wajah mendadak harus segera diperiksa sebagai kondisi darurat.

Bagaimana cara mengobati Bell’s palsy?

Penanganan dapat mencakup obat kortikosteroid sesuai resep dokter, obat tetes mata untuk melindungi mata yang sulit ditutup, dan pereda nyeri bila diperlukan. Pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien.